Shaykh Muhammad Ibn Al Habib: Wali Besar Dari Maroko

114

“Ala Ya Latifu Ya Latifu Lakalutfu
Fa antal Latifu Minka Yashmaluna Lutfu
Latifu Latifu innani mutawassilun
Bi Lutfika fa-ltuf bi wa qad nazala l-lutfu……..”

Sepenggal bait lantunan Miftahul Wirid. Bagi para fuqara tariqah Qadiriyah Shadziliyah Dharqawiyah, wirid itu sangat populer. Saban bergema seantero dunia. Di belahan timur, wirid itu dibacakan di Ketapang, Bintan, Jakarta, Depok, Yogyakarta, sampai Malaysia. Sementara di bumi belahan barat, wirid itu juga dikumandangkan di Istanbul, Inggris, Spanyol, Perancis, sampai Skotlandia. Begitu menggema.

Karena wirid itu bukan sembarangan. Berisikan ayat suci Al Quran dan doa-doa bersahaja. Biasa dibaca pagi dan petang. Di Depok, biasa dibacakan berjamaah saban Sabtu. Di Ketapang setiap Kamis malam. Sementara di Bintan, setiap ba’da Subuh.
Miftahul Wirid itu disusun seorang Wali agung dari negeri Magribi. Dialah Shaykh

Muhammad Ibn Al Habib. Makamnya berada di Zawiyya Dharqawiyya, sekitar 50 meter dari Masjid Zaytuna, Meknes, Maroko. Dialah yang menyusun miftahul Wirid hingga berkumandang seantero dunia.

Nama lengkapnya Sayyidi Muhammad ibn al-Habib ibn as-Siddiq al-Amghari al-Idrisi al-Husayni (1876 – 10 Januari 1972). Selain menyusun miftahul wirid untuk para fuqaranya, beliau juga menggubah Diwan, sejenis qasidah yang penuh syair yang syahdu. Diwan inilah yang saban dikumandangkan tatkala Moussem Suyyukh tariqah ini. Diwan itulah yang tatkala dinyanyikan sering membuat “mabuk” kepayang. Tentu mabuk-nya kaum sufi. “Ekstasinya” para ahli tassawuf. Ada sebuah Diwan yang disusun persis di depan makam Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Tatkala Shaykh Muhammad Ibn Al Habib berada di Madinah, dan bukan kebetulan beliau bisa berada persis di sebelah makam Rasulullah. Disitulah beliau menggubah sebuah Diwan yang sangat populer diantara para fuqara.
Kakenya Shaykh Ibn al-Habib berasal dari Marrakech , Maroko. Beliau sangat bertali temali dengan Moulay Abdallah Amghar, keturunan garis Sayyid yang mengarah pada Ali ibn Abi Thalib dan Husain bin Ali. Sanak famili Shaykh Ibn al Habib banyak di Fez, Maroko. Di sanalah asal mula Islam masuk ke negeri Magribi melalui Moulay Idriss Zeourhoun, cicit Sayiddinna Husain bin Ali.

Shaykh Muhammad Ibn al-Habib lahir di Fes pada tahun 1876. Pada usia muda dia pergi ke kuttab Al Quran di Qantara Abu’r-Ru’us. Disitulah beliau belajar dengan Sidi al-Hashimi as-Sanhaji, belajar membaca Alquran, menulis dan membaca. Dia juga belajar dengan Sidi Ahmad al-Filali di Qasba an-Nawwar. Sekitar tahun 1894, beliau mulai belajar di Masjid Abu’l-Junud, belajar dengan Sidi Mahmad al-Irari, berkonsentrasi mempelajari pada Ajrummiyya , Alfiyya , as-Sullam oleh al-Bannani dan at-Tirmidzi ‘ S Shamā’il.
Perjalanannya kemudian berlabuh di Masjid legenda kota Fez, Al-Qarawiyyin. Disitu beliau belajar Mukhtasar Khalil dengan Sidi Ahmad ibn al-Jilali al-Amghari. Dia juga mempelajari sebagian dari Sahih Bukhari dan Hikam Ibn ‘Ata Allah dengan Ahmad ibn al-Khayyat az-Zargari.

Beliau juga sempat belajar az-Zaqqaqiyya, dengan Sidi ‘Abdu’s’-Salam al-Huwari; Alfiyya dengan komentar al-Makudi dan al-Muwaddih dengan Sidi Khalil al-Khalidi; bagian dari Jami ‘al-Jawami’ dan bagian dari Musnad Ahmad ibn Hanbal dengan Muhammad bin Jaafar al-Kittani ; Khhtil Mukhtasar, ringkasan Mukhtasar as-Sa’d, dan bagian dari Tauhid al-Murshid dengan komentar Syaikh at-Tayyib ibn Kiran dengan Sidi J. Muhammad Fatha Junun.

Dari Moulay ‘Abdullah ibn Idris al-Badrawi, dia belajar Sahih Bukhari, bagian dari Mukhtasar Khalil, al-Isti’ara Syaikh at-Tayyib ibn Kiran, dan bagian dari Hamziyah oleh al-Busiri dengan tafsiran Ibn Hajar. Dia belajar dari Khhtil Mukhtasar, ash-Shifa ‘oleh Qadi Iyad ibn Musa dan bagian dari al-Murshid al-Mu’in oleh Mayyara dari Sidi Hammad as-Sanhaji. Dia juga belajar al-Murshid al-Mu’in dari Sidi Muhammad ibn ‘Abdu’r-Rahman al-Filali.

Sejak tahun 1901, beliau mulai mengajar di Masjid Qasba an Nawwar. Mengajar kitab al-Murshid al-Mu’in , Mukhtasar Khalil , Muwatta Imam Malik , as-Sanusiyya , dan tafsir . Tahun 1936, beliau pindah ke Meknes, Maroko. Disitulah dia mulai fokus mengajar dengan memiliki majelis tersendiri di Masjid Zaytuna. Selain sebagai Mursyid tariqah, beliau juga mendapat ijazah tertulis di Damaskus. Shaykh Muhammad Ibn Al Habib juga pernah didapuk sebagai Qadi di Tlemcen.

Namun beliau sangat populer sebagai Mursyid besar di Maroko. Murid-muridnya banyak datang dari belahan bumi Eropa. Suatu hari, Shaykh Muhammad Ibn Al Habib berdoa kepada Allah Subhanahuwataala agar diberikan murid yang “kencingnya” berdiri. Itu metafor dari kaum kulit putih yang belum mengenal Islam. Ternyata doa itu dikabulkan. Salah seorang muridnya yang kesohor, Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Skotlandia. Nama aslinya Ian Dallas. Beliau sengaja memburu Shaykh Muhammad Al Habib di Meknes, selepas masuk Islam di Masjid Al Qarawiyyin, Fez, Maroko. Dari tangan Shaykh Abdalqadir as sufi inilah tariqah ini kemudian membesar di kawasan Eropa dan mulai dikenal di nusantara.

Kemursyidan Shaykh Muhammad Ibn Al Habib kemudian diteruskan kepada Shaykh Abdalqadir as sufi. Beliau juga mendapat doble ijin tariqah. Selain dari Shaykh Muhammad Al Habib, juga mendapatkannya dari Shaykh Muhammad Al Fayturi di Libya. Pertemuan dobel ijin inilah yang mengartikan penyebutan tariqah ini kembali pada “Dharqawiyah”. Karena Shaykh Muhammad Ibn Al Habib dan Shaykh Al Fayturi sama-sama dari tariqah Dharqawiyyah. Hanya ironisnya, tatkala pewarisan Mursyid dari Shaykh Muhammad Ibn Al Habib kepada Shaykh Abdalqadir as sufi, fitnah tetap saja terjadi. Namun hal itu bak secupak lada dalam bumbu masakan. Hanya sebagai penyedap dalam aktifitas sufi. Tahun 2013, Shaykh Abdalqadir as sufi yang bermukim di Cape Town, Afrika Selatan, mewariskan kemursyidan-nya kepada Shaykh Mortada Elbomoushouli dari Kellat Mgouna, Maroko. Maka tariqah ini kembali lagi ke negeri Magribi, setelah sebentar menyebarkan cahaya ke belantara Eropa dan sekitarnya.

Kini saban tahun berlangsung Moussem Shaykh Mortada di Kellat Mgouna. Disitulah ratusan fuqara dari berbagai belahan dunia datang menuju Maroko. Selepas moussem, biasanya para fuqara juga berkunjung ke Zawiyya Shaykh Al Habib di Meknes. Makamnya yang asri berada di dalam zawiyya. Tanggal 10 Januari 1972, itulah hari dimana Shaykh Al Habib tercatat meninggal dunia. Ada yang meriwayatkan beliau meninggal di Blida, Maroko. Lalu kemudian dimakamkan di ziyayah Darqawi di Meknes. Lalu pada tanggal 31 Januari 1972, makamnya dipindahkan di zawiyya-nya, Darb al Pasha di Meknes.
Peninggalannya begitu berharga. Selain pengajarannya yang murni, karena beliau salah satu Aulia dijaman modern yang tak terpengaruh kapitalisme, juga wirid dan Diwan-nya yang begitu terasa “tendangannya.”

Terlebih tatkala dilantunkan para fuqara. Diwan itu bisa mendayu-dayu, memecah malam dan siang, terdengar begitu syahdu.

“Kam lakamin ni’matin alayya”
Walam tajalmuhsinan Illayya”
(Berapa banyak nikmat telah Engkau karuniakan kepadaku)
(Dan Engkau masih mencurahkan ikhsan kepadaku!)

Allahu Allah Allahu Rabbi
Awliwahasbi Malisiwahhu