Gunakan Dinar Dirham, Agar Zakat Sesuai Syariat

554

Jakarta,- Selepas ibadah Sholat Jumat, di Masjid Cut Meutia, Jakarta, ratusan jamaah meluber keluar. Begitu ibadah usai, pasar yang saban Jumat memenuhi pelataran parkir Masjid itu, menyambut kaum muslimin. Berbagai barang dagangan dipajang di sana. Suasana memang jauh beda dengan pasar swalayan atau mall. Di pasar ini, semua pedagang bebas menjajakan barang, tanpa pungutan.

Mulai dari pakaian anak-anak, minyak wangi, celana jeans, hingga jualan sepatu pun terhampar di pelataran parkir itu. Kegiatan ini memang tradisi umat Islam. Sejak dulu pasar selalu tak jauh dari Masjid, sebagai pusat ibadah.

Di pojok parkiran, seonggok tenda terpasang. Empunya tenda menawarkan brosur mobil merek tertentu. Beberapa gadis berwajah molek jadi andalan untuk membagikan brosur, kepada pria-pria yang baru saja keluar dari masjid. Di sebelah tenda itu, beberapa orang perempuan juga menjajakan brosur. Isinya bukan jualan mobil, tapi menawarkan program pembayaran zakat. Gaya kedua penjaja itu agak tak beda. Walau lain merek dagangan, tapi cara mereka menjajakan kepada para jamaah, serupa.

Brosur tentang zakat itu dibagi-bagi. Sama halnya dengan brosur jualan mobil itu. Isi brosur zakat menawarkan agar kaum muslimin yang ingin berzakat, bisa lewat lembaga mereka. Di dalamnya dicantumkan beberapa penggal ayat Al Quran, sebagai dalil betapa wajib-nya membayar zakat.

Mereka menawarkan zakat bisa dibayarkan lewat rekening bank. Ada 17 bank lengkap dengan nomor rekeningnya, dicantumkan. Bahkan ditawarkan pula “layanan jemput zakat”. Mereka juga Dari brosur itu, seolah yang terpenting adalah bagaimana agar uang bisa masuk ke rekening mereka.

Pemandangan demikian memang lumrah di era kini. Karena perihal zakat, bisa memberi “pemasukan” yang luar biasa, untuk sebuah lembaga. Soal bagaimana zakat itu disalurkan, tak banyak informasi yang disajikan.

Memang masalah zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim. Dalam Al Quran Surat Az Zaariyaat ayat 19 ditegaskan, “Di dalam harta mereka terdapat hak orang-orang yang memerlukan baik yang meminta maupun yang tidak.”

Dalam Al Quran surat Al Anam ayat 14 Allah SWT juga berfirman, ”…makanlah dari buahnyaa yang bermacam-macam itu bila dia berbuah dan tunaikanlah haknya (dengan dikeluarkan zakatnya) pada hari memerik hasil (saat panen)….”

Lalu, apakah zakat bisa dibayar dengan uang kertas dan transfer via bank?

Bila merujuk Qiyas para ulama, sejatinya metode tunai zakat yang langgam terjadi sekarang agak kurang tepat. Pasalnya tunai zakat mesti dibayarkan dengan Dinar (emas) dan Dirham (perak). Hal ini dijabarkan panjang lebar oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya Risalah.
“Rasulullah SAW memerintahkan pembayaran zakat dalam perak, dan kaum muslim mengikuti presedennya dalam emas, baik berdasarkan (kekuatan) Hadits yang diriwayatkan kepada kita atau berdasarkan (kekuatan) qiyas bahwa emas dan perak adalah penakar harga yang digunakan manusia untuk menimbun atau membayar komoditas di berbagai negeri sebelum kebangkitan Islam dan sesudahnya.
Manusia memiliki berbagai (jenis) logam lain seperti kuningan, besi, timbal yang tidak pernah dibebani zakat bik oleh Rasulullah SAW maupun para penerusnya. Logam-logam ini dibebaskan dengan dasar (pada kekuatan) preseden, dan kepada mereka, dengan qiyas pada emas dan perak, tidak seharusnya dibebani zakat karena emas dan perak digunakan sebagai standar harga di semua negeri, dan semua logam lainnya dapat dibeli dengan keduanya dengan dasar kadar berat tertentu dalam waktu tertentu pula.”

Menurut Mahzab Maliki
Tak beda dengan Mahzab Maliki. Syekh Muhammad Illysh, Mufti Al Azhar, pada tahun 1990-an, mewakili posisi Mahzab Maliki, dengan tegas malah mengharamkan uang kertas sebagai alat pembayaran zakat. Fatwanya berbunyi:
“Kalau zakat menjadi wajib karena pertimbangan substansinya sebagai barang berharga (merchandise), maka nisabnya tidak ditetapkan berdasarkan nilai (nominal)-nya melainkan atas dasar substansi dan jumlahnya, sebagaimana perak, emas, biji-bijian atau buah-buahan.
Karena substansi (uang kertas) tiak relevan (dalam nilai) dalam hal zakat, maka ia harus diperlakukan sebagaimana tembaga, besi atau substansi jenis lainnya.”

Hal ini tentu tak beda dengan pandangan Imam Syafii tadi. Bahwa uang kertas, yang kini sehari-hari digunakan, disamakan dengan besi atau tembaga, hanya dapat dinilai berdasarkan beratnya. Sedang nilainya harus ditakar dengan nuqud (Dirham dan Dirham). Ketiga barang itu hanya terkena zakat hanya bila diperdagangkan, dan tidak sah dipakai sebagai pembayar zakat.

Menurut Mahzab Hanafi
Imam Abu Yusuf, satu diantara dua murid Imam Abu Hanafi, dan pendiri mahzab Hanafi, pernah penulis surat kepada Khalifah Harun Al Rasyid, di tahun, abad 7 lalu. Dalam surat itu tegaskan betapa haramnya membayar zakat selain dengan emas dan perak.
Petikan isi suratnya:
Haram hukumnya bagi seorang Khalifah untuk mengambil uang selain zakat emas dan perak, yakni koin yang disebut Sutuqa, dari para pemilik tanah sebagai alat pembayaran kharaj dan usrh mereka. Sebab walaupun koin-koin ini merupakan koin resmi dan semua orang menerimanya, ia tidak terbuat dari emas melainkan tembaga. Haram hukumnya menerima uang yang bukan emas dan perak sebagai zakat atau kharaj”.

Jadi perihal hukum zakatnya, sama sekali tidak ada perbedaan dari mahzab yang ada, bahwa zakat hanya bisa dibayarkan dengan dinar (emas) dan dirham (perak).
Imam Malik lebih menegaskan lagi, “Sunnah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya adalah bahwa zakat diwajibkan pada emas senilai 20 Dinar, sebagaimana pada perak senilai 200 Dirham”, tulisnya dalam kitabnya yang melegenda, Al Muwatta.

Tentu tak ada jalan lain bagi kaum muslimin untuk tunduk pada hukum Sunnah itu. Zakat hanya bisa ditunaikan dengan emas dan perak. Zaim Saidi, Amirat Indonesia, menegaskan bahwa untuk menunaikan zakat berarti hanya bisa dilakukan dengan Dinar (emas) dan Dirham (perak). “Bila anda memiliki dinar dan dirham yang telah melewati nisab yaitu 29 Dinar atau 200 Dirham, maka harus dikeluarkan zakatnya 2,5 % yaitu 0,5 Dinar atau 5 Dirham”,” katanya lagi.

Lalu bagaimana jika kita memiliki harta berupa deposito, uang kertas yang disimpan di bank? “Harus anda takar nisab-nya dengan Dinar atau Dirham di atas, zakatnya 2,5 % dari nilai harta yang telah dinisab itu. Harta yang dihitung hanyalah yang telah memenuhi haul-nya, yakni tersimpan selama setahun,” tandasnya lagi.

Nah, yang membuat lega adalah ternyata Dinar dan Dirham sudah beredar luas di nusantara ini sekarang. Dinar yang sah berlaku adalah koin emas (22K, 91,7%) seberat 4,25 gram. Dirham yang sah berlaku adalah koin perak murni seberat 2,975 gram.
Untuk menunaikan zakat, juga bisa dilakukan di Baitul Mal Nusantara (BMN) yang beralamat di Jl. M Ali No.2 RT 003/RW 04, Kelurahan Tanah Baru, kota Depok.
Selama ini, Baitul Mal Nusantara (BMN) telah membagikan zakat ke ribuan mustahik di seluruh nusantara. Zakat yang dibagikan berupa dirham (perak), dan bisa dibelanjakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Untuk wilayah Bintan dan sekitarnya, Zakat bisa ditunaikan kepada Kesultanan Bintan Darul Masyhur, Jl. Raja Haji Fisabilillah No. 55, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kontak person: Amir Rizal Moeis (HP 0813 960 47820).

Bagi muslimin di wilayah Ketapang dan sekitarnya, bisa juga menyalurkan Zakat mal dan fitrah di Kemangkunegerian Tanjung Pura Darusalam. Alamat Baitul Mal Mangku Negeri Tanjung Pura berada di Rumah Melayu Ketapang. Petugas Amil Zakatnya bisa dikontak melalui sidi Puadi (HP 0812 548 69436).
Mari tunaikan zakat sesuai syariat.