Catatan Perjalanan Moussem Maroko 2017 (3): Tariqah

273

Abu’l Abbas al Mursi Radiallahu anhu mengatakan, ‘Seorang murid akan mendapat shaykh sesuai kualitas dan derajat Himma (aspirasi dan kerinduan si murid kepada Allah)”

(Shaykh Abdalqadir as Sufi)

Jumat, 28 Mei 2017. Pagi di Kellat Mgouna memang tak seperti di nusantara. Udara dingin agak menyengat. Subuh telah menjelang. Tantangan makin berat. Selimut terus memanjakan agar telungkup di dalamnya. Itu sebuah kenikmatan. Tapi raga harus bangun. Karena subuh telah menanti. Dinginnya malam harus dilawan.
Baru berkisar pukul 8 pagi, mentari mulai menampakkan sinarnya. Cahanya menjadi penolong bagi kami. Karena sinarnya itu membuat tubuh menjadi hangat. Disitulah kita berburu sinar mentari, berjemur di pagi hari. Padahal kala di nusantara, kita jamak menghindarinya. Tapi di Kellat Mgouna itu kita merasakan rindu yang kentara pada sinar sang surya.

Sarapan pagi seperti biasa di hotel Damaskina. Harapan pada sepiring nasi pupus sudah. Apalagi bubur ayam khas Jakarta. Karena sarapan hanya roti, roti dan roti. Ini harus diterima, tanpa bisa membantah. Roti keras yang dicocol bluebarry, minyak zaitun, itu sudah harus dilahap saban pagi. Untung ada telur rebus, yang disediakan. Karena telur membuat perut ini tak begitu menolak, karena telah dikenali.

Sarapan pagi berbarengan dengan para fuqara lainnya. Kebetulan ada beberapa fuqara yang menginap di hotel itu juga. Umar Wils dari Istanbul, tentu saja. Ada pasangan suami istri, Ishaq dan Alima Antoniewich dari Jerman. Ini juga bagian dari Moussem. Sembari sarapan bersama, kita berkumpul berbagi cerita. Muslimin dari Jerman berkisah tentang tantangan mereka menjadi pemeluk Islam di Jerman sana. Terutama kisah dari Alima. Dia ini perempuan muda yang kuat luar biasa. Sebelum mengenal Islam, dia kerap mengenakan pakaian bak bule-bule lainnya. Tapi begitu menjadi muslimah, dia berhijab. Dan ternyata itu membuat tantangan tersendiri. Kala pagi itu dia berkisah, hijab-nya itu sempat membuat penolakan dari sanak saudaranya. Mereka tak suka Allima memakai hijab. Pernah tatkala ibunya meninggal dunia, seluruh keluarganya berkumpul. Seorang kakak kandung Allima berkata, “Kau boleh datang tapi jangan pakai hijab,” ceritanya. Alhasil dia berada dalam dua pilihan. Datang ke pemakaman tanpa hijab, atau tak usah datang dan tetap berhijab. Dia memilih yang kedua. Alima tetap memilih Islam-nya.

Sering juga acara family gathering keluarganya, dia sengaja tak diundang. Karena sanak familinya tahu Alimma seorang muslim. Tapi Alimma tetap tegar. Dia tetap memilih tak datang, demi mempertahankan hijab dan Islamnya. Untung dia memiliki suami yang juga mendukung dirinya. Mereka sama-sama memeluk Islam, walau orang Jerman asli.
Mendengar kisah mereka saban hari di Jerman sana, menjadi ingin menangis. Karena bertolak belakang dengan yang kita alami di Indonesia. Disini, tentu tak ada kesulitan menunjukkan identitas seorang muslim. Tapi jamak masih banyak yang ingin kebarat-baratan. Sementara kaum Eropa kini, mereka berlomba menjadi muslim. Alima dan suaminya menetap di Potsdam, Jerman. Sekitar 3 jam dari Berlin. Kini ada sekitar 15 keluarga di sana yang memeluk Islam. Rais Abu Bakr Rieger yang memimpin komunitas muslim di sana. Dia seorang lawyer Jerman. Kini para muslimin Jerman inilah menjadi keluarga sendiri. Alima merasa dengan sesama muslim ini dia telah memiliki keluarga baru.

Kisah Alima itu begitu menginspirasi. Menambah kekuatan untuk makin mengukuhkan Deen ini. Umar Wils juga punya kisah serupa. Dia bersama saudaranya, Abu Bakar Wils, telah memeluk Islam. Saudaranya itu menetap di Inggris. Sementara dia di Istanbul. Ayah dan Ibunya belum menjadi muslim. “Tugas kami anak-anaknya untuk menjadikan orang tua kami menjadi muslim,” ujarnya. Subhanallah. Itulah mereka. Para muslimin di barat sana. Umar bershahadat di tangan Shaykh Abdalqadir as sufi kala di Norwich, Inggris.
Ini salah satu keberkahan tariqah yang saya ikuti: Qadiriyah Shadhiliyah Dharqawiyah. Karena banyak sekali fuqara dari Barat yang mengikuti tariqah ini. Para fuqara berdatangan dari berbagai negara, tapi kebanyakan dari Eropa. Jerman, Inggris, Perancis, Swiss, Spanyol, Skotlandia, sampai belantara Afrika.

Fuqara-fuqara dari belahan barat ini memang banyak kisah luar biasa. Mereka mayoritas muallaf, baru memeluk Islam. Berbeda dengan muslimin di nusantara, yang sudah turun temurun menjadi muslim. Tapi walau muallaf, mereka melaju kencang mendalami Deen ini. Cerminan yang bisa dilihat dari sosok Shaykh Abdalqadir as sufi. Beliau orang Skotlandia, besar di Inggris, lalu di usia 30-an masuk Islam. Beliau bershahadat di Masjid Qarrawiyyin, Fez, Maroko. Selepas itu berguru pada Shaykh Muhammad Ibn al Habib di Meknes dan menggeluti tariqah ini. Kemudian beliau menjadi mursyid tatkala dilimpahkan dari Shaykh Muhammad Ibn Al Habib dan mengembangkan tariqah ini hingga belahan bumi Eropa.

Shaykh Abdalqadir memang fenomenal. Nama aslinya Ian Dallas. Beliau dari keluarga Dallas, termasuk keturunan ningrat di Skotlandia. Tapi begitu menjadi Islam, dia melaju begitu kencang. Sudah banyak yang di Islam-kannya. Di tangan dialah tariqah ini menjalar hingga bumi Eropa. Tapi Shaykh Abdalqadir, sebagai orang Barat, punya tradisi menulis yang tinggi. Beliau tak hanya memancarkan perihal tentang cahaya dan qalbu. Tapi satu dekade belakangan, beliau banyak menuliskan kitab-kitab, yang berisi pengajaran kembali ke Islam dengan jalan Amal Madinah. Sepuluh tahun terakhir dia banyak menuliskan buku dan artikel tentang politik.

Beliau sufi sejati. Sufi adalah orang yang mendalami tentang ihsan. Iman-Islam-Ihsan. Bagi seorang muslim, pengetahuan dan amal itu harus sejalan. Pemahanan tentang ihsan inilah yang banyak didapati dari tariqah. Yang mengajarkannya itulah yang disebut “Shaykh”. Tapi pengetahuan ini harus bersanad, karena bersumber dari Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Sanad inilah yang terjaga dalam tariqah. Makanya bagi tariqah, sanad ini menjadi titik penting untuk menjaga ketersambungan ilmu.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam tentu tak sekedar mengajarkan soal ibadah belaka. Melainkan ilmu tentang ihsan. Inilah yang sering tak tertuliskan dalam buku-buku. Terlebih tatkala mendalami tassawuf dari buku, tentu agak kurang mutu. Karena tassawuf harus ditransformasikan. Pertemuan mata dengan mata itu lebih mengena. Dari situlah ilmu tersambung dan terjaga.

Dalam kisah muslimin era dulu, kerap disebut hadirnya ‘ulama dan umara’. Ulama itulah para Suyukh dan umara adalah sang Sulthan. Kisah kehebatan Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel, kerap didampingi Shaykh Aaq Syamsuddin, mursyid tariqah. Sultan Iskandar Muda juga didampingi Shaykh Nurudin ar Raniri yang juga mursyid. Umara tak bisa berjalan tanpa ulama. ini bentuk penyatuan hakekat dan syariat. Keduanya harus berjalan beriringan, tanpa dipisah.

Problem di era kini, umara menjadi berbeda defenisinya. Karena ‘Presiden, Perdana Menteri, Gubernur atau Walikota’, tentu bukan kategori ‘umara’. Mereka jabatan yang lahir dari proses demokratisasi, yang jauh dari Islam. Ulama juga tengah dirundung fitnah. Karena semenjak abad pertengahan, muncul gerakan pembaharuan Islam, yang banyak menampikkan kehadiran tariqah. Seiring berkembangnya kapitalisme di barat, Islam mengalami kemunduran. Semenjak itulah muncul pembaharu, yang justru makin membuat kemunduran bagi dunia Islam. Tariqah dianggap bid’ah, syariat dilencengkan hingga mengikuti rechtstaat. Islam menjadi didefenisikan harus mengikuti perkembangan jaman. Disinilah Shaykh Abdalqadir hadir, “Bukan Islam yang harus ikuti perkembangan jaman, tapi kitalah yang harus kembali ke Islam,” ujarnya.

Sebagai sufi, Shaykh Abdaqadir memberi jalan agar umat kembali ke Islam. Kembali ke Amal Madinah, modul yang digariskan pada tiga generasi Islam awal –yang digaransi Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam sebagai generasi terbaik dalam Islam–. Disitulah pentingnya menyatukan lagi hakekat dan syariat. Hakekat dijalankan dengan tariqah, dan syariat diraih dengan mahdhab. Sultaniyya menjadi bagian ‘pengajaran’ inti dari Shaykh Abdalqadir. Muslimin harus kembali pada Amr, pemimpin Islam. Karena dunia kini dikendalikan oleh kapitalisme, yang dimotori oleh bankir sistem. Salah satu produk bankir sistem yang menjadi imperium adalah uang kertas –yang kini bertransformasi menjadi byte komputer–. Inilah alat untuk menindas manusia seantero dunia. Dari situlah Shaykh Abdalqadir mengeluarkan fatwa bahwa umat harus kembali ke Dinar Dirham, emas dan perak sebagai alat tukar.

Dinar Dirham inilah yang membuat ‘pengajaran’ Shaykh Abdalqadir sampai ke Indonesia. Para fuqara dari Indonesia jamak yang tergabung dalam tariqah ini disebabkan lebih dulu mengenal Dinar Dirham. Intinya, pengajaran Shaykh Abdalqadir tentang syariat, itulah yang mengundang hadirnya fuqara dari Indonesia, hingga bergabung dalam tariqah ini.
Sebagai mursyid, tentu Shaykh Abdalqadir tak sekedar mengajar tentang sufisme. Melainkan juga tentang sultaniyya. Ini pengajaran yang agak berbeda dengan tariqah lainnya. Karena semenjak beliau mencetuskan tentang pentingnya Amar Islam, beliau mentitahkan agar murid-muridnya membentuk Amir di setiap negara. Kehadiran Amir ini membuat setiap muslimin menjadi kembali terpimpin. Amirat lebih dulu disusun, baru kemudian Dinar Dirham bisa dicetak dan diedarkan. Hadirnya Amir, tentu ada konsekwensi sami’na waato’na di dalamnya. Inilah jalan kembalinya Deen Islam.

Dari sini tentu tersusun bahwa Shaykh Abdalqadir tak sekedar memberi pengajaran tentang ihsan, tapi juga tentang sultaniyya. Ini bentuk pengajaran yang inklud. Inilah yang terkadang menimbulkan dinamika tersendiri di tariqah ini. Bagi para fuqara di Barat, banyak lebih dulu bergabung dengan tariqah ini, baru kemudian menerapkan pengajaran soal syariat dari Shaykh Abdalqadir. Walau dalam tingkatan yang berbeda-beda. Tapi seluruh murid dari berbagai negara, kerap terpimpin dalam barisan Amirat. Di Spanyol, seluruh fuqara terdepan dalam Amirat. Amir Malik Ruiz menjadi pemimpin muslimin di Granada, yang kemudian diikuti muslimin lainnya, diluar fuqara. Mereka sukses membangun masjid raya di seberang Istana Al Hambra, peninggalan Daulah Andalusia terakhir di abad 15. Kehadiran masjid itu menjadi titik kunci kembalinya Islam di Granada. Instruksi pembangunan masjid itu datang dari Shaykh Abdalqadir. Murid-muridnya membutuhkan waktu sekitar 25 tahun sekedar untuk mendapat ijin pendirian masjid dari pemerintah Spanyol. Kini, mereka ber-ekspansi ke Sevilla, untuk membangun masjid jami’ serupa. Sebuah lahan di pusat kota disiapkan untuk pembangunan.

Seorang fuqara terbang ke Mexico untuk mengembangkan Islam. Dapatlah sebuah wilayah bernama Chiapaz, Mexico. Mulanya fuqara itu seorang diri, kini sudah ada sekitar 400 keluarga menjadi muslimin di wilayah itu. Sebuah masjid juga didirikan. Dan kini daerah Chiapaz menjadi dikenal daerah muslim. Fuqara itu ialah Shaykh Navia Perez, yang mengembangkan Islam di Mexico. Kini dia tengah berekspansi ke Kuba, untuk mengembangkan Islam juga.

Di Inggris, para fuqara menyusun Amirat dan membangun masjid jami’. Di Norwich City, sebuah masjid menjadi sentral pengajaran Islam. Dan kini para fuqara di Inggris tersebar hampir di setiap kota Inggris, mulai dari London, Leeds, Bredfort, Leicester, dan wilayah lainnya. Mereka terus mengajak muslimin lainnya untuk bergabung dalam tariqah sembari teguh ber-Amirat. Di Jerman juga serupa.

Indonesia tergolong penumpang belakangan. “Kalian adalah penumpang terakhir dalam kapal ini,” ujar Shaykh Abdalqadir kepada seorang fuqara awal dari Indonesia. Di sini, tentu penerapan soal sultaniyya bisa lebih duluan diterapkan, karena situasinya memungkinkan. Sultaniyya berarti penerapan kembalinya Amr Islam. Muslimin kembali terpimpin. Dari situ maka rukun Zakat bisa kembali ditegakkan, pasar dijalankan, Dinar Dirham dicetak dan diedarkan, dan lainnya.

Inilah inti dari ‘pengajaran’ Shaykh Abdalqadir as sufi. Menjadi muridnya, tentu tak bisa sekedar menerima ilmu tentang ihsan semata. Tapi juga taat pada pengajaran tentang syariat-nya. Harus tunduk pada sang Amr, yang ber-sami’na waato’na. Jika bertariqah, tapi tak mengikut Amir, tentu akan terpental. Inilah yang terjadi pada fuqara Indonesia di periode awal. Banyak yang dulunya ikut tariqah ini, kemudian terpental, karena menampikkan ajaran tentang AMR. Karena memilih untuk membangkang pada AMR. Menampik sang AMR, berarti melanggar prinsip sami’na waato’na yang berlaku mutlak dalam Islam. Dalam perjalanan tariqah ini, orang yang menampik Amr, kerap terpental. Karena tak mampu mengendalikan nafs-nya, yang merupakan inti pengajaran dalam ihsan.
Dalam setiap Moussem, acapkali yang duduk di barisan depan, berdampingan dengan para Suyukh, adalah para Amir-Amir. Seluruh Amir diberi tempat bersebelahan dengan para Shaykh. Rais Abu Bakar, kerap duduk bersebelahan dengan Shaykh. Beliau bukan seorang Shaykh, tapi seorang Rais, yang mengepalai para Amir. Kedudukannya di antara para murid sangat tinggi, walau bukan seorang Shaykh atau muqadim. Ini menunjukkan betapa pentingnya amal dari syariat. Tahun 2016 lalu, kala Moussem di Cape Town, Shaykh Mortada Elbomoshouli menetapkan bahwa wirid dan pengajaran tariqah di Indonesia semuanya harus seijin Amir Zaim Saidi. Mengapa idhinnya bukan diletakkan pada seorang muqadim, yang notabene atribut dari tariqah? Padahal posisi Amir bukanlah kedudukan dalam tariqah. Karena Shaykh Mortada menjelaskan, syariat harus mendahului hakekat. Ini kata kunci menjadi murid dalam tariqah ini. Demi kembalinya ulama dan umara. Demi kembalinya Deen Islam. Dan kita tengah menyusun kembali AMR.

Memang ini masa yang sulit. Kala sepeninggal Rasulullah Shallahuallaihi Wassallam, setelah dia wafat, inilah ujian pertama para muslimin era dulu. Ujian itu adalah penyusunan kembali barisan mukminin. Para sahabat ada yang lebih dulu berembuk untuk mengangkat Khalifah, tanpa melibatkan kaum Muhajirin. Lalu setelah terjadi diskusi yang panjang, Sayidinna Abu Bakar Shiddiq diangkat menjadi Khalifah pertama. Ini demi persatuan umat Islam. Disitulah dimulainya era Khulafaur Rasyidin. Tentu ada sejumlah pihak yang menolak. Ada yang mencoba murtad. Tapi dengan adanya AMR, maka keberlangsungan kehidupan Islam terus terjaga. Kini hampir 4 abad AMR ditinggalkan. Kini saatnya penyusunan kembali barisan mukminin. Karena kembali menegakkan AMR berikut perangkat-perangkatnya, berarti kembali ke era An Nubuwah. Bukan sekedar klaim semata. Tapi ini saatnya membangun dominium, karena era imperium telah terbukti menista. Imperium bankir ini harus diakhiri. Era dominium itu dimulai dengan tunduk pada seorang AMR. Itulah yang ditunjukkan Shaykh Abdalqadir as sufi.

****

Jumat terasa begitu indah di Kellat Mgouna. Karena keindahan itu tatkala bersama para fuqara sedunia. Waktu dhuhur di sana lumayan siang, sekitar pukul 13 lewat. Selepas sarapan kami berinisiatif kembali ke ranjang, menikmati kepungan selimut di badan. Karena tidur diperlukan, sebab malam nanti saat yang panjang. Sekitar pukul 11 siang, kami bersiap untuk melaksanakan sholat Jumat.

Lokasi sholat Jumat berdekatan dengan zawiyya. Kami pun menuju zawiyya datang agak lebih awal. Disitulah titik kumpul pertama, bertemu para fuqara-fuqara yang telah berdatangan. Tegur sapa, peluk cium pipi kiri kanan menjadi khas perjumpaan. Inilah salam dalam tariqah. Ada rasa kerinduan tatkala berjumpa fuqara lainnya. Terlebih yang telah saling berjumpa sebelumnya.

Sekitar pukul 12 siang, Shaykh Mortada mengomando agar para fuqara berjalan kaki menuju masjid. Lokasinya berjarak sekitar 2 kilometer dari zawiyya. Masjid yang dituju tergolong masjid “kampung”. Karena terletak dipemukiman penduduk sana. Shaykh Mortada menunjuk sidi Malik Del Poso, fuqara asal Spanyol untuk memimpin para fuqara menuju sana. Maka, tanpa perlu aba-aba lebih lanjut, para fuqara pun langsung bergerak menuju masjid. Begitu mudahnya mengatur ratusan orang. Padahal mungkin ada sekitar 200 lebih fuqara. Mengatur orang sebanyak itu, tak perlu toa atau pengeras suara. Begitu sang Shaykh memberi titah, semuanya langsung bergerak, tanpa ada bisik-bisik lebih dulu. Inilah keindahan para fuqara. Barisan yang teratur.

Dari zawiyya menuju masjid, mendadak tercipta barisan panjang yang berisi para fuqara. Semuanya berjalan tertib menuju masjid. Begitu waktu Dhuhur tiba, Adzan dikumandangkan. Di masjid itu, adzan berkumandang dua kali. Satu kali di luar masjid, dan sekali lagi di dalam masjid. Kemudian dilakukan sholat sunnat. Selepas itu Khatib memberi khutbah, dalam bahasa Arab. Semasa sholat Jumat, saya kebetulan persis bersebelahan dengan Shaykh Mortada. Ini kerap berlangsung kala Moussem. Dua tahun lalu kala Moussem di Maroko juga, saya juga berkesempatan sholat di sebelah sang Shaykh. Ini kali yang kedua. Semoga ini menimbulkan berkah.

Selepas sholat, Shaykh Mortada memanggil Shaykh Ali Laraki dan Abdasamard Clarke ke depan. Ternyata mereka dipersilahkan menterjemahkan isi khutbah. Abdasamard Clarke menterjemahkan khubah dalam bahasa Inggris. Shaykh Ali menterjemahkan ke bahasa Spanyol. Bagi saya, hal itu masih saja sulit. Karena memahami bahasa Arab, jelas sulit. Diterjemahkan ke bahasa Spanyol, tentu lebih sulit lagi. Di translate ke english, baru agak memahami sedikit-sedikit. Maklum, ber-english ria ini masih belum cas cis cus betul. Tapi hal itu tak membuat halangan. Karena justru banyak kawan-kawan yang heran, karena mereka tahu kemampuan english saya pas-pasan, tapi kok terlalu sering keluar negeri. Disitulah ‘keajaibannya’. Untuk bisa pelesiran ke luar negeri, ternyata saya tak memerlukan test Toefl sampai 500, kursus sana sini. Tapi cukup menjadi seorang fuqara, itu sudah bisa membuat berkeliling dunia. Alhamdulillah wasyukrulillah.

Selepas sholat, semua fuqara kembali ke zawiyya. Semuanya teratur dan berjalan tertib. Makan siang pun disiapkan. Meja-meja disiapkan. Sejumlah fuqara bertindak sebagai ‘pelayan’. Mereka menata meja, menghantarkan cuci tangan, dari orang ke orang. Semua dilakukan dengan sumringah. Tanpa ada berharap balas apapun. Satu meja terdiri dari tujuh fuqara. Kebetulan saya duduk bersama para fuqara dari Cape Town, Afrika Selatan. Disitu bertemu dengan Haji Toha Rasdien, seorang pengusaha kelas kakap di Cape Town sana. Kami duduk mendengarkan Haji Toha bercerita bagaimana pahit getirnya berbisnis kala berurusan dengan bank. Bagi Toha, walau dia tergolong sukses pebisnis, tapi itu masih belum mengenakkan. “Kita membutuhkan kemerdekaan sejati, dan itu sudah diajarkan Rasulullah, ilmu muamalah,”ujarnya memberi kesimpulan. Saya terkesima mendengar cerita dia. Karena baru kali ini saya mendengar seorang pengusaha memiliki wawasan seperti ini. Tentu karena dia fuqara. Tapi saya tak mengira beliau berpikiran seperti yang lainnya, padahal dia seorang pebisnis sukses. Dia bergerak di bidang development. Usahanya banyak. Yang terakhir membuka cafe Batavia di Cape Town. Di Jumat itu, makan siang ternyata kus-kus. Ini luar biasa. Kuskus ini makanan khas Maroko. Terbuat dari gandum kecil-kecil. Perut pun tak terlalu berontak, ketimbang kerap di isi roti saban hari. Kuskus setidaknya bisa mewakili nasi. Selepas itu, para fuqara pun kembali ke hotel masing-masing. Mempersiapkan diri untuk kembali ke zawiyya Magrib nanti.

Untuk transportasi dari zawiyya ke hotel, selama di Kellat Mgouna, kami menyewa sebuah taxi. Supirnya bernama Abdarrahman. Dia orang Berber asli, penduduk Kellat Mgouna. Orangnya asyik. Dia telah menanti kami di parkiran, bersiap mengantarkan kami kembali ke hotel. Tapi dia hanya bisa berbahasa Arab atau Perancis. Sementara saya tak bisa keduanya. Paling hanya tahu “ana”, “zawiyya”, “nahnu” dan beberapa kata lainnya. Terkadang, kala saya menelopon dia, saya jawab saja pakai bahasa Indonesia. Toh jika pakai english, dia juga tak paham. Siang itu, saya telepon dia, “Assalamuallaikum Abdarahman, nahnu di zawiyya.” Dia menjawab dengan bahasa Arab. Entah apa katanya. Lalu saya jawab lagi, “Oke tunggu ya, saya jalan ke depan,” pakai bahasa Indonesia. Toh begitu bertemu dia di mobil, dia tersenyum sumringah.

Sebelum magrib menjelang, sekitar pukul 8 malam, Abdarrahman telah menanti di depan hotel. Dia bersiap mengantarkan kami ke zawiyya. Semuanya fuqara berpakaian jelaba, gamis khas Magribia. Sholat maghrib langsung dimulai. Shaykh Mortada belum kelihatan. Seseorang kemudian menghampiri Malik Del Poso. Ternyata dia diminta menjadi Imam sholat Maghrib hari itu. Dari sini saya rada “curiga”, Malik ini tengah “dikader” oleh Shaykh Mortada. Tahun 2014 lalu, Shaykh Abdalqadir sebenarnya telah memerintahkan Malik Del Poso ini untuk tinggal di Indonesia, setidaknya untuk 6 bulan. Shaykh menyuruhnya ke Indonesia bersama Shaykh Ali Laraki. Kala di Maroko itulah saya kembali mengingatkan dia atas titah itu. “Ya insha Allah,” katanya. Saya sampaikan padanya, “Kini kami telah siap menanti kedatanganmu, sidi.”

Selepas sholat Maghrib, wirid langsung dikumandangkan. Muqadim Ikramuddin yang memimpin wirid. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Diwan. Rangkaian dhikir, diwan ini yang kerap dinantikan. Disinilah asma Allah didengungkan. Diwan mengangung-ngaung indah dari suara-suara putera Magribia. Umar bin Alloe begitu indah melantunkan diwan. Dia berpasangan dengan Reda ben alloe, dan ayah mertua Shaykh Mortada. Suara mereka begitu mendominasi, menuntun para fuqara melantunkan Diwan karangan Shaykh Muhammad Ibn Al Habib.
Rangakaian itu berlangsung hingga larut malam. Puncaknya adalah Hadra. Ini dhikir sambil berdiri, yang jadi ciri khasi tariqah. Hadra inilah kunci sukses bagaimana merasakan “mabuk” akan Allah Subhanahuwataala. Shaykh Mortada begitu enerjik memimpin hadra. Maklum, dia masih muda dan penuh semangat tinggi. Bagi saya, setelah berkali-kali mengikuti Moussem, baru kali ini rasanya bisa agak enjoy menikmati Hadra.

Selepas hadra, dilangsungkan pembacaan ayat suci Al Quran. Lalu dilanjutkan Durs dari Shaykh Mortada. Kemudian kembali para fuqara disediakan makan malam. Meja-meja disiapkan, para fuqara yang bertugas melayani, kembali beraksi. Satu meja berisi 7 orang. Dan malam ini, tanpa diskenariokan, saya kembali satu meja dengan Haji Toha. Ini tentu bukan kebetulan. Tapi berkali-kali saya bertemu sang pebisnis itu, di Maroko sana.