Inilah Zawiyya Mangku Negeri Darusalam

598

Lantunan wirid itu bertalu-talu. Muncul dari putera-putera Melayu. Suaranya terdengar sayup, tapi tetap mendayu. Jika terdengar dari jauh. Ala Ya Latifu Ya Latifu…Latifu…Latifu…Lutfuhu Daiman Hifdhu…Sebait lafaz wirid yang bertalu-talu itu.

Suara-suara lantunan Asma Allah itu terdengar dari lantai 2 bangunan Rumah Melayu di Tanjung Pura Darrusalam. Sekitar 30 orang lebih melafazkan wirid itu saban pekan. Mereka para fuqara di Ketapang, Kalimantan Barat. Saban Kamis menjelang petang, wirid dilantunkan dengan suara yang mendayu tapi menantang.

Wirid yang dibacakan gubahan dari Shaykh Muhammad Ibn Al Habib. Beliau adalah mursyid besar di Meknes, Maroko sana. Tapi wirid itu sampai di dengungkan di Ketapang, Tanjung Pura Darusalam. Karena wirid secara bersama-sama menjadi agenda rutin Zawiyya Mangku Negeri Darussalam. Di sanalah lafaz wirid tadi berbunyi. Berasal dari mulut-mulut fuqara yang berdhikir.

Zawiyya itu memang berada di lantai atas Rumah Melayu. Ini rumah kediaman Haji Morkes Effendy, Kiay Mangku Negeri Darrusalam. Beliau adalah Amir di wilayah itu. Dalam tatanan dunia politik nasional, sosoknya sangat dikenal. Beliau tokoh masyarakat di Kalimantan Barat yang sangat disegani. Terakhir Haji Morkes Effendy menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kalimantan Barat. Tapi di Ketapang, beliau juga menjabat sebagai Kiay Mangku Negeri Darussalam.

Di kediamannya, lantai 2, berdirilah Zawiyya yang penuh berkah. Zawiyya adalah tempat berdhikir para fuqara. Di sanalah lantunan wirid, diwan saban pekan dilantunkan. Wirid dan Diwan yang dibacakan berasal dari negeri Magribia yang kini dikenal Maroko. Bagi orang Ketapang, Magribi sejatinya tak asing. Karena konon seorang ulama besar dari Magribia awal mula yang menyebarkan Islam di wilayah itu. Bahkan hingga kini masih ada tempat khalwat seorang Shaykh dari Magribia yang tak jauh dari Ketapang. Lokasinya persis di pinggiran kali, sekitar 3 jam perjalanan dari Rumah Melayu itu. Kini di Zawiyya Mangku Negeri itu, lantunan wirid dan dhikir dari seorang Shaykh Magribia kembali dilantunkan. Jalinan antara Tanjung Pura dan Magribia kembali terjalin di abad ini.

Medio Februari 2017 lalu. Zawiyya Mangku Negeri Darussalam resmi di umumkan. Tatkala kehadiran sidi Zulfiquar dari Cape Town, dan Amir Zaim Saidi dari Jakarta, tempat itu diumumkan secara resmi sebagai zawiyya. Disitulah wirid dan dhiwan kerap dilakukan. wazir Yasyir Anshari memimpin wirid dan diwan kala berkumpul bersama para fuqara Tanjung Pura. Beliau mendapat idhin dari Amir Zaim Saidi untuk menebarkan tariqah Qadiriyah Shadhiliyah Dharqawiyah di Ketapang dan sekitarnya. Kini ada sekitar 30 fuqara yang kerap berkumpul saban Kamis menjelang petang, setiap pekan.

Ala Ya Latifu Ya Latifu Laka Lutfu…..pun terdengar mendayu-dayu. Dari putera-putera Melayu.