Hukum Syara’ Mengenai RIBA

959

Oleh: Shaykh Umar Ibrahim Vadillo

Secara umum diasumsikan bahwa dari sudut pandang kesejahteraan material, hal-hal tidak pernah lebih baik dari hari ini. Meskipun demikian pembunuhan besar-besaran terjadi di berbagai negara dengan digunakannya senjata pemusnah massal pada penduduk, pembantaian massal ekosistem dan fauna, serta korban kelaparan terbesar dalam sejarah manusia terjadi saat ini.

Semua penderitaan masa lalu dan kini dilupakan karena digembar-gemborkannya standar hidup manusia sekarang melebihi semua zaman. Tetapi standar hidup itu tidak sama bagi semua orang di dunia. Pada saat perbaikan materi telah dicapai bagi sejumlah kecil orang, sebagian besarnya lagi masih hidup dengan batasan minimal 2 dollar per hari, dibandingkan 387 orang dengan pendapatan terbesar di dunia. Ketidakseimbangan dan urusan materi kesejahteraaan ini bergandengan tangan dengan ketidakseimbangan militer dan politik yang menghasilkan satu negara besar kuat menjadi pengatur dunia.

Selama masa beralihnya kesejahteraan hanya kepada beberapa gelintir orang saja ini, Umat Muslim telah kehilangan status politik dan ekonomi yang begitu makmur di masa lalu. Kesatuan politik yang diwakili oleh Kekhalifahan yang memberikan umat Muslim kehebatan dalam segenap urusan duniawi, dihancurkan, dan sebagai gantinya terpecah belah menjadi negara-negara kecil di bawah PBB. Penghasilan sebagian besar manusia digabungkan dengan GDP nya tidak mencapai 1/10 nya Amerika. Secara politik juga terpecah belah dan menjadi pecundang dalam penghasilan ekonomi. Umat Muslim menghadapi ketertindasan dalam sistem ekonomi saat ini. Di bawah rejim ini, erosi terus-menerus kehidupan budaya dan sosial adalah tidak dapat dihindari yang menghasilkan kemarahan dan frustasi kaum muda.

Ketidakseimbangan sistem ekonomi saat ini dihasilkan dari dibuangnya ke-terkaitan ekonomi dari politik. Sistem ekonomi yang menyebabkan ke-tidakseimbangan dibiarkan begitu saja, sedangkan tirani politik individu (diktator) menjadi fokus perjuangan politik untuk digulingkan. Dalam keadaan seperti ini, sistem ekonomi yang begitu zalim, tidak ada yang mempertanyakan dan karena itu keberlanjutan kezalimannya juga dibiarkan.

Inti dari sistem ketidakseimbangan inilah yang disebut Kapitalisme. Kapitalisme adalah berdasarkan pada Riba. Riba sendiri adalah ketidakseimbangan. Riba tersistem melalui perbankan, telah merubah kontrak-kontrak bisnis kriminal yang dilegalkan lewal undang-undang Negara Fiskal, menjadi alat untuk  mendominasi ekonomi. Selama kita masih menjadi budak riba, masyarakat Muslim kita akan tetap diperbudak.

Sebuah masyarakat yang salah paham tentang dinamika dunia saat ini akan  menemukan bahwa sulit untuk berfokus dalam Penentuan Tujuan. Semua tujuan tersapu bersih oleh emosi yang ada saat sekarang ini. Dan perbuatan yang diniatkan baik hilang karena kurangnya Arah Panduan. Dalam keadaan ini, tidak ada usaha apapun yang membuahkan hasil.

Memahami Riba adalah penting untuk memahami kapitalisme. Pemahaman Islam mengenai Riba membuka jalan untuk mengembalikan Muamalah dan dengan demikian menciptakan alat untuk menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem ekonomi. Riba bukan hanya negatif. Riba membuka jalan bagi dihalalkannya semua transaksi haram. Ketika Umat Muslim bingung mana yang Halal dan mana yang Haram, musuh Islam dengan mudah menghancurkan semua usaha umat Islam untuk berbuat baik. Dalam dokumen ini kami ingin menyalakan sedikit cahaya korek api untuk menerangi gelapnya Hutan Belantara Riba supaya minimal tergambar satu langkah ke depan untuk menuju Muamalah.

Allah SWT Berfirman dalam al-Qur’an:

“Wa ahallallahul bai’a wa harramar riba”

Allah telah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba

Riba adalah Lawan dari Perdagangan, Riba adalah sebentuk korupsi dalam perdagangan. Perdagangan tidak dapat berjalan bersama dengan Riba, begitu pula riba tidak dapat berjalan dengan perdagangan. Namun Riba telah menjadi Inti Wajah Kaum Kafir hari ini: Kapitalisme. Karena alasan ini, riba adalah isu politik paling penting yang dihadapi umat Muslim hari ini. Riba mempengaruhi setiap aspek kehidupan dan kejahatan riba dapat dilacak jejaknya kepada dua institusi: Bank dan Negara. Meskipun penting, pemahaman ini masih menetap di awang-awang bagi kebanyakan Muslim. Kebanyakan orang dengan sederhana berfikir bahwa riba hanya sekedar bunga. Realitas riba yang sesungguhnya adalah jauh lebih rumit dari sekedar bunga. Kesalahpahaman ini bukan terjadi begitu saja. Kesalahpahaman ini adalah hasil dari proses pendidikan yang salah dan indoktrinasi yang menghasilkan dua fenomena:

Pertama: Penghancuran kekuatan politik Kekhalifahan, dan

Kedua: Proses Reformasi Islam yang mengikuti hancurnya Kekhalifahan.

Kesalahpahaman ini membuka gerbang untuk meng-Islamkan institusi terpenting Kapitalisme: Bank. Sedangkan dalam Muamalah institusi terpentingnya adalah Pasar Terbuka.

Pendefinisian ulang Riba membuat para penyokong bank Islam untuk membenarkan perbuatan riba mereka. Karena itulah penting untuk beralih kepada pemahaman yang benar dalam istilah riba ini menurut Fiqih, supaya kita semua dapat melihat apa yang HARAM dan apa yang HALAL. Ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diakibatkan oleh kapitalisme, dan kekuasaan ilusi yang dibangun oleh kapitalisme.

Kami akan mencoba untuk menerangkan sejelas mungkin Isu Riba dalam Hukum Islam (Hukum Syara’) dan untuk membetulkan kembali kesalahpahaman yang diciptakan oleh para ulama reformis dan modernis. Riba dalam bahasa Arab, secara kata berarti ‘Kelebihan’. Qadi Abu Bakr ibn al-Arabi dalam “Ahkamul Qur’an” mendefinisikan riba sebagai: ‘Setiap kelebihan nilai barang yang diberikan atas nilai dari barang yang diterima. Kelebihan ini merujuk kepada dua perkara:

1] manfaat lebih yang timbul dari kelebihan yang tidak dapat dibenarkan dalam berat dan ukuran

2] manfaat lebih yang timbul dari penundaan yang tidak dapat dibenarkan

Dua aspek riba ini telah membimbing para ulama untuk mendefinisikan dua jenis riba. Ibnu Rusyd berkata:

“Para Fuqaha sepakat tentang riba dalam perdagangan terdiri dari dua jenis:

Penundaan (Nasi’ah) dan Kelebihan yang Ditetapkan (Tafadul).”

Karena itu riba ada dua: 1] Riba al-Fadl (kelebihan dari surplus) 2] Riba al-Nasiah (kelebihan dari delay) Riba al-Fadl merujuk kepada Jumlah. Riba al-Nasiah merujuk kepada Penundaan Waktu. Riba al-Fadl sangat mudah dimengerti. Dalam sebuah Utang, Riba al-Fadl adalah Bunga yang dikenakan. Tetapi secara umum, Riba al-Fadl digambarkan: Ketika  Pihak Pertama meminta Tambahan atas barang yang diterima. Contoh: Pihak Pertama memberikan sesuatu senilai 100 untuk mendapatkan kelebihan misal menjadi 110.

Juga Haram ketika terjadi dua penjualan dalam satu kontrak (dikenal sebagai dua transaksi dalam satu transaksi). Juga Haram ketika Pihak Pertama mewajibkan penjualan sesuatu pada satu harga dan menjual kembali setelah beberapa waktu kepada penjual semula dengan harga yang dikurangi.

“Para Modernis dan Reformis” telah melakukan “Akrobat Fiqih[1]” untuk menyamarkan Riba sebab peminjaman uang ke bank terlalu kentara ribanya. Akrobat Fiqih yang dimaksud salah satunya adalah pada kontrak Murabahah yang sebetulnya adalah Hutang Berbunga atas dasar Penundaan Waktu.

Riba al-Nasiah adalah lebih halus. Riba al-Nasiah adalah kelebihan waktu (penundaan) buatan yang ditambahkan pada transaksi. Riba al-Nasiah adalah penundaan yang tidak dapat dibenarkan. Riba al-Nasiah mengacu pada Kepemilikan (‘ayn) dan Hutang (dayn) atas alat pembayaran (emas, perak dan bahan makanan pokok yang digunakan sebagai alat pembayaran). ‘Ayn adalah barang dagangan yang nyata, sering dirujuk sebagai Tunai. Dayn adalah janji pembayaran atau hutang atau apapun yang pembayarannya ditunda. Menukar (safr) dayn dengan ‘ayn adalah sejenis Riba al-Nasiah.

Menukar dayn dengan dayn juga Haram hukumnya. Dalam sebuah kegiatan Tukar-menukar hanya diijinkan menukar ‘ayn dengan ‘ayn.

Penjelasan ini didukung oleh banyak Hadist. Imam Malik meriwayatkan dalam kitab al-Muwatta[2]:

 “Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik bahwa dia telah mendengar bahwa al-Qasim ibnu Muhammad berkata, “‘Umar ibnu al-Khattab berkata, ‘Se-dinar dengan se-dinar, dan se-dirham dengan se-dirham, and se-sa’ dengan se-sa’. Sesuatu untuk dikumpulkan kemudian tidak untuk dijual untuk sesuatu yang ada di tangan.'” Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik bahwa Abuz-Zinad mendengar Sa’id al Musayyab berkata “Riba yang hanya ada pada emas atau perak atau sesuatu yang ditimbang dan diukur dari sesuatu yang dimakan dan diminum.” Sedangkan ulama Madzhab Hanafi Abu Bakr al-Kasani (wafat. 587H) menulis: “Adapun untuk riba al-nasa’ yakni adalah perbedaan (kelebihan) antara akhir penundaan dan periode penundaan dan perbedaan (kelebihan) antara Kepemilikan (‘ayn) dan Hutang (Dayn) dalam hal-hal yang diukur dan ditimbang dengan jenis yang berbeda dan juga dalam hal-hal yang diukur dan ditimbang dengan keseragaman jenis.

Adapun menurut Imam Asy-Syafi’i (radliyallaahuanhu) , “Riba adalah perbedaan antara akhir periode penundaan dalam bahan makanan dan logam berharga (dengan nilai kurs) secara rinci.”’ Riba al-nasiah secara khusus mengacu kepada penggunaan dayn dalam pertukaran (sarf) pada jenis yang sama. Tetapi keharamannya diperluas kepada Jual-Beli secara umum ketika dayn yang mewakili ayn melewati batasan ‘dibolehkannya penggunaan secara pribadi’ dan menggantikan‘ayn sebagai alat tukar. Imam Malik, radliyallaahuanhu, menggambarkan hal ini dalam kitabnya ‘Al-Muwatta’: ‘Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik bahwa dia mendengar Nota Utang (sukukun) diberikan kepada orang-orang di masa kepemimpinan Khalifah Marwan ibn al-Hakam untuk barang-barang di pasar al-Jar. Orang-orang menjual dan membeli nota utang di antara mereka sebelum mereka mengirim barang. Zayd ibn Thabit, salah seorang Sahabat Rasulullah SAW, mendatangi Khalifah Marwan ibn Hakam dan berkata, “Marwan! Apakah Engkau menghalalkan Riba?” Marwan berkata, “Saya berlindung kepada Allah! Apa itu?” Zayd berkata, “Nota-nota utang ini yang dengannya orang-orang berjual beli sebelum mereka mengirimkan barang.” Marwan lantas mengirimkan pengawal untuk mengikuti orang-orang dan merampas nota-nota utang itu dari tangan orang-orang dan mengembalikannya kepada para pemiliknya.’ Zayd ibnu Thabit secara khusus menyebut Riba kepada Nota-nota utang itu (dayn) ‘yang orang-orang perdagangkan sebelum mengirim barang-barang’. Adalah diijinkan menggunakan emas dan perak atau bahan makanan untuk melakukan pembayaran, tetapi Anda tidak dapat MENGGUNAKAN janji pembayaran. Di dalam Janji Pembayaran terkandung kelebihan yang tidak diijinkan. Jika Anda memiliki dayn, Anda harus menarik dulu ‘ayn yang diwakili oleh dayn itu baru kemudian dapat bertransaksi. Anda tidak dapat menggunakan dayn sebagai uang.

Secara umum Aturan Islamnya adalah ‘Anda tidak boleh menjual Sesuatu yang Ada dengan Sesuatu yang Tiada. Praktek semacam ini disebut Rama’dan itu adalah Riba. Imam Malik melanjutkan:

‘Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari ‘Abdullah ibn Dinar dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa ‘Umar ibn al-Khattab berkata: “Jangan menjual Emas dengan Emas kecuali Semisal dengan Semisal. Dan jangan mengambil kelebihan darinya. Jangan menjual Perak dengan Perak kecuali Semisal, dan jangan mengambil kelebihan darinya. Jangan menjual ‘Sesuatu yang Ada’ dengan ‘Sesuatu yang Tiada. Jika seseorang memintamu menunggu pembayaran sampai dia masuk ke rumah, jangan meninggalkannya. Saya takutkan Rama’ padamu. Rama adalah Riba.”’

Rama’ hari ini adalah praktek yang lazim di pasar-pasar kita. Mata uang Dayn (uang kertas, nota utang) telah menggantikan penggunaan mata uang‘ayn (Dinar, Dirham). Praktek hari ini adalah apa yang Umar ibn al-Khattab maksudkan ketika dia berkata ‘Saya takutkan Rama’ padamu.’ Menjual dengan Penundaan bukan hanya di-Haramkan pada logam, termasuk juga Makanan. Malik berkata, ‘Rasulullah SAW, melarang menjual makanan sebelum melakukan pengiriman terhadap makanan tersebut.’ Karena itu apa yang di-haramkan dalam Riba al-nasiah, adalah Penambahan dari Penundaan yang dibuat-buat yang bukan sifat alami transaksi. Apa yang dimaksud dengan ‘Dibuat-buat’ dan ‘Sifat alami transaksi? Setiap transaksi memiliki fitrahnya masing-masing dari segi Waktu dan Harga.

Berikut ini Penjelasannya:

Dalam Utang-piutang dihalalkan adanya Penundaan tetapi Diharamkan adanya Kelebihan Jumlah. Seseorang meminjamkan sejumlah uang, kemudian setelah beberapa waktu, pinjaman itu dikembalikan tanpa Penambahan. Dalam Utang-piutang, Kelebihan Waktu adalah Halal, tetapi Penambahan Jumlah Pembayaran adalah Haram[3]. Ini adalah Riba al-Fadl. Dalam Tukar-menukar Tiada Penundaan dan Tiada Kelebihan Jumlah. Satu Pihak menyerahkan sejumlah uang Tanpa Penundaan dan Jumlah yang Sama diberikan oleh Pihak Lainnya Tanpa Penundaan Pula. Penundaan adalah Haram dalam Tukar-menukar. Jika ingin penundaan menjadi Halal, maka transaksinya harus dirubah menjadi Utang-piutang. Anda tidak dapat menyebut Utang-piutang sebagai ‘Tukar-menukar yang Ditunda. Penundaan dalam Tukar-menukar Riba al-Nasiah. Sewa-menyewa melibatkan Penundaan dan Kelebihan sekaligus dan itu Halal. Ketika Anda menyewa rumah, Anda Mengambil-alih Kepemilikan rumah selama beberapa waktu (kelebihan waktu) dan Anda menyerahkan kembali kepada pemilik rumah itu atas Kepemilikan Rumah selama beberapa waktu ditambah (kelebihan) pembayaran uang sewa. Kelebihan-kelebihan ini baik itu Waktu dan Jumlah uang yang dibayarkan adalah Halal. Tetapi Anda hanya dapat menyewa ‘Barang-barang yang dapat disewakan’. Anda dapat menyewa mobil, rumah, kuda, tetapi Anda tidak dapat menyewa uang atau bahan makanan (barang-barang yang fungible). Berpura-pura menyewakan uang adalah ‘Merusak Fitrah Transaksi’ dan itu menjadikannya sebagai Riba.

Dengan demikian setiap transaksi memiliki fitrahnya masing-masing. Anda tidak dapat mengambil sifat alamiah suatu transaksi dan menerapkannya pada transaksi lain tanpa ‘Merusak Fitrah Transaksi’. Menambahkan sifat-sifat yang tidak dapat dibenarkan atau kelebihan kepada sebuah transaksi adalah Riba.

Dikarenakan Dayn itu sendiri adalah suatu Penundaan, penggunaan dayn adalah Haram digunakan sebagai alat pembayaran (uang). Adapun hukum dayn itu sendiri adalah Halal, yang diharamkan adalah menggunakannya sebagai uang. Dayn adalah Kontrak Pribadi antara dua individu dan Harus Tetap Pribadi. Transfer Dayn dari satu orang kepada orang lain dapat dilakukan secara Islami, tetapi dengan cara Penghapusan Dayn Pertama baru setelah itu dapat Menciptakan Dayn Berikutnya. Dayn diharamkan Beredar Bebas. Pemilik Dayn harus mencairkan kepemilikan uang yang diwakili oleh dayn yang dipegangnya sebelum bertransaksi. Dayn Haram digunakan dalam Tukar-menukar dan tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Dan secara khusus di-haramkan menggunakan dayn untuk membayar zakat.

Kesalahpahaman Reformis Islam dalam Memahami Riba

Para Reformis dan Modernis Islam telah Sengaja menyamakan Riba dengan Riba al-Fadl dan menyepelekan Riba al-nasiah. Ucapan ‘Riba adalah Bunga’ adalah bagian dari kesalahpahaman ini. Kesalahpahaman mereka diawali oleh para Reformis awal, terutama Rashid Reda. Rashid Redha mengajukan klasifikasi baru mengenai Riba. Redha membuat perbedaan dalam perlakuan hukum yakni apa yang dia sebut ‘Riba berdasarkan Qur’an’ dan ‘Riba berdasarkan Sunnah’. Redha mengajukan bahwa Bentuk Pokok Riba adalah diharamkan oleh Qur’an, dan keharaman ini berlaku sepanjang waktu. Sebaliknya, Sunnah mengharamkan Riba yang Lebih Ringan – menurutnya – Apa yang Secara Umum Diharamkan (Haram) tetapi Dibolehkan (Mubah) karena suatu keharusan (darurah). Ridha mengajukan bahwa Riba yang diharamkan oleh Qur’an adalah Riba Jahiliyah. (yakni ketika seorang penjual tidak dibayar hak nya setelah waktu yang ditentukan, penjual tersebut akan menaikkan harga) yang secara salah telah dia samakan dengan riba al-nasiah. Dan dia secara salah mengatakan bahwa Riba al-nasiah hanya haram ketika melibatkan Bunga Majemuk, dan karenanya Bunga Tunggal dia hukumi sebagai Mubah (boleh). Dia kemudian mengeluarkan Hukum Syara’ bahwa Bunga Tunggal yang dikenakan atau dibayarkan oleh Bank sebagai Tidak Haram dalam artian Mubah berdasarkan Ketetapan dari Qur’an semata Tanpa Menyertakan Sunnah dalam pengambilan Hukum Syara’ ini[4].

Dia juga mengajukan bahwa peng-haraman ‘Riba berdasarkan Sunnah’ mengacu Pertukaran Khusus. Contoh: Dua orang yang saling Tukar-menukar Emas, maka jumlah emas harus sama dalam berat di kedua pihak dan emas yang dipertukarkan harus berpindah tangan di situ saat itu juga (Tunai). Dia beralasan bahwa tidak seperti Riba Jahiliyah, transaksi seperti ini tidak dikenal di kalangan orang Arab, karena sulit membayangkan kenapa dua orang melakukan pertukaran dalam jumlah yang sama, untuk komoditas yang sama, pada satu waktu pula. Riba al-Fadl dipandang sebagai praktek barter yang ditinggalkan, yakni ketika orang-orang mempertukarkan emas dengan emas (dan yang semacamnya), namun transaksi seperti ini tidak dipraktekkan lagi karena itu ‘Tidak perlu digubris larangan Haram dari Sunnah ini’, demikian kira-kira menurut Rasyid Ridha.

Hadist Terkenal yang memuat ucapan ‘Tangan ke Tangan’ dan ‘Semisal dengan Semisal’ adalah mengacu pada Riba, tidak dipahami oleh ulama Modernis. Mereka tidak dapat memahami Sangkut Paut dari Istilah-istilah tersebut dengan Riba (ini terjadi salah satunya karena diabaikannya Ushul Fiqih dan ini dilakukan dengan Sengaja).

Emas dengan Emas, Semisal dengan Semisal, Tangan ke Tangan, adalah Gambaran Keseimbangan Transaksi yang ada dalam Sunnah. Satu aspek merujuk kepada Persamaan Jumlah yang mengacu pada Riba al-Fadl; aspek lainnya mengacu pada Kesegeraan Transaksi yang merujuk pada Riba al-Nasiah. Semua Gambaran Keseimbangan ini berfungsi meniadakan kemungkinan Pertukaran ‘Emas yang Tiada’ – (Dayn) dengan ‘Emas yang ada’ – (‘Ayn). Hal yang demikian adalah Sangat Terkait karena Pengabaian hal ini ‘Membuka Celah’ bagi Kafirun untuk menipu umat Muslim agar menyerahkan emas mereka dengan cara menukar Emas dengan Nota Utang Emas Palsu (yang merupakan bentuk asli uang kertas pada awalnya). Pengabaian Riba berdasarkan Sunnah ini juga digunakan oleh kaum Modernis untuk meng-Halal kan uang kertas. Padahal Hadist tersebut secara Positif mengacu pada Transaksi Pertukaran Dinar dan Dirham dengan Pecahan yang Berbeda. Dan secara Negatif mengacu kepada Ketidakmungkinan menggunakan Surat Janji Pembayaran dan Pertukaran.

Baik Positif atau Negatif, keduanya Saling Terkait dan penting bagi Umat Muslim.

Kesimpulan dari Pandangan Ridha adalah sebagai berikut:

A] Riba al-Nasiah hanyalah Riba al-Jahiliyyah. Dan hanya Bunga Majemuk yang diharamkan. B] Riba al-fadl hanya terkait dengan Tukar-menukar dan bukan Aturan Pokok sehingga dapat diabaikan. Lagi pula Riba al-Fadl dapat diterima dalam keadaan darurat (darurah), demikan kata Ridha. Para pengikut Ridha pada dasarnya memakai klasifikasi yang sama tetapi berbeda dengan Ridha pada Isu Bunga Majemuk. Para Pengikut Ridha sepakat bahwa Bunga Tunggal Juga Haram, tetapi mereka sepakat bahwa dalil Darurah membuat Bunga Tunggal yang Haram hukumnya menjadi Mubah (boleh) dan Mereka juga memandang bahwa Riba al-Fadl bukan hal pokok karena dipandang penerapannya hanya pada masalah barter.

Bantahan terhadap kaum Modernis Reformis

Yang benar adalah baik itu Riba al-Nasiah dan Riba al-Fadl adalah di-Haramkan oleh Qur’an. Sebab kenyataannya Riba berdasarkan Qur’an dan Riba berdasarkan Sunnah persisnya adalah Sama. Gampangnya: Sunnah bertindak sebagai Syarah (penjelas) yang Hidup bagi Qur’an. Riba yang dimaksud sebagai Riba al-Jahiliyyah oleh Rashid Ridha, mengandung Riba al-Nasiah dan Riba al-Fadl sekaligus. Dalam transaksi yang disebut Riba Jahiliyah, ada unsur Pembayaran Ditunda (Nasiah) dan sebagai gantinya diberikan Tambahan (Fadl).

Tetapi Riba al-Nasiah menyertakan lebih dari sekedar Riba al-Jahiliyah.

Implikasi dari Posisi Modernis dan Reformis

Dengan menyepelekan sifat alami Riba al-Nasiah (Penundaan), kaum Modernis dan Reformis telah menghindari isu yang berkenaan dengan Uang Kertas. Marilah kita lihat isu yang dilupakan oleh kaum Modernis. Uang kertas dapat dianggap sebagai ‘Ayn atau sebagai Dayn.

A] Jika kita menerima fakta bahwa uang kertas adalah dayn, maka artinya wajib untuk membayar jumlah tertentu ‘Ayn, karena itu uang kertas tidak dapat digunakan untuk pertukaran dan Haram dalam dua praktek:

1- Dayn tidak dapat ditukar dengan Dayn. Uang kertas dengan Uang kertas adalah Hutang ditukar Hutang, Haram hukumnya. Imam Malik berkata: ‘[Transaksi yang Tidak Disetujui dari] Penundaan dengan Penundaan adalah menjual Hutang dengan Hutang.’ 2- Dayn atas Emas dan Perak Tidak Dapat Ditukar dengan Emas dan Perak, karena Melawan Perintah Mendasar:

‘Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Nafi’ dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW, berkata, “Jangan Menjual Emas dengan Emas kecuali Semisal dengan Semisal dan Jangan Melebihkan satu bagian di atas bagian lain. Jangan Menjual Perak dengan Perak, kecuali Semisal dengan Semisal dan Jangan Melebihkan satu bagian di atas bagian lain. Jangan Menjual Sesuatu yang Tiada dengan Sesuatu yang Ada.’

B] Jika kita menerima bahwa Uang Kertas adalah ‘Ayn, maka Nilainya adalah Berat Kertasnya, bukan Angka yang tertulis di atasnya. Jika Nilai Uang Kertas dilebihkan berdasarkan Paksaan, Nilainya menjadi Rusak dan transaksinya Batal menurut Syari’at Islam. Uang Kertas digunakan oleh Negara Fiskal[5] sebagai Pajak Ilegal dan Tidak dapat Mewakili Alat Pembayaran dalam Islam.

Memahami Riba al-Nasiah adalah Fundamental untuk Mampu memahami posisi umat Muslim terhadap Uang Kertas. Alasan kenapa ulama Modernis ‘memelintir’ definisi Riba adalah jelas untuk men-Sahkan sekaligus Menyembunyikan Kejahatan: Perbankan[6]. Pembenaran ini kemudian menjadi Pembenaran atas Bank Islam[7]. Asas Darurah (sebuah kaidah ushul Fiqih yang dapat menjadikan Haram menjadi Mubah/Boleh), digabungkan dengan Penghilangan Riba al-Nasiah telah mengijinkan mereka membenarkan uang kertas dan membenarkan Fractional Reserve Banking yang merupakan dasar dari Sistem Perbankan Modern. Pemahaman yang tepat tentang Riba al-Nasiah Membongkar Uang Kertas sebagai Sebentuk Riba, Karena Uang Kertas dimaksudkan untuk digunakan dalam cara yang tidak diijinkan oleh Hukum Islam.