FUTTUWA

181

Shaykh Abdalqadir as sufi
Bagian dua

Fuqara haruslah memohon agar senantiasa berubah. Doanya para Sufi adalah, “Ya Allah, jadikan kami senantiasa berubah.” Jadikan kami senantiasa berubah karena segala sesuatu itu berubah dan setiap hari Allah menetapkan ciptaan baru. Engkau harus terus menerus memperbarui dan memperbarui dirimu. Engkau senantiasa harus berubah. Engkau harus mengingat bahwa majelisnya fuqara adalah majelis tertinggi. Engkau harus selalu bermajelis satu sama lain. Engkau harus bersafar ke tempat-tempat lain di mana fuqara berada. Engkau harus duduk bersama fuqara di mana pun itu. Engkau harus menjadi contoh bagi mereka dan mengambil teladan dari mereka jika engkau berjumpa mereka yang berkualitas. Temui khalayak berilmu, cari khalayak pencinta Allah Subhanahu wa ta’ala, dan khalayak pencinta Rasul, sallallahu ‘alayhi wasalam. Untuk memperoleh adab dari mereka yang mulia engkau harus duduk bersama mereka, engkau harus duduk bersama khalayak yang ‘alim. Dengan berkumpul bersama itulah engkau dibersihkan. Tasawwuf adalah berkumpul bersama, lalu tasawwuf adalah mendengarkan, kemudian tasawwuf adalah mengamalkan apa yang engkau dengar. Hanya ada satu musuh dan itu adalah nafsumu sendiri. Nafsu itu tidak memiliki kebaikan sama sekali. Yang paling buruk dari segala perkara bagi para Sufi adalah menyadari kebaikan diri mereka sendiri atas dan kepada orang lain – inilah yang membawa mereka mundur ke belakang dan menghempaskan diri mereka pada bebatuan takdir. Engkau tidak boleh melihat sifat-sifat kebaikanmu sendiri. Engkau harus beranggapan bahwa itu telah menjadi busuk disebabkan sekedar karena engkau telah menyadari keberadaannya. Engkau tidak boleh melihat pada dirimu sendiri.

Engkau tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain, engkau melihat bahwa kesalahannya ada pada dirimu sendiri. Lihat dirimu sendiri dan katakan, “Apa yang salah dengannya?” Harith al-Muhasibi memeriksa hari-harinya, lalu memeriksa jam-jamnya dan selanjutnya menit-menitnya, sampai memeriksa nafasnya hingga ia merasa yakin bahwa itu diridhai Allah, bahwa itu dapat diterima Allah. Dua ‘ulama besar bertemu di Bahgdad dan mereka berdebat dan berkelahi satu sama lain. Di akhirnya salah seorang diantara mereka berkata, “Mari kita ketemu lagi besok dan membicarakan hal ini lebih jauh lagi,” dan yang lain menjawab, “Tidak, mari kita ketemuan besok dan berdamai dan melupakan segalanya.” Inilah jalannya para Sufi – memulai kembali. Engkau tidak boleh terbatas dalam pemaafanmu kepada kesalahan-kesalahan orang lain namun engkau tidak boleh sama sekali memperhatikan dirimu. Engkau harus berpaling dari menyadari apapun tentang dirimu sendiri. Engkau harus berpaling dari nafsumu dan cara berpaling dari nafsumu bukanlah dengan sebuah cara psikologis, melainkan dengan dhikrullah. (Surat ar-Ra’d ayat 28) “Hanya dengan berdhikr kepada Allah hati menjadi tenang.” Engkau harus berdhikr kepada Allah. Engkau harus mengingat Allah berdiri, duduk, dan berbaring. E

ngkau harus menyeru kepada Allah. Engkau tak boleh berada di luar majelis ahli yang mencintai Allah, engkau membutuhkan mereka. Engkau membutuhkan ahli Allah karena mereka akan mengingatkanmu kepada Allah. Engkau membutuhkan ahli ilmu karena kalian harus kokoh dalam Deenmu dan engkau harus benar dalam Deenmu di jaman di mana di tiap-tiap masjid berbeda cara sujudnya, apatah lagi dalam perihal yang lebih mulia dalam Deen ini. Engkau harus berbicara yang baik tentang khalayak dan memiliki baik sangka kepada khalayak. Engkau harus menjadi ahli futuwwa, engkau harus menjadi khalayak yang sedang dibicarakan ini karena tingginya aspirasinya, derajat himma yang tinggi yang engkau miliki yang berlaku sejagat sehingga jika engkau pergi ke Ka’ba, dengan segala permasalahan yang ada di sana, engkau harus mencari ahli Allah di sana dan duduk bersama mereka. Waspadalah terhadap ahli dunya. Waspadalah terhadap ahli dunya hingga engkau menjadi aman, dan jika engkau aman maka tidak ada masalah kemana pun engkau pergi. Jika engkau belum aman engkau harus waspada. Engkau harus memiliki takwa dan engkau harus memiliki wara’. Engkau harus berhati-hati, berhati-hati, waspada, hingga engkau berada di atas Sirat al-Mustaqim sebab jika ada yang salah, engkau harus ingat bahwa apa yang bisa engkau lakukan ketika itu adalah bertawbat kepada Allah, subhanahu wa ta’ala.

Ingatlah, bahkan tawba itu tak ada kaitannya dengan dirimu – itu terjadi karena Allah telah menakdirkan bagimu tawbatmu karena Ia menginginkan itu bagimu, jadi bahkan itu pun bukan milikmu, itu bukanlah prestasi keberhasilan usahamu. Permohonan ampunmu bukanlah prestasi keberhasilan usahamu, sesungguhnya Allah-lah yang menghendakimu dan engkau menyadari bahwa Ia-lah yang menghendaki itu darimu. Engkau milik Allah. Engkau berasal dari Allah dan engkau menuju ke Allah. Inilah yang harus engkau utarakan pada dirimu sendiri. Jangan terpedaya oleh dunya. Ingatlah bahwa Rasul, sallallahu ‘alayhi wasalam, menyatakan bahwa koin/uang kecil miliknya seorang miskin sama berbahayanya dengan koin emasnya si kaya, karena itu engkau harus menjadi dermawan. Menjadi dermawan adalah dengan meneladani jalannya Rasul sallallahu ‘alayhi wassalam. Engkau harus dermawan, engkau harus bersangka baik kepada orang lain, engkau tidak boleh berkata buruk tentang orang lain dan jika engkau mengatakannya engkau harus kembali dan membersihkannya dan memohon maaf kepada mereka. Jika seseorang benar-benar memusuhimu dan benar-benar keliru (dalam permusuhannya itu) maka engkau harus memaafkannya dan engkau harus melupakannya dan engkau harus kembali dan memperbaiki urusan itu. Beginilah Deen itu adanya. Beginilah cara hidup orang-orang mulia itu di masa lalu.

Untuk mengingatkan terakhir kali kepada kalian – lihat apa yang telah terjadi pada futuwwa – para sesepuh sebuah organisasi kemasyarakatan yang menyebut diri mereka sendiri al-Fatah biasa mengikatkan dinamit di perut anak-anak mudanya dan menyorong mereka keluar untuk meledakkan dirinya sendiri, sedangkan para Sahabat yang berjihad bersama Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallam, menyisihkan anak-anak muda agar mereka bisa berangkat dan berjihad fisabilillah, bertempur bersama Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Agar Deen yang paripurna ini bisa dimulai dari awal lagi. Kalianlah khalayak yang harus memulainya dan di benua inilah itu dimulai. Ia dimulai dari kalian dan anak-anak kalian, untuk itu kalian harus beradab kepada mereka, kalian harus memperlakukan mereka dengan kesantunan. Engkau harus memperlakukan anak-anakmu dengan kesantunan, engkau harus berlaku santun kepada yang muda sebagaimana kalian berlaku santun kepada yang tua. Kalian harus menjadi khalayak beradab dan jika kalian menjadi khalayak beradab kalian akan aman. Jika kalian menjadi ahli adab kalian menjadi para Sufi. At-Tariqa kulluha-adab. Tariqa itu tak lain daripada adab, itulah semuanya yaitu – adab. Engkau pun harus menghormati dirimu sendiri. Penghormatan atas dirimu sendiri itu sendiri hanya akan mewujud dengan kenyataan bahwa semua orang di sekitarmu merasa nyaman dan merasa selaras denganmu dan senang bahwa engkau hadir di situ. Beginilah seharusnya engkau. Engkau haruslah menjadi suatu berkah di muka bumi. Engkau menjadi berkah bagi setiap orang. Engkau haruslah menjadi dia yang jika engkau masuk ke sebuah ruangan maka kecemerlangan berpendar di sana karena cintamu kepada Rasul, sallallahu ‘alayhi wassalam, cintamu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan karena lidahmu basah dengan asma Allah dan bukan dengan perkara-perkara duniawi. Dunya pasti berlaku.

Seluruh tipu muslihat dan godaan-godaannya pasti akan mampir di telingamu, begitulah adanya, dan demikianlah yang akan terus terjadi. Ketika Ashabul Kahfi keluar dari goa, mereka kembali berhadapan dengan dunya dan seluruh masalahnya dan semua kesulitan-kesulitannya, namun Allah mencintai ahli tawhid dan mencintai ahli yang mencintai-Nya dan inilah majelisnya, majelis para Sufi.

Kami memohon kepada Allah, subhanahu wa ta’ala, untuk memberikan kepada kita agar sepanjang umur kita berada di majelisnya para Sufi. Kami memohon kepada Allah, subhanahu wa ta’ala, untuk membawa tasawwuf kami ke penjuru dunia manapun yang kami datangi. Kami memohon kepada Allah, subhanahu wa ta’ala, untuk memberikan kepada kami agar berada di kumpulan khalayak yang menginginkan berjalan kepada Allah daripada mereka yang bisa melakukan sesuatu untuk membantu kami dan memberikan kepada kami keuntungan di dunya ini. Kami memohon kepada Allah, subhanahu wa ta’ala, untuk menjadikan kami siap menghadapi ujian-ujian yang akan tiba sehingga kami dapat kembali pada-Nya dan senantiasa ingat untuk memuji-Nya di setiap keadaan.

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal. Kami memohon kepada Allah, subhanahu wa ta’ala, untuk memberkahi masjid ini dan para imamnya dan para penjaganya dan agar masjid ini menjadi saksi atas hadirnya Islam sebagaimana yang pernah terjadi di masa sulit yang lalu. Amin.