Ahmad Wazzani, Ulama Muda Pengajar Deen Islam dari Spanyol

735

Jumat pekan lalu, 16 Februari 2018. Di pelataran Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta. Jamaah sholat Jumat meluber keluar. Panas mentari terik menyala. Padahal hari itu perayaan tahun baru Imlek, yang katanya syarat akan hujan. Tapi hari itu hujan tak menderas. Panas justru menyala.

Kami datang dari Depok dengan berkereta api ria. Hinggap di Masjid itu demi menunaikan ibadah sholat Jumat bersama. Tapi masjid telah penuh. Pelataran menjadi pilihan, walau telah dijejali ratusan jemaah yang telah duduk rapi bersila. Saya datang bersama Ahmad Wazzani Valverde. Dia ini anak muda berusia 24 tahun. Lahir di Spanyol. Ayahnya ulama asal Maroko. Pendiri Madrasah Wazzaniah di Mallorca, Spanyol. Di sanalah kini banyak melahirkan hafidz-hafidz Al Quran berkulit putih asli. Ibunya dari Spanyol asli. Jadi Ahmad perkawinan campur antara Maroko dan Spanyol. Tak heran dia berkulit putih dan bermata agak biru. Tapi Ahmad dilahirkan sebagai muslim. Ayahnya seorang sufi. Sang ayah berteman akrab dengan Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia yang kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan. Beliau-lah yang mengirim Ahmad datang ke Indonesia.

Kisah itu bermula tatkala delegasi Amirat Indonesia, berjumlah 7 orang, mengunjungi Shaykh Abdalqadir di kediamannya, beberapa pekan lalu. Kala itulah Amir Zaim Saidi, dalam menit-menit terakhir pertemuan dengan Shyakh, meminta seorang Guru untuk mengajar di Ketapang, Kalimantan Barat. Sang Shaykh pun meminta agar Ahmad Wazzani, “Son of Wazzania” menghampiri ruangan tetamu tempat pertemuan itu. Begitu Ahmad masuk, Shaykh langsung mengatakan bahwa dia mengirimkan satu orang tapi bak 100 orang bersamanya. Shaykh Abdalqadir menceritakan kiprah ayahnya itu. Ahmad pun agak terkaget seketika. Tapi disitulah dia menunjukkan sikapnya sebagai sang sufi sejati. Ahmad tak menyangka bakal dikirim ke Indonesia. Entah untuk berapa lama. Tapi dalam dirinya telah siap sedia.

Sepekan kemudian, saya dan Ahmad terbang ke Jakarta dari Cape Town. Kami berdua bernasib serupa, sesama kehabisan visa yang mengharuskan meninggalkan Afrika Selatan. Alhasil kami pelesiran ke nusantara bersama.

Jumat pekan lalu itu, kami bersama lagi. Saya sengaja mengajak Ahmad keliling melihat Jakarta. Sembari Sholat Jumat bersama.

Khutbah berlangsung. Dalam bahasa Indonesia. Tentu Ahmad tak paham. Karena dia hanya bisa ber-english dan Arabic sedikit. Dia masih belajar beberapa kata tentang bahasa Indonesia. Di tengah-tengah Khutbah, saya menjelaskan sedikit apa materi Khutbah padanya. Saya katakan, isi khutbah tentang bagaimana umat Islam harus menjaga Negara Republik Indonesia dan menerapkan demokrasi. Karena ini buah perjuangan umat Islam. Saya kaget mendengarkan responnya. “Ini tidak benar, ini bid’ah” katanya singkat. Ahmad menganggap khutbah Jumat harus sesuai dengan Deen Islam. Tak lama Ahmad berucap demikian, rintik hujan mengguyur, lama kelamaan menjadi deras. Kami pun bergerak. Seolah langit mengiyakan perkataan Ahmad, sang ulama muda itu.

Ahmad memberi pengajaran singkat. Dalam penerapan Islam haruslah dengan benar. Tidak ada toleransi sedikitpun. Begitu juga dengan Khutbah Jumat, misalnya. Tidak boleh khutbah berisi hal-hal yang mengkisahkan diluar Islam. Karena hal itu tak sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Ahmad selama ini menetap bersama Shaykh Abdalqadir as Sufi di kediamannya. Di rumah itu, Shaykh Abdalqadir tinggal bersama beberapa fuqara muda. “Rumah itu seperti zawiyya,” kata Ahmad menjelaskan. Karena, sambungnya, banyak sekali pengajaran dan pelajaran berharga tatkala tinggal bersama seorang Shaykh. Ahmad menceritakan beberapa hal yang membuatnya paham betul pengajaran sufi yang diterapkan Shaykh Abdalqadir.

Tatkala Shaykh memintanya untuk ke Indonesia, Ahmad agak terhenyak kaget. Tapi dia tak membantah. Perintah sang Shaykh adalah ibadah. Karena Shaykh merupakan Waliyullah. Ahmad hanya mempersiapkan diri. Dia beberkal seadanya. Tentu yang disiapkan hanya pakaian yang dia punya. Soal bekal dan uang? Ahmad tak mempedulikannya. Dia seolah tak ada khawatir sedikitpun terbang dari Cape Town ke Indonesia tanpa uang banyak ditangan. Karena praktis Ahmad tak memiliki Dollar berlimpah untuk bisa menetap di Indonesia. Tak ada hitungg-hitung kalkulasi biaya hidupnya, atau uang untuk keperluan ini dan itu sebelumnya. Ahmad terbang saja. Padahal dia anak muda, usia baru menapaki 24 tahun. Muda belia tapi telah siap hidup dimana saja, demi Deen Islam semata. Itulah pengajaran berharga dari seorang Ahmad, ulama muda dari Spanyol ini.

Sebelumnya dia telah menapaki madrasah Wazzani di Mallorca. Lalu dia sempat menimba ilmu di Dallas College, Cape Town, Afrika Selatan. Di madrasah Wazzani, Ahmad diajarkan tentang Deen Islam dan pengajaran dasarnya. Di Dallas College, disitulah digembleng tentang situasi jaman ini, kondisi jaman dan bagaimana umat Islam harus menyikapinya. Itulah keilmuan yang dimilikinya.

Kemudian dia hidup bersama dengan Shaykh Abdalqadir as sufi. Hidup bersama dalam sebuah rumah bersama seorang guru, itulah sekolah yang sesungguhnya. Itulah model pesantren yang basis utama. Disitulah diri Ahmed ditempa. Di kediaman Shaykh itulah Ahmad dilatih untuk menjaga hati dan sedikit berbicara tentang yang mudharat.
Kini Ahmad tengah berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Di sanalah dia bersama para fuqara Mangku Negeri Tanjung Pura Darrusalam. Tatkala ditanya, “Sampai kapan engkau akan di sana?”

Ahmad menjelaskan singkat. Situasi Deen Islam kini tengah hilang. Islam membutuhkan umat yang kuat. Dia mengutip Shaykh Abdalqadir. “Shaykh menyukai sosok yang ‘rill man’ bukan ‘good boy’. Karena ini sangat membantu pengembalian Deen Islam. ‘Real Man’ yang dimaksud adalah sosok yang berani bak Umar Bin Khattab tatkala di awal penerapan Islam. “Islam tak membutuhkan ‘the good boy’ yang hanya rajin sholat, taat ibadah tapi tak menegakkan Deen Islam. “Kita membutuhkan sosok seperti Umar yang berani sholat di Kabah ketika Islam tengah teraniaya,” ujarnya. Itulah gambaran “The Real Man”. “Saya pulang setelah tercipta sosok The Real Man itu di Ketapang,” katanya lagi.

Tentu Ahmad telah memahami mengapa Shaykh Abdalqadir mengirimnya ke Ketapang tersebut. Karena Ahmad telah mampu menterjemahkan pengajaran dan pelajaran dari sang Shaykh dengan mahfum. Sebagai anak muda, tak terlihat sama sekali nafsu Ahmad mendahului dalam kesehariannya. Dia tampak seperti telah mampu mengendalikannya. Walaupun Ahmad tetap berpakaian parlente, berkacamata hitam dalam keseharian. Tapi sejak di Jakarta, dia menyukai peci hitam khas Indonesia. “Ini elegan sekali,” paparnya.
Ahmad juga memberi pesan penting. Penerapan Deen Islam bertumpu pada Amal keseharian. Karena itulah bukan seorang faqih yang diperlukan. Melainkan yang menerapkan fiqih dan tassawuf dalam keseharian. “Syariat dan hakekat itu bak dua kaki, harus berjalan seiringan, tak bisa hanya salah satu saja. Karena jika salah satu saja, maka akan pincang,” demikian Ahmad Wazzani menggambarkan.