Catatan Perjalanan Moussem Maroko (1): Tentang Moussem

373

Anda mulai melihat gerakan dalam hati para insan yang berbeda tingkatan, dan anda temukan hal yang sangat menarik yakni, para pemula di jalan ini ingin bersama mereka yang mencintai Allah. Ia yang mencintai Allah ingin bersama wali Allah yang besar…” (Shaykh Abdalqadir as sufi)

Bulan April 2017 telah menyala. Sebuah pengumuman berbentuk poster terpampang di lama facebook Shaykh Mortada Elbomoshouli. Isinya pengumuman Moussem tahun 2017 di Maroko. Jadwal Moussem telah dikeluarkan. Akhir April akan dilaksanakan. Para fuqara pun mempersiapkan diri. Amirat Indonesia pun demikian. Zaim Saidi, Amir Amirat Indonesia memberi titah, bagi fuqara Indonesia yang berniat berangkat agar berkoordinasi dengan saya. Ini memang penting. Karena beberapa Moussem sebelumnya kerap ada delegasi “tak resmi” yang berangkat tanpa seijin Amirat Indonesia. Moussem bukan sekedar perhelatan dhikir dan wirid belaka. Tapi ini peneguhan arti penting berjamaah. Makanya di bawah sang Amr menjadi kata kunci, betapa fuqara juga harus bersedia terkoordinasi.

Dari Indonesia, ada tiga fuqara yang menuju sana. Saya, Wazir Yasyir Ansyari dan sidi Redo Rizaldi. Dua bulan sebelumnya saya dan Wazir Yasyir baru bersafar ke Istanbul, Turki. Mengunjungi sisa-sisa negeri Daulah Utsmaniyah. Kini kami bersafar kembali. Dia menjadi partner safar yang setia. Kala ke Istanbul, kami berdua masih gegap gempita. Tentu dari jumlah uang kertas yang tersedia. Tapi menuju Moussem Maroko ini, suasana agak berbeda. Karena ternyata semuanya serba pas-pasan, tak bisa berlebihan seperti ke Istanbul. Ini yang tiada saya kira. Karena sosok Wazir satu ini bisa dibilang kerap berlimpah, namun entah mengapa kami ditakdirkan melakukan perjalanan ini dengan dana tak melimpah. Bagi saya, untung masih ada sisa-sisa Dollar hasil perjalanan dari Istanbul lalu. Tapi perjalanan harus dilanjutkan. Karena menuju Moussem keberkahan tiada terkira. Sidi Redo berangkat ke Maroko berlandas konsensus para fuqara di Ketapang, Kalimantan Barat. Beliau dipilih karena ada satu slot tiket yang disediakan seorang fuqara. Beliau tak berangkat, tapi bersedia menyediakan tiket untuk satu orang. Jadilah sidi Redo sebagai fuqara yang beruntung itu. Barakah bagi para fuqara di Ketapang. Kami bertiga pun terbang.

Ternyata fuqara dari Indonesia tiba lebih dulu. Tanggal 25 April 2017, kami telah sampai ke Kellat Mgouna, tempat Moussem berlangsung. Jaraknya memang agak jauh. Dari Casablanca, airport tempat kami mendarat, menempuh perjalanan sekitar 9 jam dengan mobil. Sebuah ‘taxi’ yang sengaja di sewa, datang menjemput kedatangan kami di bandara. Bagi mereka berdua, inilah moussem pertama di Maroko. Sementara bagi saya, ini kali kedua. Karena saya yang telah pernah ke Maroko, maka bertugas membawa jalan. Dan itu tugas yang saya terima dari Amir Amirat Indonesia.

Di Kellat Mgouna menginap di hotel seadanya. Maklum, kota Kellat Mgouna memang agak jauh dari hingar bingar perkotaan besar. Ini terkenal dengan bunga mawarnya. Orang Maroko sendiri banyak yang tak tahu dimana Kellat Mgouna berada. Untuk menempuh sana, memang perlu perjuangan berliku. Selain jalurnya harus membelah pegunungan, berkelok-kelok, seolah menghampiri gunung Atlas. Umar Wils, fuqara asal Istanbul Turki bercerita, saudara dari istrinya yang orang Maroko sempat heran mengapa dia berkunjung ke Kellat Mgouna. “Disana tidak ada apa-apa, apa yang kau kunjungi?” ujar saudaranya itu. Karena memang Kellat Mgouna tak ada pantai yang asotik atau pegunungan yang menawan. Tak ada ciri khas tempat wisata yang menarik kunjungan turis mancanegara. Sekilas kota itu hanya seperti Padang Sidempuan, atau Tanjung Pura di Langkat, Sumatera Utara sana. Bukan menjadi destinasi orang berkunjung ke sana.

Tapi Umar menjawab, justru disitulah cahaya memancar terang. Saya menduga saudaranya itu agak kurang paham apa yang dimaksud Umar Wils tadi. Sosok dia agak mengejutkan memang. Karena dua bulan sebelumnya, saya dan Wazir Yasyir sempat mengunjungi dia ke rumahnya di Istanbul. Dua bulan berselang, bertemu lagi di Kellat Mgouna. Dia pula fuqara pertama yang kami temui. Hebatnya, kami tinggal satu hotel dengan dia. Alhasil keakraban pun makin menjadi.

Kellat Mgouna seolah telah menjadi akrab dengan para fuqara. Orang-orang di sana juga serupa. Saban tahun mereka mahfum ada hajatan besar di Kellat Mgouna. Orang-orang situ tahu ada moussem yang berlangsung setiap tahun. Seorang penjual pakaian jelaba di Kellat Mgouna, mungkin hanya dia seorang, hampir sebelum moussem kerap kebagian rezeki. Karena selalu ada saja fuqara yang membeli jelaba di tempat dia. Saban tahun. Kali ini, giliran kami bertiga yang memborong tiga jelaba kualitas medium di tempatnya.

Soal jelaba ini memang ada sedikit kisah. Karena Wazir Yasyir dan sidi Redo memang tak membawa jelaba. Ini pakaian gamis khas Magribia. Cirinya ada tudung di belakang. Orang-orang tetua di Maroko masih akrab mengenakannya saban hari. Nah, karena tak memiliki jelaba, maka sebelum Moussem menjelang, kami berniat untuk membeli lebih dulu. Target awal ingin berbelanja di Marrakech. Tapi sidi Mahmoud menyarankan membelinya di Kellat Mgouna saja. Sidi Mahmoud ini sepupu Shaykh Mortada. Dia yang paling sibuk selama Moussem. Karena banyak fuqara yang meminta bantuan dia untuk membooking hotel, mencarikan transportasi dan lain sebagainya. Termasuk urusan jelaba untuk kami bertiga.

Mulanya sidi Mahmoud, menjanjikan akan membawa kami pada tempat penjual jelaba. Tapi kami diminta untuk menemui dia di kawasan kota. Sementara tempat kami menginap, jaraknya sekitar 7 kilometer sebelum kota. Tapi mendekati zawiyya, tempat Moussem berlangsung. Kami pun menuju kota Kellat Mgouna. Di Maroko, bahasa Inggris adalah barang mewah. Tak semua orang bisa berbahasa itu. Mereka hanya tahu bahasa Arab atau Perancis. Sementara kami tak paham bahasa Arab, apalagi Perancis. Maka kebanyakan percakapan mengenakan bahasa ‘tarzan’. Tapi ketika menaiki angkutan umum, yang disebut taxi, kami bertemu seorang pemuda yang bisa ber-english. Alhasil saya tanya, “Apakah kamu tahu dimana toko yang menjual jelaba?” Dia menjawabnya iya. Dan dengan senang hati mengantarkan kami ke toko itu. Dia bertanya asal kami. Kala dijawab dari Indonesia, dia terkejut. “Mengapa datang kemari?” tanyanya. “Untuk Moussem.” Dia terkaget. Wah. Pemuda itu bilang memang setiap tahun di Kellat Mgouna dikunjungi orang-orang dari berbagai negara, eropa, afrika sampai asia untuk menghadiri Moussem. Orang-orang di Kellat Mgouna hampir seluruhnya tahu tentang Shaykh Mortada. Mereka memanggilnya dengan “Moulay”. Karena memang Shaykh Mortada turun temurun di tempat itu. Kakeknya juga seorang ulama tersohor di sana. Kakeknya bernama Moulay Abdul Malik. Dia memiliki zawiyya di rumahnya. Zawiyya juga jadi kata kunci untuk mengenali lokasi kediaman Shaykh Mortada. Jaraknya sekitar 10 km dari Kellat Mgouna. Pemuda itu pun tahu soal “Moulay” sang Shaykh Mortada.

Kami pun makin akrab dengan pemudan Kellat Mgouna itu. Dia mengantarkan kami ke toko penjual jelaba, pemuda itu bertindak sebagai translater-nya. Saya dan wazir Yasyir pun sibuk memilih-milih jelaba yang hendak dibeli. Sidi Redo duduk diluar saja. Dia tak ikutan memilih. “Saya menunggu jelaba yang dijual temannya sidi Mahmoud saja,” ujarnya. Karena memang janji kita demikian.

Sekitar 10 menit kemudian, sidi Mahmoud menelepon. Bertanya dimana posisi kami berada. Saya menjawab, sudah berada di toko penjual jebala. Saya sempat tak enak. Karena sebelumnya berencana membeli jelaba dari ‘temannya’ sidi Mahmoud itu. Karena takutnya sudah dibeli di toko itu, sidi Mahmoud juga memiliki teman penjual jelaba yang berbeda. Tentu ini bisa jadi tak enak hati. Karena sebelumnya sudah berjanji kami akan membeli jelaba kepada temannya saja.

Lalu sidi Mahmoud datang menghampiri. Saling salam pun berlangsung. Dia berkata, “Ini memang toko yang mau saya tunjukkan kepada kalian”. Maka, Moussem pun telah dimulai!! Keajaiban pun mulai datang beruntunan. Inilah moussem. Saya jadi lega. Ternyata penjual jelaba yang dimaksud ialah yang kami datang itu. Orangnya sama. Pemuda Maroko yang bertemu di taxi itu telah membawa kami pada orang yang sama seperti yang dimaksud sidi Mahmoud. Welcome to Moussem!!

Bagi orang awam, Moussem memang kini dianggap sesuatu yang ‘aneh’. Terlebih di jaman sekarang. Beda kala era Imam Al Ghazali. Atau di masa Shaykh Abdalqadir Jaelani. Atau bisa juga disebut di masanya Sultan Muhammad Al Fatih. Moussem bukanlah sesuatu yang asing. Karena di sana tassawuf masih menyala-nyala. Tassawuf justru menjadi trending topic era dulu. Tassawuf bak rock n roll era kini. Begitu digilai dan diburu. Kini jaman berubah, tatkala dunia penuh riba. Berangkat menuju Moussem dari Jakarta, banyak yang tanda tanya. Ada yang berkata, “Jika mau berdhikir saja, ngapain sampai jauh-jauh ke Maroko sana,” celoteh seorang kawan. Bahkan sanak saudara.

Memang pendapatnya tak salah. Tapi jika saya bilang mau ke Eropa, Barcelona atau Manchester untuk berangkat menonton pertandingan sepakbola, pasti lain nadanya. Itu dianggap keren bahkan jadi trend sekarang. Pasti tak ada yang bertanya, “Ngapain jauh-jauh nonton sepakbola sampai Barcelona.” Pasti tak ada yang bilang begitu. Karena memang dunia tengah terbolak-balik.

Seseorang rela berangkat dari Jakarta menuju Barcelona demi menonton bola, tentu ada sebab. Itu karena rasa kecintaan. Tapi kagum pada tim kesayangan. Cinta pada pemain idola. Makanya rela membuang uang, terbang jauh-jauh demi bisa dekat dengan sang pemain idola. Bahkan demi bisa berjingkrak bersama fans lainnya. Berkumpul bersama penggemar Barcelona lainnya. Rasa girang itu pasti begitu terasa. Ditambah selfie-selfie untuk menunjukkan pada kawan-kawan di tanah air, yang tak bisa melakukan hal serupa. Bahkan tatkala terjadi tawuran, dia pun rela baku hantam demi membela sang idola atau club kesayangan. Tatkala bertemu dengan penggemar lawan, rasa emosi bisa memuncak. Apalagi dalam pertandingan. Itulah bentuk kecintaan. Bentuk kegirangan. Tapi tentu itu kecintaan yang keliru. Karena kecintaan bukan pada Allah Subhanahuwataala. Berangkat menuju pertandingan bola, tentu tak bisa disebut bersafar. Melainkan hanya pelesiran biasa. Tapi rasa bangganya sudah luar biasa.

Menuju Moussem adalah jauh lebih dari itu. Kecintaan itu jatuh pada kegirangan bertemu dengan sesama fuqara. Ini adalah Al Faqir, pencari ilmu. Tentu ilmu laduni, yang berasal dari Allah Subhanahuwataala yang diturunkan lewat Rasul-Nya. Bukan kecintaan pada benda atau manusia. Moussem adalah musim. Bak musim penghujan, musim rambutan, musim durian atau musim kurma. Dia datang tak saban hari. Melainkan ada timing-nya. Kala waktunya tiba, disitulah sambutan hati siap menerpa. Karena disinilah hati saling bertemu. Qalbu yang berdhikir saling berkumpul. Moussem adalah penyatuan qalbu dari para pendhikir. Dan menariknya, datang dari seantero negeri. Ada yang menempuh perjalan 12  jam demi menghadiri qalbu dhikir ini. Ada yang terbang 1 hari untuk mencapai sana. Para fuqara dari Eropa agak lebih dekat posisinya. Karena letak Maroko lebih menjorok pada daratan Eropa. Tapi disitulah berbagai fuqara dari belahan dunia bertemu. Duduk bersila, sembari melafazkan dhikir bersama-sama. Inilah pertemuan para Pencinta. Tentu cinta pada Allah Subhanahuwataala.

Jika mau diibaratkan, pertemuan sesama penggila bola di Barcelona, tentu itu saja sudah sumringah. Nah, pertemuan para fuqara dalam lingkaran dhikir dalam helatan Moussem, bisa berkali-kali lipat dari itu. Disitulah ajang akan mabuk akan Allah Subhanahuwataala. Rohani kita tersucikan dari nafs yang merajalela. Menonton pertandingan bola, tentu memanjakan nafs agar tetap membabi buta. tapi dalam Moussem, manusia bisa menikmati bagaimana rohani menari-nari dengan indah.

Tentu perlu aturan main untuk bisa menikmatinya. Tak ubahnya jika menonton sepakbola, kita bisa berjingkrak, berteriak kesenangan, tatkala tim kesayangan mencetak gol. Hal itu terjadi karena kita paham aturan mainnya. Maka bisa larut bersama-sama. Tapi ketika diajak menonton rughby, olahraga yang tak familier bagi orang Indonesia, tentu agak sulit bisa menikmati pertandingan. Karena tak tahu aturan mainnya. Ketika tim mencetak angka, karena kita tak paham aturan main, maka kita diam saja. Tak bisa bersorak sorai menikmati kegirangan. Tatkala suatu tim kalah, kita juga cuek saja. Karena tak tahu apa yang terjadi. Itulah pertanda kita tak tahu aturan main, makanya tak bisa menikmatinya.

Moussem mensyaratkan demikian. Para fuqara, Sang Pencinta, yang bisa memahaminya. Karena telah mengikutinya sejak mula. Bagi awam, tentu itu dianggap sia-sia. Maka, cobalah pahami aturan mainnya. Dan ini adalah ajang berdhikir, memanjakan qalbu agar terbersih dari karat-karat penyakit hati. Dijamin jauh lebih nikmat dari menonton pertandingan sepakbola atau sejenisnya. Jauh dari itu. Karena ini ajang berdhikir menyebut asma Allah Subhanahuwataala. Disitulah letak manusia menemukan kembali fitrahnya, sebagai makhluk Allah Subhanahuwataala. Ingin mencoba, jadilah Al Faqiir, fuqara. Belajarlah dari yang telah menjalaninya. Inilah ilmu tentang hakekat. Tentang bagaimana memahami fitrah menjadi manusia. Tentang bagaimana menjadi merdeka.

Apakah manusia sekarang tak merdeka? Konteks hal ini ada dua hal. Merdeka pertama ialah memahami bagaimana hakekat manusia hidup di dunia ini.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Al Quran Surat Yunus:

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).

Penjelasan tentang hal ini bisa dibaca lebih jauh dalam buku yang ditulis Shaykh Abdal Qadir as Sufi yang diterbitkan Pustaka Adina, Depok. Judulnya “Jalan Menuju Allah”. Disitu akan tergambar dengan jelas tentang tariqah dan bagaimana jalan untuk merengkuh agar jalur kepada Allah Subhanahuwataala bisa teraih dengan bimbingan seorang Shaykh.

Tassawuf ialah jalan sufi, jalannya kaum pemberani. Kaum yang mencintai Allah dan yang menegakkan hukum Allah Subhanahuwataala. Dan kini adalah eranya riba, tatkala takluknya hukum Allah. Saatnya para sufi kembali.