Inilah Keadilan Yang Dicontohkan Qadhi Iyas

235

Qadhi Iyas Bin Muawiyah Al Muzanni tersohor sebagai qadhi yang adil. Kasus yang ditanganinya penuh kerumitan, tapi dia mampu menyelesaikannya dengan adil. Qadhi tentu berbeda jauh dengan hakim.

Kisah ini berlangsung kala Umar Bin Abdul Aziz menjadi Khalifah. Tentu di era Bani Ummayah. Kala itu keadilan masih terjaga. Suatu malam, sang Khalifah tak bisa tidur. Hilang rasa kantuknya. Dia resah dan gelisah. Umar memikirkan siapa qadhi yang bakal diangkatnya. Kebingungannya karena merujuk dua nama, Iyas Bin Muawiyah dan Al Qasim bin Rabiah al Haritzi. Khalifah Umar memerlukan qadhi untuk wilayah Bashrah.

Keesokan harinya beliau mengundang walinya di Irak yang bernama Adi bin Arthah yang ketika itu berada di Damaskus. Beliau berkata: “Wahai Adi, panggillah Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Ajaklah keduanya membicarakan perihal pengadilan di Bashrah, lalu pilihlah salah satu dari keduanya.” Adi menjawab, “Saya mendengar dan saya taat wahai Amirul Mukminin.”

Adi bin Arthah mempertemukan antara Iyas dan Al-Qasim lalu berkata, “Amirul Mukminin –semoga Allah memanjangkan umurnya- memintaku untuk mengangkat salah satu dari kalian sebagai kepala pengadilan Bashrah. Bagaimana pendapat kalian berdua?”

Masing-masing mengatakan bahwa rekannyalah yang lebih utama. Iyas menganggap Al-Qasim lebih utama sedangkan Al-Qasim memandang Iyas lebih baik darinya. Keduanya saling memuji dan melebihkan. Alhasil Adi pun kebingungan. Karena keduanya saling berlomba saling merendah. “Kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum kalian memutuskannya,” tutur Adi.

Iyas berkata, “Wahai Amir, Anda bisa menanyakan tentang diriku dan al-Qasim kepada dua fuqaha Irak ternama, yaitu Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanyalah yang paling mampu membedakan antara kami berdua.”

Iyas mengatakan seperti itu karena al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan “memojokkannya”, sebab kalau pemimpin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama itu, tentulah mereka akan memilih dia dan bukan Iyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, Iyas lebih mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku bohong dalam sumpahku ini, maka tidak patut Anda memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”

Iyas berpaling kepada amir dan berkata, “Wahai Amir, Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda letakkan ia di tepi Jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, yang dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya, dan selamatlah ia dari apa yang ditakutinya.”

Maka Adi berkata kepada Iyas, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang layak untuk menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai qadhi di Bashrah.

Kala menjadi qadhi, perkara pun datang. Seorang lelaki datang menghadap sang qadhi. Dia melaporkan temannya yang dititipi barang olehnya, menolak untuk mengembalikan. Saat diminta, teman itu mengaku tak pernah dititipi barang itu. Qadhi Iyas pun menerima pengaduan itu. “Pulanglah dan jangan cerita kepada siapapun bahwa engkau datang kepadaku. Dua hari lagi kamu datang lagi kemari,” ujar Iyas pada laki-laki itu.

Setelah itu, Qadhi Iyas menyuruh seseorang memanggil teman lelaki yang dilaporkannya itu. Dia bilang, “Aku punya banyak harta. Aku ingin menitipkannya kepadamu. Apakah tempatmu aman?” tanya Iyas. Orang itu bersemangat. Dia menjawab cepat, “Ya, aman.” Iyas pun menimpali, “Kalau begitu siapkanlah tempat khusus dan dua alat untuk membawanya,” ujar Iyas.

Setelah itu, lelaki pelapor mendatangi Iyas lagi. Dia menyuruh untuk menagih barang yang dititipi kepada temannya. Lelaki itu menyahuti. Iyas berpesan, “Katakan kepadanya, ‘Kalau engkau tidak mau mengembalikan hartaku, aku akan melaporkanmu kepada qadhi Iyas.” Lelaki itu pun menuruti. Dia mendatangi temannya. Ternyata barangnya dikembalikan. Setelah barangnya kembali, dia melaporkan hal itu ke qadhi Iyas. Besoknya, temannya datang menemui Iyas. Dia ingin melaporkan bahwa tempatnya telah siap. Iyas marah. “Pergilah kau wahai pengkhianat!” kasus pun selesai.  Barang si pengadu berhasil dikembalikan. Begitulah cara qadhi Iyas mengadili.

Kasus lain datang lagi. Kali ini dua orang lelaki mengadukan masalahnya kepada qadhi Iyas. Sengketanya terkait dua kain yang tertukar. Kain itu satunya berwarna merah, satunya hijau. Salah seorang dari mereka berkata, “Ketika saya akan masuk kamar mandi, saya menaruh kain. Lalu ia datang untuk mandi dan meletakkan kainnya di bawah kain saya. Tetapi ia keluar lebih dulu dengan membawa kain saya. Kemudian saya keluar dan mengikuti dia yang membawa kain saya itu. Ia mengklaim kain itu miliknya,” ceritanya.

Iyas berkata. “Apakah engkau punya bukti?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Iyas lantas meminta kepada mereka sebuah sisir. Setelah sisir diberikan, ia menyisir rambut masing-masing dari mereka. Ternyata terselip dari rambut yang satu bulu warna merah dan rambut yang kedua bulu warna hijau. Maka Iyas memutuskan bahwa kain dari buku berwarna merah untuk yang terselip di rambutnya bulu warna merah. Sedangkan yang hijau untuk yang terselip di rambutnya bulu warna hijau. Kasus pun selesai.

Lain hari, dua orang bersengketa datang lagi. Dua orang lelaki menghadap Iyas mengadukan perkaranya. Seorang lelaki tidak terima atas perilaku lelaki lain yang telah menjual seorang budak perempuan yang dungu. Iyas pun berkata, “Kalau dungu memangnya kenapa?” Lelaki pembeli budak itu menjawab, “Setengah gila.”

Lalu Iyas menghampiri perempuan budak itu. “Apakah engkau ingat ketika kamu dilahirkan?” “Ya,” jawabnya. “Mana kedua kakimu yang lebih panjang?” Iyas bertanya lagi. Perempuan itu menjawab, “Yang ini,” katanya menunjuk salah satu kakinya. Maka Iyas menyuruh laki-laki yang membeli budak itu agar mengembalikannya kepada si penjualnya. Karena budak perempuan itu benar-benar gila. Kasus pun ditutup.

Perkara lain datang lagi. Seorang lelaki menitipkan uangnya kepada temannya. Ketika diminta, si teman yang dititipi tidak mengaku bahwa ia telah dititipi. Lalu keduanya datang kepada qadhi Iyas.

Iyas pun bertanya kepada orang yang menitipkan, “Dimana kamu memberikan uangmu kepadanya?” Orang itu menjawab, “Di sebuah kebun.”

Iyas berkata, “Di Kebun itu ada apa?” Dia menjawab, “Di kebun tersebut ada pohon.” Lalu Iyas menyuruhnya berangkat ke kebun itu, karena mungkin saja ia lupa di mana ia tidak menitipkannya uang tersebut, melainkan menyembunyikannya di pohon tersebut. “Barangkali setelah melihat pohon itu, engkau ingat di bagian mana engkau simpan uang itu,” ujarnya.

Lalu Iyas berkata kepada laki-laki yang dititipi uang. “Duduklah, tunggi disini sampai temanmu kembali.” Selama orang itu menunggu, sesekali Iyas menengok ke arah orang itu. Beberapa lama kemudian, Iyas berkata kepadanya, “Bagaimana menurutmu, apakah saat ini kawanmu itu sudah menemukan uangnya apa belum?”

Orang itu menjawab, “Belum.” Iyas pun berkata tegas, “Sekarang aku tahu, engkaulah yang pengkhianat.” Orang itu menjawab, “Lepaskanlah aku”. Iyas berkata, “Aku tak akan melepaskanmu sampai kawanmu datang kemari.” Kala lelaki yang satu itu datang, Iyas pun berkata, “Pergilah engkau bersamanya dan ambil uangmu,” tandas Iyas tegas.

Begitulah cara qadhi mengadili. Tak ada kerumitan dalam menyelesaikan masalah. Hukum langsung ditegakkan.