JEBAKAN JAHILIYAH DALAM FILSAFAT

442

Jaman jahiliyah, ini masa kebodohan. Bodoh karena manusia dianggap tak mengenal Allah, sang Pencipta. Jahiliyah dari kata jahal, bodoh. Kosakata bodoh bukan bermakna buta huruf atau tak pandai membaca. Tapi bodoh karena tak mampu mengenali yang Ghaib. Itulah manusia bodoh. Maka, tatkala ada yang mampu melihat jin, disebut “orang pintar”. Orang yang mampu melihat yang ghaib.

Kata jahiliyah jamak mengarah pada masa sebelum Rasullullah tiba. Masa tatkala di Makkah khalayak masih menyembah berhala. Jaman tatkala Makkah telah jadi tujuan Haji, tapi banyak berhala di sekitarnya. Tentu entah apa bedanya dengan masa kini. Era ketika kaum pada berhaji, tapi tak mampu mengenali berhala patung di sekitarnya, yang kerap menjadi sesembahan. Kala itu, manusia juga mengenal “Allah”. Menyebut “Allah”. Tapi meletakkan latta, uzza, dan manna setelah kata “Allah”. Mereka beribadah juga pada Alllah, tapi di sisi lain menyekutukan Sang Khalik. Itulah yang dianggap masa jahiliyah. Lalu Islam datang, Rasulullah membebasakan cara berpikir dan cara berlaku orang-orang. Datanglah era kemenangan. Era dimana Islam berjaya, pasukan iblis merana.

Tapi jahiliyah seolah hanya kosakata era lama. Padahal jahiliyah masih berlaku hingga kini. Tatkala manusia berada kembali pada kebodohan. Banyak yang berbiadah, laksana kala era sebelum Rasulullah, tapi kemudian menyembah yang lainnya. Inilah jahiliyah. Terutama cara berpikir manusia. Dari sana jahiliyah bisa teerbaca.

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia menjabarkan, “Beradalah di antara orang-orang yang berpengetahuan dan jangan menjadi seseorang yang tidak mengetahui. Karena orang ‘jahil’ ialah orang yang panca inderanya mendominasi tidak hanya intelegensinya, tetapi juga qalbu, hingga qalbu itu menjadi tertutup. Inilah sebabnya Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda: “Ada sebuah organ di dalam tubuh yang jika engkau sanggup menjaminnya untukku, maka aku menjadi Taman Surga untukmu.” Dan beliau meletakkan tangan di dada. Qalbu merupakan organ vital bagi seorang muslim dan inteleggensi dapat terselubung jika qalbu ini tidak jernih.

Jadi, dalang pengendali semua urusan adalah qalbu. Orang-orang yang memiliki hati tidak memandang pada sebab sekunder, mereka melihat pada Maha Sebab, yang bertindak sebagai Aktor. Allah adalah Aktor dalam setiap situasi.”

Qalbu tentu bukan bahasa tubuh. Ini bahasa batin. Qalbu tak ada dalam kosakata biologi. Ini perbendaharaan ruhani. Unsur terpenting dari manusia, yang terdiri dari jasad dan ruh. Qalbu menjadi pengendali, jika takluk maka nafsu yang menunggangi. Disitu setan alias iblis laknatullah menyusupi. Karena dia tak tampak, ghaib, disitulah kejahiliyahan terjadi.
Jahiliyah ialah mendudukkan semua sebab masalah sebagai urusan rasio. Ini kini berlaku mutlak. Karena rasio menjadi sistem. Rasio atau logos yang kini melahirkan hukum sampai sains. Semua berlandas rasio manusia. Inilah tanpa basis qalbu. Tak heran tanpa supremasi dimana-mana. Makanya ada kalangan superior dan imperior.

Cara berpikir manusia ala rasio inilah bentuk jahiliyah yang nyata. Dari abad pertengahan, tatkala gejolak melanda Eropa, abad kegelapan, disitulah jahiliyah digodok. Cara berpikir rasio dimulai. Francis Bacon yang membuatnya menggeliar liar awal. Dia mengatakan semua sebab, sebagai metode induktif. Tuhan didudukkan sebagai penyebab sekunder. “Aku berpikir maka aku ada”. Dia menelirkan teori Tuhan hanya ada dalam pikiran belaka. Lalu muncul Rene Descartes yang mengakrobatik teori deduktif. “Aku ada maka aku berpikir”. Tuhan ada karena dipikirkan manusia. Disinilah dimulainya eliminasi kehadiran Tuhan. Makanya segala sesuatunya dipisahkan dari eksistensialisme. Menjadi esensialisme.

Tuhan telah dieliminasi. Karena semua urusan bisa diselesiakan dengan rasio manusia. Tak lagi merujuk pada Wahyu, yang dianggap ratio Tuhan. Dari situlah manusia kemudian merumuskan aturan kehidupan sendiri. Yang oleh Rosseou dirumuskan sebagai ‘le contract sociale’. Ini bentuk ratio dalam menjalankan kehidupan bersama. Selain memunculkan sains yang dianggap menapikkan kehadiran Tuhan. Revolusi Perancis, 1789, menjadi puncak kemenangan kaum rasionalitas. Disitulah rasio kemudian menjelma menjadi sistemik. Pemisahan antara eksistensialisme dan essensialisme menjadi nyata. Kini yang berkembang adalah esensialisme.

Makanya untuk mengidentifikasi seorang manusia, harus menggunakan KTP, Pasport, atau surat-surat lainnya. Itulah bentuk esensialisme. Bukan eksistensialisme. Bentuk bagaimana jahiliyah menjadi sistem, yang memaksa setiap manusia.

Tentu ini adalah petaka bagi peradaban manusia. Esensialisme inilah yang mengubah emas dan perak sebagai uang, kemudian diubah hanya dalam bentuk kertas. Alhasil Dinar dan Dirham menghilang. Dari kerajaan kertas produk bankir, maka memunculkan sekelompok superior di dunia ini. Merekalah pengontrol segala sendiri sistem, yang berasal dari sana. Termasuk Presiden negara mana saja. Inilah bentuk jahiliyah jaman now.

Dari sinilah pentingnya kembali pada Tauhid. Shaykh Abdalqadir menjelaskan bahwa Tauhid bukanlah perdebatan intelektual. Melainkan ilmu mengenal Allah Subhanahuwataala dan kembali mendudukkan segala sesuatunya bersumber dari Sang Khalik. Inilah yang tiada dalam sistemik. Karena sistem kini ditopang oleh cara berpikir ala rasio, yang bentuk kejahilan. Inilah masa jahiliyah. Tak beda kala jaman sebelum Rasulullah. Banyak orang juga menyebut “Allah” tapi menyekutukan-Nya dalam urusan lainnya. Mereka berhaji ke Makkah, tapi tak melihat latta, uzza dan manna mengepung Ka’bah. Dan tak mempedulikannya. Inilah masa jahiliiyah. Ubah mindset, dari rasio menjadi Tauhid. Dan itu ada dalam wilayah tassawuf semata.