Inilah Penyebab Islam Terbelah-belah

180

Deen Islam. Imam Muslim dalam kitab Sahihnya meletakkan di halaman awal tentang Deen Islam. ada tiga unsur di dalamnya, Iman-Islam-Ikhsan. Ulama menjabarkan, iman ialah aqidah. Islam adalah syariat dan Ikhsan berarti akhlak yang baik, itulah tassawuf.
Sejak Deen Islam diletakkan secara sempurna oleh Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam, Deen Islam menjadi jamak pengikut. Menyebar lebar dari Makkah, Madinah hingga dua pertida belahan dunia. Dari bumi Andalusia, jazirah, Afrika Utara, China, Mongolia, asia tengah, sampai nusantara. Deen Islam mengalami banyak ragam. Tapi dari sisi aplikasinya. Amalnya. Patokannya tetap sama, Al Quran. Inilah panduan, kitab yang tak bisa diubah oleh manusia. Berbeda dengan kitabullah lainnya, manusia bisa menjamahnya dan mengubahnya. Al Quran, dari diturunkan, dijamin Allah Subhanahuwataala tak akan bisa diubah. Hingga 1400 tahun diturunkan, terbukti nyata.

Rasulullah Shallahuallaihi wassalam menggaransi tiga generasi awal sebagai generasi terbaik. Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Inilah sanad yang mesti dirujuk. Inilah generasi Amal Ahlul Madinah. Inilah yang disebut generasi salaf. Semenjak itu, aplikasi dan penerapan Deen Islam seragam. Kehidupan berjamaah jadi kunci pokok. AmR Islam jadi kunci utama.

Abad berjalan, sejumlah penyimpangan telah terjadi. Dari sisi aqidah, munculnya mu’tazilah, khawarij menunjukkan penyimpangan. Ulama menggariskan batas tentang aqidah agar tak melenceng pada garis Islam. Imam Asyarai, Imam Mathuridi memberikan penjelasan tentang aqidah. Inilah yang di-“ijtihad’ kan sebagai aqidah ahlusunnah. Aqidah ini sampai kini terjaga. Diajarkan turun temurun, walau tak masuk kurikulum sekolah.
Lalu dalam wilayah ikhsan, ini juga masih terjaga. Walau liberalisme menyeruak, kapitalisme menggelegar, ilmu ikhsan masih ada walau terbata-bata. Ilmu ini berada dalam tariqah-tariqah. Yang diajarkan ber-sanad, turun temurun, oleh Mursyid yang menguasainya. Negeri Magribi, kini menjadi satu-satunya negeri dimana ilmu ikhsan dilindungi. Raja Mohammad VI, sang Amirul Mukminin, menggaransi bahwa tareqah dilindungi. Itulah kini satu-satunya negeri yang melindungi tareqah, ilmu tentang ikhsan mengalir. Di Magribia, ragam bentuk tariqah mengalir. Mengalun seolah saling berlomba untuk melantun, terpancarnya cahaya ikhsan yang menyala-nyala. Sementara di Saudi, sempat diharamkan, dengan dalih bid’ah yang mengada-ada. Walau kini perubahan mulai nyata. Magribia menjadi tempat bersarangnya ilmu ikhsan, yang dijuluki negeri seribu wali.
Hanya dalam hal syariat, disinilah yang banyak masalah. Syariat tak lagi berjalan bak masa Rasulullah maupun Khulafaur. Bahkan jauh berbeda dengan masa para Sultan-Sultan membahana. Syariat muslimin kini, jamak berbeda dengan masa Utsmaniyah, masa Kesultanan Pasai, ataupun masa Kesultanan Demak berjaya. Karena syariat jamak ditinggalkan, oleh muslimin sendiri.

Tiadanya syariat, inilah yang membuat wajah Islam jadi seolah beragam. Fase ini dimulai kala berakhirnya Kesultanan Utsmaniyah, penjaga syariat terakhir. Sejak tanzimat, 1840, syariat di Utsmaniyah telah diubah. Utsmani tak lagi mengamalkan syariat secara utuh. Tapi telah mengadopsi konsep “rechtstaat” yang dikembangkan barat, yang mengalami bangkit dengan meninggalkan Tuhan. Rennaisance adalah masa diceraikannya Tuhan dalam kehidupan manusia, di barat. Revolusi Perancis menjadi puncak kemenangan kaum liberalis. Disitulah Tuhan secara resmi “dikandangkan”, berikut dengan sistematika hukumnya dan segala aturan mainnya. Republik Perancis, anak kandung rennaisance, menanggalkan kitab suci. Menjadikan konstitusi sebagai rujukan utama. Hukum Tuhan dianggap tak layak lagi mengatur kehidupan manusia. Tuhan diibaratkan bak pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka akan berjalan sendiri. Berputar sendiri. Demikianlah kehidupan. Alhasil kepatuhan pada kitab suci menjadi ditanggalkan. Muncullah aturan-aturan buatan manusia sendiri, yang dikarang, dengan akal tanpa mengindahkan Wahyu. Inilah yang melahirkan konstitusi. Perdagangan, hukuman, semua dikarang sendiri. Lahirlah Code Napoleon, sebagai titik awal konstitusi di abad modern ini. Inilah yang kemudian menggerogoti Utsmaniyah. Ius Civil (Civil Law), yang diadopsi dari Romawi pagan, resmi digunakan Utsmani, sejak tanzimat, 1840. Sejak itulah syariat resmi ditinggalkan.

Banyak faktor yang mendasari. Dari dalam, kaum modernis Islam, yang mengklaim sebagai pembaharu, itulah yang memulai. Merekalah yang sibuk mengislamisasi pola hukum barat tadi ke dalam konsep Islam. Muncullah istilah tagnin syariat atau legislasi syariat. Amal syariat menjadi berubah. Sejak itulah jamak menggema istilah “kontemporer”, fiqih kontemporer dan segala macamnya. “Kontemporer” berarti mengislamisasi model hukum barat, yang berbasis rennaisance, fase kala hukum Tuhan ditinggalkan.

Sejak itulah tafsir syariat diubah. Sejak runtuhnya Daulah Utsmani, 1924, maka muncul banyak gerakan dalam Islam. Gerakan-gerakan ini terdikotomi jadi dua bagian: kembali pada Daulah atau ikut pada demokrasi. Pondasi gerakan inilah yang memunculkan ragam wajah Islam. Tak heran, para barat (kuffar) pun makin kegirangan. Mereka melabelisasi gerakan Islam tadi pada banyak nama. Ada Islam fundamentalis, Islam liberal, Islam salafi, Islam kultural sampai muncul Islam radikal. Inilah identitas yang disematkan pada muslimin kini.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam sendiri telah mengingatkan akan kejadian ini. Dalam Sabdanya,
Akan datang masanya, yang tak berapa lama lagi, ketika tak ada yang tertinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada yang tertinggal dari Al Quran kecuali (sisa-sisa) tulisannya. Dan, dalam masa itu, masjid-masjid mereka merupakan bangunan-bangunan megah, tetapi kosong dari hidayah. Dan, pada masa itu, para ulama mereka adalah para manusia-manusia terburuk di kolong langit ini. Dari mereka akan bermunculan fitnah, dan kepada mereka-lah fitnah itu kembali.” (HR Tharmidji, Sunan).

Inilah realitas kala muslimin meninggalkan syariat. Fitnah, cibiran, makian dilancarkan para kuffar tanpa mereka takuti lagi. Karena tatkala muslimin mengikuti hukum yang sama dengan kuffar, cara hidup yang sama dengan kuffar, maka identitas Islam menjadi hilang. Sementara esensi muslim adalah menegakkan keadilan. Memerangi kekafiran.

Semenjak hilangnya Daulah Utsmani, diganti republik Turki, republik-republik lainnya, lenyaplah syariat. Beragam gerakan berdiri, yang melahirkan firqah-firqah. Inilah yang menambah banyaknya wajah Islam. Alhasil kini secara sosial, politik, hukum dan lainnya, tak ada lagi perbedaan muslimin dan kuffar. Perbedaan hanya ketika sholat, puasa, haji belaka. Sisanya, di kantor, di pekerjaan, perdagangan, pasar dan lainnya, Islam tak hadir. Padahal syariat juga mengajarkan tentang tatacara berniaga, bermuamalah, hingga dalam mengadili (mahkamah). Islam punya model sendiri, yang sudah jelas tak sama dengan model kuffar (barat). Inilah syariat yang ditinggalkan. Inilah masa kala muslimin mengikuti kaum terdahulu sampai lubang biawak. Inilah masa tatkala muslimin banyak tapi laksana buih, rentan dan tak kuat. Alhasil fitnah bermunculan bertubi-tubi. Tak ada ketakutan para kuffar lagi. Karena mereka tak berada di kaki para AMR Islam, dalam membayar jizya. Padahal itulah syariat yang wajib, dimana bentuk kemenangan muslimin dengan para kuffar.

Karena syariat kini dijalankan dengan tafsir berbeda. Dengan tafsir kontemporer. Syariat seolah didudukkan harus mengikuti hukum Barat. Ketika kuffar membentuk bank, maka muslim harus punya bank. Bank syariah. Kuffar punya pasar modal, muslim seolah harus punya pasar modal. Kuffar punya asuransi, muslimin seolah wajib punya asuransi. Itulah bentuk mengikuti kuffar sampai lubang biawak. Padahal, dalam hal niaga, syariat memiliki muamalat. Dalam hal pidana, syariat memiliki jinayat. Dalam hal mengadili, ada mahkamah dengan qadi. Dalam hal pemerintahan, ada Sultan, bukan menjadikan Presiden sebagai “ulil amri”. Soal alat tukar, bukan memfatwakan bahwa uang kertas juga halal digunakan. Inilah kekeliruan yang diwarisi dari cara berpikir modernis. Alhasil bertubi-tubi kekalahan melanda umat. Bukan kemenangan.

Jalan kembali adalah dengan syariat. Tentu yang bukan diqiyas-kan oleh kaum modernis, dengan mengubah-ubah tafsir dan amalnya. Syariat yang telah dijalankan para Khulafaur, sampai umat abad 17 Masehi. Disitulah ibadah dan muamalah jelas terbilang. Disitulah syariat bersandar, dengan ushul yang jelas dan furuiyah yang beragam. Jalan menuju syariat adalah dengan mahdhab. Mahdhab bukan sekte, melainkan jalur untuk menggapai Sunnah. Sunnah berbeda dengan sunnat. Dan Sunnah tak sama dengan Hadist. Dalam menggapai Sunnah, dengan mahdhab. Meninggalkan mahdhab, berarti meninggalkan syariat. Karena posisi umat kini tak lagi paham tentang syariat. Tak lagi tahu apa yang menjadi ushul. Tapi sibuk menggerutu soal furu’. Padahal mahdhab itulah jalur bersanad dalam menjalankan syariat.

Lawan utama muslimin sejak dulu adalah kuffar. Karena kuffar jelas manusia yang berkoalisi dengan syaitan. Disitulah bentuk setan mengintervensi kehidupan manusia. Kuffar tentu tak sama dengan Islam. Bukan Islam yang harus mengikuti perkembangan jaman. Tatkala jaman dikembangkan, dikendalikan oleh sistem kuffar, salah kaprah jika Islam harus mengikutinya. Justru Islam harus hadir untuk menegakkan keadilan. Inilah jalan agar Islam tak lagi berbentuk dalam banyak wajah. Melainkan hanya satu wajah. Iman-Islam-Ikhsan. Jalankan syariat, dengan merujuk kembali mahdhab. Tanpa mahdhab, tiada syariat. Tanpa syariat, tiada Islam. Kenali lagi yang mana syariat. Karena syariat bersumber dari Al Quran. Apa yang disebut Al Quran, baik perintah dan larangan, itu wajib dijalankan. Tanpa harus menunggu disahkannya dalam undang-undang buatan manusia.
Barrakallah.