Inilah Fiqih Pasar Dalam Islam

428

Landasan Perdagangan Islam

Terdiri atas lima unsur utama:

1. Pasar terbuka: pasar yang terbuka untuk semua orang
2. Proses produksi terbuka: produksi yang dapat diakses oleh semua orang
3. Jaringan distribusi terbuka: distribusi yang dapat diakses oleh semua orang
4. Alat tukar bebas: alat tukar yang secara bebas dipilih oleh semua orang
5. Kontrak bisnis Islam: kontrak yang menjamin perdagangan Islam

Apa itu Pasar Islam

Segera setelah kedatangan beliau di Madinah Al Munawarah, Nabi Islam, saw menciptakan dua lembaga: mesjid dan pasar. Beliau menjelaskan melalui pernyataan dan tindakan nyata bahwa pasar harus berupa tempat yang dapat diakses secara bebas oleh semua orang tanpa ada pembagian-pembagian (misalnya toko-toko) dan di sana tidak ada pajak, retribusi atau bahkan uang sewa.

Pasar serupa dengan mesjid.

Rasulullah saw bersabda : pasar-pasar harus mengikuti sunah yang sama dengan mesjid, siapa yang mendapat tempat duluan dia berhak duduk sampai dia bediri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan perdagangannya (suq al Muslimun ka musalla al Muslimun, man sabaqa ila shain fahuwa lahu yawmahu hatta yadaahu) (Al Hindi, Kanz al Ummal, V 488 no 2688)

Itulah sadaqah tanpa ada kepemilikan pribadi…

Ibrahim ibnu Mundhir al Hizami meriwayatkan dari Abdullah ibn Ja’far bahwa Muhamad ibn Abdullah ibn Hasan mengatakan, “Rasulullah saw memberi kaum Muslimin pasar sebagai sedekah ( tasadaqa ala al Muslimin bi aswaqihim) (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304)

Tanpa panarikan uang sewa

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid ibnu Ilyas al Adawi mengatakan, “Surat Umar ibnu Abdul Azis dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah sedekah dan tidak boleh ada sewa (kira) kepada siapa pun. (As-Samhudi, Wafa al Wafa,749)

Tanpa penarikan pajak

Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja’far ibn Muhamad dari Abdullah ibn Ja’far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, “Ketika Rasulluah saw ingin membuat sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qainuqa dan kemudian mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, “Inilah pasar kalian. Jangan membiarkannya berkurang (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak apa pun (kharaj) dikenakan”(Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304)

Di sana tidak ada pesan atau klaim tempat

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma’mar di pasar dan (melihat) sebuah kendi diletakkan dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya…. Umar melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim atasnya (an yuhaijjir alaiha aw yahuzaha) (As-Samhudi, Wafa al Wafa,749)

Dan di sana tidak boleh dibangun toko-toko…

Ibnu Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan….bahwa… Rasulullah saw bersabda “Inilah pasar kalian, jangan membuat bangunan apa pun dengan batu (la tatahajjaru) di atasnya dan jangan biarkan pajak (kharaj) dikenakan atasnya” (As-Samhudi, Wafa al Wafa,747-8)

Abu Rijal meriwayatkan dari Israil, dari Ziyad ibn Fayyad, dari seorang syekh Madinah bahwa Umar ibn Khattab ra melihat sebuah toko (dukkan) yang baru dibangun oleh seseorang di pasar dan Umar merobohkannya. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 750)

Tanpa Pasar Tidak Ada Perdagangan

Pertama-tama, kita perlu membedakan antara perdagangan dengan distribusi monopolistik. Supermarket tidak memungkinkan perdagangan berlangsung, tidak seorang pun boleh ke sana untuk berdagang. Produk-produk yang sampai di supermarket telah dibeli oleh supermarket yang bersangkutan. Barang-barang datang dari gudang yang mendistribusikannya ke jaringan supermarket ke seluruh negeri. Barang-barang sampai di gudang dari produsen atau gudang lain, dari tempat asal pembelian barang. Hal ini bukan perdagangan, inilah yang dikatakan distribusi monopolistik.

Bukti terjelas bahwa perdagangan telah hilang ialah tidak ada lagi kafilah dagang dengan karavan. Karavan adalah lembaga perdagangan. Tidak ada caravan jika tidak ada tempat untuk pergi berdagang. Kalau tidak ada pasar maka tidak akan ada karavan. Karena itu jika tidak ada pasar maka tidak ada perdagangan.

Guna menciptakan kembali perdagangan kita perlu menciptakan kembali pasar Islam atau pasar terbuka.

SHAYKH UMAR IBRAHIM VADILLO