Inilah Ajaran Guru Sejati

264

Oleh Shayk Umar Ibrahim Vadillo

Bisakah seorang Sufi terus-menerus tak menyadari bahwa syariah telah rubuh, dan terus saja tetap mengajar seakan-akan kita semua masih hidup di jaman di mana syariah adalah jalan hidup yang masih kita amalkan bersama? Tidak, itu tidak mungkin bersesuaian dengan cara dan tujuan Tasawwuf.

Karenanya Suluk dan pengajaran haruslah beradaptasi terhadap situasi baru [saat syariah roboh] kini. Untuk menggapai kesucian batiniah engkau harus menggapai kebersihan lahiriah, dan sebaliknya. Keduanya berjalan bersama.

Di jaman kita ini ada banyak guru palsu, bahkan terlalu banyak. Sangat umum untuk menjumpai orang-orang dengan gelar yang begitu panjang, pengakuan-pengakuan palsu, namun, tanpa pengajaran yang berarti. Berkas-berkas Silsilah bisa dibuat dengan menggunakan mesin foto kopi, namun ilmu tak mungkin diperoleh dari mesin foto kopi.

Karena itu mudah untuk mengenali siapa itu, siapa dia. Shaykh sahihan memiliki pengertian atas situasi baru ini dan hakikatnya, dan suluknya bersesuaian; namun mereka yang palsu akan terus saja melanjutkan dengan resep lamanya (yang maknanya tidak lagi mereka pahami) yang terlepas dari kepahaman atas hakikatnya, mereka hanya meniru tanpa mengetahui, dan mereka menambahkan alasan-alasan palsu dan tidak masuk akal.

Tak mampu mengatasi hakikat itu (untuk menemukan jawabannya) sebagian mereka ‘melarikan diri’ menuju fantasi-fantasi mendasar tentang masa depan: kiamat segera tiba, tunggu kedatangan Imam Mahdi, tunggu kehadiran Khalifah.

Yang lainnya ‘melarikan diri’ dengan suatu pemahaman melankolis atas masa lalu: bahwa para Sahabat hebat, bahwa kita semua busuk; masa lalu itu hebat, bahwa masa kita kini memalukan dan lain-lain. Namun pengajaran kita adalah di sini dan kini. Petunjuk kita hadir dalam Luft dan Hifdh; tugas kita hari ini selamanya senantiasa sama: makrifatullah.

Inilah keterangan bagi mereka yang memahami: Tak ada makrifatullah jika engkau tidak ikut memerangi Riba dalam amalan-amalmu – bukan sekedar pada perkataanmu. Dan mengapa Riba menduduki derajat ini? Karena yang lahiriah telah dipenuhi – jenuh  dengannya, dan kita adalah khalayak yang berkata: hadapi kejahatan terbesar dulu, dan yang kecil-kecil kemudian.

Dan Allah Maha Tahu.