Inilah Pasar Bebas Riba di Bintan

479

Bintan,- Sabtu pagi hari menjadi kesibukan saban pekan bagi sidi Ulul Ilmi. Fuqara yang menetap di Tanjung Pinang, Bintan ini telah ada di sana semenjak pukul 6 pagi hari. Dia mendapat tugas dari Amir Rizal Moeis untuk membuka pasar. Tugas itu pun menjadi rutinitas pria asal Malang, Jawa Timur ini. Baginya, membuka pasar memang pekerjaan besar. Karena di pasar itulah penegakan Sunnah muamalah kembali terbilang.

Pasar yang dibuka itu berlokasi di kawasan Jl. Sei Jang, Tanjung Pinang, Bintan. Lokasinya bersebelahan dengan sebuah masjid besar. Dan posisi pasar juga persis berada di depan rumah Sultan Huzrin Hood. Dialah sang Sultan Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Sultan Huzrin mewakafkan tanahnya itu untuk dijadikan pasar berbasis as Sunnah.

Saban sabtu, pasar itu dibuka sejak pukul 6 pagi. Perlahan namun pasti, para mustahik yang sehari sebelumnya mendapat Zakat pun mulai berdatangan. Di pasar itu banyak barang yang didagangkan. Mulai dari penganan, sembako, baju dan kaos, sampai mainan anak-anak. Laiknya pasar, terkadang ada juga yang berjualan ikan, sayur mayur dan lainnya. Dan yang membuatnya menjadi bebas riba adalah di pasar itu segala transaksi dibolehkan menggunakan Dinar emas dan Dirham perak. Inilah alat tukar yang sesuai Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Namun kebanyakan Dirham yang dibawa para mustahik berbelanja di pasar itu buah dari Zakat yang dibagikan. Karena Syariat mewajibkkan Zakat ditunaikan dengan ayn, bukan dayn. Artinya harus dengan benda bernilai. Dirham menjadi syarat mutlak penyebaran Zakat tersebut. Makanya Dirham digunakan sebagai penyebaran Zakat. Para mustahik yang mendapatkan Dirham tersebut, bisa mengenakannya di pasar Sultan itu. Begitulah rukun Zakat mulai ditegakkan di Kesultanan Bintan, lambat laun. Kala Zakat ditegakkan disitulah Islam mulai terbilang. Insha Allah.