Kewibawaan Sistem Peradilan Islam

248

Sistem peradilan Islam ternyata cukup simpel dan penuh rasa keadilan. Qadhi menjadi pemutus perkara. Tak ada kongkalikong atau main mata. Azas persamaan dalam hukum dijunjung tinggi. Bahkan sang Khalifah atau Sultan pun beberapa dikalahkan di depan sang Qadhi.

Kala abad 7 di Madinah. Abu Bakar Shiddiq berselisih dengan Rabiah al Salami. Abu Bakar adalah mertua Rasulullah Shallahuallaihi wassalam. Dia banyak berjuang demi tegaknya Islam. Bahkan dalam Al Quran, sosoknya yang disebut, karena “berdua di dalam goa” bersama Rasulullah ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy. Kedekatannya dengan Nabi Muhammmad Shallahuallahi wassalam tak di ragukan lagi. Tapi, suatu hari Abu Bakar tengah bersengketa. Keduanya pun mendatangi Rasulullah. Pokok masalahnya tentang tanah yang didalamnya terdapat pohon kurma yang miring. Batang pohon kurba itu di tanah Rabiah. Tapi ranting pohon itu berada di atas tanah Abu Bakar. Keduanya mengakui pemilik pohon itu. Rasulullah mendengarkan kasusnya. Lalu dia memutuskan: pohon itu milik orang yang memiliki batang pohon. Artinya milik Rabiah. Abu Bakar kalah. Walau sahabat terdekat Rasulullah, dia tetap kalah. Abu Bakar mengikuti putusan itu. Rabiah pun lega.

Kasus lain datang. Khasa’ Binti Khadam al Anshariyah, seorang janda yang dinikahkan oleh ayahnya. Khasa’ sejatinya tak menyukai pernikahan itu. Perempuan itu kemudian mendatangi Rasulullah. Meminta putusan atas kejadian yang dialami. Rasulullah Shallahuallaihi wassalam memutuskan membatalkan pernikahan itu. Rasulullah berkata: “Saya tidak menolak sesuatu apapun yang diperbuat ayahmu, tapi saya ingin mengajarkan kepada kaum perempuan bahwa mereka memiliki keputusan terhadap dirinya sendiri.”

Kisah lain lagi tertoreh. Seekor Onta milik Barra’ bin ‘Azib masuk kebun orang lain lalu membuat kerusakan di dalamnya. Pemilik kebun mendatangi Rasulullah Shallahuallaihi wassalam dan mengadukan kasus ini. Barra’ bin Azib pun dipanggil, dia tak membantah. Nabi Muhammad kemudian memutuskan: ”Pemilik taman harus menjaganya pada siang hari, dan apa yang di rusak oleh ternak pada malam hari menjadi tanggungan pemilik ternak.” Putusan itu langsung diikuti. Peradilan berlangsung cepat. Tak ada banding atau kasasi.

Ketika Umar Bin Khattab menjadi Khalifah, seorang pencuri tertangkap lalu dihadapkan kepadanya. Khalifah Umar bertanya, “Mengapa engkau mencuri?” Dia menjawab, “Karena takdir Allah.” Tanpa banyak bicara, Umar langsung mencambuknya beberapa kali dan memerintahkan agar tangannya dipotong, bentuk hukuman dalam Islam. Umar sempat ditanya seorang sahabat, dia menjawab lugas, “Dia dipotong tangannya karena mencuri. Dan dia dicambuk karena berdusta kepada Allah.”

Suatu ketika Khalifah Umar didatangi oleh seorang Yahudi dari Mesir. Ketika itu Amru Bin Ash ditunjuk oleh Khalifah Umar sebagai Amir di sana. Amru tengah membangun sebuah masjid yang agak besar. Rumah si Yahudi tadi hendak digusur, tapi dia menolak. Walau Amru telah menawarkan ganti rugi padanya. Karena hal itulah Yahudi tadi mendatangi Khalifah Umar di Madinah. Dia menceritakan apa yang dialaminya. Selepas itu, Umar mengambil sebuah tulang. Di tulang itu dia menorehkan garis lurus dari atas ke bawah, dan garis dari kiri ke kanan sehingga berbentuk menyilang. Umar menyerahkan tulang itu kepada si Yahudi tadi. “Bawalah tulang ini dan berikan kepada Amru Bin Ash. Katakan ini dari Umar Bin Khattab,” kata Umar. Si Yahudi tadi pun kebingungan. Dia tak mendapatkan jawaban atas aduannya. Tapi dia menuruti Umar. Tulang itu dia berikan kepada Amru. Begitu menerima tulang itu, si Yahudi itu terkaget. Karena raut wajah Amru langsung berubah. Mukanya pucat pasi melihat tulang yang digaris lurus dengan pedang itu. Alhasil Amru segera mengembalikan rumah si Yahudi tadi. Dia malah terheran-heran. Dia bertanya mengapa Amru begitu ketakutan dan langsung mengembalikan rumahnya. Amru menjawab, “Ini adalah peringatan dari Umar bin Khattab agar aku selalu berlaku adil seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus, maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horizontal ini.” Yahudi itu terdiam, terpaku mendengar jawaban itu. Dia mendapatkan keadilannya.

Suatu siang, seorang pemuda Anshar mengadukan ibunya kepada Khalifah Umar. Pemuda itu menghadap Umar karena tak mengakuinya sebagai anak. Umar kemudian memanggil sang ibu. Di depan Umar, perempuan itu tetap membantah pemuda itu adalah anaknya. Umar meminta agar pemuda itu menghadirkan bukti-bukti. Tapi pemuda itu tak memilikinya. Umar lalu meminta bukti-bukti kepada sang ibu. Dia ternyata mampu menghadirkan saksi-saksi bahwa belum menikah dan pemuda itu menuduhnya telah berzina. Umar pun memutuskan untuk mencambuk si pemuda. Karena telah menuduh perempuan berzina.

Tapi Umar kemudian bertemu dengan Ali bin Abi Thalib. Dia menceritakan kasus ini. Ali kemudian mengambil alih. Dia memanggil pemuda dan ibu tadi. Di serambi masjid Madinah, Ali meminta wanita itu untuk mengakui anaknya. Tapi ibu itu tetap menolak. “Kalau begitu, jangan engkau akui dia ibumu karena ia telah mengingkarimu sebagai anaknya,” kata Ali kepada pemuda itu. “Ia adalah Ibuku, wahai anak paman Rasul,” pemuda itu bersikeras. “Ia telah mengingkarimu, maka ingkarilah ia,” jawab Ali lagi. Lalu Ali berkata kepada ibu itu, “Bolehkan aku mengatakan sesuatu tentang wanita ini?” “Tentang kami pun boleh,” jawab mereka. Ali berkata, “Aku jadikan kalian yang hadir sebagai saksi bahwa pemuda ini aku nikahkan dengan ibu ini.”

“Hai Qunbur,” Ali memanggil pelayannya. “Berikan uang kepadaku.” Setelah uang ia terima, dia menghitungnya sebanyak 84 Dirham. Lalu ia menyerahkannya kepada wanita itu sebagai mahar si pemuda. “Ayo tuntunlah wanita itu sebagai istrimu, jangan datang kepadaku kecuali dengan membawa tanda-tanda bahwa engkau telah melakukan hubungan suami istri saat menjadi pengantin.”

Sontak, ibu itu memberontak. “Tidak, wahai Abul Hasan, takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Nikah ini tidak boleh terjadi. Karena ia puteraku, demi Allah.” Ibu itu mengaku. “Mengapa engkau tadi tidak mau mengakui?” tanya Ali. Si Ibu berkata, “Karena ayahnya berkulit hitam. Saudara-saudaraku menikahkanku dengannya sampai lahir anak ini. Ia lalu ikut berperang dan terbunuh. Lalu, aku menyuruh orang agar membawa anak ini ke Bani Fulan. Di sanalah ia dibesarkan. Aku tidak ingin ia sebagai anakku.” Masalah selesai. Tanpa banding dan kasasi.

Kasus lain datang lagi. Seorang wanita gemuk dan tangguh jatuh cinta kepada seorang pemuda tampan. Tapi pemuda itu tak merespon cintanya. Maka ia telah mengklaim pemuda itu telah memperkosanya. Wanita itu membawa sebutir telur lalu membuang yang kuningnya. Sedang putih telurnya diluruhkan ke bajunya dan sebagian tubuhnya. Ia memegangi ujung baju pemuda dan menariknya untuk mendatangi Khalifah Umar. Dia mengaku telah diperkosa.

Wanita itu berteriak kencang di depan Khalifah Umar, “Wahai Amirul Mukminin, pemuda ini telah memperkosa saya dan telah mencemarkan nama baik keluarga saya. Ini ada bekasnya,” ujarnya sembari menunjukkan cairan putih kental dibajunya. Umar pun bertanya kepada sejumlah wanita lain atas kasus ini. Cairan putih kental itu jadi bukti. Umar pun menjatuhkan hukuman agar pemuda itu dirajam sampai mati.

Tapi pemuda itu membela diri. “Wahal Amirul Mukminin, percayalah padaku. Semoga Allah merahmatimu. Aku tidak pernah berbuat zina dengannya, bahkan menginginkan pun tidak. Dia yang justru merayu aku, tetapi aku berlindung kepada Allah”. Ali bin Abi Thalib yang sedari tadi duduk di samping Umar. Dia pun bertanya kepada Ali, “Bagaimana menurutmu, hai Abul Hasan?”

“Sebentar,” jawab Ali. Dia bangun memeriksa dengan detil baju wanita itu. Ali meminta air mendidih dihadirkan. Lalu dia menyiramkan cairah putih kental yang ada di baju perempuan itu. Cairan putih itu kemudian membeku. Ali lalu mengambil dan menciumnya. “Coba cium,” kata Ali kepada Khalifah Umar. Dari situ ketahuan bahwa cairan putih kental itu adalah putih telur, bukan sperma. Pemuda itu pun dilepas. Tuduhan berzina ditiadakan. Kasus selesai.

Suatu ketika Umar tengah tawaf di Baitullah, Makkah. Ali bin Abi Thalib juga ikut tawaf itu. Dia di depan Umar. Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Umar. “Wahai Amirul Mukminin, bayarkanlah hakku atas Ali,” tegasnya. Umar berkata, “Kenapa dia?” Lelaki itu menjawab, “Ia memukul mataku.” Maka Umar pun terdiam dan menunggu Ali menyelesaikan tawaf-nya. Umar tetap meladeni aduan terhadap Ali. Walau dia seorang Qadhi mumpuni. Umar lalu menghentikan Ali dan bertanya apakah ia benar memukut mata orang itu. Ali menjawab, “Ya, benar”. Umar bertanya, “Mengapa?” “Karena matanya mencoba melihat-lihat aurat orang-orang yang tawaf,” tutur Ali. “Bagus,” jawab Umar. Qishos pun tak jadi dilakukan. Karena pemuda itu yang melakukan kesalahan. Kasus selesai.

Di sebuah sudut kota Madinah. Umar Bin Khattab seorang Khalifah. Dia tegas, cerdas, tangkas. Bahkan setan pun takut dengan sosok Umar. Suatu ketika, Umar berjalan ke sebuah kampung. Dia membeli seekor kuda. Penjualnya orang dusun. Transaksi terjadi. Kuda dibeli, langsung dipakai oleh Umar. Berjalan beberapa ratus meter, kuda itu mendadak pincang. Umar tak terima. Dia balik ke orang dusun tadi. “Aku kembalikan kudamu, karena ternyata cacat,” kata Umar. Orang dusun itu tak terima. “Waktu saya jual tadi kondisinya baik,” katanya. Mereka berselisih. Umar menyarankan sengketa ini ditengahi seorang Qadi. Orang dusun itu setuju. Dia menyarankan Qadi-nya Syuraih Al Haritz.

Keduanya datang. Umar mengadukan kasusnya. Si orang dusun itu pun bercerita. Lalu Qadhi memutuskan. “Ambillah kuda yang telah engkau beli, wahai Khalifah. Atau kembalikan seperti saat engkau membelinya,” begitu vonis sang Qadhi. Umar terdiam. Dia kalah. Walau Khalifah, pemimpin tertinggi, tapi dia dikalahkan di depan orang dusun. Kasus itu ditutup. Final binding. Umar menerima putusan itu. Dia terkesima. Syuraih lalu diangkatnya jadi Qadhi di Kuffah. Walai Khalifah, Umar tak luput dari kekalahan kala di depan seorang qadhi.

Bahkan Umar pernah memecat seorang Qadhi yang dia tunjuk di Bashrah, Irak. Qadhi itu bernama Abu Maryam Iyas bin Shabih al Hanafi. Umar memecatnya karena adanya laporan bahwa sang Qadhi menyelesaikan perselisihan dua orang yang datang dengan menyerahkan dinar dari uangnya sendiri. Umar lalu menulis surat kepadanya, “Sesungguhnya saya tidak menugaskan kamu untuk memutuskan hukum di antara manusia dengan uang kamu. Tapi saya menugaskan kamu agar kamu memutuskan di antara mereka dengan kebenaran.”

Kala Ali Bin Abi Thalib menjadi Khalifah, beragam kasus menarik juga menghampiri. Kala Ali ditunjuk menjadi qadhi di Yaman, sebuah peristiwa terjadi. Empat orang terperosok ke sebuah lubang yang dibuat untuk memburu harimau. Pemuda pertama berpegangan kepada pemuda kedua, yang kedua bergantungan pada pemuda ketiga, dan begitu seterusnya. Keempatnya pun meninggal diterkam harimau. Atas kejadian itu, orang tua mereka bersilang pendapat bahkan nyaris saling bunuh. Karena masing-masing menuntut qishos. Mereka pun mendatangi Ali. “Aku akan memutuskan perkara kalian kalau kamu mau. Kalau tidak, aku akan bawa kepada Rasulullah Shallalahuallaihi wassalam,” ujar Ali. “Kami akan rela akan keputusanmu,” jawab mereka.

“Kumpulkan dari kabilah yang membuat lubang itu seperempat diyat, sepertiga, setengah dan penuh,” tegas Ali. Untuk yang pertama seperempat diyat, karena ia telah membinasakan orang yang ada diatasnya. Untuk yang kedua sepertiga diyat karena telah membinasakan orang yang diatasnya. Untuk yang ketiga setengah diyat karena telah membinasakan yang diatasnya, sedang yang keempat diyat penuh,” tandas Ali. Kasus pun selesai.

Kecerdasan Ali dalam memutus perkara sendiri sudah dijamin oleh Rasulullah Shallahuallaihi wassalam. Beliau bersabda, “Yang paling menguasai hukum di antara kalian adalah Ali”. Sabda ini dikeluarkan Rasulullah kala tengah duduk bersama para sahabat tiba-tiba datang dua orang berperkara. Yang satu bilang, “Wahai Rasulullah, saya punya keledai, sedang teman saya ini punya sapi. Sapinya membunuh keledai saya.”

Mendengar cerita itu, salah seorang yang sahabat menyahut, “Tidak ada ganti rugi bagi binatang.” Rasulullah lalu berkata, “Hai Ali, putuskanlah perkara keduanya.” Ali pun bertanya, “Bagaimana keadaan keledai dan sapi itu? Apakah keduanya dilepas atau diikat? Atau salah satunya yang dilepas?”

“Keledai diikat sedang sapi dilepas,” jelas orang itu. “Benar,” timpal yang satunya. Maka Ali pun memutuskan, “Yang punya sapi harus membayar ganti rugi.” Rasulullah Shallahuallaihi wassalam pun akhirnya menyetujui putusan itu. Kedua orang itu pun menerima. Keadilan ditegakkan.

Lalu ada pula seorang bayi yang dilahirkan dengan dua kepala, dua dada sedang badannya satu. Bayi yang berhimpit. Ali sempat ditanya atas kasus itu, “Apakah mendapat dua warisan atau satu?” Ali memberikan jawabannya, “Biarkan ia tidur. Kalau kedua kepalanya bangun bersama, berarti warisannya satu, jika yang satu bangun, yang satunya lagi tidur, maka dia mendapatkan dua warisan,” tutur Ali.

Namun kala menjabat sebagai Khalifah, Ali sempat berperkara dengan seorang Yahudi. Kala Ali berjalan ke pasar di Kufah, dia melihat baju besi yang biasa digunakan untuk perang. Ali tanda sekali itu baju besi miliknya yang hilang. Ali melihat seorang Yahudi tengah menjual baju besi itu. Ali lalu turun dari kuda dan berkata, “Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu dan di tempat anu,” ujarnya. Yahudi itu tak terima. “Ini adalah baju besiku dan sekarang ada ditanganku, wahai Amirul Mukminin,” ujarnya. Ali menimpali lagi. “Itu baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu.”

Yahudi itu tak mau mengalah. Dia bilang, “Mari kita putusan melalui seorang qadhi kaum muslimin,” ujarnya. Ali mengiyakan. Yahudi itu lebih memilih kasus ini diadili oleh qadhi, ketimbang oleh hakim Yahudi. Ali mempersilahkan Yahudi itu yang menentukan siapa qadhi-nya. Alhasil mereka berdua pergi ke kediaman Syuraih Al Qadhi, atas permintaan si Yahudi. Syuraih kemudian mengadili kasus ini. “Ada apa wahai Amirul Mukminin?” tanya Syuraih. Ali menjawab, “Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan ditempat anu Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah,” tuturnya.

Syuraih pun kemudian bertanya pada Yahudi itu. “Dan, apa jawabmu wahai orang laki-laki?” Yahudi itu menjawab, “Baju besi ini adalah milikku dan ia ada ditanganku tapi aku tidak menuduh Amirul Mukminin berdusta.”

Syuraih menoleh ke arah Ali. “Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul Mukminin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi kamu harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang kamu klaim itu.”

Lalu Ali berkata, “Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku Al Hasan akan bersaksi untukku.” Syuraih berkata cepat, “Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, Amirul Mukminin.” Ali terheran mendengar jawaban sang Qadhi. “Ya Subhanalallah! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya! Apakah anda tidak mendengar bahwasannya Rasulullah Shallahuallaihi wassalam bersabda: “Al Hasan dan Al Husain adalah dua pemuda ahli surga.”

Syuraih tetap mempertahankan argumennya. “Benar wahai Amirul Mukminin! Namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya.” Setelah itu Ali menoleh ke Yahudi itu dan memutuskan, “Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya.” Mendengar hal itu, Yahudi itu menjadi keheranan. Dia kebingungan. Alhasil dia mengakui, “Akan tetapi, aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul Mukminin!” Dia meneruskan kisahnya, “Ya Allah, kok ada Amirul Mukminin menggugatku di hadapan qadhi yang diangkatnya sendiri, tapi malah memenangkan perkaraku terhadapnya! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Yahudi itu langsung bershahadat dan masuk Islam.

“Ketahuilah wahai Qadhi, baju besi ini adalah benar milik Amirul Mukminin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Siffin lalu menemukan baju besi terjatuh dari unta berwarna abu-abu, lalu memungutnya,” ujarnya. Ali pun tak diam. “Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu dan aku memberimu seekor kuda.” Yahudi itu tersedu. Dia tak menyangka seorang Khalifah kalah di depan peradilannya sendiri.

Begitulah peradilan dalam Islam. Perkara diputus dengan singkat. Tak ada banding dan kasasi. Keadilannya terbukti. Tak ada lapor hilang ayam lalu sapi pun jadi hilang. Peradilan model begini tegak berdiri kala sistem sultaniyya yang berdiri.

 

Irawan Santoso Shiddiq