Ketika Raja-Raja Eropa Membayar Jizya Pada Sultan Al Fatih

247

Dalam hukum Islam, suatu negeri dibolehkan tetap memeluk agama selain Islam dan dilindungi. Tapi mereka harus membayar jizyah. Islam sebagai agama Rahmatan Lilallamin pun benar terbukti.

Pagi hari, berkisar pukul 6.00 waktu Konstantinopel. Hari itu, 29 Mei 1453, jejeran bendera kehijauan betuliskan “Laillah haillallah” bertaburan memasuki tembok Konstantinopel. Di pagi itu tembok itu jebol akibat pengepungan selama 59 hari. Ratusan pasukan Islam yang mengusung bendera itu bertaburan memasuki kota Konstantinopel.

Pengepungan selama 59 hari dan penantian umat Islam selama 854 tahun, akhirnya terbukti. Hari itu Sultan Muhammad al Fatih bersama pasukannya berhasil membuktikan akan kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW. Sabda inilah yang jadi semangat utama ratusan pasukan Islam yang tergabung dalam Utsmaniyah, menaklukan kota Konstantinopel, ibukota Romawi.

Memang kala terjadi perang Khandaq, di abad 6 lalu, Nabi Muhammad SAW sempat berkata tatkala dirinya ditanya seorang sahabat, “Ya Rasul, Kota manakah yang akan takluk terlebih dahulu, Roma atau Konstantinopel?” tanya Sahabat. Lalu Rasul SAW menjawab, “Kota Heraklius yang akan takluk terlebih dahulu.” Heraklius adalah nama Kaisar Romawi yang bermarkas di Konstantinopel.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga sempat bersabda tentang Konstantinopel lainnya. “Kostantinopel akan ditaklukkan oleh seorang laki-laki (Islam). Di tangan dialah sebaik-baiknya pemimpin dan di tangan dialah sebaik-baiknya pasukan”, yang diriwayatkan HR Ahmad.

Sejak munculnya sabda tersebut, umat Islam pun berlomba-lomba membuktikan janji Allah (bisyarah) itu. Sebelum Sultan Al Fatih, beberapa sultan sebelumnya juga sudah berupaya menaklukkan kota Konstantinopel.

Kala itu keindahan kota Konstantinopel memang luar biasa. Napoleon Bonaperte, Raja Perancis menggambarkannya, “Seandainya seluruh dunia ini adalah sebuah negara, maka yang layak menjadi ibukotanya adalah Konstantinopel,” tutur Napoleon.

Dan, ternyata sabda Rasul SAW itu pun menjadi kenyataan. Tahun 1453, Sultan Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Begitu jatuh ke tangan Islam, Al Fatih pun mengubah nama kota itu menjadi Islambul. Artinya “jalan Islam”.

Takluknya Konstantinopel di tangan Islam, membuat belantara Eropa bergetar ketakutan. Pasalnya Konstantinopel, menurut Roger Crowly, penulis buku “Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam,” merupakan kota yang jadi pusatnya Kekristenan Ortodoks. Roma (ibukota Italia kini) menjadi pusat Kekristenan Trinitas, sementara Konstantinopel menjadi pusat Kekristenan Unitarian, begitu tulis Crowly.

Tak heran, begitu Konstantinopel takluk di tangan Islam, berita itu pun menjaid duka cita mendalam bagi masyarakat Eropa. Keperkasaan Sultan Al Fatih pun menjadi perbincangan seantero Eropa. “Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam itu menjadi perbincangan tak hanya di Istana-Istana kerajaan, bahkan sudut-sudut jalan Eropa,” papar Crowly lagi.
Takluknya Romawi ke tangan Islam itulah yang membuat sejumlah kerajaan Eropa di sekitar Konstantinopel berbondong-bondong ingin bergabung dengan Utsmaniyah.
John Freely, dalam bukunya “Sultan Mehmet II Sang Penakluk”, menceritakan tentang beberapa kerajaan Eropa yang memilih berteman dengan Al Fatih. “Selama musim panas 1453, sejumlah duta besar asing datang menghadap Mehmet di Edirne Sarayi, termasuk utusan dari bangsa Venesia, Genoa, Serbia, Albania, Yunani, Mesir, Persia, Turki Karamid, dan Ksatria St. John dari Rodhesia,” papar Freely. Semuanya, tulis Freely lagi, mengharapkan hubungan yang bersahabat dengan penakluk muda tersebut.

Freely juga menggambarkan Sultan Al Fatih menerapkan sistem hukum Islam terhadap penganut agama non Islam. Fatih memberikan jaminan hak hidup dan beragam kepada penganut agama non Islam untuk tetap hidup di bawah sistem pemerintahannya. Namun bagi penganut Kristen dan agama lainnya selain Islam, diwajibkan membayar jizyah.
Hal itu mau tidak mau diterima dengan baik oleh Raja-Raja Eropa. Freely menukiskan lagi, George Brankovic, Raja Serbia kemudian bersedia membayar jizyah sebesar 12.000 dukat kepada Utsmaniyah setiap tahun. Thomas Palaelogus, raja Morea membayar jizyah sebanyak 10.000 dukat. Pemerintahan Genoa di Cios membayar jizyah sebanyak 6000. Sementara itu Dorino Gattilusio, pimpinan bangsa Genoa di Lesbos dan Kepualauan Aegea Utara, membayar 3000 dukat. John VI Commenus, kaisar Byzantium di Trabzon juga membayar jizyah senilai 2000. Kaisar St. John dari Rodos juga tak ketinggalan. Mereka berbondong-bondong menyetorkan jizyah kepada Utsmaniyah. Dukat adalah nama satuan uang logam yang terbuat dari emas. Sama halnya dengan Dinar emas yang berlaku di negeri-negeri muslimin.

Dalam penuturan Freel lagi, ketika raja-raja Eropa itu membayar jizyah, maka Al Fatih melindungi mereka sepenuhnya. “Tak selembar rambut pun mereka akan diganggu oleh berbagai pihak yang mengancam,” tulis Freely lagi.

Era kini, tatkala sistem Ulil Amri Minkum kaum muslimin tak lagi berdiri, tak satupun negeri yang membayar jizyah kepada umat Islam. Disinilah gambaran betapa pentingnya setiap muslim kembali berjamaah dan mengangkat Amar Islam.

Jizya kini termasuk syariat Islam yang tengah tiada. Di Kesultanan Utsmaniyah, semenjak tanzimat 1840, jizya dihapuskan. Syariat Islam juga dihapuskan. Utsmaniyah menggantinya dengan menerapkan sistem hukum barat yang merujuk pada Republik Perancis, Civil Law. Hal ini tak berbeda dengan di nusantara. Muslimin nusantara yang dulunya berada dalam naungan kesultanan, semenjak era republik, tergantikan sistem hukumnya dengan mengikuti Civil Law, yang dibawa Hindia Belanda. Alhasil jizya, sebagai syariat Islam, pun tak dikenali lagi. Bahkan oleh kaum muslimin sendiri.