Dewi Themis, Sang Berhala Keadilan

281

Themis bukanlah barang biasa. Dia makhluk yang kerap disembah. Dialah benda yang disanggah sejak manusia percaya dewa-dewa. Dia pula makhluk yang terus dipuja walau manusia telah mengenal Sang Pencipta. Bahkan di era sekarang pula, Themis kerap menemani banyak para sarjana. Themis menjadi simbol bagi hakim, jaksa dan pengacara. Themis menjadi simbol yang dianut setiap manusia didunia. Karena sosoknya dianggap sebagai dewi keadilan. Makhluk yang seolah mencerminkan kewibawaan hukum. Sosok yang mencerminkan penegakan hukum telah dijalankan dengan benar. Makhluk yang menandakan sebuah hukum berdiri disuatu negeri. Themis menjelma menjadi benda yang dipuja. Tapi, sekali lagi, bukan oleh kalangan hamba sahaya.

Bukan cuma di Indonesia. Bukan hanya dikalangan para jago-jago rechtstaat di Indonesia dan dunia. Themis ternyata disembah dimana-mana. Di Perancis, gambar Themis terpajang persis di lembar pertama Kodifikasi Hukum Perdata Napoleon. Amerika juga sama. Katanya, sejak tahun 1890, Themis bahkan sudah menjadi bagian dari second county courthouse. Themis sengaja dibuat dari seng yang disepuh. Dia berdiri diatas ketinggian 172 kaki dari jalan raya di negara adidaya itu. Bahkan, di third county courthouse, Themis justru diletakkan di suatu pedestal disamping pintu gerbang. Sejak 1960, Themis berdiri kokoh disana. Yang lebih gila dilakonkan Metallica. Ini bukan pengacara, hakim atau penegak hukum lainnya. Tapi grup band cadas yang sudah melegenda. Metallica pernah menjadikan Themis sebagai sampul depan album kebanggaan mereka. Sampul dari album yang berjudul Justice. Artinya keadilan.

Themis dipelihara karena sebuah alasan. Karena Themis dianggap sebagai dewi keadilan. Themis dinilai simbol hukum yang menyuarakan keadilan. Themis menjadi simbol universal penduduk dunia terhadap sebuah keadilan. Sosoknya digambarkan sebagai sebuah dewi keadilan. Dewi yang memegang pedang dan mata ditutup kain hitam. Seolah, pedang di tangan kanan Themis siap menebas apapun yang culas. Siap memberantas segala sesuatu yang menindas. Menumpas setiap kejahatan yang merugikan manusia. Themis adalah sosok dewi yang siap menebas setiap keangkaramurkaan yang terjadi. Tentu dengan tanpa pandang bulu. Tapi itu halusinasi manusia belaka.

Tapi, benarkah memang Dewi Themis seperti itu? Pantaskan dia disebut sebagai simbol keadilan?

Kisah tentang Dewi Themis ini sebenarnya dimunculkan oleh Homerius. Dia ini seorang sastrawan di zaman Yunani kuno. Dia hidup di era jauh sebelum kita. Sekitar abad ke-5 SM. Homer adalah salah satu dari tiga sastrawan yang menguak takdir. Kala itu, dua penggiat sastra lainya yang melegenda adalah Hesiodes dan Solon. Tapi karya-karya Homer-lah yang ikut mempengaruhi Socrates, Plato dan Aristoteles untuk berfilsafat.

Ada dua karya sastra Homer yang menggemparkan. “Illiad” dan “Odyssey”. Dua buah pikiran Homer inilah yang diyakini banyak mempengaruhi literatur dunia barat. Dalam “Illiad” itulah Homer mendongengkan cerita Dewi Themis.

Homer menuliskannya berpanjang-panjang. Katanya, Themis merupakan salah satu dari bangsa Titan. Themis adalah buah hati dari pasangan Ouranos (dewa langit) dan Gaea (dewa bumi). Themis tak sendiri. Dia punya sebelas saudara. Kawanan keluarga Themis ini disebut sebagai sesepuh para dewa. Hanya karena mereka adalah kelompok dewa-dewa yang paling tua. Merekapun menjadi pemula penguasa dunia. Mereka dibekali kekuatan dan ukuran yang besar. Tapi sifat dan wataknya tak beda dengan manusia. Ada dewa yang pemarah, ada yang lemah lembut, ada pula yang gagah perkasa. Tak jarang juga yang buruk rupa.

Cronus (Saturnur), cerita Homer, adalah salah satu saudara Themis. Dialah yang semula menjadi penguasa tunggal dunia. Tapi, suatu ketika, Cronus dikudeta. Pelakunya adalah anak laki-lakinya sendiri. Dialah Zeus. Proses kudeta itu sangat berdarah. Karena melibatkan pertarungan ayah dan anak dengan lagam kekerasan. Namun pemberontakan Zeus tak berjalan sendiri. Dia dibantu dua pamannya, Promotheus (dewa pencipta makhluk hidup) dan Oceanus (Dewa sungai). Dua dewa ini saudara kandung Themis.

Zeus kemudian bertahta di gunung Olympus. Dewa ini ternyata memiliki temperament tinggi. Tak jarang amarah Zeus memuncak. Dia sering melemparkan kilat kala tengah emosi. Sasarannya adalah makhluk yang membuatnya kesal. Bukan itu saja. Dia juga gemar berpoligami. Dewi yang dikawininya tak cuma satu. Selain Hera, dia memperistri Demeter, Semele, Metis. Metis adalah ibu kandung Pallas Athena. Empat istri tak juga memuaskan birahinya. Zeus juga mengawini beberapa puteri manusia. Sebut saja nama Danae, Alkmene dan lainnya. Buah perkawinannya dengan Alkmene inilah yang menghasilkan Herakles. Oleh bangsa Romawi disebut Hercules. Pastinya, Themis hanyalah setitik noktah di pangkuan Zeus.

Selain mereka, tercatat beberapa saudara kandung Themis yang memiliki peran penting. Misalnya Dewi Tethys (istri Oceanus), Dewi Mnemosyne (dewi memori), Dewi Hyperion (bapak dari Matahari), Dewa Lapetus (ayah Pomotheus) dan dewa Atlas (dewa yang membawa dunia dengan dua bahunya). Pastinya, sejak itu Zeus berlakon sebagai dewa-nya dewa. Dia beristrikan Hera sebagai ratu-nya dewa di jagad khayangan.

Namun, Hesiodes menceritakan kejadian yang sedikit berbeda. Dalam karyanya, “Theogony”, justru kemudian Zeus menikahi Themis karena jatuh hati dengan dewi itu. Etah karena paras atau body-nya. Entah pula karena hati Themis yang dinilai bersih. Tak ada catatan pasti tentang itu. Dia tetap rela diperistri oleh keponakannya sendiri. Themis tak berontak atau malu demi memuaskan birahi sendiri. Hasil perkawinan mereka kemudian menghasilkan tiga dewa. Mereka adalah Eunomia (dewi kerajaan yang baik), Dike (dewi keadilan), dan Irene (dewi perdamaian).

Nah, dari silsilah keluarga para dewa tadi, hanya Themis-lah yang tetap dipuja hingga kini. Dirinya dianggap sebagai simbol keadilan. Padahal sepak terjangnya tak diketahui pasti. Terlebih lagi berkisar lakonnya dalam memperjuangkan sebuah keadilan.

Ironisnya lagi, semasa Themis hidup, gejolak kerap terjadi. Themis tentu menyaksikan kudeta yang dibuat Zeus. Mengapa Themis tak berperan? Setidaknya bila proses perebutan kekuasaan itu benar berlangsung, pedang Themis siap memberantas kebatilan. Justru Themis cuek bebek saja.

Pastinya, sebagai dewi, posisi Themis tak begitu berarti di mata Zeus. Karena dia kerap dimadu oleh raja dewa itu. Tapi Themis diam seribu bahasa. Tak ada epos yang berkisah Themis berontak atas ulah Zeus itu. Tak ada rasa cemburu atau malu. Themis tak bersuara memperjuangkan keperempuanannya. Themis tetap pasrah melihat Zeus membabat banyak dewa wanita. Themis bukanlah sosok pejuang bagi kalangannya.

Disisi lain, hasil pergumulan Themis dengan Zeus, melahirnya tiga dewi. Mereka juga ternyata berjalan di rel keadilan. Tapi kini yang banyak dipuja hanyalah dia seorang. Padahal hikayat Themis tak begitu cemerlang. Namun, semua kalangan hukum tetap memujanya. Mereka percaya tanpa tahu siapa Themis yang disembahnya.Kalangan ini tetap yakin Themis bisa memperjuangkan keadilan.

Padahal, dalam hikayat, laku Themis justru sosok pemangsa manusia. Homerius mendrama-kan tentang kisah Perang Troya. Agamemnon, Raja Sparta menjadi korban keganasan Themis. Dia penguasa Sparta dan Mycenea. Kini masuk wilayah Yunani.

Agamemnon berhasrat menguasai Troya. Dia menyeberang lautan, membawa seribu kapal perang dengan balatentara ribuan. Drama itu dikisahkan karena bermula dari epos cinta buta. Paris, sang Pangeran Kerajaan Troy, membawa lari istri Meneleaus, adik Agamemnon. Paris putera kedua dari Priam, Raja Troya. Drama kemudian berubah menjadi perang. Cinta berujung pada kota yang terbakar.

Agamemnon punya ambisi pada Troya. Kesempatan ini dimaksimalkannya. Perang dikobarkan. Seribu kapal perang disiagakan. Tapi begitu hendak berangkat, tak ada angin berhembus sama sekali. Agamemnon dan seluruh kapal yang ada, menunggu hingga tiga bulan lamanya. Tapi senyiur angin pun tak berhembus sama sekali. Kapal-kapal itu tak bisa berlayar. Raja itu panik, dia minta advis seorang paranormal, penyembah setia dewa-dewi kahyangan. Katanya, Agamemnon mesti menyembelih anak semata wayangnya, Iphigenia. Buat persembahan Themis semata. Dukun itu bilang, Themis yang meminta nyawa anaknya.

Eh, Agamemnon percaya. Puteri kecilnya, dibunuh dipinggir lautan. Themis, konon, riang kesenangan. Sementara Agamemnon sedih bukan kepalang. Tapi Themis tak perduli. Epos berkisah juga, setelah pembunuhan itu, angin memang berhembus kencang. Seribu kapal perang Sparta berlayar seketika. Di kahyangan sana, Themis tertawa-tawa.

Dari angin yang dihembuskan Themis itulah perang berkobar, Troya terbakar. Entah dimana keadilannya. Jika hanya sebab seorang wanita, tentu Troya tak layak menjadi abu amarah pasukan Sparta.

Era kini, Themis dipuja lagi. Dia disembah dimana-mana. Jamak kaum advokat memelihara patungnya di atas meja kerja. Hakim dan jaksa, juga kerap menyediakan Themis sebagai lambang keadilan. Padahal, sosok dewi ini, tak pernah sekalipun mengkisahkan soal keadilan.

Padahal, Agamemnon telah sadar, Themis itulah “pembunuh” puteri semata wayangnya. Themis itulah yang membinasakan keluarganya. Themis itulah, penyebab dia tak punya ahli waris kerajaannya.

Themis memang tak muncul seketika. Dia hadir bersama sistem yang ada. Di belantara Eropa, Themis menjadi simbol tegaknya hukum berlandas akal semata. Themis menjadi pajangan bagi kaum yang percaya hukum buatan manusia. Karena abad pertengahan, manusia mencari sistematika dalam menentukan keadilan. Tiada lagi kedigdayaan Tuhan. Tak perlu lagi bergantung pada hukum Tuhan.

Era itulah manusia memulai perceraian Tuhan pada dunia. Tuhan diibaratkan sebagai pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka berjalan sendiri, tanpa perlu intervensi sang pembuat. Dari situ aturan Illahi direvisi. Riba yang semula haram di Eropa, dihalalkan. Bunga akibat pinjaman uang, dibolehkan. Dengan dalih sebagai keuntungan dari waktu tunggu sang pemilik uang. Karena cara berpikir manusia berubah. Tak ada lagi ketundukan. Kedigtatoran ditolak mentah-mentah. Raja bukan wakil Tuhan. Gereja tak bisa dianggap suara Tuhan. Vox Rei Vox Dei direvisi. Vox Populi vox Dei menggema. Begitu juga dalam aturan bersama. Suara rakyat harus dikedepankan. Disitulah mencuat tentang kesepakatan bersama, konstitusi. Themis dianggap tak lagi perlu mengenakan kain hitam. Hukum Tuhan dikudeta. Manusia merasa mandiri bisa mengatur urusan dunia. Kitab suci dipinggirkan. Konstitusi menggantikan. Inilah grund norm kehidupan.

Qishash dianggap tak manusiawi. Humanisme menjadi kaedah resmi. Manusia abad pertengahan meneriakkan: negara hukum, artinya negara konstitusi. Segala urusan harus diatur dengan pasti. Kedaulatan ada pada tangan suara terbanyak.

Abad berjalan, hukum konstitusi bertitah latah. Tak mampu mengatasi masalah manusia. Demokrasi berpraktek tirani. Konstitusi hanya jadi simbol semata. Themis pun pemanis meja kerja belaka. Tapi tetap disanggah dialah dewi yang memberi keadilan. Padahal, themis hanya mampu diam seribu bahasa. Karena hukum, yang dikarang manusia, terlalu lemah. Teori Imanuel Kant, betapa sanksi perlu dalam setiap undang-undang, tak berefek jera. Azas legalitas tak bisa mengcover seluruh kehidupan. Sistem penghukuman, penjara, itu juga menjadi tambah masalah. Pidana menjadi buntu. Perdata hanya menjadi legitimasi kaum kaya untuk menjajah. Hukum dagang berubah menjadi legitimasi memonopoli. Karena keadilan negara hukum bersifat kualitatif. Homo homini lupus tercipta. Undang-undang hanya menjadi stempel bagi kaum rakus harta, untuk menjarah. Tapi manusia masih percaya themis masih menyuarakan keadilan. Walau itu datang karena khalayan. Inilah masa pagan. Kala manusia masih menyebut Tuhan, tapi hilang makna.

Masa jahiliyah kala Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam, pagan berlangsung. Patung-patung disembah. Dibuat sendiri oleh manusia, lalu dipuja-puja. Tapi walau menyembah patung-patung, mereka masih menyebut “Allah”. Karena jahiliyah bukan mutlak menisbikan “Allah”. Tapi mereka menduakan Allah Subhanahuwataala. Para kaum jahiliyah, selepas menyebut “Allah”, tapi menyertakan latta, uzza dan manna. Inilah jaman kebodohan. Ketika patung menjadi kepercayaan.

Kini jaman berulang. Era manusia dibilang modern, tapi tetap dalam masa kebodohan. Karena jahiliyah berarti bodoh. Tak paham hakekat hidup didunia. Menolak skenario kehidupan dunia hanya persinggahan semata. Manusia kini masih memaksa Tuhan tak perlu campur tangan urusan kehidupan dunia. Seperti Voltaire, abad 19, bilang, “Tuhan tak wajar menuntut ketundukan penuh. Karena jika Tuhan menuntut ketaatan penuh pada manusia, Tuhan telah diktator.” Ini kejahiliyahan. Ini kebodohan. Karena manusia tak bisa menyelesaikan masalah manusia. Keadilan tak bisa disuarakan dengan teks-teks aturan karangan segelintir orang belaka. Manusia tak layak membuat hukum, yang bersumber dari logos, seperti kata Plato. Melainkan dari wahyu yang dari Illahi. Itulah hukum Tuhan.

Masa Romawi berjaya, kala dikungkung paganisme juga, Cicero, praetor ternama, menolaknya. Dia tak sudi Romawi merujuk pada tatanan hukum buatan manusia. Cicero tak percaya dewa-dewa. Apalagi themis yang katanya dewi keadilan. Dia berkata, “mereka menjelaskan bahwa dewa-dewa sungguh ada, kemudian mereka menjelaskan sifat para dewa itu, lalu mereka menjelaskan para dewa itu memerintah dunia, akhirnya mereka membuktikan para dewa itu memelihara kebutuhan manusia.” (Cicero, de Nature daerum).

Cicero merekomendasi agar Romawi kembali pada hukum Illahi. Tuhan bagaikan Tuan dan Penguasa semua manusia, serta merupakan Pengarang atau Penulis, Pe- nafsir, dan Sponsor Hukum. Cicero berfatwa: ”Bukan hukum yang berasal dari pikiran manusia, melainkan merupakan hukum yang ada didalam diri manusia dengan kekuatan yang berasal dari luar dirinya”.

Positivisme, masa kala themis dilahirkan kembali, mendewakan hukum akal buatan manusia. Yang dipakai hingga kini. Sekarang themis tak relevan lagi. Positivisme terbukti tak mumpuni. Manusia mesti kembali pada hukum Illahi. Islam telah merekomendasi, syariat sebagai tatanan pasti. Tapi syariat yang merujuk pada sang Nabi. Bukan syariat produksi para budak positivisme yang menipu umat.

Irawan Santoso, SH