Al Murabithun di Mata Ulama Ahlus Sunnah

178

Oleh Abu Miftah (Sejarahwan Islam)

Di antara segelintir jamaah kaum Muslimin yang eksis selama ribuan tahun dalam menegakkan Jihad Fissabililla – al Murabithun salah satunya. Mereka kini mengajak kita untuk kembali kepada amal Nabi Muhammad SAW dan Sahabat, menegakkan Zakat dan  Muammalah dengan Dinar dan Dirham.

Dalam kutab sejarah yang ditulis oleh Ulama Ahlus Sunnah, Jamaah al Murabithun sering mereka sebut peran dan jasanya dalam menegakkan syiar agama Allah – Al Islam. Lalu siapakah al Murabithun  itu?

Bagi para penuntut ilmu – thalabul ilmi – Jamaah al Murabithun hampir selalu melekat kepada para Mujahid Besar generasi Tabiin di abad I Hijriah, yaitu: Thariq bin Ziyad, Musa bin Nushair dan Abdurrahman bin Mu’awiyah. Dan tokoh pendiri Jamaah al Murabithun yang paling populer adalah Thariq bin Ziyad, beliau mendapat mandat dari kekhalifahan dinasti Umayyah untuk mendakwahkan Islam ke Barat – al Maghrib. Kisah perjuangannya melegenda, dimulai ketika beliau memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal saat tiba di daratan Eropa Selatan, pada tahun 97 H (710 Masehi), yang kini dikenal sebagai Gibraltar– wilayah jajahan Inggris di Spanyol, yang diambil dari nama bukit Jabal al Thariq, bekas basis pertahanan beliau.

Sejarahwan menuturkan, bahwa kebijakan beliau diambil agar pasukan muslimin tidak memiliki cara lain untuk selamat dari medan jihad, kecuali harus bertempur dengan musuh sampai titik darah penghabisan! Padahal kekuatan mereka hanya 7.000 pejuang, harus melawan 25.000 tentara Raja Roderick plus ribuan relawan Kristen dari penjuru daratan Eropa. Mereka bertempur dan bertahan di sebuah bukit selama berbulan bulan, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memenangkan mereka, dan Islam dapat tegak di Andalusia lebih dari 800 tahun.

Thariq bin Ziyad merekrut generasi kedua (Tabiin) dari kaum ahlus Sufa menjadi pasukan inti tentaranya. Mereka adalah keturunan kaum dhuafa Muhajirin yang dulu tinggal di serambi Masjid Nabawi di Madinah ketika Rasulullah Salallahu Alayhi Wassalam masih hidup. Pekerjaan mereka yang lebih dominan adalah membaca al Qur’an, belajar, dan berzikir, dan sesekali menjadi pedagang kecil atau menjadi kuli. Mereka ini sering disebut sebagai fuqara karena ekonomi mereka yang faqir. Mungkin dari asal kata Sufa, maka orang menjuluki mereka Sufi – orang faqir yang berselimut. Karena 70% aktivitas mereka hanya mendekatkan diri kepada Allah dengan berzikir. Bukan sufi dalam konotasi negatif, seperti yang kini terjadi pada tarekat-tarekat sufi palsu yang semarak dalam ritual Kurafat dan Bid’ah! Mohon para pembaca  pahami agar jangan keliru.

Pada masa Abdurrahman bin Mu’awiyah menjadi Sulthan di Andalusia, yang dikenal sebagai Abdurrahman ad Dakhil, yang bergelar Shaqr Qurays (Elang Qurays), mantan tentara Thariq bin Ziyad kembali ke pangkalan mereka di seberang lautan beserta keluarganya. Mereka dulu membangun benteng di ujung daratan Afrika Utara, yaitu di daerah al Maghrib (Maroko). Benteng ini adalah tempat jaga dengan perbatasan musuh (ribat), yang kemudian hari berkembang menjadi kota Ribat atau Rabat, dan mereka adalah penjaganya (murabit), lalu kemudian orang menjuluki kumpulan fuqara ini sebagai Jamaah al Murabithun,  dan eksis hingga saat ini, tentu dengan baiat ketaatan kepada amirnya. Inilah salah satu jamaah tertua. Tidak seperti jamaah kontemporer yang belakangan mulai tumbuh bak jamur di musim hujan, dan mengklaim bahwa merekalah yang shahih? Dan berusaha merekrut kaum muslimin.

Al Murabithun sepanjang sejarahnya selalu berada di barisan kaum muslimin, mereka taat kepada Khalifah terpilih, dari generasi ke generasi, dari zaman Umayyah hingga zaman Utsmaniyah Turki, sampai runtuhnya khilafah di tahun 1924 Masehi. Mereka istiqomah berjihad selama lebih dari 1300 tahun, dan tidak tenggelam pada kekuasaan! Mereka mencukupkan rezeki mereka hanya dengan pemberian Allah melalui kerja keras – fuqara. Hingga seluruh Ulama kaum muslimin menghormati jamaah ini, termasuk Ulama Wahabi.

Setelah 400 tahun Islam berjaya di Andalusia, bangsa Kristen menyatukan kekuatan dan mengusir kaum muslimin dari banyak wilayah di Eropa hingga tersisa satu wilayah saja, dengan kekuatan penuh mereka mengepung kota Cordoba. Amirat Cordoba, Ibnu Ibad mengumpulkan Ahlus Syura dan meminta pendapat mereka, bagaimana kalau Cordoba meminta bantuan kepada Daulah al Murabithin di Maroko dan Afrika Utara. Ketika itu Amirul Mu’minin di sana adalah raja yang shalih dan mujahid, yaitu Yusuf bin Tasyfin. Kemudian mayoritas Ahlus Syura memberi saran untuk tidak mendatangkan al Murabithun, sebab mereka adalah orang-orang faqir miskin dari padang pasir, dikuatirkan apabila mereka melihat negeri Andalusia yang subur dan berbagai kenikmatan di dalamnya, setelah mereka dapat mengusir pasukan Salib, mereka akan merampas kerajaan Bani ‘Ibad, lalu menguasai Andalusia.

Dan Ahlus Syura malah menyarankan kepada Amir Ibnu Ibad agar lebih baik beliau berdamai saja dengan pasukan Salib, daripada mempertaruhkan kerajaannya ke tangan kaum al Murabithun. Dengan bijak beliau berkata: “Saya berpikir, lebih baik menjadi penggembala unta daripada menjadi penggembala babi, artinya, jika aku ditangkap oleh orang-orang Murabithin, dan mereka menjadikan aku sebagai budak, maka paling banter saya akan disuruh menjadi penggembala unta. Dan jangan sampai aku ditangkap oleh orang-orang Nasrani, dan mereka akan menjadikan aku budak untuk menggembalakan babi… maka bagi orang yang memiliki akal dan iman pasti akan memilih menjadi penggembala unta.”

Kemudian Ibnu Ibad meminta bantuan kepada Ibnu Tasyfin, yang umurnya sudah tua – 70 tahun. Ketika di medan jihad, Ibnu Tasyfin menyuruh tentaranya untuk mengikat diri beliau pada kuda agar tidak terjatuh. Maka berkumpullah fuqara Murabithun dari berbagai penjuru dan bergabung dengan sisa-sisa tentara Andalusia, sehingga terjadilah perang Az Zalaqah yang terkenal itu. Kemudian Allah ta’ala memberi kemenangan kepada orang-orang Islam, dan Andalusia hidup dalam naungan Islam 400 tahun lagi sejak saat itu. Lalu Yusuf ibnu Tasyfin meninggalkan medan perang dan bersumpah di hadapan pasukan fuqara untuk tidak mengambil Ghanimah sedikitpun, dan memberikannya kepada muslim Andalusia.

Kini dibimbing oleh Syaikh Abdalqadir as Sufi al Murabit, Haji Prof. Dr. Umar Ibrahim Vadillo dan fuqara al Murabithun kembali menegakkan panjinya untuk membentengi ummat Islam dari kejahatan Kapitalis dan Imperialis yang ditunggangi Yahudi. Yaitu memerangi kejahatan kemanusiaan terbesar – Sistem Riba Global, bank, dan uang kertas! Orang-orang yang berpikir bijak seperti Amir Ibnu Ibad tadi , tentu akan bersama kaum muslimin dalam barisan.

Sebab kekalahan kita hari ini, karena kita melalaikan Riba yang kini bercokol dalam muamalah kita, yaitu menggunakan wasilah Riba uang kertas! Padahal Allah ta’ala dan Rasul-Nya hanya menyebut uang kepada Emas dan Perak. Dan musuh Allah menghimpun kekuatan dari uang kertas fiat money dalam pasar Riba mata uang Dunia. Marilah kita berpikir sehat, dan kembali menegakkan Sunnah Rasul SAW amal Madinah abad I Hijriah. Bukan alasan karena  seseorang  tidak suka kepada al Murabithun (sufi), sehingga ia memilih Neraka daripada taat kepada Allah dan RasulNya.

Mohon bijaksanalah.