Dinar Dan AMR

462

Rasulullah Shalallahuallaihi Wassalam bersabda: “Akan tiba suatu zaman dimana tak ada lagi yang berharga kecuali Dinar dan Dirham.” Inilah zaman itu. Kita hidup di era itu. Era dimana Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam mengatakan: “Akan tidak suatu zaman dimana semua orang akan memakan riba, jika pun ada yang tak memakan riba, dia akan terkena debunya.” Inilah era dimana riba ada dimana-mana.

Riba yang inklud pada sistem. Karena riba tak bisa dipahami sekedar pertambahan dan kelebihan. Ini adalah sistem riba. Akademisi menyebutnya inilah kapitalisasi. Tapi muslimin harus menyebutnya ini sistem riba. Hukumnya haram, tanpa kecuali. Sistem hanya bisa dilawan dengan sistem. Bukan dengan senjata, jutaan massa, atau demonstrasi sepanjang masa. Karena sistem riba tak akan bergeser dengan senjata.

Dinar Dirham adalah salah satu senjata melawan sistem riba. Karena puncak riba dikendalikan oleh para bankir. Mereka penguasa kapitalisme. Bankir ini yang memiliki kedaulatan penuh soal penguasaan ekonomi. Tatanan dunia kini berada di tangan bankir. Mereka yang menguasai sistem uang. Presiden, Gubernur -yang beragama Islam, Kristen, atau Budha sekalipun-, tak berdaya menghadapi sistem ini. Karena bankir yang menentukan kurs mata uang suatu negara. Bankir yang menentukan Republik Indonesia dengan Rupiah, Republik Amerika Serikat dengan Dollar, Kerajaaan Saudi dengan Riyal, Kerajaan Malaysia dengan Ringgit dan lainnya. Mereka juga yang menentukan berapa harga dari nilai “uang” itu. Mereka pula yang menyetujui bahwa hal itu adalah “uang”. Presiden, Gubernur, Bupati, parlemen, Supreme Court, Mahkamah Agung, tak bisa berbuat apa-apa. Karena bankir menguncinya dengan constitutio. Mereka mengontrol pengendalian undang-undang. Bank Sentral wajib ada dalam sebuah negara. Entah apa gunanya.

Bankir tak lahir dalam hitungan tahun. Mereka berkarir sejak berabad-abad lamanya. Dari semula keberadaannya sebuah pidana, kini penentangnya adalah pidana. Karena mereka mengatur hukumnya. Opas, polisi, jaksa, advokat, hakim, dan lainnya, hanya centeng-centengnya. Penopang agar sistem ini bekerja. Bankir bukanlah orang yang bekerja di bank. Tapi mereka-lah empunya bank, pencipa sistem bank. Mereka pengendali sistem republik, demokrasi, atau sebutan lain- yang sejatinya telah usang. Karena sistem itu hanya bualan dari abad pertengahan.

Yang kini tercipta adalah negara fiskal. Tak ada negara hukum (rechstaat) atau negara kekuasaan (maachstaat). Ini juga bualan dari abad pertengahan. Kini semua negara adalah fiskal state. Tak ada kedaulatan raja, kedaulatan rakyat, kedaulatan hukum, kedaulatan Tuhan. Karena yang ada hanya kedaulatan bankir. Mereka pengendali ekonomi, yang mengatur politisi dan pengatur undang-undang. Tapi, ini tak terbaca oleh koran-koran maupun berita televisi. Karena coorporation barisan kedua setelah bankir. Mereka bagian dari permainan.

Lalu kemana Daulah Islam? Inilah masa interagnum kedua. Tatkala Daulah tanpa Khalifah. Tak ada Amr dalam Islam. Inilah era ketika umat Islam ikut masuk ke lubang biawak, mengikuti Nasrani dan Yahudi. Inilah era umat Islam direbutkan bak makanan yang tersaji. Muslimin tercabik-cabik seantero dunia. Menghukum seorang penghina Al Quran saja, tidak mampu, walau ribuan muslimin telah turun ke jalan. Karena sistemnya bukan Islam. Karena undang-undangnya dikendalikan bankir. Karena KUHP Cuma copy paste dari Strachrecht, buatan Hindia Belanda.. Karena Constitutio cuma perpanjangan tangan dari StaatIndesche Regeling (IS) Hindia Belanda. Penghina Al Quran, sulit dipidana. Karena Bukan Islam yang membuat hukum. Umat Islam memang mayoritas, tapi derajatnya hanya subjek hukum. Bukan penentu atau pembuat hukum. Kekalahan ini dimulai dari pergeseran alat tukar. Dulunya, kala Daulah menyala, muslimin menggunakan Dinar dan Dirham. Emas dan Perak sebagai alat tukar yang adil. Tapi lambat laun mengikuti permainan bankir, tunduk serta merta pada uang kertas dan mekanisme bankir. Dan itu adalah riba.

Adalah ulama besar asal Skotlandia yang kali pertama mendengungkan soal sistem riba ini sebagai musuh utama. Dia menganalisa betapa muslimin harus keluar dari sistem riba dan menggalakkan lagi Daulah. Dialah Shaykh AbdalQadir as sufi. Lewat kitab-kitabnya, beliau menuliskan tentang siapa musuh Islam yang sebenarnya. Dia lahir dari negeri Barat, pusat jantung kapitalisme. Tapi walau mualaf, beliau melaju kencang mempelajari Islam, agar bisa dinikmati secara kaffah. Karena kondisi Islam kini, ada tapi terasa. Beliau memberi kunci, bagaimana agar merasakan Islam secara nyata. Karena kini Islam seolah tinggal nama. Al Quran hanya tersisa tulisannya. Para pembaca Al Quran hanya sampai kerongkongan. Ini masa-masa paceklik akan Islam.

Tapi situasi ini harus berbalik menuju kemenangan. Kita tak bisa menunggu Imam Mahdi datang untuk menang. Karena jika hanya menanti sang Mahdi, seolah kini kita tak perlu berbuat apa-apa. Hanya ongkang kaki sembari minum kopi, menunggu Mahdi, sambil bermandi riba saban hari. Bukan itu. Islam itu adalah disini dan hari ini. Islam bukan masa lalu bukan pula utopia. Hari ini dan sekarang, adalah perjuangan menegakkan Islam. Daulah tidak hanya hadir di era Utsmani, atau akan muncul lagi kala Imam Mahdi. Tapi sekarang harus dikembalikan. Detik ini dan sekarang. Tak ada waktu menunggu, sambil minum kopi bercampur riba, bukan sianida.

Dinar Dirham adalah titik mula. Muamalah ialah sektor yang harus dikembalikan semula. Tapi Dinar Dirham tak bisa hadir begitu saja. Ada syarat utama. Yang boleh mencetak Dinar Dirham hanya seorang Amr (pemimpin). Para sulthon. Sang Khalifah. Tapi ini era kala Islam tanpa Imam. Tak ada lagi sulthon. Namun itu bukan penghalang. Bukan berarti kita kembali duduk-duduk minum kopi lagi, sembari menonton demo saban hari.

Amr harus dikembalikan. Karena Amr ini titik terpenting. Para Sahabat telah membuktikan. Hadirnya Amr lebih penting ketimbang menguburkan jenazah Rasulullah Shallahuallahi Wassalam. Para sahabat membantarkan jenazah sang Rasulullah 3 hari demi menentukan Amr. Demi mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Khalifah. Makanya sebelum Dinar Dirham, harus Amr lebih dulu.

Shaykh Abdal Qadir as sufi, karena pentingnya Dinar Dirham sebagai titik mula muamalah, tapi menitikkan adanya Amr lebih dulu. Karena beliau adalah mursyid tareqah, yang memiliki banyak murid seantero dunia, Amr pun harus dibentuk. Membentuk Amr adalah bagian dari pengajarannya. Untuk memahami Islam secara kaffah. Beliau menjadikan tareqah tak lagi sekedar wadah mempelajari hakekat semata. Karena hakekat tanpa syariat itu zindiq. Sementara Syariat tanpa hakekat itu sesat. Demikian Imam Malik Radiallahuanhu berkata.

Dinar Dirham pun dieksekusi. Di cetak kali pertama tahun 1992. Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, ulama besar dari Spanyol yang kali pertama mengusahakannya. Beliau salah satu murid Shaykh Abdal Qadir. Dari tareqah inilah “pengajaran” tentang Dinar Dirham bermula. Tapi Amr harus dibentuk dulu, agar DnD bisa dicetak. Agar ada yang berhak mencetak. Karena Shaykh Abdalqadir mursyid di tareqah Qadiiriyah Shadhiliyah Dharqawiyah, beliau memerintahkan para muridnya untuk mengeksekusi hal itu. Amirat-amirat pun dibentuk. Di Spanyol, Inggris, Malaysia, Jerman, Amerika Serikat, Swiss, Maroko, Afrika Selatan hingga belahan bumi lainnya. Tapi di belahan bumi Barat, muslimin di sana lebih dulu menjadi “murid” tareqah baru kemudian menerapkan syariat. Tapi di tareqah ini, menjadi murid sungguh mendapat tugas tambahan. Tak sekedar patuh pada sang shaykh, tapi juga harus tunduk pada Amr. Karena patuh pada Amr, bagian dari ibadah. Karena Allah Subhanahuwataala berfirman, patuhilah Allah Subhanahuwataala, ikuti Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam dan ikuti Ulil Amri diantara kalian. Ini perintah. Ikuti Amr berarti tali temali menuju Rasulullah dan Allah Subhanahuwataala menyambung. Dinar Dirham pun dicetak. Atas nama Amr.

Di Indonesia, agak berbalik muasalnya. Banyak yang tertarik tentang Dinar Dirham lebih dulu. Banyak yang merasa DnD sebagai jalan keluar dari riba. Tapi jangan lupa, syarat utamanya harus tunduk pula pada Amr. Ini tak bisa dihilangkan. Tak bisa mengenakan Dinar Dirham, tanpa patuh pada Amr.

Alhasil, mayoritas lebih kenal lebih dulu pada Dinar Dirham baru bergabung pada tareqah. Karena sokoguru Dinar Dirham ada di tareqah ini. Karena kewajiban harus menyatukan lagi hakekat dan syariat ada pada mursyid ini. Makanya banyak penggerak, pengguna Dinar Dirham kemudian bergabung ke tareqah, dimana Shaykh Abdal Qadir berada. Inilah muasalnya mengapa berdinar juga bertareqah. Di tareqah inilah kita berkumpul bersama para murid seantero dunia.

Lalu “Indonesia” membentuk Amirat. Ini sebagai bagian dari pengajaran sang Shaykh. Para fuqara, faqir yang berburu ilmu, harus bergabung pada Amirat. Ini syarat utama dalam tareqah ini. Makanya ada Ulama dan Umara. Keduanya kembali dihadirkan. Upaya ini bukan akal-akalan. Kehadiran Umara ini yang penting. Amirat berdiri agar DnD bisa dicetak. Dan agar rukun Zakat kembali ditegakkan.

Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada kewajiban zakat atas harta emas yang belum sampai 20 dinar. Apabila telah sampai 20 dinar, maka zakatnya adalah setengah dinar. Demikian juga perak tidak diambil zakatnya sebelum sampai 200 dirham yang dalam hal ini zakatnya adalah 5 dirham.” (Hadits Riwayat Bukhori).

Zakat ini ibadah mutlak. Zakat ada fitrah dan mal. Fitrah tiada masalah dalam pelaksanaannya. Rapi zakat mal, kini tak beraturan. Jika sholat, kiblatnya menghadap Washington, Amerika, pastilah banyak ulama marah. Karena sholat harus berkiblat ke Makkah. Tapi tatkala Zakat tak dilakukan dengan rukun yang benar, nyaris tak terdengar kemarahan ulama. Zakat tak bisa ditunaikan dengan uang kertas, produk bankir. Harus dengan uang made in Allah Subahahuwataala. Tapi kepada siapa ditunaikan? Harus kepada Amr. Lagi-lagi Amr! Kemana hendak berzakat jika tiada Amr? Apakah tunai zakat ke Baznas? Baznas itu bentukan republik. Apakah Presiden itu Amr umat Islam? Karena Presiden itu hanya pemimpin administratif, bukan penguasa sesungguhnya. Presiden itu bagian dari sistem demokrasi, bualan abad pertengahan. Tentu error in objecto jika zakat ditunaikan tak pada AMR yang benar.

Lalu siapa AMR yang benar? Ini era tiada lagi Sultan Al Fatih, tak ada lagi Sultan Iskandar Muda, Sultan Ageng Tirtayasa. Tentu itu tak menjadi alasan harus beralih ke Presiden atau Gubernur yang kini dianggap pemimpin-walau cuma boneka para bankir-. Amr harus dihadirkan. Tapi tak mesti menunggu Khalifah seluruh dunia dilantik lebih dulu. Itu jalan yang muskil. Tapi memulai dari Amirat. Bagian terkecil dari kesultanan. Amirat inilah sektor terakhir yang dihancurkan kapitalisme. Shaykh Abdalqadir berkata, jalan kita dihancurkan itulah jalan kita kembali. Amirat inilah titik awal untuk memulai. Di nusantara, kesultanan masih ada, walau tak eksis lagi. Tapi mereka harus dikembalikan fungsi dan tugasnya. Kembali menjadi kuda perang. Bukan kuda yang terlalu banyak merumput. Amirat ini bertugas membimbing lagi para sultan, untuk memimpin umat. Sultan tak lagi sekedar menjadi bagian dari kesenian. Tapi harus kembali menjadi bagian dari sistem. Sistem Daulah, yang menyalakan Deen Allah Subhanahuwataala. Itulah tugas para fuqara, para perengguk ilmu dari sang Shaykh. Demi menjadi Rijalalah. Karena Rijalallah tak bisa digapai dengan dzikir semalam suntuk belaka. Karena syariat tiada. Rijalalah harus mencahayakan syariat dan hakekat.

Tapi agar Zakat kembali berjalan, Amirat mesti berdiri. Karena tiada waktu untuk menanti. Mereka yang menjadi fuqara, inilah sejatinya umat Amirat. Patuh pada Amr, mutlak tanpa kecuali. Amirat inilah yang mencetak Dinar Dirham pertama kali. DnD hanya salah satu produk Amirat. Menggunakan DnD produksi Amirat, berarti mengakui eksistensi Amirat. Berarti tunduk serta merta pada Amirat. Jika DnD tanpa amirat, inilah tak beda dengan Dinar produksi PT Aneka Tambang. Karena Dinar Dirham tak berguna apa-apa tanpa Amr di atasnya. Dinar Dirham harus bersama para Sultan. Bukan bersama Coorporation yang mencari untung.

Shaykh juga mengajarkan, menjadi fuqara harus pula tunduk pada Amr. Terkhusus untuk Amirat Indonesia, Shaykh Abdal Qadir telah memberi instruksi, perijinan soal wirid-yang bagian dari tareqah- juga ditangan Sang Amir. Artinya, hakekat dan syariat sepenuhnya berada di tangan Amir. Bak Kesultanan Cirebon dulu yang didirikan Shaykh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sang Sultan sekaligus sang pengajar hakekat.

Inilah alasan mengapa kita ber-Dinar, juga semestinya ber-tareqah. Inilah justifikasi mengapa bertareqah juga wajib ber-Amirat. Ber-Dinar juga wajib ber-Amir. Karena Dinar tanpa Amir, hanya mengawang di udara. Amir yang mencetak dan melindungi peredaran Dinar Dirham. Amir yang menentukan DnD mana yang berlaku di pasarnya. Seperti Sultan Iskandar Muda yang menentukan nilai 6 Dirham Portugis seharga 1 Dirham Kesultanan Aceh. Itu otoritas sang Sultan, demi melindungi umat. Penentuan Dinar murni dan tak murni, sepenuhnya di tangan Amr. Bukan orang lain, apalagi yang bernafsu menggulingkan Amr.

Maka, sebelum Dinar Dirham, ada Amr. Di samping Amr ada Shaykh yang mendampingi. Inilah perpaduan syariat dan hakekat. Maka, menjadi pengguna Dinar Dirham, lalu menjadi fuqara, lalu menjadi umat Amirat. Inilah kemutlakannya. Fuqara tanpa Amirat, bak ayam kehilangan induknya. Fuqara yang menampikkan sang Amir, itu bak musang berbulu domba. Barrakallah.

Semoga kita dilindungi Allah Subhanahuwataala.

 

Irawan Santoso Shiddiq