Cemooh tentang Dinar dan Dirham, dan Jawaban Atasnya

595

Oleh Rengky Yasepta

Sejauh ini, dalam pemahaman dan pengalaman saya yang masih dangkal ini, setiap gerakan atau ajakan menuju kebaikan pasti selalu ada orang lain yang mencela atau bahkan menghalang-halangi. Contohnya tulisan-tulisan kami di fanpage dan grup Melek Dinar Dirham.  Beberapa cemoohan yang kami terima (dengan bahasa yang kami sesuaikan), antara lain:

  1. Dinar Dirham? Ke laut aja loe. Gue cinta rupiah Indonesia.”
  2. Ini orang kok aneh. Nyari nafkah di Indonesia, tinggal di Indonesia. Tapi kok malah sukanya sama Dinar Dirham?”
  3. Sudahlah, emang bisa jamin kalau dengan Dinar Dirham negara ini bisa maju?”
  4. Mau dirikan negara Islam dengan Dinar Dirham? Bla..bla..bla.”

Sebenarnya saya maklum dengan tanggapan orang-orang vokal seperti ini. Asumsi saya, pertama, mereka belum paham apa itu Dinar Dirham. Kedua, mereka selalu sensi dengan segala sesuatu yang berbau Islam. Jangankan Dinar Dirham — yang sebenarnya uang universal, sebab terbuat dari emas dan perak, alias bukan mata uang kertas negara mana pun saat ini– kalimat “La ilaha illallah Muhammadarrasulullah” saja dianggap teroris. Padahal ini adalah kalimat tauhid. Lebih sedih lagi bila yang menghina itu ternyata juga muslim. By the way, saat ini tidak ada satu pun negara yang masih menggunakan koin emas dan perak sebagai uang, yang ada hanyalah Dinar kertas dan Dirham kertas yang tak ada bedanya dengan rupiah atau dolar. Contoh Dinar Iraq dan Drachma/ Dirham Yunani.

Jadi  saya ingin coba menanggapi sedikit berbagai cuitan para ‘haters‘ di atas.

  1. Saya katakan, saya juga cinta rupiah, dan hingga saat ini tetap setia menggunakan rupiah sebagai alat tukar. Saya hanya berusaha mengenalkan kembali Dinar emas dan Dirham perak yang ternyata nilainya lebih stabil dibanding mata uang fiat negara mana pun di dunia ini, sebab keduanya terbuat dari benda riil yang memiliki nilai intrinsik.

Jika dilihat dari fungsi uang (sebagai alat pembayaran, satuan hitung, dan penyimpan kekayaan), ternyata baik Dinar maupun Dirham masih mampu memenuhinya, terutama sebagai satuan hitung dan penyimpan kekayaan. Contohnya 1.400 tahun yang lalu menurut informasi tertulis dari sebuah hadits, 1 Dinar mampu membeli 1-2 ekor kambing. Per hari ini 1 Dinar setara dengan Rp.2.300.000, dan menurut survey kecil-kecilan yang kami lakukan, ternyata masih mampu membeli 1-2 ekor kambing. (Catatan: satuan hitung artinya penakar harga; penyimpan kekayaan artinya tidak tergerus inflasi).

Mari bandingkan dengan dolar AS (tanpa bermaksud merendahkan rupiah, sengaja saya ambil contoh dolar AS, sebab dolar AS lebih perkasa dibanding rupiah). Menurut situs visualcapitalist.com, tahun 1960an 1 dolar AS dapat dibelikan 2 tiket bioskop. Belum genap 60 tahun, yaitu tahun 2016, harga rata-rata tiket bioskop di AS adalah 8,65 dolar (sumber statista.com). Ehm.. jadi belum sampai 60 tahun saja, dalam contoh ini dolar AS yang katanya perkasa, telah kehilangan daya beli hingga 17 kali lipat. Rupiah pun demikian, sudah ada beberapa contoh yang kami kemukakan di grup MELEK DINAR DIRHAM INDONESIA (bagi yang belum join silakan di sini bit.ly/MelDinIndo). Jadi, meskipun saya cinta rupiah atau dolar, tetapi ternyata dia tidak aman untuk menyimpan kekayaan kita, sebab selalu tergerus inflasi yang menyebabkan daya belinya terus berkurang.

  1. Sudah saya jawab di poin 1 di atas. Saya masih menggunakan rupiah, dan mencari nafkah pun dibayar dengan rupiah. Tapi untuk mengamankan aset, salah satunya saya lebih memilih Dinar dan Dirham ketimbang deposito di bank atau bermain saham. Dinar emas dan Dirham perak lebih stabil nilainya relatif terhadap barang riil lainnya, dan cenderung naik relatif terhadap mata uang fiat (rupiah, dolar, dan sebagainya).
  2. Lho kok ngomong negara. Emang siapa yang bilang negara? Mau menjamin negara segala. Baik di grup maupun di fanpage Melek Dinar Dirham, saya hanya menganjurkan untuk mengamankan aset, bukannya ‘nyeleneh’ mau merebut negara. Saya pastikan tak ada makar dalam Dinar Dirham yang kami maksudkan. Memang sebenarnya dalam Islam penting ditegakkan muamalat yang sesuai syariat, salah satunya dengan pemakaian Dinar dan Dirham. Contohnya, penetapan nishab zakat adalah 20 Dinar atau 200 Dirham.

Bisakah ketetapan itu diganti, misalnya dengan rupiah saja? Menurut sebuah sumber, tahun 90an harga emas per gram hanya Rp.25.000, maka nishab zakat yang 20 Dinar atau 85 gram emas itu hanya senilai Rp.2.125.000 (Jangan lupa! Duit segitu tahun 90an sudah bisa dibelikan barang yang nilainya setara belasan bahkan puluhan juta nilai rupiah saat ini). Bagaimana bila nishab zakat tadi dibakukan dalam rupiah? Wah, belum genap 30 tahun saja sudah tidak relevan, sebab nilai rupiah selalu berkurang, terlebih lagi pernah terjadi krisis moneter tahun 97/98 menyebabkan daya belinya anjlok hingga hanya bernilai 1/4 sebelum krisis.

Poinnya, ajakan untuk melek Dinar dan Dirham (atau ajakan yang serupa dengan ini) bukanlah gagasan untuk menyaingi rupiah, apalagi menyaingi negara. Kita hanya ingin membuka mata masyarakat bahwa Dinar dan Dirham memiliki keistimewaan untuk dijadikan sebagai penyelamat aset dan harta kita. Di satu sisi harus kita akui, rupiah yang begitu kita cintai ini ternyata menyimpan kelemahan, yaitu nilai dan daya belinya terus menyusut karena inflasi yang hampir mustahil ditiadakan selama rupiah masih merupakan fiat. Jangankan kita, Amerika Serikat saja tidak mampu menjaga daya beli dolar mereka (sudah dijelaskan contohnya di paragraf-paragraf sebelum ini).

  1. Setahu saya, ISIS memang mencetak Dinar dan Dirham. Tetapi apakah bila Anda dan saya suka cendol, berarti kita sama-sama tipe orang yang pendiam? Nggak ada hubungannya, alias nggak nyambung. Sekali lagi saya katakan, Dinar dan Dirham yang dimaksud di tulisan-tulisan kami mengacu kepada koin emas dan perak, dan tidak berasosiasi dengan negara manapun atau gerakan merebut keluasaan negara manapun.

Sebagian memanfaatkan Dinar dan Dirham sebagai investasi, sebagian mengoleksinya karena bernilai sejarah, sebagian mengartikannya untuk menegakkan muamalah yang sesuai syariat (seperti pada pembayaran zakat mal di atas), dan sebagian lainnya hanya mencibir tanpa ambil bagian. Pilihan adalah di tangan Anda. Dan sebagai catatan, tulisan-tulisan kami tidak ditujukan untuk disukai semua orang. Khusus bagi Anda yang suka dengan tulisan-tulisan kami seputar Dinar dan Dirham, silakan merapat ke grup MELEK DINAR DIRHAM INDONESIA