Awal Kisah Kudeta Negara (1)

249

Ide tentang negara, awal terwujud di Paris, Perancis. Revolusi Perancis, 1789, melahirkan negara sebagai anak kandung rennaisance di belantara Eropa. Tapi kekuasaan negara kemudian lumpuh, dikudeta oleh para bankir. Mereka penguasa kendali harta, ekonomi negara-negara.

Negara adalah sebuah istilah. ini kata terjemahan. Inggris menyebutnya “state”. Jerman dan Belanda disebut “staat”. Italia: “lo stato”. Perancis bilang “l’etat”. Eropa menyerapnya dari bahasa Latin: ‘statum’. Artinya sesuatu yang bersifat tegak dan tetap.

Dalam khazanah bahasa, dikenal istilah ‘nagari’ di Minangkabau dan ‘nagara’ dalam sansekerta. Nagari berarti sebuah wilayah yang lebih besar dari kota. ‘Nagara’ berarti kota. Tapi kata ‘negara’ dianggap terjemahan resmi dari sebuah ‘state’ tadi. Eropa mengenalnya dari Machiavelli, abad 15. Dalam kitabnya, Il Principe, dia menelorkan istilah ‘lo stato’. Kini negara menjadi identifikasi. Setiap manusia, wajib punya negara. Manusia tanpa negara, tak dianggap sebagai ras manusia. Hanya ada beberapa manusia di pulau, yang tak bernegara. Negara pun memiliki nama atau brand. Inilah simbol kebangsaan. Dari situlah nation state menggurita.

Sejak era rennaisance di Eropa, negara menjadi cita-cita. Masa kala eropa tak terima kalah gemilang dengan dunia Islam. Istana Al Hambra di Granada, istana di Cordoba, bentuk mindernya kaum Eropa dalam melihat peradabannya. Itulah yang disebut masa kegelapan (dark age). Puncaknya kala jatuhnya Konstantinopel di tangan Daulah Utsmaniyah di bawah komando Sultan Muhammad II. Kaum eropa merana. Bangsa-bangsa Eropa menangis atas kekalahan itu. Karena Konstantinopel simbol terakhir Romawi, yang jadi ikon kejayaan Eropa. Walau Konstantinopel berbeda secara aqidah, karena di sana menganut unitarian (Nasrani yang berpaham 1 Tuhan), tapi kegemilangan Islam membuat gejolak.

Tahun 1453, jatuhnya Konstantinopel itu, membuat seluruh Eropa berduka. Seorang penulis sejarah Georgia melukiskan, “Pada hari orang Islam merebut Konstantinopel, matahari kelihatan gelap,” tulisnya. Kaisar Jerman, Frederick III, malah menangis tersedu kala berita itu sampai kepadanya. “Tanganku gemetar, bahkan saat menulis jiwaku ketakutan,” akunya.

Jatuhnya Konstantinopel itu membuat ketakutan seluruh Eropa. Berita itu tersebar secepat sebuah kapal berlayar. Secepat seekor kuda berlari. Dan senyaring sebait lagu dinyanyikan.

Berita buruk itu meluas hingga ke Perancis, Spanyol, Portugal, negara-negara Balkan, Serbia, Hungaria, Polandia, Denmark dan seluruh negeri Eropa lainnya. Eropa pun mengutuk kejadian itu luar biasa.

Christian I, raja Denmark dan Norwegia, saking emosinya menggambarkan Mehmet II (Sultan Muhammad Al Fatih) sebagai binatang buas yang akan keluar di hari kiamat.
Eropa pun sibuk menggalang kekuatan. Saluran diplomatik antar kerajaan era itu, sibuk dipenuhi berita dan peringatan akan kejatuhan Konstantinopel. Mereka terus merancang pasukan Tentara Salib lanjutan. Puncaknya berlangsung tahun 1490. Kala pasukan Nasrani menyerbu Kesultanan Andalusia di Granada. Istana Al Hambra berhasil direbut. Sejak itulah mencuat semangat “reconquesta” (balas dendam).

Tapi kepercayaan umat pada Gereja mulai menipis. Karena masa itu eropa dikooptasi dengan model Monarkhi dan Gereja. Titah raja wajib ditaati. Tapi satu sisi kekuasaan raja cenderung dzalim. Sementara kaum Gereja melegitimasi kekuasaan raja. Ini beranjak dari penguasa Eropa sebelumnya, Romawi. Disitulah Nasrani secara resmi menjadi agama kaum Romawi. Abad 4 Masehi, Romawi yang berpusat di Roma bubar. Berdirinya kerajaan Inggris, Franca, Germana, kekaisaran Romawi suci dan lainnya. Tapi Narasni tetap menjadi agama mayoritas. Kaisar berubah menjadi Raja-raja. Kala itulah monarkhi menjadi model satu-satunya sistem pemerintahan. Kala itu, “negara” belum lagi menjadi dialektika.
Tapi muncul kelompok baru. Abad 15, mencuat tokoh baru, Marthin Luther dan Callvinis. Mereka dianggap pembaharu dunia Nasrani. Tapi Gereja menolak. Gereja mempidanakan pengikut Protestan. Di kerajaan Perancis, mereka disebut ‘Huguenots’. Eropa pun terbelah. Kaum Protestan diburu, tapi perlawanan kerap datang.

Tahun 1555, terjadi perjanjian bersejarah. Caius regio, Eaius religio. Protestan silahkan menetap di wilayah yang menganut agama itu. Sementara Katolik memilih domisilinya. Alhasil Eropa belahan utara banyak menganut Protestan. Inilah kerajaan Belanda, Inggris, Swedia menjadi hunian kaum ini. Sementara kerajaan Perancis, Portugis, Spanyol tetap menganut Katolik. Kedua belahan Eropa ini tak henti berkecamuk. Kerajaan Spanyol menyerang Monarkhi Belanda selama 80 tahun. Tapi Belanda berhasil menang. Muncul pahlawan, William of Orange. Dia bertitah, tanggul-tanggul sungai dan kanal-kanal dijebol sendiri oleh rakyat Belanda. Alhasil membanjiri tanah-tanah yang diduduki tentara Kerajaan Spanyol. Ini yang membuat pasukan kerajaan itu mundur teratur. Inilah yang kemudian melahirkan Perjanjian Wetsphalia, 1648. Perjanjian ini bentuk awal garis-garis batas sebuah negara.

Di Perancis, perang kedua agama tak terelak juga. Francois I (1515-1547), Raja Perancis, tak terima kehadiran Huguenot. Dia Katolik. Francois I mengeluarkan slogan: “Un Roi, Un Foi, Une Loi” (satu orang Raja, satu agama, satu hukum). Protestan tak ada tempat.
Pasca Francois I wafat, diganti Henry II. Tapi lelaki ini tak lama menjadi raja. Dia mati dalam suatu lomba tombak berkuda. Pewarisnya tak ada yang cakap. Prahara pun melanda Kerajaan Perancis raya. Mahkota jadi rebutan dua keluarga ningrat. Keluarga Bourbons yang menganut Protestan berambisi mengambil alih. Dia beraliansi dengan keluarga Santo Louis, keturunan raja Perancis abad 13. Sementara lawannya golongan Guises, penganut Katolik. Mereka keturunan Duke of Lorraine. Kedua kelompok saling perang. Hingga berakhir tahun 1562.

Tapi perang tak berhenti. Bahkan tatkala Charles IV menjadi raja. Inilah masa kelam bagi Huguenot. Perancis masih dikuasai kaum Katolik. Charles IV raja yang cerdas, tapi punya kelemahan. Dia takut kepada sang Ibunya, Chaterine de Medici. Ini Ratu Wali Kerajaan Perancis. Ibunya ini kerap mengekang Charles IV, yang masih belia. Banyak keputusan kerajaan, yang keluar dari titah sang Ibu. Charles IV tak banyak bisa membantah. Puncaknya, merebak peristiwa yang luar biasa. Tanggal 24 Agustus 1572, Kerajaan Perancis menggelar hajatan besar. Perayaan atas peringatan kematian Santo Bartholomeus. Sekitar 10 ribu orang Protestan diundang ke Istana. Mereka hadir. Tapi kemudian para Huguenots itu dibantai dengan makanannya diracun.

Ian Dallas, ulama besar Islam kesohor dari Skotlandia kini, mengulas kejadian itu dipengaruhi karena tiadanya “kedaulatan” Charles IV sebagai seorang Raja. Dia raja tapi tak bisa tertitah. Tekanan sang Ibu yang berlangsung terus menerus sejak kecil, mempengaruhi keputusan sang raja. Karena Charles IV tahu rencana busuk itu. Tapi beliau tak mampu mencegah, hanya karena takut pada Ibu-nya. Ini bentuk ketidakberdayaan seseorang karena masa lalunya. Ini bentuk ketidakberdaulatan seseorang. Ini bukti berbahayanya seseorang yang tak berdaulat kala memimpin singgasana.

“Eropa Spring” tak berhenti. Tahun 1589, seorang pangeran dari kalangan Bourbons, Henry de Navarre, penganut Protestan, didaulat menjadi Raja Perancis. Dia mendapat nama menjadi Henry IV. Tetangga sebelah, kerajaan Spanyol tak terima. Mereka membantu keluarga Guise yang menganut Katolik. Ratu Inggris, Elizabeth I, ikut turun juga. Mereka mendukung Protestan. Kebetulan kala itu Kerajaan Spanyol juga tengah berperang dengan kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth mengirim bala tentara 5000 orang ke Perancis. Tujuannya membantu Henry IV. Bala bantuan itu berpengaruh besar. Henry IV memenangkan perang. Tahun 1595, perang itu berhenti. Perjanjian damai disepakati. Antara Perancis dan Spanyol. Itulah yang disebut Perjanjian Vervins.

Raja Henry IV berubah agama lagi. karena mayoritas rakyat Perancis menganut Katolik. Dari Protestan dia menjadi Katolik. Tapi saat itulah dia mengeluarkan dekrit penting, “The Edict of Nantes”. Titah ini menjamin kebebasan beragama bagi para Huguenots.
Di kerajaan Germana, gejolak juga berlangsung. Pangeran-pangeran banyak mengikuti Martin Luther. Terutama di Jerman Utara dan Jerman Tengah. Sementara di Jerman selatan tetap ber-Katolik. Kala itu, menganut Protestan dianggap murtad. Tahun 1529, Majelis Kerajaan Jerman (diet of the empire), mendiamkan titah Raja bahwa kemurtadan harus diberantas. Artinya kaum Protestan dibatasi. Lalu para pangeran Jerman yang mengikuti Protestan bersatu. Mereka membentuk League of Schmalkalden, tahun 1531. Lalu pecahlah perang Katolik dan Protestan di Jerman, 1546 sampai 1556. Puncaknya terjadi perdamaian di Augsburg. Perjanjian itu mengakui agama Protestan di Jerman.
Geliat perang antar agama itu yang membuat jengah kaum Eropa. Mulailah bermunculan para penghujat Gereja. Karena agama dianggap tak lagi memberi perlindungan.

Rennaisance ditandai sebagai jaman penolakan terhadap otoritas Tuhan dalam kehidupan dunia. Disanalah diceraikannya Tuhan dan manusia. Karena Tuhan hanya dianggap ada dalam pikiran manusia. Kala dipikirkan, disitulah Tuhan baru ada. Dialektika yang bersumber dari filsafat, kembali diminati. Sumbernya tentu berasal dari peradaban Yunani kuno. Filsafat menjadi dasar berpikir baru, yang dianggap jalan keluar kejumudan agama.
Dari situlah masa pencerahan dimulai. Shaykh Abdalqadir as sufi menggambarkan, era itu secara terang benderang penerapan secara kaku kerangka berpikir yang sumbernya filosof Yunani. Filsafat yang semula hanya dipakai untuk memikirkan suatu benda, kemudian digunakan melebar menjadi kerangka dasar bagaimana masyarakat manusia harus diatur. Sejak itulah teori tentang “negara” menjadi subjek intelektual yang menggairahkan. Model Platonis dan Aristotelian menjadi rujukan. Politeia dihidupkan kembali. Itulah jadi kerangka “negara”.

Revolusi Perancis, 1789 dan 1799, menjadi puncak terbentuknya ide “negara”. Disitulah eksekusi ide negara terwujudkan kali pertama di dunia. Raja Louis XVI digantung di depan penjara Bastille, sebagai bentuk berakhirnya Monarkhi. Para agamawan, pastur dan penggiat Gereja diburu dan dibunuh. Pasukan republik terbentuk. Tapi lahirnya republik Perancis lahir dengan kudeta berdarah. Pengikut republik berhadapan dengan status quo, kaum pengikut Gereja dan Monarkhi. Demokrasi seolah menjadi slogan pahlawan. Konstitusi, ide Rosseou menjadi jalan keluar aturan baru pengganti kitab suci.

Namun tragedi di La Vendee, Perancis menjadi bukti bagaimana demokrasi dan republik Perancis lahir dari proses berdarah. Kaum agamawan dibunuh. Konstitusi menjadi batasan pengikuti republik atau monarkhi. Masyarakat La Vendee melawan pengikut republik.

Shaykh Abdalqadir as Sufi menjabarkan, tanggal 18 November 1793, 90 pastur yang menolak bersumpah setia pada konstitusi sipil, di bawa ke sebuah tongkang bernama La Glorie, lalu di sorong ke sungai, disegel palkanya, dan di tengah malam buta para penjaga menenggalamkannya.

Pada 20 Desember 1793, 58 Pastur dari Angers menemui nasib yang sama. 14 Desember, 150 warga sipil. Pada 22 Desember sebanyak 350. Tanggal 23 Desember sebanyak 800 orang dibunuh. Menjelang Natal, 300 orang dibantai. Distrik demi distrik di Perancis mulai menerapkan pola yang sama. Ini yang disebut baptisme patriotis. Total ada sekitar 12 ribu orang dibantai demi alasan “negara”. La Vendee berubah menjadi kuburan nasional. Slogan “liberte, egalite, fraternite” menjadi semboyan kaum republiken. Itulah alasan berdirinya negara. Liberte adalah kebebasan. Tapi bebas dari hukum agama Nasrani. Egalite berarti keadilan. Keadilan yang tak lagi merujuk pada kitab suci. Fraternite, persaudaraan. Persaudaraan antar sesama kaum nasionalis, tapi membunuhi para agamawan dan bangsawan Perancis. Inilah makna slogan yang diagungkan itu.

Dr. John Coleman, pengamat politik asal Amerika Serikat menyimpulkan, revolusi Perancis memiliki king maker. “Revolusi itu dijalankan dari Inggris,” tulisnya. Ada sosok nine unknown men (sembilan pria tak dikenal) yang menjalankan revolusi Perancis. Coleman menyimpulkan ada benang merah yang ditarik dalam revolusi Perancis, revolusi Bolshevik dan lainnya. Benang merah itu ialah: kebencian yang sama pada agama Nasrani.
Dan, perjalanan revolusi kemudian menyebar seantero Eropa. Kerajaan Belanda dianaksasi masa Napoleon menjadi Kaisar Perancis. Saat itulah Belanda tunduk pada republiken. Hindia Belanda yang bercokol di nusantara, mengikuti berlandas azas konkordansi. Setelah menguasai Eropa, semangat “negara” itu yang kemudian memporak-porandakan Daulah Utsmaniyah di Istanbul. Rumusnya sama: kebencian terhadap Nasrani di ubah menjadi menggeser makna Islam. Gerakan pembaruan Islam digulirkan, sama persis seperti pembaruan Nasrani. Maka Daulah Utsmani berubah wujud menjadi banyak negara-negara. Tapi kesemua itu diskenariokan dari sebuah persekutuan yang tak ber-istilah. Mereka berada dibalik layar, yang kini menorehkan hasil jerih payah revolusi. Merekalah para bankir. Musuh umat manusia kini.

Irawan Santoso Shiddiq