Baitulmal Nusantara Siap Terima dan Bagikan Zakat dalam Dinar Emas dan Dirham Perak

589

Seperti biasanya , khususnya di bulan Ramadhan ini, Baitulmal Nusantara (BMN) kembali menarik dan membagikan zakat dalam bentuk dinar emas dan dirham perak.

Dengan  Dinar dan Dirham rukun zakat telah dipulihkan. Selama ini rukun zakat telah roboh. Apa sajakah Rukun Zakat yang roboh tersebut?

  • Pertama, zakat adalah kewajiban yang ditarik oleh para amir atau sultan atau orang yang ditunjuknya. Zakat bukan sedekah sukarela. Ini mensyaratkan pengembalian jamaah Muslim di bawah kepemimpinan para amir dan sultan. Kita memerlukan Amirat dan Sultaniyya.
  • Kedua, zakat hanya sah ditarik dan dibagikan dalam ayn, yakni aset bernilai, sesuai dengan ketetapannya. Binatang ternak tertentu dibayar dengan binatang ternak, hasilpertanian dan perkebunan tertentu, dibayar dengan hasilpertanian dan perkebunan. Adapun harta moneter dan barang dagangan dibayar dengan Dinar emas dan Dirham perak. Tidak bisa dengan yang lain.
 Demikianlah, seluruh ketentuan syariat yang berkaitan dengan harta dan transaksi muamalat (jual-beli, utang-piutang, dsb), termasuk untuk zakat uang dan perdagangan, hanya ditetapkan dalam  Dinar emas atau Dirham perak. Nisabnya pun ditetapkan dengannya yaitu 20  Dinar emas (sekitar 85 gram emas) dan 200 Dirham perak (sekitar 595 gr perak).

Untuk membayarkannya pun harus dengan Dinar emas atau Dirham perak, sebesar 2.5% dari total harta yang dimiliki setelah  satu tahun. Zakat tidak dapat dibayarkan dengan uang kertas (dayn atau nota hutang).

Berikut adalah syariat  zakat sebagaimana difatwakan oleh  para ulama.

Bagaimana Posisi Maddhab Syafi’i?

Imam Syafi’i, dalam kitabnya Risalah, menyatakan:

Rasulullah [SAW] memerintahkan pembayaran zakat dalam perak, dan  kaum Muslim  mengikuti presedennya dalam emas,  baik berdasarkan [kekuatan] hadits yang diriwayatkan kepada kita atau berdasarkan  [kekuatan] qiyas  bahwa emas dan perak  adalah penakar harga yang digunakan manusia untuk menimbun atau membayar komoditas di berbagai negeri sebelum kebangkitan Islam dan sesudahnya.

Manusia memiliki berbagai [jenis] logam lain seperti kuningan, besi, timbal yang tidak pernah dibebani zakat baik oleh Rasulullah [SAW] maupun para penerusnya. Logam-logam ini dibebaskan dengan dasar [pada kekuatan]  preseden,  dan kepada mereka, dengan qiyas pada emas dan perak,  tidak seharusnya dibebani zakat, karena emas dan perak digunakan sebagai standar harga di semua negeri, dan semua logam lainnya dapat dibeli dengan keduanya dengan dasar kadar berat tertentu dalam waktu tertentu pula.

Bagaimana Posisi Maddhab Maliki?

Syekh Muhammad Illysh, Mufti Al Azhar, pada 1900-an, mewakili posisi Madhhab Maliki,  secara tegas mengharamkan uang kertas sebagai alat pembayar zakat. Fatwanya:

Kalau zakat menjadi wajib karena pertimbangan substansinya sebagai barang berharga (merchandise), maka nisabnya tidak ditetapkan berdasarkan nilai [nominal]-nya melainkan atas dasar substansi dan jumlahnya, sebagaimana pada perak, emas, biji-bijian atau buah-buahan.

 Karena substansi [uang kertas] tidak relevan [dalam nilai] dalam hal zakat, maka ia harus diperlakukan sebagaimana tembaga, besi atau substansi sejenis lainnya.

Maksudnya, sama dengan posisi Imam Syafi’i, (uang) kertas disamakan dengan besi atau tembaga, hanya dapat dinilai berdasar beratnya, sedang  nilainya harus ditakar dengan nuqud (Dinar atau Dirham). Ketiganya terkena zakat hanya bila diperdagangkan, dan tidak sah dipakai sebagai pembayar zakat.

 Bagaimana Posisi Maddhab Hanafi?

Imam Abu Yusuf,  satu di  antara dua murid utama Imam Abu Hanifah, dan pendiri Madhhab Hanafi, menulis surat kepada Sultan Harun Al Rashid, (memerintah 170H/786M-193H/809M). Ia   menegaskan keharaman uang selain emas dan perak sebagai alat pembayaran zakat. Ia  menulis:

Haram hukumnya bagi seorang Khalifah untuk mengambil uang selain emas dan perak, yakni koin yang disebut Sutuqa,  dari para pemilik tanah sebagai alat pembayaran kharaj dan ushr mereka. Sebab walaupun koin-koin ini merupakan koin resmi dan semua orang menerimanya, ia tidak terbuat dari emas melainkan tembaga. Haram hukumnya menerima uang yang bukan emas dan perak sebagai zakat atau kharaj.

 Dari berbagai fatwa hukum para imam di atas sangat jelas bahwa zakat harta dan perniagaan tidak dapat dibayarkan kecuali hanya dengan Dinar emas  atau Dirham perak.

 Cara Menghitung dan Membayarkan

Bila Anda   memiliki Dinar emas atau Dirham perak yang telah melewati nisab, yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham, maka harus dikeluarkan zakatnya 2.5%, yaitu 0.5 Dinar atau 5 Dirham.

Bila harta Anda masih berupa uang kertas atau turunannya (deposito, saham, cek, dsb), harus Anda takar nisabnya  dengan Dinar atau Dirham. Nisab zakat mal adalah 20 Dinar emas atau 200 Dirham perak. Zakatnya  2.5%-nya. Harta yang dihitung hanyalah yang telah memenuhi haul-nya, yakni tersimpan selama setahun.

Kewajiban zakat 2.5% dari total harta Anda   kemudian ditukarkan dengan salah satu mata uang syar’i ini, Dinar Emas atau Dirham Perak. Dengan Dinar Emas  atau Dirham Perak inilah  baru  Anda dapat membayarkan zakat.

Membayarkan Zakat Anda

Zakat harus ditarik, dikumpulkan, dan dibagikan,  oleh para Amir atau Sultan  atau orang yang ditunjuknya, melalui Baitul Mal yang mereka dirikan.  Untuk menegakkan rukun ini Amirat Indonesia sejak 2009, melakukan penarikan dan pembagian zakat melalui Baitul Mal Nusantara (BMN), Kesultanan Bintan Darulmasyhur (KBDM) telah mendirikan Baitul Mal KBDM  Sampai saat ini BMN dan BM KBDM telah membagikan zakat mal sekitar 20.000 Dirham perak   di berbagai wilayah di Indonesia.

Agar mustahik mudah memanfaatkan Dinar atau Dirham  mereka  BMN secara reguler menyelenggarakan Pasar Muamalah) di Kota Depok, Jawa Barat. Di KBDM Sultan Huzrin Hood telah menyelenggarakan Pasar Sultan yang buka setiap Sabtu, sebagai pasar pekanan. Dinar dan Dirham berlaku di sini. Di Ketapang Mangku Negeri KH Morkes Efendi selenggrakan Pasar Muamalah tiap Jumat.

Harta zakat di BMN 100% dibagikan kepada mustahik. Zakat tidak boleh digunakan untuk overhead, biaya administrasi, atau pun sesuatu program. Hak menggunakan uang zakat sepenuhnya ada di tangan para mustahik.

 Info lebih lanjut :

Baitul Mal Nusantara (BMN)

Jl. M Ali No. 2 RT 003/Rw 04.

Kel Tanah Baru – Kota Depok 16426.

Telp. 7756071-7752699

Twiter: @Amalnusantara