BOLEHKAH ZAKAT FITRAH DENGAN UANG KERTAS?

239

Zakat fitrah (fitri) dengan uang kertas tak pernah dikenal dalam Islam. Hanya posisi mahdhab Hanafiah yang membolehkan zakat fitrah dengan qimah, selain dengan bahan makanan pokok. Tapi qimah tidak sama dengan uang kertas. Zakat fitrah lebih afdol dengan bahan makana pokok.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat At Taubah: 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Zakat merupakan ibadah wajib kaum muslimin. Dalam fiqih Zakat, terbagi dua: Zakat fitrah dan Zakat mal. Zakat fitrah yang dibayarkan di akhir bulan Ramadhan sebelum sholat Idul Fitri. Sementara Zakat mal dibayarkan selepas memenuhi nisab dan haul yang ditetapkan oleh Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Nisabnya ialah untuk harta yang telah berumur setahun sebanya 20 Dinar emas, maka Zakatnya 0,5 Dirham. Dan untuk harta 200 Dirham, Zakatnya sebesar 5 Dirham. Namun Zakat mal wajib dibayarkan kepada Ulil Amri Minkum. Karena kata “Khudz” dalam ayat dimaksud, menunjukkan kewajiban pengambilan Zakat kepada seorang yang menjadi Wali Allah Subhanahuwataala di bumi ini. Kata “Khudz” yang bermakna “ambillah”, menunjukkan kata perintah. Perintah yang ditujukan kepada Wali Allah Subhanahuwataala dalam urusan syariat. Dan itu melekat pada Ulil Amri Minkum seperti yang termaktub dalam Al Quran Surat An Nisa ayat 59. Makna Ulil Amri Minkum inilah “pemimpin kaum muslimin”. Bukan dilekatkan pada pemimpin sebuah “state” yang merupakan produk modernisme, era selepas revolusi Perancis, tahun 1789. Karena semenjak itulah state atau negara baru dikenal dalam tata pemerintahan dunia, yang puncaknya berlangsung seragam di abad 20 hingga kini. Sementara untuk Zakat Fitrah, kewajiban bagi setiap muslimin selepas melaksanakan ibadah puasan di bulan Ramadhan.

Zakat Fitrah.
Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:
1. Hadits riwayat Al Bukhari dari Abdullah bin Umar
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar −semoga Allah meridhainya. Dia berkata bahwa Rasulullah −shalawat dan salam untuknya− telah mewajibkan zakat fitrah (berupa) 1 sha’ kurma tamr, atau 1 sha’ jelai atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa yang beragama Islam. Beliau SAW memerintahkannya agar dibayarkan sebelum masyarakat keluar untuk melaksanakan shalat (‘idul fithri).”

2. Hadis riwayat Al Bukhariy dari Abu Sa’id Al Khudriy
“Diriwayatkan dari shabahat Abu Sa’id Al Khudriy −semoga Allah meridhainya. Dia berkata, “Kami mengeluarkan di era Rasulullah −shalawat dan salam untuknya− di hari iedul fithri (sebanyak) 1 sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Jelai, kismis, keju, dan kurma tamr adalah makanan kami (saat itu).”

3. Hadis riwayat Abu Dawud dari Tsa’labah bin Shu’ayr
Diriwayatkan dari Tsa’labah bin Shu’ayr. Dia berkata, Rasulullah −shalawat dan salam untuknya− berkhutbah memerintahkan zakat fithrah sebanyak 1 sha’ kurma tamr atau 1 sha’ jelai untuk setiap kepada. (Ali bin Al Hasan menambahkan dalam hadisnya) atau 1 sha’ gandum di antara 2 orang. (Kemudian Ali bin Al Hasan dan Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy sepakat untuk redaksi) atas nama anak kecil, dewasa, orang merdeka, dan budak.”

4. Hadis riwayat Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas
“Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas. Dia berkata, Rasulullah −shalawat dan salam untuknya− mewajibkan zakat fithrah sebagai (bentuk) pembersihan diri orang yang berpuasa dari kelalaian, bicara tidak baik, dan makanan bagi orang-orang miskin.”

5. Hadist riwayat Ibnu Umar RA
’Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, telah mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ jewawut (sya’ir) atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum muslimin.’ (HR Bukhari, no 1503).

Dari rangkaian Hadist Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam tersebut, tampak bahwa pelaksanaan tatacara Zakat Fitrah ditujukan dengan menggunakan bahan makanan pokok. Dalam perkembangannya, Zakat fitrah kerap dilakukan dengan bahan makanan pokok. Hanya Mahdhab Hanafiah yang membolehkan zakat fitrah dilakukan juga dengan qimah (yang bernilai).

Pendapat Ulama
1. Dalam Kitab Al Muwatta, Imam Malik, meriwayatkan:
Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Iyadl bin Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarh Al ‘Amiri, Bahwasanya ia mendengar Abu Sa’id al Khudri berkata, ‘Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sa’ barley [sejenis gandum], atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ kismis. Itu berdasarkan ukuran sha’ nabi sallallahu ‘alayhi wasallam.’

2. Yahya bin Syaraf An Nawawiy (w. 676 H)
(Mas`alah) qimah (uang atau barang yang nilainya sebanding dengan jenis makanan yang sudah di-nash) tidak sah untuk membayar zakat fithrah menurut kami (Syafi’iyyah), Malik dan Ahmad juga berpendapat demikian. Ibn Al Mundzir menginformasikan, Abu Hanifah berpendapat boleh (dengan qimah). Ibn Al Mundzir juga menginformasikan hal ini (kebolehan zakat dengan qimah) dari Al Hasan Al Bashriy, ‘Umar bin Abdul ‘Aziz, dan Al Tsawriy.
(Yahya bin Syaraf An Nawawiy, Al Majmu’, juz 6, (Beirut: Dar Al Fikr, t.th.), h. 144.

3. (Yang wajib dikeluarkan dalam) zakat fithrah adalah setengah sha’ gandum, atau tepung, atau sawiq7, atau kismis atau satu sha’ kurma tamr atau jelai. (buku Al Hidayah karya Al Marghinaniy)
(Keterangan Al Marghinaniy, atau tepung, atau sawiq) maksudnya adalah tepung gandum dan sawiq gandum.
(Ibn Al Humam, Fath Al Qadir (Ta’liq ‘ala Al Hidayah li Al Marghinaniy), juz 2, (Beirut: Dar Al Fikr, t.th.), h. 72.

4. Al Kasaniy Al Hanafiy (w. 587 H)
Adapun keterangan yang wajib (dikeluarkan dalam zakat fithrah), kadar, dan kriterianya adalah, adapaun jenis dan kadarnya adalah setengah sha’ gandum, atau satu sha’ jelai, atau satu sha’ kurma tamr. Demikian menurut kami (madzhab Hanafiy).
Adapun kriteria yang wajib (dibayar dalam zakat fithrah) adalah bahwa kewajiban al manshush ‘alayh (barnag-barang yang dikeluarkan sebagaimana ditetapkan oleh hadis) dilihat dari sisi bahwa ia adalah mal mutaqawwim secara mutlak, tidak dilihat dari sisi substansi barangnya. Dengan demikian maka semua itu (al manshush ‘alayha) bisa dibayar dengan qimahnya, baik berupa dirham, dinar, fulus (uang tembaga), barang, atau apa yang saja yang diinginkan. Demikian menurut kami (madzhab Hanafiy).

6. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya, “Bagaimana dengan hukum orang yang mengeluarkan zakat dengan qimah (sesuatu yang senilai dengan kewajiban zakat semisal uang)? Karena jika dikeluarkan dengan qimah akan lebih bermanfaat untuk orang miskin. Seperti itu boleh ataukah tidak?”
Ibnu Taimiyah menjawab, “Mengeluarkan zakat dengan qimah dalam zakat, kafaroh dan semacamnya, maka telah ma’ruf dalam madzhab Malik dan Syafi’i akan tidak bolehnya. Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan. Adapun Imam Ahmad rahimahullah dalam salah satu pendapat melarang mengeluarkan zakat dengan qimah. Namun di kesempatan lain Imam Ahmad membolehkannya. Ada sebagian ulama Hambali mengeluarkan perkataan tegas dari Imam Ahmad dalam masalah ini dan ada yang menjadikannya menjadi dua pendapat.
Pendapat terkuat dalam masalah ini: mengeluarkan zakat dengan qimah (nilai) tanpa ada kebutuhan dan maslahat yang lebih besar jelas terlarang.

FAKTA
Dari gambaran diatas, hanya posisi mahdhab Hanafiah yang mengatakan zakat fitrah boleh dilakukan dengan qimah. Sementara imam Malik, Imam Syafii maupun Imam Hambali secara tegas tidak membolehkan. Dari fatwa Ibnu Taimiyah juga bisa disebutkan bahwa membayar zakat Fitrah dengan qimah, jika tak ada kebutuhan atau maslahat yang lebih besar, jelas terlarang. Dari sini, dalil satu-satunya untuk menegaskan Zakat fitrah boleh dilakukan dengan qimah, hanya dari posisi mahdhab Hanafiah.
Indonesia Tak Ber-mahdhab

Jika ditelisik dari munculnya sejumlah anjuran bahwa seolah-olah zakat fitrah dengan uang kertas juga dibolehkan, hanya dengan mengacu pendapat mahdhab Hanafiah, inilah yang harus diluruskan. Pasalnya, muslimin di nusantara (dan Indonesia), jamak yang menganut mahdhab syafiiah. Dalam bermahdhab, tentu diperlukan konsistensi. Tidak bisa mudah berpindah-pindah mahdhab, dengan dalih oportunitas. Karena mahdhab itulah jalur untuk tegaknya syariat.

Selain itu, keliru jika bermahdhab mengikut pemerintah. Karena pemerintah sebuah state (negara) sama sekali tidak bermahdhab. Ambil contoh pemerintah Republik Indonesia. Dalam Konstitusinya, disebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum (recchtstaat). Artinya bukan negara kekuasaan (maachtstaat). Konsep negara hukum ini bukanlah konsep dalam syariat. Dari sini menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tak berlandaskan pada Al Quran. Melainkan berlandaskan pada negara hukum, konstitusi. Oleh karenanya sangat keliru jika merujuk lembaga atau instansi yang ditunjuk oleh sebuah state, yang secara terang benderang telah menyatakan tak berlandaskan pada Al Quran. Sementara untuk urusan ibadah, kaum muslimin wajib merujuk pada Al Quran. Bukan pada sesuatu yang lainnya. Dan dalam menjalankan ibadahnya, itu dijamin oleh konstitusi. Oleh karena itu, untuk urusan Zakat, yang merupakan salah satu ibadah muslimin, wajib merujuk pada fiqih Zakat. Maka, jika ada adagium, “ikuti saja pemerintah, jika salah maka pemerintah yang berdosa,” inilah kekeliruan. Karena pemerintah tak mendasarkan pada Al Quran. Tentu bukan bertujuan untuk menjalankan syariat. Sementara jalan untuk menegakkan syariat ialah dengan mahdhab.

Qimah Bukan Uang Kertas
Qimah secara harfiah diartikan sebagai sesuatu yang bernilai. Dalam hal Zakat fitrah, prioritas pembayarannya ialah dengan bahan makanan pokok, seperti yang ditunjukkan dalam Sunnah dan beberapa Hadist. Jika tak dengan bahan makanan pokok, bisa dengan qimah. Dalam posisi mahdhab Hanafiah, ditunjukkan qimah itu bisa berbentuk Dinar atau Dirham atau fulus (uang tembaga keluaran seorang Sultan). Itulah yang dimaksud qimah, sebagai sesuatu yang bernilai. Itulah satu-satunya mahdhab yang mendalilkan boleh membayarkan Zakat fitrah dengan uang. Tentu makna uang ialah yang memiliki nilai, sesuai fitrah pula.

Sementara posisi uang kertas, bukanlah bernilai, seperti yang dimaktub dalam Islam. Melainkan angka-angka yang dianggap “bernilai”. Dan “nilai” itu diberikan oleh bank sentral sebuah negara. Bank sentral bukan merupakan bagian dari pemerintah. Melainkan perusahaan swasta yang memonopoli peredaran alat tukar di sebuah negara. Institusi itulah yang memberikan nilai pada kertas, dengan angka-angka. Jadi, uang kertas sama sekali tak memiliki nilai, seperti dalam kategori Islam.

Maka, jika pun merujuk pada pendapat mahdhab Hanafiah, maka Zakat Fitrah yang boleh ditunaikan dengan uang, dalam bentuk dinar emas, dirham perak ataupun fulus (tembaga yang dikeluarkan seorang Sultan, bukan sebuah state atau negara). Inilah qimah yang dimaksud dalam mahdhab hanafiah. Bukan uang kertas. Karena uang kertas baru dikenal di dunia sebagai alat tukar menyeluruh semenjak abad 20. Sementara Islam telah lahir sejak abad 7 lalu. Dinar dan Dirham telah ada semenjak itu. Uang kertas muncul seiring era modern state, pasca Revolusi Perancis, dengan terbentuknya kaum poisitisme, kaum yang mengkudeta kekusaan Gereja dan Monarkhi di Eropa. Dari situlah pola state menjadi membahana seantero dunia dan berlangsung hingga kini. Namun hal itu jelaslah tak bisa merubah fiqih dalam Islam. Tak menjadi dalil fiqih kemudian harus berubah. Dan tak ada dalih atau dalil yang menyamakan Dinar Dirham dengan uang kertas. Karena hal itu bukanlah wilayah yang pantas di qiyas-kan.

Zakat Fitrah
Dari gambaran tersebut, maka Zakat Fitrah dilakukan wajib pada makanan pokok. Seperti beras, gandum, kurma dan lainnya. Bukan dengan uang kertas. Ataupun qimah yang hanya dibolehkan oleh mahdhab Hanafiah. Mahdhab ini tak jamak dianut oleh kaum muslimin di nusantara. Jadi, jika pun dilakukan dengan menggunakan qimah, maka alat yang dipakai ialah Dinar emas atau Dirham perak. Bukan uang kertas, yang dimaksud dalam mahdhab Hanafiah.

Kemudian, Zakat fitrah ditunaikan dalam takaran Sha’ (volume). Bukan dalam berat atau mitshqal. Takarannya ialah mengikuti Sha’ Madinah. Dijelaskan bahwa 1 Sha’ ialah 4 mudd. 1 Mudd itu berupa ukuran dua tangkup tangan dewasa. Jika dikonversi dalam ukuran sekarang, maka 1 Sha’ Madinah ialah 2,035 liter. Sementara ada juga ukuran Sha’ Baghdad berupa 2,5 liter. Dan ukuran Sha’ Damaskus berupa 6,5 liter. Namun yang digunakan sesuai Sunnah ialah Sha’ Madinah. Bukan Sha’ Baghdad atau Damaskus. Jadi, ukuran Zakat fitrah 1 Sha’ sebanyak 2,035 liter.

Inilah kewajiban zakat fitrah yang sesuai sunnah. Insha Allah.