LIBERTE, EGALITE, FRATERNITE

242

Paris 18 Juni 1799. Kudeta internal terjadi. Paris tengah berkecamuk. Revolusi baru saja berlangsung. Pembunuhan kepada kaum Nasrani membabi buta. Pengikut Gereja dan Monarkhi dihabisi. Louis XVI, Raja Perancis telah digantung di depan Bastille, rumah tahanan kerajaan. Pertanda perlawanan. Vox Rei Vox Dei (suara Gereja Suara Tuhan) telah diganti. Vox Populi Vox Dei. Tak ada lagi teriakan ‘Vive le Roi’ (Hiduplah Raja). Berganti ‘Viva la nation’ (Hiduplah Negara). Nasionalisme dimulai. Itulah awal era modern. Masa state/staat/l’etaat dimulai. Inilah yang diterjemahkan jadi ‘negara’.

Mula state berjalan, Robespierre meletakkan. Dia pemimpin revolusi dari Jacobin. Karena Perancis terbelah. Kaum pendukung revolusi atau penentang. Para sekuler, liberalis, dan anti Gereja di barisan pendukung. Mereka menyerang hegemoni Gereja dan Raja. Monarkhi jadi sasaran. Di La Vendee, kota terpencil di Perancis jadi bukti. Disanalah pembantaian atas nama revolusi terjadi. Kaum agamawan dibantai. Shaykh Abdalqadir as sufi dalam “Tecnique Coup de Banque menjabarkan. Masyarakat La Vendee melawan pengikut republik. Tanggal 18 November 1793, 90 pastur yang menolak bersumpah setia pada konstitusi sipil, di bawa ke sebuah tongkang bernama La Glorie, lalu di sorong ke sungai, disegel palkanya, dan di tengah malam buta para penjaga menenggalamkannya.
Pada 20 Desember 1793, 58 Pastur dari Angers menemui nasib yang sama. 14 Desember, 150 warga sipil. Pada 22 Desember sebanyak 350. Tanggal 23 Desember sebanyak 800 orang dibunuh. Menjelang Natal, 300 orang dibantai. Distrik demi distrik di Perancis mulai menerapkan pola yang sama. Ini yang disebut baptisme patriotis. Total ada sekitar 12 ribu orang dibantai demi alasan “negara”. La Vendee berubah menjadi kuburan nasional. Slogan “liberte, egalite, fraternite” menjadi semboyan kaum republiken. Itulah alasan berdirinya State tadi. Liberte adalah kebebasan. Tapi bebas dari hukum agama Nasrani. Egalite berarti keadilan. Keadilan yang tak lagi merujuk pada kitab suci. Fraternite, persaudaraan. Persaudaraan antar sesama kaum nasionalis, tapi membunuhi para agamawan dan bangsawan Perancis. Inilah makna slogan yang diagungkan itu.
Robbespierre menjadikan Rosseou sebagai idola. Dialah pencetus ‘le contract sociale’. Dari situlah demokrasi lahir. Menggantikan hegemoni Nasrani, yang telah sejak abad 3 Masehi menguasai belantara Eropa. Filsafat telah menyerang aqidah Nasrani. Tuhan jadi ajang penyelidikan. Manusia, alam sampai esensialis lahir dari cara berpikir ala logos. ‘le contract sociale’ ialah anak kandungnya. Kedaulatan rakyat diatas segalanya. Tuhan tak lagi berhak atas manusia, seperti kata Voltaire. Perancis pun berubah. Agamawan dan bangsawan disingkirkan. Kaum borjuis mengambil alih. Kudeta. Itulah revolusi.

Robespierre terlalu liar. Para borjuis tak menyetujui. Perang membuat merugi. Kudeta kecil terjadi. Tak ada lagi fraternite. Tanggal 18 Juni 1799 kudeta internal terjadi. Saling sikut antara borjuis dan Jacobin. Robispierre disingkirkan. Ini yang disebut kudeta 30 Brumaire VII. Brumaire adalah penanggalan untuk kalender revolusi, menggantikan Masehi. Di tanggal itu para Jacobin yang pro perang, disingkirkan dari Majelis Direktori, yang selama ini mengatur kebijakan Republik Perancis. Kudeta berhasil.

Perancis butuh pemimpin. Tapi yang bisa disetir. Mencuatlah Napoleon Bonaperte. Sebelumnya dia telah berjaya. Berhasil memimpin pasukan Perancis menguasai Mesir. Napoleon pun didaulat. Dia menjadi Kaisar Perancis pertama, pasca revolusi. Tanggal tanggal 18 Mei 1804, Napoleon diberi gelar Kaisar Prancis (L’Empereur des Français) oleh Sénat dan dimahkotai pada tanggal 2 Desember 1804.

Tapi dibalik kejayaan Napoleon, ada tauke dibelakangnya. Dialah Claude-Nicolas Perier (28 Mei 1742 – 6 Februari 1801). Dia bukan agamawan atau bangsawan. Melainkan borjuis dari kota Vizille, dekat Grenoble. Jauh dari Perancis. Tapi Perier bak raja kecil disana. Dia punya perkebunan raksasa. Juragan tanah. Jauh sebelum revolusi, Perier menggalang pertemuan “Chauteau de Vizille”. Sekitar 500 hadir dalam pertemuan. Para agamawan, bangsawan, advokat, notaris, pejabat kotamadya, pengusaha sampai para dokter. Claude mendengungkan akan adanya revolusi Perancis dalam waktu dekat. Isu revolusi mengembus dari Vizille. Penolakan pada Monarkhi menjadi. Perier terinspirasi dari Revolusi Inggris, seabad sebelumnya. Di sana, Monarkhi telah dikebiri. Raja hanya simbol semata. Di bawah kontrol para baron, orang kaya. William of Orange, Raja Inggris, memerintah dengan kendali dari bankir, kaum pengusaha bank. Revolusi Inggris tak berdarah. Tapi berhasil mencampakkan kekuatan Gereja dari Istana Buckingham. Karena bankir mendaulat William of Orange, sosok Protestan. Perang Katolik dan Protestan telah lama menggema. “Edict de Worms” jadi momok bagi Protestan. Dari alas itulah pembantaian 1000 orang Protestan terjadi di Paris, kala peringatan hari Santo Bartolomeous. Karena edict de worms menggelegar di Jerman. Membunuh Protestan dianggap sah, karena telah bid’ah. William of Orange jadi simbol takluknya Gereja di Inggris. Dia dimodali bankir untuk menjadi raja. Lalu berdirilah Bank of England, penerbit uang kertas pengganti emas dan perak sebagai alat tukar. Raja di bawah kendali bankir.

Claude Perier melakukan lawatan ke Inggris. Sekembali ke Vizille dia terinspirasi. “Sungguh enak jika memiliki pemerintahan bebas,” ujarnya. “Chauteau de Vizille” memulai gagasan itu. Perier memberi pengaruh. Terdengar sampai Paris. Gaung revolusi menggema. Perier seorang borjuis kaya. Dia memiliki delapan anak laki-laki dan dua perempuan. Jumlah warisannya saja sekitar 5.800.000 Franc. Kala itu 1 Franc setara dengan 1 Dinarius emas. Bukan kertas. Keluarga Claude beranjak dari monopoli bisnis linen. Ayahnya, Jacques Perier (1702-1782) merintis bisnis linen dari dusun Perier, sekitar 50 km dari selatan Grenoble. Dia pedagang linen dan kanvas yang memasok kota Arles, Avignon, Lyons, Marseilles sampai Paris. Mereka keluarga borjuis mapan di wilayah selatan Perancis.

Mereka pemasok utama katun cetak (toiles peints) dan wallpaper (papiers peints) seluruh Perancis. Malah menjadi importir tunggal di Perancis untuk indiennes, kawat yang diimpor dari India. Pabrik kapasnya, tahun 1774, menjadi produsen kerajaan oleh Raja Louis XVI, yang memperkerjakan 900 buruh. Dia memulai bisnisnya di Grenoble, kota kecil di Perancis. Dari situlah Claude menjelma menjadi sosok penting di Perancis. Tahun 1767, lelaki itu menikai Mare Charlotte Pascal, putri pengusaha Vorion terkenal. Mas kawinnya sebanyak 60.000 livre. Tahun 1764 kerajaan bisnisnya dinamakan “Jacques Perier, Father, Son, Nephew & Company.”

Napoleon diangkat berkat upaya Perier. Pasca revolusi, dia memimpin para borjuis. Claude membawa sekitar 10 sampai 15 bankir asal Swiss untuk bersatu padanya mengangkat Napoleon mengendalikan Perancis.

Tak ada yang gratis. Napoleon memberikan Claude dan para bankir untuk monopoli atas keuangan Perancis. Bank de France didirikan. Bank nasional Perancis. Emmanuel Cretet ditunjuk sebagai Gubernur Bank of France pertama.

Sebelum Bank of France itu, Perier telah mendirikan bank swasta bernama Caisse des Comptes Courants, bersama 20 bankir. Bank ini berkantor di Place des Victories, Paris. Mereka didirikan dengan modal 5 juta Franc, khusus untuk memberi pinjaman berbunga 6 persen kepada nasabah. Kala itu bank ini laris manis karena Perancis dilanda huru hara. Kelompok Perier dan bankirnya bercita-cita untuk mengembangkan bisnis modalnya dan memperluas jangka panjang. Proyeknya tentu menjadi pengatur keuangan pemerintah Perancis. Kaum Jacobin menjadi penghalang utama mereka. Makanya terjadi penyingkiran Jacobin dalam peristiwa 18 Brumaire itu.

Bertahtalah Napoleon, yang diproduksi oleh Perier dan bankirnya. Dari situlah Caisse des Comptes Courants berubah menjadi Bank of France, dengan tambahan modal sekitar 30 juta Franc.

Napoleon diberi pinjaman 12 Juta Franc untuk memodali pemerintahannya. Perier, dibantu oleh pengacara Berryer, merancang undang-undang pinjaman itu. Napoleon jadi Kaisar Perancis, tapi berutang pada Bank de France. Inilah utang nasional. Persis kala William of Orange jadi Raja Inggris, 1680. Diberi utang oleh Bank of England. Itulah negara fiskal. Negara yang berdiri atas utang pada bank.

Dan inilah prototipe negara-negara. Tiga abad berselang, seantero dunia terbentuk state, dalam under control para bankir. Inilah jawaban mengapa kini setiap negara, walau adidaya, memiliki utang nasional. State (negara) bukanlah kemerdekaaan (liberte). Apalagi egalite (keadilan). Tapi sebuah skema bentuk coorporation besar, dengan riba sebagai basis utama. Tentu melawan fitrah. Hanya ada penindasan, atas nama kemanusiaan. Bencana dalam bentuk modernitas. Itu yang mereka klaim sebagai ‘kemajuan’.

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia berkata, ‘There is no such thing as sovereignty.’ The only thing there is is resistance. By what you know in your heart and by what you have learned and followed, you have to know that therefore you have to resist, and what it is that you have to resist.”

Islam adalah jalan kembali. Tapi bukan dengan Islam dalam wajah kini. Yang penuh ragam wajah. Tapi Islam sahihan, yang dijalankan tiga generasi awal. Itulah modul praktek Islam yang terbaik, Amal Ahlul Madinah. Mahdhab jalan akses menuju sana. Tassawuf jadi pengendali utamanya. Syariat dan hakekat yang melekat. Berpadu dalam satu tubuh, Al Quran. Itulah Deen Islam. Disitulah bentuk liberte yang sejati. Egalite yang benar. Dan fraternite yang dijamin. Karena fitrah jadi pondasi utamanya. Bukan kemajuan ala logos semata. Islam telah menunjukkan peradaban yang megah. Tatkala syariat dijalankan dengan tepat. Bukan syariat seperti wajah kini. Syariat yang mengikuti modernisme, Islam modernis. Itu jalan kemunduran. Karena Islam seolah harus direvisi untuk ikuti perkembangan jaman. “Tapi kitalah yang harus kembali ke Islam,” Shaykh Abdalqadir as sufi. Jika Abduh pernah berkata, “Aku melihat ke barat, ada Islam tapi tak ada muslim. Aku melihat ke timur, ada muslim tapi tak ada Islam”, itu hanya pandangan semu.

Karena barat tercipta dengan pondasi ribawi. Anti Tuhan. Modernisme telah membunuh Nasrani. Lalu masuk ke belantara Islam, merubah fiqih dan merubah Islam. Mereka tak mewujudkan Islam. Apalagi tentang egalite. Karena keadilan kedigdayaan, bukan dibangun gedung tinggi, apalagi bangunan megah menjulang. Itu hanya bak Romawi masa pagan. Dengan Colloseum sebagai simbol manusia diadu sampai mati sebagai kesenangan. Gladiator. Tapi Islam menuntun manusia untuk tak saling berlomba. Kehidupan dijalankan bersama-sama. Fraternite antar sesama muslimin, yang beriman pada Allah Subhanahuwataala semata. Sang enemy adalah pengikut iblis laknatullah. Dalam dunia manusia, itulah kaum kuffar. Dalam dunia jin, itulah syaitan. Bagi kuffar ada dua, yang membayar jizya maka dilindungi. Yang melawan diperangi. Dunia aman dari godaan iblis. Disitulah keadilan terjaga. Sementara kini, kala muslim meninggalkan syariat, iblis berjaya. Inilah imperium iblis, dengan banyak pengikut serta. Bankir memulainya. Uang kertas jadi senjata. Karena pujangga Jerman, Goethe mengatakan, uang kertas itu muncul dari bisikan setan. Tentu ini bukan kedaulatan.

Irawan Santoso Shiddiq