Kyai Mangku Negeri Tanjung Pura Tarik Zakat Muslimin Ketapang

612

Tanggal 23 Juni 2017, Magrib telah menjelang. Suasana berbuka puasa tengah terpampang. Tampak suatu kesibukan di Rumah Melayu yang terletak di Ketapang. Sejumlah pria berpeci merah berkumpul di ruang tamu rumah itu. Mereka tengah membincangkan hal yang sangat urgen. Pimpinan pembicaraan adalah Wazir Yasyir Anshari. Beliau mengatur perbincangan tentang penarikan Zakat mal bagi muslimin di Ketapang dan sekitarnya.

Rumah itu ialah kediaman Kyai Mangku Negeri Tanjung Pura Darusalam, Haji Morkes Effendy. Beliau menjabat sebagai AMR di wilayah tersebut. Kyai Morkes Effendy menunjuk para Amil Zakat untuk melakukan penarikan Zakat. Kebetulan Ramadhan telah dua hari lagi tersisa, bulan Syawal telah menanti. Biasanya di akhir Ramadhan itu para muslimin menunaikan Zakat fitrah, ada juga yang berbarengan menunaikan Zakat mal. Momentum itulah yang dimanfaatkan Kiay Mangku Negeri untuk menunjuk para Amil Zakat tersebut.

Di malam itu, tercatatlah susunan para Amil Zakat yang bertugas memungut Zakat bagi muslimin Ketapang dan sekitarnya. Tentu di bawah otoritas AMR Kiay Mangku Negeri. Sidi Redo Rizaldi bertindak sebagai koordinator Amil. Kemudian tersebutlah ada sekitar 13 orang lainnya yang bertindak sebagai Amil. Mereka adalah Muhammad Yasir Anshari, Herry Susanto, Nanang Yusrik, Dwi Rahmat Zuhri Zuhri, Sidi Adeng, Sidi Abdurrahman, Sidi Deny Mareta Uti, Sidi Jimmy, sidi Budi Hasyadi, Pak Usu Makmur Japri,  Sidi Jibril Muhammad Jibril Mawardi Malik, Sidi Mahadianayah Fuak Melayu dan Sidi Nurhidayat.

Keesokan harinya penarikan zakat pun dimulai. Namun Zakat yang dibayarkan merujuk pada Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. “Untuk mengembalikan praktek berzakat (uang dan niaga) yang benar harus dimulai dengan mengoreksi penyebutan nisabnya, yakni 20 dinar (bukan 85 gr emas) atau 200 dirham (bukan 595 gr perak),” tukas Zaim Saidi, Amir Amirat Indonesia. Beranjak dari situ maka Zakat yang ditarik dalam bentuk Dinar emas atau Dirham perak.

Malam itu juga Wazir Yasyir, atas nama Kiay Mangku Negeri menarik zakat dari seorang muslim, Ai Heri bin Kastalani sebesar 18 Dirham perak. Bapak Usu Laju juga ditarik Zakatnya sebanyak 5 Dirham perak. Bapak Citra Eka Sandi bin Sadikin juga ditarik Zakatnya sebanyak 5 Dirham perak. Bapak Bambang Sugeng juga ditarik Zakatnya sebesar 15 Dirham perak. Ari Subagiono bin Adi Supaat ditarik Zakatnya sebanyak 71 Dirham perak. Dan sejumlah muslimin lainnya.

Penarikan Zakat semuanya dalam bentuk Dirham perak. 1 Dirham adalah perak seberat 2,95 gram. Sedangkan untuk 1 Dinar adalah emas seberat 4,25 gram. Ini adalah ukuran Dinar dan Dirham yang merujuk Sunnah. Zakat secara fiqih memang wajib ditunaikan secara ayn. Kini tatkala jaman tengah diliputi arus sekulerisme dan libieralisme, dimana alat tukar yang berlaku dipaksanakan dalam bentuk kertas. Secara fiqih hal tersebut tak memenuhi syarat untuk dilakukan sebagai alat bayar Zakat. Karena kertas tak bisa mewakili emas dan perak. Kertas hanya berlaku laiknya kertas belaka. Dan Zakat wajib ditunaikan dalam bentuk ayn, bukan dayn. Sementara kertas sebagai uang adalah dalam posisi dayn, yang tak memenuhi syarat untuk ber zakat.

Selain itu, posisi pembayaran Zakat harus kepada AMR (pemimpin) umat Islam. Bukan pemimpin yang merujuk pada sistem sekuler, pemerintahan yang tak merujuk sistem Islam. Hampir mayoritas ulama menentang soal penarikan Zakat kaum muslimin yang dilakukan oleh pemerintahan sekuler. Bahkan ulama sekelas Yusuf Qhardawi, yang modernis sekalipun mengharamkan penarikan zakat dilakukan oleh pemerintahan sekuler. Beliau mengatakan dalam kitabnya “Hukum Zakat” bahwa: “Adapun pemerintahan yang tidak mempergunakan Islam sebagai dasar Daulah, aturan dalam hukum, dan bertahkim bukan dengan hukum Allah, yaitu dengan segala apa yang datang dari ideologi Barat atau Timur, maka pemerintahan yang semacam ini tidak boleh mengambil Zakat.”

Maka dari itu kesahihan membayar Zakat mal terutama, haruslah merujuk pada pemimpin umat Islam. Siapa pemimpin Islam yang dimaksud? Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran An Nisa ayat 59:

“Atiullah Waatiu Rasul Waulil amriminkum…”

Patuhilah Allah, taatilah Rasul dan pemimpin diantara kalian.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:

Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang mengingkari aku, maka sunggu ia telah ingkar kepada Allah. Barangsiapa mentaati Amirku, maka sungguh ia telah taat kepadaku. Siapa yang mengingkari Amirku, maka sungguh ia telah ingkar kepadaku”. (HR Muslim Bukhari)

Dari gambaran Ayat dan Hadist diatas bahwa kewajiban umat muslim adalah memiliki AMR (pemimpin). Syarat kepemimpinan dalam Islam tentulah yang bisa melaksanakan kewajiban penegakan dan menjaga tegaknya Syariat Islam. Jika seorang mengklaim sebagai pemimpin, dalam sebutan Islam ialah Sultan atau Khalifah atau Amir, tapi tak menjalankan syariat, maka tak layak dikategorikan sebagai pemimpin Islam.

Tugas dan kewajiban seorang pemimpin (Amir, Sultan dan Khalifah) menurut Imam Qurtubi, berdasar tafsir atas ayat dalam Surat An Nisa 59, adalah:

  1. Menetapkan dan mengotorisasi awal Ramadhan, dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jum’at
  2. Menjamin kemurnian dan kebenaran timbangan dinar dan dirham
  3. Menjamin dan menjaga kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan di pasar
  4. Menunjuk petugas zakat, menarik, dan mendistribusikannya menurut ketentuan yang ada
  5. Menyiapkan diri untuk memimpin jihad, dan bila berhasil, mengumpulkan dan membagikan harta pampasan (ghanimah)
  6. Menarik jizya (pajak yang dikenakan kepada non Muslim)
  • Tugas dan kewajiban seorang pemimpin (Amir, Sultan dan Khalifah) menurut Imam Qurtubi, berdasar tafsir atas ayat dalam Surat An Nisa 59, adalah:
  1. Menetapkan dan mengotorisasi awal Ramadhan, dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jum’at
  2. Menjamin kemurnian dan kebenaran timbangan dinar dan dirham
  3. Menjamin dan menjaga kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan di pasar
  4. Menunjuk petugas zakat, menarik, dan mendistribusikannya menurut ketentuan yang ada
  5. Menyiapkan diri untuk memimpin jihad, dan bila berhasil, mengumpulkan dan membagikan harta pampasan (ghanimah)
  6. Menarik jizya (pajak yang dikenakan kepada non Muslim)

Tugas dan kewajiban seorang pemimpin (Amir, Sultan dan Khalifah) menurut Imam Qurtubi, berdasar tafsir atas ayat dalam Surat An Nisa 59, adalah:

  1. Menetapkan dan mengotorisasi awal Ramadhan, dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jum’at
  2. Menjamin kemurnian dan kebenaran timbangan dinar dan dirham
  3. Menjamin dan menjaga kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan di pasar
  4. Menunjuk petugas zakat, menarik, dan mendistribusikannya menurut ketentuan yang ada
  5. Menyiapkan diri untuk memimpin jihad, dan bila berhasil, mengumpulkan dan membagikan harta pampasan (ghanimah)
  6. Menarik jizya (pajak yang dikenakan kepada non Muslim)

Nah, merujuk dari gambaran diatas, Kiay Mangku Negeri, Haji Morkes Effendy merupakan sosok AMR yang menjalankan Syariat Islam. Medio Mei tahun 2016 lalu, sekitar 30 orang lebih muslimin Tanjung Pura Darrusalam dan sekitarnya telah membaiat Haji Morkes Effendy sebagai AMR Islam. Dasar inilah telah hadirnya AMR bagi muslimin Ketapang dan sekitarnya. Dengan adanya baiat, maka Kiay Haji Morkes Effendy memiliki kewajiban untuk menjalankan syariat Islam. Salah satu tugas seorang AMR adalah menarik Zakat.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ  إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ  وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

 

Artinya: “ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Kalimat “Qhuds” dalam ayat tersebut memaknai bahwa Zakat haruslah ditarik. Tentu yang berhak menariknya adalah AMR dalam Islam. Ayat inilah yang memerintahkan pemimpin Islam untuk memungut Zakat dari para muslimin. Karena Zakat adalah ibadah pokok dalam umat Islam. Zakat merupakan ibadah yang merupakan kembaran dari Sholat. Karena ada sekitar 29 ayat dalam Al Quran yang menyebutkan bahwa perintah melaksanakan sholat kerap berdampingan dengan pelaksanaan Zakat. Dengan ditunaikannya zakat melalui AMR Islam dan dibayarkan dengan ayn, maka rukun Zakat yang sesuai Sunnah Rasulullah Shallalahuallaihi Wassalam telah kembali.

Zakat juga akan dibagikan kepada mustahik dalam bentuuk Dirham perak. Agar para mustahik bisa membelanjakan dan menggunakan Dirham tersebut, maka AMR Islam, termasuk Mangku Negeri Tanjung Pura Darrusalam, mengadakan pasar yang bebas riba, dimana alat tukatnya dibolehkan menggunakan Dinar emas dan Dirham perak sebagai alat bayarnya. Maka, dari situlah rukun Zakat telah tegak kembali.