Berapakah Kadar Syar’i Koin Dinar itu?

250

Setelah menghilang selama lebih dari seratus tahun, pemahaman umat Islam tentang Dinar dan Dirham banyak yang telah hilang. Di antaranya yang acap ditanyakan adalah berapakah kadar kemurnian emas dinar? Apa pula yang dimaksud dengan “murni”?

Seorang faqih dari Tunisia memberikan konfrimasi bahwa Dinar adalah emas 22 Karat, dan bukan 24 Karat.  Imam  Abdassamad Clarke, salah satu ulama di kalangan Muslim di Norwhich, Inggris, yang juga pernah menjadi imam di Masjid Ihsan, Norwhich, mengungkapan sebuah konfirmasi fiqihiyah tentang kemurnian Dinar emas yang diberikan oleh faqih  Tunisia tersebut. Ia memastikan bahwa Dinar emas memiliki kadar kemurian 22 Karat.

Haji Abdassamad mengutip pendapat al Habib ibn Tahir, seorang ulama dari Tunisia. Ulama ini menuliskan pendapatnya tersebut dallam kitab karangannya yang berjudul Al-Fiqh al-Maliki wa Adillatuh Vol.2, terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan pertama 1998/1418 H.

Secara lengkap terjemahan kutipan kitab tersebut adalah sebagai berikut:

Karena emas tidak dapat digunakan, baik sebagai koin maupun perhiasan tanpa penambahan sejumlah tembaga atau sesuatu yang lain hingga bercampur dan dapat digunakan dalam transaksi, maka para ulama Maliki, sebagaimana disebutkan sebelumnya yang berkaitan dengan uang yang mengandung sesuatu tambahan, yakni [kaitannya dengan] pemalsuan, mengesampingkan penambahan ini dan memperlakukannya sebagai emas karena hal ini merupakan keperluan untuk pemaduan yang tidak dapat dihindarkan.

Bagaimanapun mereka menyatakan penambahan itu harus dibatasi hingga alloy yang terbentuk tidak keluar dari tingkatan ’emas murni’, dan ini telah mereka tetapkan sepersepuluh, dan hal serupa dinyatakan juga untuk perak.

“Berdasarkan hal ini maka emas yang digunaakan untuk menilai uang kertas [untuk tujuan penghitungan zakat] adalah yang menuruti kadar alloy yang tidak melewati 10%. Emas yang digunakan masyarakat yang berisikan kandungan setingkat ini adalah yang disebut dengan kemurinan 22 Karat”

Dengan adanya konfirmasi fiqihyah ini makan semakin jelaslah bahwa Dinar syar’i adalah terbuat dari emas 22 Karat. Dan, salah satu implikasinya, adalah untuk penghitungan nisab zakat pun, terutama bila harta seseorang masih berupa uang kertas, sebagaimana ditegaskan oleh Habib ibn Tahir di atas, harus mengacu kepada emas 22 Karat (Dinar) tersebut, dan bukan emas 24 karat.

Nisab zakat adalah dengan dinar, bukan emas bentuk lain. Nilainya 20 dinar. Artinya 20 mithqal emas 22 karat. 1 mithqal, atau 1 dinhar,k dalam timbangan modern adalah 4.25 gr. jadi nisab zakat 20 dinar setara dengan 85 gr emas 22 karat.

Perlu diingat bahwa emas murni 24 Karat, 99.99% kemurnian,  (pertama) hanya dikenal dalam zaman modern; (kedua) pada zaman dahulu tidak ada emas yang beredar dalam masyarakat kecuali dalam bentuk koin atau perhiasan dan produk lain; tidak ada dalam bentuk “emas lantakan” yang juga merupakan fenomena modern, akibat penimbunan emas.

Selain itu, terbukti secara empiris Dinar pertama yang dicetak oleh Khalifah Abdulmalik bin Marwan, yang ditemukan masih dalam keadaan utuh, diketahui berkadar 22.8 Karat. Ini tentu saja adalah sunnah, karena merupakan Amal ahlul Madinah. Dan inimerupakan dalil terkuat tenteng kemurnian Dinar emas.