Adab, Ilmu, Amal, dan Amr

352

Oleh Irawan Santoso Siddiq

Adab dulu sebelum ilmu. Seseorang sering menyalahgunakan makna adab, demi melampiaskan hasrat. Adab bukan dimaknai sekedar perilaku lemah lembut, tapi hati penuh nafs menyala. Khalifah Umar Bin Khattab, radiallahuanhu, sering menghardik seseorang yang melampaui batas. Bahkan dengan suara keras. Khalifah Abu Bakar as Shiddiq, radiallahuanhu pernah menghardik Khalifah Umar, tatkala menawarkan kompromi soal sebagian kaum muslimin yang tak lagi mau menunaikan zakat.

Hardikan sang Abu Bakar membuat Umar tersadar, betapa Abu Bakar yang lemah lembut, ternyata keras dalam urusan Deen. Umar yang dikenal temperamental pun terdiam. Bersikap keras adalah perintah Allah Subhanahuwataala (Al Quran surat Al Maidah: 54). Keras terhadap urusan Deen ini tentunya.

Urusan Deen menegakkan kebenaran. Sebuah ilmu yang membawa manusia pada urgensinya. Karena manusia, siapapun dia, melawati fase-fase kehidupan. Karena kini kehidupan dunia seolah banyak menjebak manusia.

Hegemoni dan hingar bingar dunia, acap membawa lupa pada kekuasaan Allah Subhanahuwataala. Karena manusia, sejatinya melalui tujuh fase kehidupan. Karena manusia sejatinya bukan berasal dari kera, seperti khalayan Darwin. Teori itu mentah terbantahkan. Karena kera yang sekarang, tak kunjung menjadi manusia. Tapi manusia adalah ciptaan Allah Subhanahuwataala.

Alam ruh, inilah fase awal kehadiran manusia. Setiap manusia yang lahir di dunia ini awalnya telah melalui alam ruh. Allah Subhanahuwataala menjelaskannya dalam Al Quran surat Al A’raf: 73. Fase kedua ialah alam rahim. Dalam Al Quran Surat Al Sajda ayat 9, Allah Subhanahuwataala telah berfirman. Kehadiran ruh adalah unsur utama bagi jasad manusia. Dan ruh adalah otoritas Allah Subhanahuwataala. Bayi tabung, seolah menafikkan itu semua. Seolah membatalkan teori betapa ruh adalah otoritas Allah Subhanahuwataala. Seolah manusia telah mampu menghadirkan kehadiran seorang manusia. Bagi yang meyakininya, bahwa ruh itu bukan otoritas Allah Subhanahuwataala, di situlah dirinya terkena kutukan, bisa jadi hatinya memang sengaja ditutup untuk memahami ilmu.

Lalu manusia berada di alam dunia. Inilah yang kini dianggap “kehidupan”. Hidup sekali sesudah itu mati. Di dunia, manusia berada dalam pilihan: hidup berlomba atau saling bersama. Hidup berlomba inilah ajaran kapitalisme. Saling unggul, saling eksploitasi, saling sikut sana sikut sini. Di dunia ini pula banyak yang terlena. Tak sadar kekuasaan Allah Subhanahuwataala.

Padahal, semua manusia pasti mengalami fase selanjunya: kematian. Ini yang tak pernah bisa dilawan. Orang terkaya di dunia sekalipun, kaum Rothschild, Rockefeller dan para penguasa dunia, tak pernah ada yang bisa melawannya. Karena dari kematian itulah manusia selanjutnya masuk ke alam kubur. Manusia kini mampu menghadirkan bayi tabung, tapi tak mampu menghadirkan manusia kekal: tanpa kematian. Di alam kubur itulah akan muncul sebuah siksa. Hanya amal baik yang bisa membantu manusia. Disitulah kepongahan, kesombongan, hasad, dengki, iri hati, para munafikun, fasikun, dan lainnya, akan mendapat ganjaran.

Dari alam kubur, manusia memasuki hari kiamat. Inilah saat kebangkitan. Manusia yang masih hidup akan dimatikan, yang telah mati akan dihidupkan. Lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar. Allah Subhanahuwataala menjelaskannya dalam Al Quran Surat Az Zumar: 68. Kemudian memasuki alam penghisaban. Inilah hari perhitungan. Seluruh perbuatan selama di dunia, akan ditimbang di sini. Baik dan buruk semua ada catatan. Yang baik amalnya, surga menjadi balasan. Yang buruk, neraka sudah menanti. Di alam inilah tiada lagi manusia yang berani bilang: apakah surga dan neraka itu ada? Benarkah surga dan neraka itu nyata? Maka nantikanlah. Karena mereka kaum yang memang ingin menolak kekuasaan Allah. Itulah para jahal (bodoh). Orang bodoh berarti tak memahami bagaimana dia menjadi manusia. Mau menguasai kalkulus, matematika nilai 10, penghapal undang-undang buatan manusia, lihai berpolitik praktis, berharta megah, pandai bersilat lidah, lemah lembut tutur kata, jika tak memahami bagaimana esensi manusia, hanya segerombolan orang jahal. Tak lebih.

Itulah sejatinya Ilmu. Yang memahami dan meyakininya disebut beriman. Yang memperoloknya, itulah para kaum jahil. Allah Subhanahuwataala telah menurunkan kitab panduan. Itulah Kitabullah. Al Quran adalah kitab terakhir, panduan bagi muslimin. Ilmu harus didatangi, bukan ditunggu dirumah. Kaum berilmu, harus dikejar, bagi yang mencarinya.

Shaykh Abdalqadir as Sufi, salah seorang ulama berilmu di abad sekarang, memberi definisi: ilmu berbeda dengan informasi. Ilmu adalah tentang Deen ini. Sementara yang bertebaran saban hari, itu hanya informasi. Apa yang dituliskan Monteseqiue, Machiavelli, Jellinek, Von Savigny, Rosseau, Plato, Aristitoles, Socrates, bahkan Voltaire sekalipun, itu bukan tentang ilmu. Tapi sebatas informasi. Tak layak jadi acuan kehidupan. Karena berlandaskan pada penentangan kekuasaan Tuhan. Mereka menuliskan, tak berlandas pada Kitabullah. Melainkan khayalan. Sungguh menyedihkan masih banyak yang meyakini dan menyebutnya bahwa itu adalah ilmu. Tapi ini memang jaman penuh kebalikan. Yang haq dikatakan bathil. Sementara yang bathil itulah dianggap kebenaran.

Allah Subhanahuwataala berfirman: “.niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Al Quran surat Al Mujadillah:11).

Allah Subhanahuwataala berfirman: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Al Quran Surat Az Zumar:9).

Allah Subhanahuwataala berfirman: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tidak ada yang memahaminya, kecuali mereka yang berilmu”. (Al Ankabut:43).

Allah Subhanahuwataala berfirman: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama…..” (Fathir:28).

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda: “Hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslimin. “(HR Ibnu majah, Thabrani, dan Abu Ya’ala).

Shaykh Abdalqadir as Sufi, ulama besar asal Skotlandia dalam kitabnya, “Ayat Pedang Jihad” menuliskan sebuah kalimat, di jaman ini kita berdoa kepada Allah: “Ya Allah berilah kami kitab yang memandu dan pedang yang membantu”.

Karena ini di jaman kala ilmu dianggap tak laku. Ilmu tak jadi trending topic. Informasi diburu hingga menghabiskan umur dan biaya mahal. Demi kedigdayaan kehidupan duniawi. Informasi dikejar, dibanggakan bahkan dilabeli. Karena ukuran kesuksesan manusia diukur pada jumlah harta berlimpah, kehormatan diukur pada gelar yang melekat. Maka jamak manusia menjadi lupa bahwa dunia, hanya persinggahan dalam kehidupan. Seolah alam akhirat bukan tujuan. Inilah era jahiliyah, era kebodohan. Bodoh karena manusia tak memprioritaskan pada Tuhan dalam setiap sisi kehidupan.
Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam selama hidupnya telah meletakkan ilmun dan amal. Diteruskan oleh para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Ilmu menjadi berkembang dan Islam pun menyebar bahkan pernah mendominasi hingga dua pertiga belahan dunia. Ini berkat kitab yang memandu dan pedang yang membantu.

Dari amal praktek Islam itulah, terdefinisi hakekat dan syariat.

Hakekat inilah rangkaian untuk memfokuskan kehidupan bathiniah agar mudah memahami Allah Subhanahuwataala. Syariat ini model kehidupan yang sesuai ridho Allah Subhanahuwataala, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Keduanya harus disatukan, maka makrifah pun tercapai. Shaykh Abdalqadir as Sufi pernah berkata, bagaimana makrifah itu? Sahabat itulah makrifah. Lihatlah makrifah itu pada Sahabat. Maka, para Sahabat itulah yang sukses menggabungkan hakekat dan syariat tanpa dipisah, walau kala itu belum bernama.

Kini kita hidup terpaut lebih dari 1400 tahun dari Rasulullah. Dari era sahabat. Tentu ber-Islam tak bisa lagi mengarang-ngarang. Atau mensusun lagi bagaimana Islam. Karena modul Islam ada pada tiga generasi awal: Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin. Inilah yang harus ditiru. Maka, ilmu menjadi titik penting. Kunci ilmu ada pada ulama. Tapi Rasulullah Shallahuallaihi wassalam menegaskan, hati-hati pada ulama Su’, terkhusus di akhir jaman. Bahkan Rasulullah mengatakan kita harus lebih takut pada ulama Su’ ini ketimbang Dajjal.

Maka, untuk melewati jebakan, mesti diikuti ulama yang berilmu. Ilmu yang bersanad hingga ke Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Dan ilmu itu terjaga pada tariqah. Inilah jalur untuk meraih ilmu. Tareqah adalah jalan, jalan menuju ilmu yang bersumber pada Rasulullah. Begitu juga dengan syariat. Bisa diraih dengan mahdhab. Inilah jalan tegaknya syariat. Maka, keliru jauh jika Islam harus dilabelisasi dengan undang-undang, dengan constitutio. Islam tak perlu perundangan. Tapi syariat hanya bisa diraih dengan mahdhab. Empat ulama telah menunjukkan bagaimana “hukum acara” agar syariat bisa ditegakkan. Dan kaum beriman di era abad pertengahan, telah mempraktekkannya. Di situlah haq masih terjaga, dan kebathilan ditindas. Di sanalah ilmu tersimpan dan terbentang.

Kini ilmu menjadi tanpa rezim. Keserakahan, kepongahan, kehidupan saling berlomba, ini yang menjadi rezim. Living law tak lagi Kitabullah. Melainkan sederet kata-kata karangan manusia biasa.

Alhasil ada sekelompok yang menang, ada pula yang terus dalam tertindas. Tapi Allah Subhanahuwataala telah menggariskan, kerap ada golongan kanan dan golongan kiri. Sejumlah kaum memang sengaja diberi kemewahan duniawi, tapi berhati-hati, bisa jadi itu manusia yang sengaja di “istidraj” kan oleh Allah Subhanahuwataala. Manusia yang sengaja ditutup pintu hatinya, untuk memahami hakekat menjadi manusia. Karena Allah Subhanhuwataala berfirman: “Tidak kuciptakan jin dan manusia selain untuk menyembahKu.”
Kaum yang di”istidraj”kan inilah yang harus dihindari. Tak perlu iri dengan kehidupan pongahnya. Karena Allah Subhanahuwataala telah menjanjikan soal rezeki pasti akan turun kepada siapa saja. Walaupun monopoli kini melanda, tapi rezeki tak akan tertutup. Kaum beriman dituntut untuk memahaminya. Rezeki adalah kekuasaan Allah Suhanahuwataala, sama tatkala Dia berkuasa pada roh yang berada pada jasad manusia. Tapi menjangkau rezeki tentu ada adabnya.

Tapi di sinilah pentingnya berjamaah. Rule of law kehidupan muslimin adalah berjamaah. Kapitalisme menuntut kehidupan sendiri-sendiri. Makanya homo homini lupus yang tercipta. Kehidupan berjamaah adalah kunci menjadi muslimin. Ini sunnah. Pola hidup berjamaah, mutlak harus mengikuti seorang AMR.

Allah Subhanahuwataala berfirman: “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri Minkum diantara kamu….” (Al Quran Surat An Nisa:59).

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sunggu ia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang mengingkari aku, maka sunggu ia telah mengingkari Allah. Barangsiapa mentaati Amirku, maka ia telah taat kepadaku. Siapa yang mengingkari Amirku, maka sungguh ia telah ingkar kepadaku.” (HR Muslim Bukhari).

Inilah kunci menjalani jamaah. Kunci memulai Islam kembali. Kehadiran AMR adalah mutlak. Sang AMR adalah yang ilmunya mumpuni dan laku-nya mengamalkan demi tegaknya syariat. Sang Shaykh telah mengajarkan, kita bermula dari fuqara lalu menjadi jamaah. Syariat harus dikembalikan. Shaykh membimbing para murid untuk melaksanakan. Karena musuh berada pada sistem. Kapitalisme ini yang membuat kekufuran berkuasa terang. Hadirkan yang haq, maka kebathilan pasti musnah.

Inilah titik awal bersatu pada jamaah, di bawah seorang Ulil Amri Minkum. Moussem Shaykh Abdalqadir as sufi 2016 memberi pesan, lebih penting bersatu di bawah seorang Amir. Sami’na waato’na pada Amir itulah mutlak.

Allah Subhanahuwataala berfirman: “…walaupun kamu menginfakkan semua (harta) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Al Quran Surat al Anfal: 63)

Inilah para Pencinta. Orang yang berharap ridho-Nya dalam kehidupannya. Para Pencinta tentu tak enggan bersatu, tapi bersatu dalam jamaah. Dan jamaah mutlak memiliki Ulil Amr. Syiah dan Khawarij, hadir dan bermula karena menolak Ulil Amr. Inilah fakta sejarah. Itulah yang membuat garis pemisah, betapa Ulil Amri merupakan simbol pemersatu, demi terciptanya sebuah jamaah.

Orang yang berharap ridho Allah, tentu harus mengikuti Rasulullah Shallalahuallaihi Wassalam. Dan mengikuti Rasulullah berarti juga harus mengikuti Ulil Amri. Orang yang tak sami’na waato’na pada Ulil Amri yang telah dibaiat-nya, tentu patut dipertanya, kemana hendak dia tuju? Apakah kepada Allah Subhanahuwataala? Karena untuk mencapai Allah Subhanahuwataala, ada rute yang harus dilalui. Melalui Rasulullah dan melalui Ulil Amri Minkum. Jika tak melewati rute itu, bisa terjerambab pada kejahalan (kebodohan).

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin menuliskan: “memutuskan hubungan dengan orang yang bodoh adalah ibadah kepada Allah Subhanahuwataala. Begitu pula, dengan orang fasik. Tidak ada manfaat dalam bergaul dengannya karena orang yang takut kepada Allah tidak akan terus menerus melakukan dosa besar dan orang yang tidak takut kepadaNya tidak memiliki jaminan keamanan dari kejahatan-kejahatannya.”

Karena Allah Subhanahuwataala berfirman: “…dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (Al Quran surat Al Kahfi:28).

Barrakallah.