Catatan Perjalanan Moussem Maroko (2): Tentang Safar

410

“Pada jaman kegelapan dan pada jaman orang-orang yang tak peduli, Allah ta’ala menambahkan rahmat-Nya di antara orang-orang. Wali dari Bahlil, radiyallah‘anhu, berkata suatu hari dalam percakapan dengan kita, ”ini adalah masa  dari para Syuyukh dan tidak ada para murid.” Ini adalah masa dari guru-guru, guru-guru dengan idhin dari Allah, dan tidak seorangpun mengikuti mereka. Mereka di sini, di sana dan di sana, dan tak ada seorangpun yang mau tahu. seorang dari -jalan ini- biasa untuk pergi ke kota dan memukul genderangnya dan berkata “Ini ada Ilmu, siapa yang ingin ilmu? Keluarlah!.” Untuk melihat siapa orang yang keluar dan mungkin hanya beberapa orang saja yang akan keluar.” (Shaykh Abdalqadir as sufi)

Maroko, – Berada di Kellat Mgouna ternyata sangat nyaman. Kota ini memang tak terlampau luas. Tak terkenal juga di kalangan orang-orang Maroko. Mayoritas penduduk di sana keturunan suku Berber. Ini agak berbeda dengan suku Arab. Orang Berber ini yang banyak andil dalam menyeberangkan Islam ke bumi Andalusia, Eropa bagian Spanyol kini.

Di Kellat Mgouna ini kehidupan berjalan santai. Tak ada denyut hingar bingar kapitalisme yang penuh arti. Wilayahnya banyak dipenuhi gurun dan bebatuan. Wazir Yasyir meyakini di tempat ini banyak sekali tambang. Maklum, dia ini pengusaha tambang jadi tahu betul seluk beluk dunia tambang. Tapi, orang-orang disini tak mempedulikan hal itu. Alam masih terjaga. Tak ada perusahaan yang sibuk menggali-gali alam demi menjual hasil perut bumi. Makanya situasi alam masih asri.

Ciri khas Kellat Mgouna terletak pada bunga Mawar (Rosa). Ini yang membuat satu-satunya orang negeri Magribia mengenal Kellat Mgouna. Di kota Meknes, Fez, Casablanca, hingga Marrakech jika ada wewangian dari bunga Mawar, kerap di beri merek “Rosa Kellat Mgouna”. Ini menunjukkan ciri khas wilayah itu. Sama dengan identitas Rambutan Binjai, kota khas rambutan.

Bukan cuma keasrian alamnya, cara hidup di sini juga masih banyak sesuai fitrah. Orang-orang masih mengenakan jelaba sebagai pakaian saban hari. Mencuci di sungai juga hal biasa. Menunjukkan air sungai yang masih jernih. Pernah suatu siang, beberapa turis orang Spanyol datang dan mandi di sungai. Kebetulan turis perempuan itu hanya mengenakan bikini mandi-mandi. Selang hampir setengah jam, sejumlah penduduk menghampiri mereka. Dan melarang turis itu untuk mandi dengan bikini. Alhasil turis itu jadi malu dan segera memakai baju. Begitulah orang Kellat Mgouna menjaga keasrian kehidupan.

Hari kedua berada di Kellat Mgouna, kami pun mulai bersiap-siap menghampiri Moussem. Kebetulan acara awal Moussem dimulai pada Kamis malam. Kami tiba sudah sejak Senin malam. Jadi sempat beristirahat melepaskan lelah setelah perjalanan panjang. Bayangkan saja, rute yang dijalani lumayan jauh. Dari Jakarta-Kuala Lumpur menempuh 2 jam. Kuala Lumpur ke Dubai, butuh 7 jam. Dubai-Casablanca perlu 8 jam. Casablanca ke Kellat Mgouna butuh 9 jam. Jadi ditotal hampir seharian dari Jakarta menuju Kellat Mgouna. Tapi anehnya, badan tak terasa terlampau lelah. Karena hendak menghadiri acara penyatuan qalbu yang berdhikir. Disini istimewanya.

Walau serasa datang lebih dulu, kami sengaja tak “melapor” ke Shaykh Mortada. Karena beliau seorang Shaykh yang tak elok juga langsung diajak bertemu. Tak perlu juga ‘mengganyuk-ganyuk’ untuk bertemu sang Shaykh. Sudah berada di Kellat Mgouna saja serasa sudah berdekatan dengan sang Shaykh. Karena saya yakin Shaykh Mortada tahu kami telah sampai disini.

Fuqara lain yang kali pertama bertemu ialah sidi Umar Wils, yang ternyata tinggal satu hotel. Ini hal yang tak disangka. Karena selain sudah kenal dekat sebelumnya, dua bulan sebelumnya saya dan Wazir Yasyir menyambanginya di Istanbul. Bagi Umar, kedatangan kami ke rumahnya juga memberi inspirasi. Dia berkisah, sebelumnya dia berniat tak datang ke Moussem di Maroko ini. Karena dia agak takut soal status paspor beliau. Maklum, dia seorang guru bahasa Inggris di Istanbul. Kebetulan dia mengajar di sekolah yang berafiliasi pada Fatullah Gulen, yang sempat mencoba melakukan kudeta pada Presiden Erdogan namun gagal. Umar merasa dirinya ikut kena imbas. Makanya agak takut berpergian ke luar negeri, takutnya pasport beliau di black list. Tapi selepas kami bertandang ke Istanbul, dia berniat untuk ke Kellat Mgouna. Dia merasa harus datang ke Moussem. Alhasil dia cek status pasportnya ke Imigrasi Turki dan ternyata tak ada masalah. Umar pun terbang. “Kalian telah menjemput saya,” ujarnya. Barrakallah.

Tentu niat kami ke Istanbul bukan melulu karena itu. Siapa sangka tatkala ada fuqara datang, itu memberi keberkahan pada fuqara lainnya. Terlebih pada orang yang bersafar, doa-nya kerap dikabulkan. Makanya safar itu menjadi Sunnah yang harus terus dilakukan. Dan, memberi pertolongan pada orang bersafar, itu juga sunnah. Inilah rahasia para muslimin era dulu, menampung orang bersafar, itu bak menerima durian runtuh. Karena Rasulullah Shallahuallaihi wassalam bersabda, doa orang yang bersafar itu adalah doa yang makbul. Inilah rahasia kita harus berbaik hati dan melayani orang yang bersafar. Umar Wils menyambut kami di Istanbul. Sementara kami berniat safar ke Istanbul dalam rangka menyaksikan sisa-sisa Daulah Utsmani. Bagi saya, Istanbul titik penting dijalani. Karena disitulah Daulah Utsmaniyah menyala. Dan, saya mempelajari Islam banyak dari titik Daulah Utsmaniyah. Termasuk kisah penaklukan Konstantinopel 1453 oleh Sultan Muhammad Al Fatih dan pasukan muslimin. Kisah itu saya baca dari bukunya Roger Crowly, orientalis yang berkebangsaan Amerika Serikat. Selepas membaca buku itu, saya terhenyak. Saya terkesima mengapa dulu Islam begitu kuat, digdaya, dan menguasai sepertiga belahan dunia. Mengapa Islam kini hancur. Seolah tak berdaya di hadapan kapitalisme. Buku itu, sedikit banyak, memberi inspirasi untuk menjadi muslim yang benar. Alhasil, selepas membaca buku itu, saya melakukan sholat dua rakaat. Dan kemudian melakukan sholat Dhuhur. Padahal sebelumnya, bisa dibilang saya kerap lalai dalam hal sholat. Jawabannya kemudian, ternyata karena cara hidup kita kini berbeda dengan cara hidup muslimin era dulu. Dan, dari Shaykh Abdalqadir as sufi, saya menemukan jawaban bagaimana agar kita bisa kembali ke Islam. Seperti yang dilakoni para muslimin era dulu. Ini jawaban atas pencarian selama ini. Jadi kita bukan terhalusinasi pada kejayaan masa lalu, bukan pula utopia. Tapi ini realitas menjadi muslim. Kita harus kembali berjamaah, di bawah sang Amr dengan prinsip sami’na waato’na. Jalan pertama adalah mengembalikan Amr (pemimpin) Islam. Inilah yang hilang.

Shaykh Abdalqadir as sufi menyambungkan bagaimana situasi Islam yang dulu dengan era kini. Tanpa perlu harus menunggu datangnya Imam Mahdi. Beliau memberi jawaban, bagaimana harus mengembalikan Islam di era sekarang. Karena kini rezim kapitalisme yang menggeliat. Kapitalisme ini yang dikendalikan oleh bankir system. Di bawah bankir sistem inilah state (negara) menjadi elemen utamanya. Produk utama bankir sistem adalah alat tukar ciptaan mereka sendiri, uang kertas yang kini berubah menjadi byte komputer. Dari penguasaan alat tukar itulah bankir sistem mengendalikan politik dan hukum. Dan kini menguasai seluruh dunia, satu sistem. Itulah yang oleh Ahmad Thomson, murid Shaykh Abdalqadir yang juga ulama tenar di London, Inggris, sebagai sistem dajjal.

Cara kembali ke Islam ialah dengan memainkan sistem Islam, yang telah ditinggalkan sejak keruntuhan Daulah Utsmani. Mengembalikan muamalah, yang merupakan separuh dari Dinnul Islam. Karena Islam kini hanya tersisa pada ibadah semata. Sementara muamalah hilang. Kembalinya muamalah, dimulai dengan kembalinya Amr. Dengan adanya Amr, maka rukun Zakat bisa ditunaikan dengan benar, Dinar Dirham bisa dicetak, pasar bisa dipelihara sesuai Sunnah, keadilan bisa diterapkan. Dan model yang diikuti adalah dengan merujuk pada tiga generasi awal. Yang oleh Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam disebut sebagai generasi terbaik dalam Islam. Untuk merujuk ke sana, hanya bisa digunakan dengan mahdhab, yang terbukti sahih diterapkan turun temurun. Bersanad ini penting supaya ilmu yang diterapkan benar-benar bersumber dari Rasulullah. Pun demikian perlu menyatukannya dengan ilmu ihsan. Ilmu tentang memahami hakekat manusia di hadapan Allah Subhanahuwataala. Agar syariat bisa berjalan sesuai kehendak Allah Subhanahuwataala. Makanya mesti mengembalikan syariat dan hakekat secara menyatu, tanpa dipisah.

Sementara rezim Islam yang kini mendominasi adalah bentukan modernitas Islam dan kaum yang disebut pembaharu Islam. Inilah yang menggeser pengertian Islam. Alhasil Islam yang kini terbentuk adalah Islam modernis, yang mengikuti perkembangan jaman. Ini bukan Islam yang dicontohkan Rasulullah. Karena terbukti, setelah 4 abad, Islam model ini berjalan, bukan mengembalikan kejayaan Islam. Yang haq dan bathil malah bercampur baur. Padahal Al Quran itu adalah sang Furqon, pembeda antara yang haqq dan bathil. Islam bukan harus mengikuti perkembangan jaman. Melainkan kitalah yang harus kembali ke Islam. Demikian kata Shaykh Abdalqadir as sufi. Dari beliaulah ilmu ini bisa diraih. Dan para fuqara di Indonesia, berupaya untuk menerapkannya. Insha Allah sampai kini terus berjalan.

Membaca kitab-kitab Shaykh Abdalqadir as sufi inilah saya jadi memahami bagaimana harus ber-Islam. Ditambah mendengarkan penjelasan dan penjabaran tentang hal itu dari para murid-muridnya. Terutama dari Amir Zaim Saidi, yang lebih duluan berguru. Dan dari Shaykh Abdalqadir ini pulalah, setidaknya, kami bisa hinggap di Maroko kini.

Karena Shaykh Abdalqadir ini mursyid tariqah Qadiriyah Shadhiliyah Dharqawiyah. Tahun 2013, kemursyidan beliau dilimpahkan kepada Shaykh Mortada, yang merupakan putera Maroko, di Kellat Mgouna ini. Bisa dibilang, berkat menjadi fuqara Shaykh Abdalqadir inilah saya bisa menikmati keliling dunia, dengan bersafar ria. Tentu ini anugerah tak terhingga.

Safar pertama saya tahun 2013, kala ke Cape Town, Afrika Selatan. Ini perjalanan keluar negeri kedua bagi saya. Yang pertama di tahun 2010 kala ke Vietnam. Tapi ini bersama dengan rombongan para advokat. Dan saya disponsori bang Indra Sahnun Lubis. Acaranya adalah tour ke Ho Chi Minh City selama tiga hari. Mungkin itu tak bisa dibilang safar. Karena bukan dalam perhelatan dalam tema Islam.

Di tahun 2013 itulah fenomena dimulai. Terbang ke Cape Town dalam rangka menghadiri Moussem Shaykh Abdalqadir. Ini begitu bombastis, karena bisa bertemu langsung dengan sang Shaykh. Orang yang menulis buku “Sultaniyya”, buku yang begitu membuka wawasan bagi saya tentang makna sebuah “Khilafah”. Kemudian tahun 2014, berangkat lagi menuju Cape Town. Tahun 2015 menuju Maroko untuk kali pertama. Sepulang dari Maroko mampir ke Granada dan Barcelona, Spanyol, bersama para fuqara dari Spanyol. Tahun 2016, kembali ke Cape Town. Tahun 2017, sempat ke Istanbul dan kembali ke Maroko. Untuk perhelatan Moussem, ini yang ke-6 kali bagi saya. Jadi wara wiri keluar negeri ini yang menimbulkan banyak misteri. Terutama bagi teman-teman sejawat dan yang mengenali saya sebelumnya.

Seorang kawan menduga uang saya banyak sekali, karena dalam jenjang 5 tahun terus menerus ke luar negeri. Ada kawan lain yang menduga saya banyak menerima proyek-proyek dari orang tertentu makanya bisa keluar negeri. Ada yang bilang juga saya kerap mendapat dana dari kalangan Eropa hingga bisa terus berpergian. Intinya banyak yang menebak bahwa uang saya pasti banyak, karena bisa bepergian dengan kuantitas demikian. Tentu perkiraan mereka tak keliru. Bahkan istri saya, menjadi agak “ketakutan” kala di rumah. Karena kerap ada orang yang datang, tetangga, atau kawan-kawannya untuk menghubungi dia. Banyak yang berniat pinjam uang kepadanya. “Mereka kira uangku ini banyak karena suami terus menerus keluar negeri, makanya banyak yang mau pinjam uang jadinya,” ujarnya. Saya tentu hanya bisa tertawa.

Hal ini memang menyimpan banyak rahasia. Otto Hasibuan, seorang kawan yang merupakan advokat ternama, beberapa kali sampai berkata, “Kau sering kali ke Cape Town, coba kau ceritakan dulu tentang kota itu, karena aku belum pernah ke sana,” ujarnya. Karena Otto terkesima mendengar indahnya kota Cape Town. Tapi tentu agak sulit menceritakan soal tariqah padanya, karena dia bukan seorang muslim. Indra Sahnun Lubis, Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI), pernah bertanya, “Kau kok semenjak menggilai Islam terus menerus keluar negeri, apa rahasianya?” agak sulit memang menjawab pertanyaan ini.  Dan ada juga seorang Hakim Agung yang dekat dengan saya, mengetahui soal jejak-jejak ini. Dia pernah mengatakan pada teman saya, “Irawan itu mengikuti tareqah yang membiayai dia keluar negeri terus menerus.” Ini yang sering saya dengar memang. Tapi kebanyakan berpikir dari sudut pandangnya saja. Berpikir menurut caranya saja dalam melihat fenomena ini.

Memang untuk bisa melakukan perjalanan seperti itu, perlu uang tak sedikit. Sekali perjalanan, bagi saya, setidaknya membutuhkan Rp 30 juta. Untuk membeli tiket dan bekal selama diperjalanan. Itu minimal. Tapi letak rahasianya bukan pada jumlah uangnya. Melainkan bagaimana turunnya rezeki. Rahasinya terletak pada niatan kita bersafar. Karena Allah Subhanahuwataala memberikan rezeki pada hamba yang dicintaiNya.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Bila hamba-Ku bertekad melakukan suatu amal kebajikan lalu dia tidak mengamalkannya, Aku tulis baginya satu kebaikan. Bila dia melakukannya Aku tulis baginya 10 kebaikan, hingga 700 kali lipat. Dan bila dia bertekad melakukan suatu keburukan lalu dia tidak mengamalkannya, tidak Aku tulis (keburukan) atasnya. Bila dia melakukannya, Aku tulis baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari)

Bab soal rezeki ini yang era kini perlu didefenisikan kembali maknanya. Terkadang ada orang yang berpendapatan 100 juta sebulan. Tapi itu pendapatannya. Karena disangka berlimpah. Tapi lihat juga bagaimana pengeluaran atas biaya kehidupannya. Penghasilan 100 juta, kerap pengeluarannya mencapai Rp 90 juta. Jadi mungkin uangnya hanya Rp 10 juta saja. Makin besar pendapatan, besar pula pengeluaran. Terlebih di era riba, jamannya kapitalisme ini. Kehidupan menjadi kalkulasi yang tinggi. Inilah yang banyak mendefenisikan rezeki itu seolah bukan datang dari Allah Subhanahuwataala. Melainkan dari perusahaan tempatnya bekerja, dari bos yang menggajinya. Dari situ tentu keyakinannya pada rezeki, menjadi berkurang. Alhasil keyakinannya pada Allah Subhanahuwataala sebagai pengatur kehidupan, menjadi berkurang pula.

Bepergian keluar negeri kini seolah menjadi status tersendiri. Tapi safar berbeda dengan holiday (liburan). Banyak yang merencanakan keluar negeri sudah setahun sebelumnya. Karena menghitung fix betul segala sesuatunya. Mulai dari jadwal cuti, biaya makan, biaya hotel, hingga biaya belanja oleh-oleh. Itu sudah dihitung sejak setahun sebelumnya. Tentu jika ada kendala, akan berantakan semuanya. Ada juga yang berpergian dengan travel atau agen, yang kini menjamur. Dengan konsekwensi membayar lebih mahal. Karena prinsipnya jalan-jalan adalah fitrah manusia. Jalan-jalan menjadi kebanggaan, karena dianggap hal yang tak bisa dicapai sembarang orang. Ditambah menjamurnya media sosial era kini, jalan-jalan menjadi salah satu kebutuhan untuk memenuhi instagram.

Kala menjadi fuqara, saya termasuk beruntung menjadi tak ketinggalan jaman. Karena dengan bersafar, bisa mendapatkan keduanya. Kebutuhan rohani dan kebutuhan jalan-jalan. Tentu safar bukan berarti menggelandang. Terkadang kita tetap menginap di hotel berbintang, terkadang menginap di kediaman seorang fuqara lainnya. Disitulah letaknya keberkahan menjadi fuqara. Namun rahasianya bukan terletak dari banyaknya jumlah uang. Melainkan dari keyakinan turunnya rezeki kala niat kita bersafar di jalan Allah Subhanahuwataala.

****

Kembali ke Kellat Mgouna, negeri Magribia. Setelah dua hari di Kellat Mgouna, malam ketiga kami pun menuju Zawiyya. Orang-orang Kellat Mgouna telah mengenal “Zawiyya”. Itu berarti lokasi dikediamannya Shaykh Mortada. Sebelum magrib menjelang, kami telah siap sedia. Waktu magrib disini lumayan panjang, pukul 20.30 malam. Karena di Magribia siangnya begitu lama. Semula kami berempat yang menuju Zawiyya, para fuqara Indonesia bersama sidi Umar Wils. Kami mengenakan jelaba dan berdiri di pinggir jalan, menunggu datangnya ‘taxi’ yang kami sewa untuk mengantarkan dari zawiyya ke hotel pulang pergi. Selama menunggu taxi datang, sebuah mobil putih melintas dengan gagah. Dia membunyikan klakson tiga kali. Umar mengatakan, “Itu Shaykh Mortada.” Kami gembira sekali. Shaykh telah menyambut kami. Dia melintas menuju rumahnya sembari melewati kami.

Lalu taxi kami datang. Dan kemudian menuju zawiyya. Lokasi zawiyya agak masuk ke dalam sekitar 2 km dari pinggir jalan. Mobil Shaykh Mortada masih berada di gang jalan. Dan dia mempersilahkan taxi kami untuk jalan lebih dulu. Mobilnya menunggu. Sambil melintasi mobilnya, dia membuka jendela kala berpapasan dengan kami. “Assalamuallaikum,” ujarnya sumringah. Kami pun senang. Shaykh Mortada menyapa riang.

Begitu sampai parkir, kami turun. Dan Shaykh Mortada juga turun dari mobilnya. Kami bersalaman sambil cium pipi kiri dan kanan, sebagai khas salaman fuqara. Dia sumringah sambil menanyakan kabar kami semua. Itulah perjumpaan kali pertama dengan Shaykh Mortada. Orangnya masih muda. Umuranya baru 39 tahun. Tapi beliau telah menunjukkan kewibawaan sebagai seorang Shaykh. Saat itulah sidi Redo kali pertama bertemu Shaykh Mortada. Beliau salah seorang fuqara dari Ketapang, Kalimantan Barat. Fuqara Ketapang memang bisa dibilang yang belakangan bergabung dengan tariqah ini. Karena wazir Yasyir Anshari yang membawa tariqah ini sampai ke sana. Dia bermula berguru di Depok, bersama Amir Zaim. Datang lalu duduk diam mendengarkan soal sultaniyya dan lainnya. Kemudian dia menebarkannya di Ketapang, kampung halamannya. Kini ada sekitar 30 fuqara telah hadir di sana. Alhamdulillah wasyukrulillah. Tak heran terkadang ada fuqara yang belum tahu soal Shaykh Mortada.

Kisah menarik kala menjelang Moussem Shaykh Abdalqadir as sufi, Oktober 2016 lalu. Fuqara dari Ketapang ada 4 orang yang ikut serta. Wazir Yasyir, sidi Fuadi, sidi Tejo dan sidi Alfian. Kebetulan kami transit di Doha, Uni Emirat Arab. Sewaktu transit, ternyata bersamaan dengan Shaykh Mortada. Beliau berpakaian jas biasa, tanpa jelaba. Bersamaan dengan Shaykh Mortada ternyata keriangan tak terkira. Kita pun berebut menyalami beliau. Sidi Alfian agak kebingungan. Karena beliau belum tahu sebelumnya sosok Shaykh Mortada. Tapi dia tetap ikut menyalami dengan khidmad sang Shaykh. Di sela-sela kita foto bareng, dia bertanya pada saya, “Siapa ini?” tanyanya. Saya jawab, ‘Ini mursyid besar tariqah kita.” Dia masih belum mahfum, karena agak terkaget. Tapi sidi Alfian punya jawaban bagus. Dia melihat sosok Amir Zaim begitu sopan dan khidmad kepada Shaykh Mortada. “Karena saya lihat Amir Zaim saja hormat pada dia, pasti ini orang yang diatas Amir Zaim,” ujarnya beralasan. Memang sidi Alfian tak salah. Tapi begitulah cara dia menilai. Bagi para fuqara di Ketapang, sosok Amir Zaim memang menjadi panutan. Tapi tatkala melihat sang Amir hormat pada sang Shaykh, maka mereka menjadi mahfum. Itu pertunjukkan adab yang tinggi.

Di Kellat Mgouna, rumah Shaykh Mortada telah tersedia bangunan seperti ‘ruko’ yang atasnya luas untuk sholat. Di bangunan itu ada juga fuqara yang menginap. Sidi Mahmoud Manning, Bashir Lund dari Inggris, menginap di sana selama Moussem. Agaknya bangunan itu tengah disiapkan untuk para fuqara. Jadi jika ada fuqara yang hendak menetap bersama Shaykh Mortada, kini telah tersedia ruangannya. Di ruangan itu kami melakukan sholat magrib berjamaah. Selepas sholat, wirid dan diwan dikumandangkan. Ini semacam pemanasan sebelum moussem dimulai.

Walau kesannya “pemanasan”, tapi suasana moussem telah dimulai. Selepas diwan, Shaykh Mortada memberi durs singkat. Dia menjelaskan soal Sholat. Bagi ahlusunnah, sholat itu berada ditengah-tengah. Sholatnya orang Syiah, itu cepat kilat bak patok ayam. Terlalu cepat. Bagi orang wahabbi, sholatnya mereka terlalu lama. Dari rukun satu ke rukun lainnya, mereka terlalu lama. Sholat ahlusunnah tak terlalu cepat juga tak terlalu lama.

Dalam Moussem kali ini, ada amalan selepas sholat yang laiknya diamalkan para fuqara:

  1. أَسْتَغْفِرُ الله الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ”

“Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih” (Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya).

(dibaca 3x)

  1. “Walaa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” (3x)

Kedua lafaz ini dikuatkan. Tidak disyir-kan.

  1. Kemudian berdhikir Subhanallah (33x), Alhamdulillah (33x), Allahu Akbar (33x).
  2. Kemudian melafazkan:

“Allahumma salli ala Sayyidina Muhammadin abdika warasulika nabiyyil umiyil waala ‘alihi wasahbihi wassalim” (3x)

“Subhana rabbiqa robbil izzati amma yasifun, wassalamuallamursalin. Walhamdulillahirabbil allamin.” (1x)