Amal Madinah dan Dinar Dirham

569

Rasulullah Shallahuallaihi  Wassalam bersabda:

“Islam akan kembali ke Madinah seperti ular kembali ke sarangnya.” (HR Muslim)

Madina artinya Rumah Deen. Madina adalah titik awal mulainya Islam. Era Rasulullah, di wilayah itulah Deen ini kali pertama memiliki rumah. Makanya disebut Madina, rumah Deen. Islam diletakkan sempurna, disusun pondasinya hingga menjadi rumah yang siap dihuni siapa saja, pemeluknya. MADINA.

Dari Madina, Islam kemudian merambah wilayah-wilayah lainnya. Rumah Deen menyebar lebar hingga dua pertiga belahan dunia. Hingga merambah Andalusia, jazirah, eropa Timur, khurasan hingga nusantara. Rumah Deen berdiri dimana-mana, meniru Madina al Munawaroh. Di Madina itulah diajarkan bagaimana menjadi muslimin. Islam dan kafir memiliki hijab. Kafir berarti yang menolak Deen. Kufur yang berlindung pada satu sistem juga. Kufur berarti tak percaya sepenuhnya pada Allah Subhanahuwataala dan segala aturan yang berasal dari Dia. Di era jahiliyah jaman Rasulullah, salah satu model kufur ditandai menyembah latta, uzza dan manna, sebagai tuhan kedua yang membandingkan dengan Allah Subhanahuwataala. Padahal latta, uzza, dan manna, sebuah benda yang diciptakan manusia, lalu disembah-sembah, dipatuhi dan tak boleh diganti. Itulah berhala. Tapi berhala bukan sekedar penyembahan ritual belaka. Melainkan apapun yang menyangkut kehidupan, mesti dikaitkan dulu dengan benda buatan manusia itu. Jika merasa tak sesuai, maka aturan Allah tak bisa diterapkan. Mirip dengan situasi sekarang. Ketika syariat—yang merupakan hukum Allah Subhanahuwataala—diletakkan dibawah constitutio, aturan buatan manusia. Madina yang diletakkan Rasulullah, menghapus dan menghancurkan model berhala-berhala itu semua.  Islam menegaskan syariat datang dari Allah yang dieksekusi utusannya, Rasulullah, lalu diikuti umatnya. Tidak ada hijab untuk menuju Allah Subhanahuwataala. Dan model itu telah disusun Rasulullah di Madina. Kaum yang tak percaya itulah yang disebut jahal (bodoh). Karena lebih memprioritaskan kehidupan dunia ini segala-galanya. Melupakan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Itulah kejahalahan (kebodohan). Terkesima pada dunia yang menipu.

Dari abad 7 hingga 17, rumah Deen berdiri kokoh hingga kemudian roboh. Kerobohan itu disebabkan manusia jamak menjadi kufur. Kapitalisme menjadi bungkus utama kebodohan. Manusia-manusia mendefenisikan ulang soal kehidupan. Aturan Tuhan dicampakkan. Revolusi Perancis, abad 18, sebagai titik tolak berkembangkan rezim kapitalisme. Setelah dimulai sejak rennaisance. Gereja dianggap malapetaka. Constitutio menggantikan kitab suci. Demos kratos mengeliminasi teokrasi, res publica dianggap jalan keluar. Demos kratos, constitutio, res publica menjadi trio dimulainya “negara”, sesuatu buatan manusia. Lalu “negara” pun berubah. Mengikuti hukum alamnya, homo homini lupus. Keadilan jadi bualan. Negara pun berubah menjadi negara fiskal. Staat, State itu bak coorporation, yang bak sesuatu yang harus menerkam mangsa. Coorporation hanya berlaku dua hukum, untung atau rugi. Negara pun demikian. Deviden bagi pengurusnya, menjadi prioritas utama. Maka proletar tak bergeser statusnya. Kejahiliyahan pun kembali melanda. Rumah Deen nyaris musnah. Walau di kota Yastrib, yang diubah namanya menjadi Madina. Rumah Deen tak hadir di sana. Kapitalisme juga telah mengepung Makkah dan Madina.

Sejumlah kaum muslim mencari-cari defenisi baru. Seolah Islam harus mengikuti perkembangan jaman. Islam tak boleh kalah dengan kapitalisme. Lalu disusunlah constitutio syariat, bank syariat, asuransi syariat, dan segala label syariat dilekatkan pada produk yang jelas lahir dari rahim kapiralisme. Padahal Rumah Deen, bukan berdiri dari mengadopsi kejahiliyahan. Tapi mendirikan aturan yang sesuai dengan landasan hukum Allah Subhanahuwataala. Sesuatu yang bersifat tak adil, harus ditolak mentah-mentah. Bukan dibuat menjadi halal, suatu yang telah haram. Karena yang haq dan bathil tak bisa disatukan.

Inilah pentingnya untuk kembali membangun Rumah Deen, Madina. Walau lokasinya bisa dimana saja. Karena Rasulullah telah mengingatkan, era akhir jaman, Islam yang akan kembali ke Madina. Artinya Rumah Deen akan berdiri di titik timur atau barat dari Madina. Nusantara adalah titik terjauh dari yang pernah dicapai Islam. Inilah kesempatan muslimin sekarang membangun kembali Rumah Deen, Madina. Jalan kembalinya adalah dengan kembali menerapkan Amal Ahlul Madina. Rasulullah menggariskan bahwa tiga generasi awal dalam Islam, para awalun, itulah generasi terbaik Islam. Inilah yang menjalankan Amal Ahlul Madina. Amal para muslimin yang merujuk pada ketentuan Madina, Rumah Deen, yang dibangun Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam juga telah memberi sabdanya, periode kehidupan akan kembali berulang seperti di era Khulafaur Rasyidin, setelah melewati masa Mulqan Jabarian, Mulqan aadhon dan lainnya. Artinya titik kembalinya Madina seperti yang berlangsung di era Khulafaur.

Titik mula era Khulafaur dimulai setelah wafatnya Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Selepas Beliau wafat, para Sahabat, mulai menyusun tentang AMR, yang bahkan sampai membantarkan jenazah Rasulullah hingga 3 hari. Ini menunjukkan betapa pentingnya AMR dalam Islam. AMR sebagai titik awal dimulainya Deen. Tanpa AMR, tiada Deen. Kini di era jahiliyah modern, Amr telah lenyap. Maka, saatnya menyusun dan membangun lagi AMR.

Lalu para Sahabat membaiat Abu Bakar as Shiddiq. Baiat menjadi proses as Sunnah. Menjadi tali temali bersambungnya muslim dengan Allah Subhanahuwataala, melalui Ulil Amri Minkum, dan Rasulullah. Baiat tidak sama dengan pemilu, suatu produk yang lahir dari model demos kratos—yang tak pernah dikenal dalam Islam. Baiat adalah Baiat, bukan disetarakan dengan yang lain. Mengembalikan Baiat di era kini, bagian dari menegakkan Amal Ahlul Madinah, bagian dari mendirikan kembali Rumah Deen, Madina.

Kebijakan awal Khalifah Abu Bakar as Shiddiq adalah menegakkan aturan Deen tanpa kompromi. Beliau menitikkan Zakat harus tetap ditunaikan, tanpa kecuali. Sesiapa kaum muslimin tak bersedia menunaikan Zakat kepada Ulil Amri, Khalifah Abu Bakar memeranginya secara militer. Inilah Amal Ahlul Madinah. Artinya penegakan Rukun Zakat menjadi prioritas tanpa kompromi se-inci pun. Zakat harus ditunaikan kepada AMR. Karena Zakat merupakan haq Allah Subhanahuwataala. Ulil Amri Minkum sebagai “perwakilan” Allah Subhanahuwataala di dunia, wajib menarik Zakat, tanpa kecuali. Yang tak bersedia ditarik Zakat, berarti melawan Allah Subhanahuwataala. Kini, 1400 tahun kemudian, rukun Zakat menjadi kacau balau. Karena AMR hilang. Tiada lagi penjaga Syariat. AMR adalah penjaga syariat, bukan penjaga undang-undang. Syariat tak serupa dengan undang-undang. Syariat aturan dari Allah Subhahuwataala. Sementara undang-undang hanya buah dari aturan bikinan manusia, yang hanya menguntungkan segelintir manusia lainnya. Maka saatnya kembali menegakkan lagi Rumah Deen, Madina.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:

“Apabila di akhir zaman, manusia di masa itu tidak boleh tidak memerlukan dirham-dirham (uang perak) dan dinar-dinar (uang emas) untuk menegakkan agama dan dunianya.” (HR Thabrani).

Ini adalah kunci. Dinar dan Dirham diterapkan sebagai jalan mendirikan Rumah Deen, Madina. Menegakkan lagi keadilan. Menyusun dan membangun lagi Madina, walau diluar Yastrib. AMR menjadi titik awal. Zakat sebagai pembeda antara muslimin dan kafirun. Menolak AMR, berarti menolak tali Allah Subhanahuwataala. Sami’na waathokna menjadi hukum tetap. Rumah Deen ini yang harus didirikan, dimulai dengan menghadirkan kembali Dinar dan Dirham. Itulah fokusnya. Bukan menjadi “Club Dinar Dirham”. Tapi untuk menegakkan Deen, mulai dari AMR, Zakat dan lainnya. Inilah Rumah Deen yang harus kembali hadir demi keadilan. Barrakalla