Geliat Kajian The Entire City di Cape Town

503

Ahad pagi yang cerah di Cape Town, South Africa. Tanggal menunjuk angka 13 Mei 2018. Mentari bersinar. Sesosok mobil beratap terbuka berhenti pelan di bilangan Cape Town, Afrika Selatan. Rumah itu tak jauh dari pusat kota Cape Town. Kediaman orang-orang kulit putih, tatkala dulu masa apharteid berlaku. Memang tampak demikian. Yang menetap di sana jamak kaum kulit putih. Pertanda itu daerahnya kaum kaya di Cape Town. Di rumah itulah dilangsungkan kelas politik. Seri bedah buku The Entire City karya Ian Dallas. Pengendara mobil beratap terbuka itu seorang bule dari Inggris, Christipher Bates. Dia bukan muslim. Pekerjaannya seorang bisnis man di Cape Town.

Chris, begitu dia disapa, tak pernah absen mengikuti kelas kajian The Entire City saban minggu. Dia kerap datang dan menyimak. Pemuda berusia kisaran 28 tahun itu begitu tegun. “Saya tertarik dengan buku ini, begitu banyak pelajaran kisah politik dan sejarah di dalamnya,” ujarnya.

Tak hanya Chris seorang. Ada juga Lelan Thompson, lecture di University of Cape Town. beliau juga mengikuti kelas kajian The Entire City. Perempuan ini juga bukan muslim. Tapi sangat antusias mengikuti kajian yang disampaikan. Ada pula PJ Jones, pengusaha property swasta dan pemerintahan di Cape Town. Pria bule ini tak kalah antusiasnya mengikuti kelas kajian The Entire City. Tak kalah seru ditunjukkan Mariette Marais, perempuan berdarah Inggris ini seorang penulis dan editor di Cape Town. bahkan kini Mariette terkesan cas cis cus tatkala menceritakan buku The Entire City. Kediamannya itulah yang bersedia digunakan untuk mengadakan kelas kajian The Entire City. Mariette tampak rela berkorban demi kajian ini berlangsung saban pekan. “Ini buku yang sangat luar biasa,” ujarnya. Karena Mariette berkerja di penerbitan, tentu dia mahfum tentang buku yang berkualitas atau biasa-biasa saja.

Nicolas Malaise, seorang desainer ternama di Cape Town tak kalah antusiasnya. Beliau tak pernah absen mengikuti kelas kajian buku tersohor itu.

Kajian dilangsungkan oleh Zulfiquar Awan, lecture di Dallas College, Cape Town. Zulfiquar membuka kelas kajian bagi siapa saja yang berminat memahami dalam mendedah buku The Entire City. Kelas kajian itu cukup disambut antusias. Tak hanya para fuqara belaka. Melainkan kaum awam yang belom memeluk Islam, juga banyak yang tertarik.

Total Zulfiquar mengelola ada sekitar 15 kelas dalam mengajarkan buku termahsyur itu. Itu yang ada di Cape Town belaka. Ada sekitar 50-an orang lebih yang mengikuti kelas kajian tersebut. Belum lagi kelas online. Di Mexico ada sekitar 6 orang. Australia yang mengikuti kajian The Entire City sekitar 5 orang. Dari London, Inggris ada sekitar 8 orang. Paris mengikuti sekitar 3 orang. Kuala Lumpur, Malaysia mengikuti kajian ini sekitar 9 orang. Inilah bentuk antusiasime dalam memahami buku The Entire City.

Bukan hanya buku The Entire City semata. Tapi empat buku politik terakhir yang ditulis Ian Dallas, juga menjadi magnet kajian. Engine The Broken World, Interim is Mine dan Time of Beoduin. Inilah tetralogi buku Ian Dallas yang mengundang banyak pihak mengulasnya.
Keempat buku itu, Ian Dallas berbicara dari sisi mindset tentang terbentuknya kapitalisme sistem yang kini menjadi tirani. Beliau mendedah siapa tirani jaman kini. Terlebih pada buku The Entire City.

The Entire City bukanlah buku otobiorgrafi Ian Dallas. Sama sekali bukan. Melainkan buku yang mengulas tiga text, Vindiciae Contra Tyrannos karya Harold Laski, Christoper Marlowe dan drama Oedipus dan Dynosus.

Ketiga karya text itu menunjukkan pesan penting. Dari Laski, Dallas ingin mempertontonan bagaimana analisa seoranng Laski, yang mantan Marxis, ketua Partai Buruh di Inggris, memandang bahwa state perlu di reevaluasi. Laski mengutip selebaran Vindiciae Contra Tyrannos yang dibuat oleh Dupllesis Mornay, penulis abad pertengahan, yang selamat dari pembantaian 1000 Huguenot di istana Raja Perancis. Selepas pembantaian Hari Santo Bartolomeous itulah Mornay menulisan tentang tirani yang berlangsung kala itu. Laski mengutip kembali vindiciae sebagai alat untuk mendedah tentang “state” atau negara yang ternyata tirani.

Dari situlah Dallas mengajak pembaca, untuk memahami dimana sejatinya tirani dan siapa pihak yang tirani. Tentu bermula dari pembentukan mindset dan adanya mitos baru dalam membentuk tatanan pemerintahan baru. Tentu yang jelas, ini bukan bentuk otobiografi Dallas. Ini buku pembelanjaran tentang hakekat, tapi menggunakan bahasa politik dan historis. Karena Dallas mengulas tentang kesalahan kaum di abad pertengahan dan bagaimana jalan keluar dari penyakit psikosis yang diperankan kapitalisme ini.

Dari The Entire City itu Dallas memberikan siklus Polybios, seorang sejarahwan Yunani era abad 14 SM. Beliau dikenal dengan teori siklus peradabannya. Setelah demokrasi, maka era okhclokrasi. Lalu berlanjut ke Monarkhi. Inilah masa interim. Hamlet mengatakan, “Interim is Mine”. Inilah yang dikutip Dallas dalam buku ketiganya, “The Interim Is Mine”. Ini saatnya kita menyambut masa interim. Masa peralihan antara okhclokrasi menjadi Monarkhi.

Dallas juga mendedah bentuk Monarkhi yang ideal yang pernah ada di belantara barat. Dia merujuk Romawi, tatkala era Brutus I, jauh sebelum Julius Caesar. Lalu masa Monarkhi di Inggris kisaran abad 13, pasca perang salib. Disitulah terbentuknya ‘virtue’ atau kebajikan. Ini konsep futtuwa yang pernah diekspor muslimin pasca Perang Salib. Karena Sultan Salahuddin al Ayyubi mengajarkan bentk futtuwa pada pasukan Kristen yang ditahan dalam perang salib. Alhasil mewujudkan suatu bentuk Monarkhi di Inggris dan Eropa yang memiliki virtue.

Yang pasti, buku The Entire City sangat berguna bagi umat manusia. Bukan hanya muslimin. Karena Ian Dallas, dalam menulis buku ini, tak lagi menggunakan mindset ekonomi. Dia tak lagi berkata tentang riba, atau sejenisnya. Melainkan secara utuh melihat bagaimana kejadian jaman dan penyakit jaman. Tetralogi buku itu menunjukkan Dallas seorang Mursyid bagi seluruh manusia, tak hanya bagi tariqah Qadiriyah Shadziliyah Dharqawiyah. Karena beliau juga menunjukkan jalan keluar dari belenggu tirani era kini.
Buku The Entire City ini sangat menarik dibaca. Bukan hanya bagi para fuqara. Tapi terbukti banyak pihak, yang tak pernah mengenal Shaykh Abdalqadir sebelumnya, tertarik untuk mendedahnya. Inilah buku yang kalibernya sekelas yang ditulis Cicero, Plato dan lainnya. Buku yang menarik di jaman ini. karena berisikan pesan politik dan histori yang memberi jalan keluar.

Tetralogi itu memberikan jalan keluar yakni ‘new nomos’. Inilah bentuk masyarakat baru. Kaum yang kembali memiliki futtuwa. New nomos itulah hadirnya aturan baru, aturan yang merujuk fitrah. Dallas telah menunjukkan jalan kembalinya Islam yang sesuai fitrah. Dan menunjukkan jalan kembalinya kaum Eropa pada Romawi dan Monarkhi yang menggunakan virtue. Tentu sangat berguna bagi siapa saja, terutama kaum elit politik.
Sebelumnya Shaykh Abdalqadir as Sufi sempat ingin menerbitkan buku ini di Indonesia. Namun kemudian beliau jatuh sakit selepas menulis The Entire City. “Buku ini banyal menyedot energi saya,” ujarnya. Tentu hal itu karena Amirat Indonesia di bawah pimpinan Zaim Saidi, tengah mengerjakan dua kesultanan, sebagai wujud hadirnya ‘new nomos’. Itulah alasan Shaykh Abdalqadir ingin buku itu diterbitkan di Indonesia. New nomos itulah di Kesultanan Bintan Darul Mahysyur dan Mangku Negeri Tanjung Pura Darrusalam. Bentuk hadirnya tatanan baru yang sesuai fitrah.

Dari sini, tampak tatkala hadirnya ‘New Nomos” di Indonesia, tanpa melalui kajian mendalam dulu dari The Entire City. Shaykh Abdalqadir menunjuk langsung bagaimana praktek New Nomos, yang dia mention dalam buku tersebut. Nah, dari sudut pandang inilah, bisa ditarik kesimpulan, seorang mengajarkan Muamalah tanpa perlu memutar dulu melalui sejarah banking sistem, tapi wujudnya serupa. Jadi pengajaran muamalah tak mesti menggunakan kata-kata riba, anti riba, banking sistem atau sejenisnya.

Tahun 2016 lalu, Shaykh Abdalqadir mengirimkan Zulfiquar untuk mendedah buku The Entire City di Ketapang, Bintan dan Jakarta. Itulah bentuk bagaimana The Entire City merupakan buku bermutu yang memberikan jalan keluar bagi jerat manusia kini.