Bagaimanakah Hukum Bursa Saham?

220
 
Bagaimanakah hukum berjual beli saham di Pasar atau Bursa Saham? Berikut penjelasan ringkas dalam bentuk Kultweet oleh Amir Zaim Saidi.
1. Untuk memahami jual beli saham di Bursa Saham itu haram hukumnya, sebenarnya sederhana saja. Asal tahu rukun jual beli dan Riba kita bisa menilainya.
    2. Dalam syariat Islam jual beli itu harus “yadan bi yadin”, dari tangan ke tangan, jadi tunai. Tunai itu artinya barangnya ada, uangnya ada. Keduanya bernilai dan berwujud.
    3. Haram hukumnya jual beli antara sesuatu yang ada di tangan, dengan sesuatu yang tidak ada di tangan. Ada riba dan gharar [spekulasi] di dalamnya. Semacam membeli burung yang terbang.
    4. Jadi, kalau jual beli motor misalnya, maka harus ada motornya, ada uangnya. Dan uang di sini pun harus berupa ‘ayn, atau aset.
    5. Sebagai ‘aynnya bisa apa saja yang disepakati, dan lazim sebagai alat tukar, gandum, kurma, garam, emas, perak, beras, jagung. dan lain lain.
    6. Dari rukun dasar ini saja, sudah bisa dipahami, jual beli motor dibayar dengan memakai rupiah, yang tidak lain merupakan nota hutang, itu riba.
    7. Membayar dengan uang kertas itu tidak tunai, dan juga nilainya tidak ada kecuali angka nominal di atasnya, jadi ada riba jenis kedua, yaitu al fadl.
    8. Nah, sekarang apa hubungannya dengan jual beli saham di Bursa Saham? Saya ingin menggunakannya sebagai amsal saja. Ada kemiripan.
    9. Ibarat jual beli motor, Bursa Saham itu, bukan memperjualbelikan motornya, tapi BPKB-nya, sementara motornya sedang dipakai buat ngojek.
    10. Maka, di Bursa Saham itu, dua-dua hal, benda yang diperjualbelikan dan alat bayarnya, ghaib. Motornya tidak ada, alat bayarnya tidak ada
    11. Realitasnya yang diperjualbelikan di Bursa Saham itu hanyalah byte komputer, dan dibayar juga dengan byte komputer. Sesuatu yang ghaib ditukar dengan sesutu yang ghaib juga.
    12. Sampai di sini saja sudah sangat jelas, jual beli saham di Bursa Saham itu haram. Sama sekali bertentangan dengan rukun jual beli.
    13. Pihak yang menghalalkan Bursa Saham sama sekali mengabaikan unsur Riba dan gharar ini, hanya berdalih asal “underlying asset” nya, halal.
    14. Mereka menyatakan jual beli BPKB itu, dalam contoh motor di atas, halal, karena bukan babi atau khamr atau saham usaha perjudian.
    15. Dalihnya kan ada motornya meskipun lagi dipakai ngojek, sebagai analogi underlying asset perusahaan, dan BPKB, sebagai surat pemilikan.
    16. Mereka mengabaikan bahwa jual beli BPKB tidak sama dengan jual beli motor. Wong cuma selembar kertas. Asetnya itu ya motornya, bukan BPKB.
    17. Nah, kita masuki soal substansi “harta”, atau pemilikan, yang dalam Islam, berarti berupa ‘ayn yang bisa dipegang, ada wujudnya, “hadir”.
    18. Sebaliknya memegang sertifikat saham tidak berarti Anda memiliki perusahaan itu. Pemilikannya tidak riil. Ghaib.
    18. Jadi tidak cukup asal usahanya bukan ternak babi, pabrik khamr atau rumah judi, lalu “sertifikat pemilikan”, alias saham, bsa diperjualbelikan
    19. Yang bisa diperjualbelikan adalah aset riil-nya, yang jadi milik Anda secara riil pula, bukan byte komputer di Bursa Saham.
    20. Belum lagi kalau kita perdalam, “harga” atau “nilai” saham itu juga tidak riil, artifisial, terserah pihak perusahaan menetapkannya
    21. Dan begitu masuk Bursa Saham, lebih liar lagi, nilainya tidak terkait sama sekali dengan “undrlying assetnya”, tapi semau-mau pemain Bursa Saham
    22. Di sini, jual beli saham itu bukan lagi hanya soal RIBA saja, tapi masuk unsur spekulasi. Bisa untung, bisa buntung. Bisa “digoreng”.
    23. Maka, jual beli saham, juga menjadi perjudian. Untung-untungan. Permainannya adalah hampir sebentuk zero sum game. Kalau ada yang untung, karena ada yang buntung
    24. Dan perdagangan saham ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia riil. Menjadi bagian dari persoalan masyarakat yang tidak terlibat.
     25. Maka Bursa atau Pasar Saham itu, dari kacamata Islam, tidak ada pasarnya, tidak ada sahamnya. Sepenuhnya adalah Meja Casino. Haram 100%.
26. Meja Casino, perjudian plus RIBA, tentu saja tidak bisa dihalalkan dengan diislamisasi. Haram dari awalnya, haram di akhirnya. End.