Dialog tentang Bid’ah dengan orang Saudi di Fez, Maroko

605

Di kota Fez, pagi tadi. Tatkala tiba waktu sarapan pagi, saya turun dari kamar hotel menuju tempat breakfast. Dari lantai tiga hotel, mengenakan lift untuk menuju bawah. Di lantai dua, lift berhenti. Seorang berwajah Arab masuk dengan gamis dibadan. Dia keliahatan bukan orang Maroko. Karena wajahnya arab asli. Kami berdua dalam lift. Dia bertanya, “Kamu dari mana?” ini pertanyaan wajar. Karena di Maroko ini, wajah kulit cokelat berciri Jawa seperti saya agak kurang wajar. Pasti orang dari jauh.

“Indonesia,” jawab saya.

Lalu dia bertanya lagi, mengapa datang ke Maroko ini. Saya kisahkah bahwa saya mengikuti Moussem Shaykh Mortada di Kellat Mgouna, lalu berkunjung ke Marrakech, Meknes dan kemudian Fez. Dia makin kaget lagi, “Hanya untuk itu?” Selebihnya, saya bilang, sembari melakukan ziarah ke makam-makam Wali yang banyak bertebaran di Maroko.

Orang Arab itu agak aneh wajahnya. Dia kemudian membuka perbincangan panjang. Ziarah ke itu hanya layak dilakukan pada tiga tempat, Makkah, Madinah dan Baitul Magqis. Itu katanya. “Tidak penting berdhikir bersama-sama apalagi tariqah,” ujarnya. Saya mulai paham. Tentu orang ini berasal dari Saudi. Saya bisa tebak dari ciri wajahnya. Semula saya memang agak kurang yakin. Tapi setelah dia katakan, berdzikir dan bertariqah itu tidak penting dan tidak ada dalam Sunnah, dan dia menyebutnya sebagai ‘bid’ah’, maka jadi makin terbukti bahwa orang ini berpaham ‘wahabi’. Begitu sering orang katakan.

Karena dia sudah menyebut kata bid’ah, maka ini bisa panjang lebar bahasannya. Lalu saya mengeluarkan dompet, sebuah Dirham dikeluarkan. Tapi bukan Dirham dari kertas. Karena mata uang Maroko juga bermerek “Dirham” tapi terbuat dari kertas. Saya keluarkan keduanya, Dirham kertas dan Dirham perak keluaran Kesultanan Bintan. Saya tunjukkan, “Saudaraku, inilah yang sah disebut BID’AH!” Karena kertas jadi uang, itu jelas bukan Sunnah. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar, bukan kertas. “Inilah Bid’ah Dholalah,” ujar saya. Dia agak terdiam. Sembari mendengar saya memberikan penjelasan agak panjang soal bagaimana sejarah uang kertas dan apa Dinar emas dan Dirham perak itu. “Negeri kalian menyerahkan minyak lalu terima dibayar dengan kertas, apakah itu bukan bid’ah?” tanya saya. Lalu mana lebih penting, soal membid’ah-kan jiarah kubur atau urusan uang kertas yang bid’ah? Alhasil kami sama-sama masuk ke ruangan sarapan pagi, tapi setelah membuat sarapannya roti dan lainnya, lelaki bergamis itu tak lagi mau duduk bersama saya.

Inilah situasi jaman sekarang. Tatkala sebagian kelompok terus melakukan indoktrinasi yang berlebihan. Tariqah dianggap bid’ah, dhikir dianggap dholala dan segala bentuk lainnya dianggap khurafat. Tentu ini fitnah yang luar biasa. Maka lihatlah sejarah. Perjalanan kebesaran Islam bersamaan dengan bersandingnya tassawuf didalamnya. Kejayaan Andalusia, Granada, Utsmaniyah, hingga kesultanan di nusantara, kerap bersandingan dengan tassawuf. Ilmu-iman-ihsan. Tassawuf ialah ilmu tentang ihsan. Ini sudah turun temurun. Ini pengajaran soal hakekat bagaimana memahami Allah Subhanahuwataala dan hahekat seorang manusia hidup di bumi. Pengajaran ini dilakukan bersanad, turun temurun. Sanad inilah jaminan ilmu itu datang dari sumber mata air yang jernih, Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Era abad pertengahan ke atas, sekelompok kaum mencetuskan bahwa tassawuf ialah bid’ah. Itu dianggap khurafat. Islam dianggap perlu diperbarui. Tapi semenjak itulah Islam menjadi hancur lebur. Kaum pengkritik tassawuf itu melupakan banyak hal. Bahwa kemenangan pasukan Islam menaklukkan Konstantinopel 1453 dan segala peperangan yang dilakukan dalam medan jihad, tak lepas dari peran penting tassawuf didalamnya. Hadra menjadi bagian dari peperangan. Bukan sekedat penghias dalam dhikir semata. Karena dengan modal itulah muslimin bisa memahami jihad di medan perang, dengan menyambut datangnya kematian. Tentu ini bahasan yang panjang.

Begitu tassawuf dilarang, dianggap dholala, saat itu pula Islam menghilang. Umat Islam menjadi porak poranda. Karena tassawuf bukan berkisah tentang bagaimana menjadi kebal, jalan di air, terbang atau segala macamnya. Itu bab tentang karomah, yang suatu hal tak perlu dibesarkan. Hal itu memang ada, tapi tak layak digembar gemborkan. Tassawuf adalah ilmu bagaimana memahami menjadi muslim sejati.

Dengan tassawuf inilah modal memerangi khufur bisa dilakukan. Tanpa tassawuf, ketakutan pada kufur akan menjadi-jadi. Tapi dengan modal tassawuf, para kafirun yang akan lari. Inilah rahasia kemenangan kaum muslimin terdahulu. Tapi semenjak dibilang dholala, disitulah banyak masalah.

Sementara dholala yang sejatinya justru berada pada pelupuk mata kita. Sistem dholala inilah yang kini berlangsung. Justru kaum pembaharu merasa sistem itu bukan dholala, melainkan Islam harus mengikutinya. Inilah kekeliruan yang nyata. Umat Islam harus kembali ke tiga generasi terbaik yang digaransi Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Itulah tiga generasi awal sebagai modul dalam ber-Islam. Era Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin. Masa ini penuh dengan penyatuan antara hakekat dan syariat. Hakekat diraih dengan tareqah, syariat dijalankan dengan mahdhab. Inilah yang dilakukan muslimim terdahulu, yang berjaya itu. Kini kita menolak itu semua. Alhasil soal syariat saja tak memahami. Syariat kini berubah bentuk menjadi ‘hukum Islam”, sesuatu yang tak pernah ada. Dan itu sudah jelas dholala.

Inilah era tatkala yang haq dikatakan bathil, dan yang bathil dibilang haq. Maka, ketika membid’ah-kan tareqah –notabene taassawuf—tentu itu hal yang serius. Karena rahasia kemenangan Islam, berada disitu. Negeri Magribi ini menjadi kunci dimana tassawuf berkembang hingga kini. Disinilah tareqah masih terjaga. Karena dengan tassawuf itulah jalan kemenangan Islam kembali membentang. Insha Allah. Dan, kala menggeluti Mursyid tareqa ini, disitulah sihir bankir terbongkar. Shaykh Abdalqadir as Dufi, mursyid tariqah Qadiriyah Shadhiliyah Darqawiyyah, melihat bagaimana penipuan era kini dengan permainan uang kertas sebagai kekuatan rezim bankir. Padahal itulah yang sejatinya layak dinyatakan sebagai dholala.