Bagaimanakah Memahami Pengertian Riba dengan Mudah?

168

Pengertian riba telah banyak dijelaskan oleh berbagai pihak, tapi sering tidak mudah dimengerti. Bagaimana cara memahaminya dengan mudah? Berikut adalah penjelasan dan uraiannya dari Amir Zaim Saidi.

Dalam riwayat yang disampaikan  oleh Ibnu Majah serta  Baihaqi,  dari Abu Hurairah,  Rasul salallahu alaihi wassalam berkata: “Riba terdiri atas 70  jenis yang berbeda-beda, yang paling ringan dosanya ialah setara dengan seorang lelaki  bersetubuh dengan ibunya.”  Dalam riwayat lain oleh Ahmad dari  Abdullah bin Hanzhalah  Rasul salallahu alaihi wassalam juga menyatakan: “Satu dirham riba yang diterima oleh seorang lelaki dengan sepengetahuannya, lebih buruk dibanding berzina 36 kali.”

Jadi riba adalah perbuatan yang  jauh lebih keji daripada berzina. Itu sebabnya Allah SWT “hanya” memerintahkan kita untuk menjauhi zina, tapi atas riba? Allah SWT dan Rasul-NYA secara terbuka telah menyatakan perang terhadapnya. Anda bukan cuma harus meninggalkan riba, tapi wajib memeranginya.

Kalau dikatakan riba ada 70 macam jenisnya, bagaimana kita dapat memahaminya untuk keperluan sehari-hari? Untuk itu kita perlu panduan dari para ulama. Salah satunya  yang dengan ringkas tetapi jelas menuntun kita dalam hal  ini adalah Ibn Rushd. Dalam kitabnya yang masyhur Biayatul Mujtahid, bab al Buyu’,  beliau menjelaskan dua sumber riba, yaitu penundaan (riba an nasi’ah) dan penambahan (riba al fadl). Tapi itu harus dilihat jenis transaksinya, karena ada transaksi yang membolehkan penundaan maupun penambahan tanpa timbul  riba.

Riba yang pertama, al nasi’ah,  merujuk pada selisih  waktu yang tidak diperbolehkan;  dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl ,  merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan.  Dengan dua jenis sumber riba ini,  Ibn Rushd, sebagaimana teah dikutip dalam buku Euforia Emas (Pustaka Adina 2012),  selanjutnya merumuskan adanya  empat kemungkinan:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, dilarang.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Jadi, tergantung kepada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan,  hal di atas bermakna bahwa:

  1. Dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram timbul riba al nasi’ah.
  2. Dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram timbul riba al-fadl.
  3. Dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya berarti timbul riba al-nasi’ah dan riba al-fadl

Diagram di bawah ini menunjukkan pengertian-pemngertian di atas  dalam beberapa jenis transaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Diagram di samping ini dibaca dengan arah searah   jarum jam, mulai dari kotak kiri atas.

Kotak pertama adalah transaksi sewa-menyewa, yang membolehkan adanya penundaan maupun penambahan. Pengembalian benda yang disewa dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau setahun, adalah penundaan, pembayaran uang sewanya adalah penambahan. Keduanya halal. Tapi, tidak semua benda boleh disewakan, sebab ada benda yang bila digunakan langsung  habis terpakai, seperti makanan dan uang. Rumah, mobil, mesin-mesin, adalah benda-benda yang tak habis dipakai, dan bisa dipakai bagian per bagian, maka boleh disewakan.

Saat ini riba merajalela melalui kegiatan sewa-menyewa uang. Penggeraknya tiada lain adalah perbankan dan turunanya, yakni BPRS dan mikro kredit, termasuk di dalamnya Baitul Mal Wa Tamwil (BMT), yang diklaim sebagai mekanisme syariah. Kegiatan sewa menyewa uang itu sendiri dimungkinkan  dengan sangat leluasa karena kita saat ini menggunakan sistem uang kertas. Bank menyewa uang pada penabung, misalnya 6%/tahun, lalu disewakan lagi kepada  debitur, misalnya 15%/tahun. Bank mengambil selisihnya sebagai keuntungan.

Kotak kedua  adalah transaksi jual-beli, yang membolehkan penambahan, yaitu pengambilan keuntungan, tapi pembayarannya tidak boleh ditunda alias harus tunai.   Bagaimana dengan jual beli secara cicilan? Boleh, asal tidak ada perbedaan harga antara harga  tunai dan harga tunda, sebab cicilan sebenarnya bukan jual beli lagi, teapi utang piutang. Maka harga secara tunai harus sama dengan harga secara cicilan. Sedangkan kredit, yakni ”jual beli” secara tunda, dengan sejumlah cicilan tapi dengan nilai total lebih besar dari harga tunainya, adalah utang-piutang berbunga. Haram hukumnya.

Dalam rumusan lain, transaksi ”jual beli” yang dibayar dengan tempo lebih lama harganya lebih mahal, dan bila dibayar dengan lebih cepat harganya lebih murah,  mengandung  unsur riba al-fadl. Bentuk transaksi ini disebut  sebagai ’dua penjualan dalam satu transaksi’ (bay’atain fi bay’ah). Dalam  Al Muwatta (bab 31 Transaksi Bisnis)  Imam Malik meriwayatkan:  ‘Yahya menyampaikan kepadaku [hadis] dari Malik bahwa ia mendengar seseorang berkata kepada yang lain, “Beli langsunglah onta ini untukku sehingga aku dapat membelinya darimu secara kredit.” Abdullah ibn ‘Umar ditanya tentang itu dan ia tidak membenarkannya serta melarangnya.’

 Pada kotak ketiga  adalah transaksi yang tidak boleh melibatkan baik penundaan (selisih) waktu maupun penambahan nilai. Ini disebut sebagai pertukaran (sarf). Pertukaran terjadi pada benda-benda yang sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung, harus sama kadar dan timbangannya serta harus kontan. Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya, atau menambahkan kadar dan jumlahnya.

Pada kotak terakhir adalah transaksi utang-piutang yang  mengandung penundaan waktu yang dibolehkan, tapi tidak boleh  ada unsur penambahan. Jadi, kalau Anda meminjam uang kepada teman atau saudara, katakan sebesar 5 dinar emas, pengembalian utang ini boleh ditunda, entah sebulan atau setahun. Tetapi, jumlah pokoknya tidak boleh berubah, tetap 5 dinar emas. Penundaan waktu dalam utang-piutang ini hukumnya halal, tetapi penambahan atasnya hukumnya haram. Penambahan dalam utang-piutang adalah riba al-fadl.

Dari penjelasan di atas, salah satu implikasi terpenting yang perlu Anda ketahui adalah status uang kertas, yang mengandung dua riba sekaligus, an nasiah dan al fadl. Uang kertas adalah nota hutang dari bank sentral. Membayar dengan nota hutang berarti tidak kontan. Nilai uang kertas juga palsu, hanya berupa angka-angka, tidak ada nilai riilnya, maka ada ”penambahan” nilai.

Maka, marilah mulai mengurangi penggunaan uang kertas, dan beralih dengan uang bernilai riil, seperti Dinar emas dan Dirham perak.