Buku “Fiqih Riba” Menggetarkan Para Penggiat Riba

656

Riba merupakan induk dari segala kejahatan. Allah Subhanahuwataala secara tegas dalam Al Quran mengatakan bahwa memerangi Riba. Dari seluruh isi Al Quran, hanya soal Riba saja Allah Subhanahuwataala secara tegas menyatakan dengan kata: perang! Ini menunjukkan riba merupakan perbuatan hina yang dilakukan manusia.

Era kini, riba bersarang dalam sistem. Inilah musuh Islam yang nyata. Karena sejak dulu musuh Islam adalah kufffur. Kuffur inilah kaumnya yang disebut kafir. Sistem kapitalisme yang kini menggema, tak ayal lagi memberikan perlindungan terhadap riba. Dan kapitalisme ini berbasis riba.

Dalam sejarah, runtuhnya Daulah Islam, sistem yang anti riba, bukan disebabkan dengan pedang. Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia, berkata: “Jatuhnya Khalifah bukan karena pedang musuh, dan bukan karena ketinggalan zaman oleh peradaban yang lebih tinggi. Kejatuhan Khalifah karena utang riba, yang secara matematis tidak dapat dipenuhi dan dilampaui, yang pembayaran bunganya saja mencegah bisa terlepas dari jumlah kapital utang pokoknya.”

Beliau menggambarkan bahwa robohnya Daulah dan Syariat Islam, disebabkan oleh riba. Riba inilah yang menusuk dari dalam dan menghancurkan tatanan sistem Islam yang syar’i. Penggerak utama riba adalah bank. Institusi inilah merupakan pabrik riba diproduksi saban hari. Produk utamanya adalah uang kertas, uang digital yang saban hari digunakan umat manusia seantero dunia kini.

Dari bank, kemudian menunculkan state (negara), yang berbasis nation state. Perpaduan state dan bank inilah yang kini menjelma menjadi fiscal state (negara fiskal) yang kini bercokol. Hampir seluruh dunia kini memberlakukan riba sebagai pondasi aturan kehidupan. Karena dibalut dalam konstitusi.

Ditengah jaman yang penuh jahiliyah ini, umat muslimin mulai jamak untuk menyadari akan bahaya riba. Hanya saja, kaum modernis telah menggeser makna riba hingga tercabut dari akar makna asalnya. Alhasil riba yang terjemahkan oleh para modernis Islam, malah bermaksud mengislamisasi kapitalisme. Dalam kata lain, sama halnya mengislamisasi Riba itu sendiri. Kondisi ini praktis telah berjalan dalam 3 abad belakangan.
Salah satu produk bentuk islamisasi riba itu bersarang dalam merebaknya bank Islam atau bank syariah. Bank, institusi pabrik riba, coba di-Islam-kan dengan membuat tambahan embel-embel “syariah” dan melupakan fiqih riba itu sendiri. Alhasil terbentuknya bank konvensional dan bank syariah, yang secara sistemik tak ada bedanya sama sekali.
Imbasnya banyak umat Islam tak menyadari “kekufuran’ bank syariah. Karena seolah bank tersebut sudah sesuai dengan Islam, dan merupakan jalan keluar umat dari belenggu riba. Padahal jika dikaji secara fiqih, produk bank itu tak berbeda sama sekali dengan bank konvensional. Hal ini dilahirkan dari memunculkan fiqih baru yakni fiqih kontemporer. Fiqih ini sama sekali berbeda dengan fiqih klasik, yang dianggap ketinggalan jaman. Tujuan utama fiqih kontemporer tak lain sekedar mengislamisasi riba itu sendiri.
Untuk memahami bagaimana sebenarnya fiqih Riba yang sesuai syariat Islam, bisa membaca buku “Fiqih Riba dan Penyimpangannya Dalam Bank Syariah” ini. Buku ini ditulis oleh Prof. Imran Ahsan Khan Nyazee, seoranh jurist dari Pakistan. Beliau merupakan ulama besar di Pakistan.

Dalam kitab “Fiqih Riba” ini bisa diketahui dengan pasti bagaimana seluk beluk sistem bank syariah dalam membelokkan makna riba hingga seolah-olah bank itu terlegitimasi dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Buku ini diterbitkan oleh penerbit Pustaka Adina yang berlamat di Jl M Ali No. 2, Tanah Baru, Depok. Kitab ini melengkapi buku-buku tentang fiqih Riba yang telah terbit lebih dulu. Di Indonesia, buku yang mengulas kekeliruan fiqih dalam Bank Syariah, telah ditulis mendalam oleh Zaim Saidi, faqih muamalah asal Indonesia. Selain itu, ada pula kitab-kitab dan artikel-artikel lain yang banyak dituliskan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, faqih muamalah yang kini dimiliki umat Islam kini. Beliau telah menerbitkan fatwa tentang haramnya uang kertas dan mencetak kembalinya Dinar Dirham, emas dan perak yang merupakan alat tukar sesuai syariat.

Namun kunci pembuka pemahaman fiqih dan riba itu sendiri telah dibukakan oleh Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia yang juga merupakan Mursyid tariqah Qadiriyah Shazdhiliyah Dharqawiyah. Beliau kini menetap di Paris, Peranciis. Dari pandangan, kitab-kitab dan artikel yang dituliskan, membawa tuntutan umat untuk memahami siapa sejatinya musuh Islam kini dan bagaimana jalan keluarnya. Shaykh Abdalqadir menjelaskan bahwa kufur adalah musuh Islam yang nyata. Kini kufur itu bersarang pada sistem yang berbasis riba. Muamalah adalah jalan awal untuk mengembalikan Islam. Saatnya umat kembali ke Islam, bukan lagi mengislamisasi kekufuran. Apalagi mengislamisasi riba.

Milikilah segera buku ini, sebagai panduan kehidupan anda dalam menghindai jerat-jerat riba, baik dalam konvensional maupun pada banyak label “syariah”. Bismillah.