Mahdhab, Jalan Tegaknya Syariat

508

Mahdhab bukan sekte. Era sekarang, bicara mahdhab seolah berkisah tentang perpecahan. Padahal mahdhab itulah jalan. Mahdhab berasal dari kata da ha ba, artinya jalan. Jalan menuju penegakan syariat. Mahdhab itulah “hukum acara” dalam syariat. Tanpa mahdhab, maka tiada syariat. Tiada syariat, maka tak ada Islam.

Lihatlah tatkala Islam dijalankan dengan mahdhab. Tengoklah kala Islam di era keemasan, abad pertengahan. Tatkala Deen ini ditegakkan dari Andalusia hingga nusantara. Semuanya menegakkan syariat. Keadilan tercipta. Kala tak ada bank syariat, asurransi syariat, perumahan syariat, dan segala produk bermerek “syariat” yang muncul dari hasil constitutio. Era itulah tatkala Islam tegak dengan syariat, yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Mahdhab adalah jalan untuk mengakses menuju ke sana. Karena mahdhab bukan sekte.

Ulama mahdhab ada empat, yang diakui pernah dieksekusi. Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafii dan Imam Hambali. Metode mereka pernah digunakan dan terbukti syariat bisa dijalankan. Kala abad pertengahan, Andalusia mengenakan mahdhab Syafii dan hambali. Di belantara Utsmaniyah mengenakan jalan Hanafiah. Nusantara dengan mahdhab Syafiiah. Moghul dengan Hanafiah. Syam, Suriah dan belantara jazirah sebagian mengenakan jalan Syafiiah. Tapi tak pernah terkisah ada peperangan antar Kesultanan. Tak ada kisah Utsmani menyerbu nusantara karena perbedaan mahdhab. Tak ada catatan Utsmaniyah meninggalkan muslimin Andalusia karena perbedaan mahdhab. Karena mahdhab adalah jalan menuju syariat. Bukan sekte dalam Islam.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda, tiga generasi terbaik dalam Islam adalah era Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Inilah modul dalam praktek Islam, pasca diletakkan sempurna oleh Rasulullah di Madeena. Tiga generasi inilah yang mengeksekusi Deen ini agar terlaksana terus hingga kini. Inilah yang disebut Umul Mahdhab. Inilah era sumber mata air yang paling murni. Karena yang paling dekat dengan era Rasulullah. Lambat laun, Islam kemudian menyebar lebar seantero dunia. Hingga ke bumi nusantara. Umul Mahdhab berlangsung di era abad 8 hingga 10 Masehi. Rasulullah sendiri jika dihitung hidup di era abad 7 Masehi. Umat Islam kini berada di abad 21. Tentu tak bisa mengakses langsung bagaimana cara hidup Rasulullah di abad 7. Karena tak mungkin ada jalan bagaimana by pass dari abad 21 menuju abad 7. Maka dari itu, untuk menuju ke model praktek Deen hingga ke Rasulullah, adalah dengan mahdhab. Ulama inilah yang menuntun bagaimana praktek Islam dijalankan sejak dulu.

Kini jamak sejumlah orang yang beropini berIslam harus ikut Rasulullah langsung, dengan menafikkan ulama mahdhab. Pertanyaanya, bagaimana caranya umat di era kini mengikuti langsung Rasulullah? Bukankan Rasulullah hidup di abad 7, sementara kita di abad 21? Karena tentu tak ada jalan by pass langsung. Jika yang dimaksud adalah mengikut Al Quran dan Sunnah –yang dituangkan dalam Hadist–, tentu tetap saja itu merujuk model Imam Syafii. Karena beliau yang mengkategorikan penerapan syariat dengan model Hadist. Dan penerapan model Syafii juga tak bisa asal comot Hadist sesuka hati. Karena ilmu Hadist juga sangat detail penggunaannya, hingga bisa diterapkan.

Yang berkembang kini justru bukan mengikut model mahdhab Syafii. Melainkan model mahdhab “konstitusional”. Inilah yang banyak mempengaruhi muslimin era kini. Inilah yang dikenal Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sumber hukum Islam yang berisi kumpulan Hadist sesuka hati, tanpa mempertimbangkan lagi mahdhab. Islam dijadikan seperti fast food. Seperti makanan cepat saji. Jika melihat suatu perkara, tinggal comot-comot Hadist sana sini, tanpa mempertimbangkan bagaimana sanad dan penerapan Hadist tersebut. Metode “konstitusional” inilah yang digunakan lembaga-lembaga bermerek “syariat” untuk melegitimasi perbuatan yang dilakukan. Alhasil bukan syariat yang tegak, melainkan sesuatu yang berlabel “syariat”.

Upaya menampik mahdhab bermula di abad 18. Gerakan yang disebut “pembaruan Islam” yang memeloporinya. Dari sinilah doktrin seolah mahdhab sebagai sumber perpecahan, dimulai. Dari Saudi, gerakan ini menyatu dengan gebrakan politik untuk melawan Daulah Utsmaniyah. Lalu dilanjutkan di Mesir abad 19. Konsep pembaruan Islam ini lebih mengutamakan agar model Ijtihad harus didahulukan. Alhasil ijtihad dianggap hal biasa, dan dilakukan siapa saja. Tiada lagi istilah fuqaha. Taqlid dianggap hal lemah. Tariqah dianggap bid’ah. Syariat menjadi model yang berbeda. Para pembaru inilah yang melabelkan dirinya sebagai modernis. Konsep ini lebih mendudukkan bahwa Islam harus “berdamai” dengan kapitalisme. Seolah umat harus duduk semeja dengan para kapitalis –sesuatu yang tidak pernah terjadi sampai kini–. Kegagalan untuk duduk semeja ini telah terbukti sampai kini. Justru Islam berada pada level nadir terendah. Tak ada lagi jizya, tiada lagi kenal istilah Dhimmi, apalagi Daulah. Modernis ini mendudukkan Islam harus mengikuti perkembangan jaman. Padahal semestinya sebaliknya. Justru kitalah yang harus mengikuti kembali Islam. Sudah hampir 3 abad, konsep “pembaruan Islam” ini tak membawa umat pada jenjang kembalinya kedigdayaan. Konsep ingin duduk semeja dengan kapitalis (kuffar) adalah gagal. Karena yang haq dan bathil tak mungkin disatukan. Dengan model pembaruan Islam, tak ada syariat, tak ada Amr. Apa yang bersumber dari “barat” (kuffar), diotak atik agar bisa diterima Islam. Inilah yang kini melahirkan Bank Syariah, pasar modal syariah, asuransi syariah, dan segala macamnya. Dalam level hukum, posisi syariat justru diletakkan jauh di bawah constitutio. Seolah syariat harus sesuai constitutio. Jika tak sesuai, maka syariat dianggap tak bisa dilaksanakan. Atau minimal diubah. Contoh, pernikahan dan perceraian –yang dalam Islam sangat mudah–, menjadi sulit tatkala harus tunduk pada constitutio. Hukumnya berubah. Tak lagi ikuti mahdhab. Tak berlaku model syafii, maliki atau hanafi. Yang berlaku adalah model Kompilasi Hukum Islam –karangan segelintir orang–, yang tak mengikuti mahdhab. Alhasil syariat harus mengikuti model Civil Law. Padahal syariat adalah lebih mulia ketimbang model Civil Law atau Common Law sekalipun. Inilah yang membuat umat makin terjerambab.

Jalan kembali tiada lain adalah menuju Ummul Mahdhab. Inilah model yang diletakkan Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam dan telah dijalankan secara sempurna oleh Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin. Cara mengakses ke sana tak ada cara lain selain dengan mahdhab. Inilah jalurnya. Bukan melakukan by pass secara langsung. Mahdhab inilah jalan untuk menegakkan syariat. Kala syariat tegak, disitulah Islam bersuara. Selama 3 abad umat meninggalkan mahdhab, justru firqah-firqah bermunculan. Saban hari setiap firqah merasa paling benar dalam soal hukum Islam. Umat menjadi bingung. Maka saatnya kembali ke mahdhab. Syarat utama bermahdhab adalah harus ada AMR. Ini kunci mutlak. Karena AMR -lah yang bisa menjalankan syariat. Kembali ke sultaniyya.