Madhhab Jalan Menuju Syariat

214

Panduan bagi muslimin adalah Al Quran. Inilah sang Furqon, artinya pembeda. Antara yang haq dan bathil tak mungkin sama. Kosakata kehidupan hanya ada dua, Islam dan kuffar. Muslimin, kaum yang mengikuti Al Quran dan mengamalkannya. Praktek amal itulah Sunnah, yang dicontohkan Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Al Quran berisi dua wilayah besar, syariat dan hakekat. Syariat terdiri dari ibadah dan muamalah. Ibadah itulah rukun Islam: shahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Muamalah banyak hal lagi, jinayat, muamalat, sultaniyya, siyasah, waris, munakahat, mukasamat, mahkamah dan lainnya. Inilah syariat. Barat menyebutnya: hukum Islam (islamic law). Belanda mengistilahkannya Mohamadun Recht. Snouck Hurgronje mengubahnya menjadi sekelas “adatrecht” (hukum adat). Teorinya: receptie, mendiskriminasi syariat menjadi di bawah “hukum adat”. Itulah tindakan kuffar.

Untuk menjalankan syariat ada fiqih. Inilah kekhususan dari syariat. sholat, puasa, haji, dan lainnya, memiliki fiqih sendiri-sendiri. Ahlinya disebut faqih. Tak ahli dalam soal sholat, jangan bicara fiqih sholat. Tak ahli muamalat, tak layak cakap muamalat. tak paham siyasah, jangan coba-coba bicara tentang itu. Karena setan bisa menjebak tanpa kita tahu.
Pratek segala syariat, telah ada Sunnah. Rasulullah telah mencontohkan semuanya. Karena Islam telah sempurna utuh kala diturunkan. Tak perlu lagi disusun ulang apalagi dianggap ketinggalan jaman. Sunnah itulah yang telah diturunkan temurun. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menurunkannya pada Sahabat. Lalu kepada Tabiin. Dan kepada Tabiit Tabiin. Inilah tiga generasi awal yang dianggap generasi terbaik dalam Islam, seperti digaransi Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Sunnah adalah induk dari pelaksanaan syariat. Ketika syariat tak merujuk Sunnah, dipastikan sesat. Akses menuju Sunnah, ini yang tak mudah. Generasi awalun, lebih mudah menggapainya. Karena mereka mendekati sumber mata air yang jernih. Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hanafi dan Imam Hambali, memiliki model dalam metode mengakses Sunnah. Itulah yang disebut mahdhab, artinya jalan. Asal katanya “da ha ba” (jalan). Jadi, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Hambali, memberi metodologi untuk menggapai Sunnah. Cara manapun yang digunakan, syariat bisa ditegakkan. Itulah mahdhab.

Salah satu bentuk penyampaian Sunnah, dengan Hadist. Maka Hadist berbeda dengan Sunnah. Hadist belum tentu Sunnah. Karena Hadist yang sifatnya tekstual, yang disampaikan, baik lisan maupun dicatatkan. Tapi ada Hadist yang belum tentu ada Sunnah-nya. Ada Sunnah, yang belum tentu ada Hadistnya. Soal Azan misalnya, tak ada Hadist yang meriwayatkan tentang langgamnya. Tapi itulah amal yang turun temurun. Itulah Sunnah. Jadi antara Hadist dan Sunnah tak sama.

Imam Malik, menitikkan pada pendekatan Amal penduduk Madinah sebagai pondasi utama dalam menggapai Sunnah. Amal Madinah itulah tiga generasi awal. Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin. Amal yang dikerjakan penduduk Madinah dulu (bukan yang sekarang), itulah yang layak dipedomani. Kitabnya, Al Muwatta, membimbing untuk meraih akses menuju perilaku amal Madinah. Itulah metodologi untuk menerapkan syariat tadi.

Imam Syafii punya menawarkan metode juga. Hadist yang datang, mesti diseleksi lagi. karena Hadist banyak palsu dan tak jarang datang dari orang pembual. Imam Syafii mendasari Hadist sebagai pondasi menjalankan syariat, dengan catatan datang dari perawi yang sahih. Jika perawi Hadist itu tak layak, maka Hadist yang keluar dari mulutnya, tak bisa digunakan. Karena mengandung unsur-unsur penipuan, pemalsuan atau dikarang-karang.

Imam Hanafi juga punya cara berbeda dalam menyikapi Hadist yang berseliweran. Beliau menitikkan pada pondasi ra’i atau penalaran. Hadist tetap jadi panduan, tapi jikalau dianggap tak masuk akal, Hadist itu tak layak digunakan. Semisal datang Hadist tentang Sholat Ied yang jatuh pada hari Jumat, maka sholat Jumat menjadi tak wajib. Ini Hadist shahih. Perawinya bisa dipercaya. Tapi isi Hadist itu agak tak bisa dilumat mentah-mentah. Karena Sholat Sunnat tak bisa menggugurkan Sholat wajib. Itulah metodologi Imam Hanafi.

Tapi dari manapun mahdhab yang dipilih, maka syariat bisa ditegakkan. Tentang pencurian, pelakunya potong tangan. Mahdhab hanya berkilafiah soal ukuran tangan yang dipotong. Apakah sebatas jari, pergelangan atau sampai pangkal tangan. Tapi syariat tentang potong tangan, tetap dijalani. Dalam muamalat, mahdhab tetap mengenakan dinar dirham sebagai alat tukar. Mahdhab apapun yang dikenakan, itulah Sunnah yang jelas terbilang. Dalam sholat, mahdhab apapun yang digunakan, jumlah rakaat tetap sama, imam sholat tetap ada, dan sholat tetap wajib hukumnya. Hanya soal posisi tangan terjadi furuiyah. Maliki tak bersedekap, yang lainnya bersedekap. Tapi sholat tetap dilakukan.

Nah, kini umat berbenturan dengan sistematika hukum, yang bukan syariat. Sejak abad 18 ke atas, inilah mahdhab ditinggalkan. Anti mahdhab menggema. Mahdhab dianggap sumber perpecahan umat. Mahdhab dianggap sekte. Mahdhab difitnah sebagai bentuk jumud-nya umat. Alhasil gerakan “pembaruan Islam” digencarkan. Di Mesir, “pembaruan Islam” diproduksi. Intinya mahdhab tak lagi dilakoni. Muncul tafsir baru tentang syariat. bahwa Islam harus ikuti perkembangan jaman. Bermahdhab dianggap jumud yang membuat umat kaku dan ketinggalan teknologi maju. Di Saudi, gerakan itu juga diproduksi. Bukan Cuma mahdhab yang dikudeta, tapi amal tentang hakekat dalam tariqah, juga dimusuhi. Mereka bilang dengan mudah: itu bid’ah. Padahal, semenjak munculnya “pembaruan Islam” itulah kemunduran Islam.

Abad pertengahan, kala Islam telah berjalan hampir seribu tahun, disitulah kejayaan memancar. Dua pertiga dunia menjadi muslimin. Tiada Islam tanpa syariat. Dari belantara Andalusia, jazirah, Magribia, Ethiophia, Afrika Utara, Semenanjung Arabia, China, Mongolia, Eropa Timur, Asia Tengah sampai nusantara, Islam menggema. Muslimin berjamaan dalam kesultanan-kesultanan. Kesultanan Utsmaniyah, Kesultanan Moghul, Kesultanan Idrisi di Magribia, sampai 300 entitas kesultanan di nusantara, itulah wujud syariat ditegakkan.
Merebaknya gerakan liberalisme di Eropa, yang mengkudeta Gereja Katolik, dan memunculkan Kristen baru, merebak juga merambah dunia Islam. Mesir itulah pintu masuknya. Di sanalah produksi “pembaruan Islam atau Islam baru” dibuat. Saudi juga sama. Mencuat Islam dengan “versi” baru. Dari situlah muncul muasal “syariat kontemporer” atau fiqih kontemporer. Inilah syariat yang mau mengislamisasi kapitalisme. Fiqih diubah menjadi tak lagi mengikuti mahdhab. Alhasil syariat tak tegak. Modernis, kaum yang membuat “pembaruan Islam” itulah biang yang merusak syariat. Mahdhab dianggap tak lagi tepat. Padahal mahdhab itulah jalan menuju syariat.

Salah satunya soal uang. Para kuffar mengenakan kertas sebagai uang. Padahal itu bagian dari permaiann banking sistem, segelintir Yahudi yang mengendalikan negara-negara seantero dunia. Para pembaru Islam tadi, mencari-cari fiqih, menggesernya, hingga kertas pun layak jadi uang. Inilah bentuk meninggalkan syariat, tentu dengan menampik mahdhab. Criminal law, produksi Napoleon diadopsi jadi Jinayat. Coorporation law karya kaum pemberontak, diislamisasi menjadi muamalat. Demokrasi dianggap sama dengan kesultanan. Dan segala bentuk pembaruan Islam lainnya. Alhasil, syariat jadi hilang, Islam jadi tak terbilang, muslimin dicincang dimana-mana. Kapitalisme berjaya, karena muslimin disuguhi wajib taat pada “syariat” yang telah dipalsukan. Syariat yang sumbernya bukan lagi Al Quran, melainkan constitutio, hasil buatan segelintir orang. Bukan wahyu.

Inilah yang membuat kini tak ada lagi beda muslimin dan kuffar. Hanya berbeda dalam tempat ibadah belaka. Tapi hukumnya sama. Indoktrinasi bahwa muslim harus tunduk pada hukum kuffar, terus digencarkan. Kaum modernis itulah yang mempelopori, yang menganggap Islam harus diperbarui, Sunnah boleh diubah, mahdhab tak layak lagi dipedomani. Inilah yang membuat Islam jadi jumud, ketinggalan jaman dan tersiksa dimana-mana.

Yang diperlukan kini bukan menunggu Imam Mahdi baru kemudian bekerja menegakkan Syariat. Apalagi sibuk mendirikan Negara Islam, yang halusinasi pada bentuk “state”. Melainkan tegaknya syariat kembali. Syariat yang menyatu pada hakekat.

Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, Islam tak ketinggalan jaman. Bukan Islam yang harus diubah, tapi kitalah yang harus berubah mengikuti Islam kembali. Kala kuffar mendirikan bank, muslimin tak memerlukan bank Islam. Apalagi asuransi Islam, pasar modal Islam, sampai property Islam. Bukan itu. Karena yang demikian hanya membuat jauhnya syariat. Kedigdayaan Saudi, Uni Emirat Arab, kehebatan Dubai sampai kekayaan Brunai Darussalam, tak berarti apa-apa pada dunia Islam. Karena itu hanya menjadi bagian dari sistem kuffar. Karena Islam bukan menyaingi kuffar. Tapi menghadirkan yang haq. Karena yang haq dan bathil itu berbeda. Bak bumi dan langit. Tak bisa disamakan.
Allah Subhanahuwataala berfirman, ketika yang haq hadir, maka yang bathil pasti musnah (Al Quran Surat Al Isra). Inilah jaminan kemenangan. Menghadirkan yang haq, itulah tegaknya Syariat. Mahdhab menjadi jalan untuk mengakses syariat. Tanpa mahdhab, syariat tak bisa dijalankan. Terkecuali dengan mengarang-ngarang sendiri. Karena tugas muslim adalah masuk Islam secara kaffah, bukan setengah-setengah apalagi sepertiga apalagi scuil saja. Tapi menyeluruh. Karena ibadah bukan sekedar di masjid belaka. Tapi juga di pasar, di ruang peradilan (bukan gaya rechtstaat), di pernikahan, sampai urusan perdagangan. Ibadah ada dimana-mana, dalam setiap ruang kehidupan. Disitulah mahdhab diperlukan. Faqih-faqih dibutuhkan. Tapi bukan yang kontemporer, yang telah merubah-ubah fiqih dan Sunnah. Barrakallah