Malapetaka Uang Kertas

709

Era sekarang, seluruh dunia menggunakan uang kertas sebagai alat tukar. Kondisi ini melahirkan oligarkhi ekonomi. Ini ketidakadilan yang nyata.

“Ada baiknya rakyat negara ini (Amerika Serikat) tidak mengerti tentang sistem perbankan dan keuangan kita, karena seandainya mereka mengerti, niscaya saya percaya akan terjadi pemberontakan sebelum esok pagi.” (Henry Ford)

Kisah ini berlangsung tahun 1156 lalu. Dua orang Italia bertransaksi. Seorang lelaki dari Genoa mengirimkan uang Pound sebanyak 115. Pound kala itu berbentuk emas. Uang itu dikirimkan ke Konstantinopel (kini Istanbul), Romawi. Kala itu Konstantinopel merupakan pusat peradaban dunia. Tapi uang yang dititipkan hanya selembar kertas. Bukti tanda bayar semata. Transaksi berhasil. Begitu selembar kertas itu sampai kepada saudaranya, dia mencairkan Pound itu. Sang saudara dari lelaki itu pun pergi ke agen bank di Konstantinopel. Dia mendapatkan 460 Bezantes. Ini koin emas keluaran Romawi. Transaksi inilah yang direkam sebagai transfer pertama era itu.

Tapi, kisaran abad segitu, orang-orang yang menerima jasa penitipan uang telah berkeliaran. Di sebuah sudut pelabuhan Genoa, Italia, abad 10 lalu, mulai bermunculan “Banco”. Mereka berdiri di pinggir pelabuhan dengan sebuah meja. Banco artinya meja dalam bahasa Italia. Era itu, orang-orang masih menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar. Belum ada uang kertas. Tapi para Banco ini menerima jasa penitipan uang. Bagi yang tak ingin repot membawa-bawa uang emas, Banco sebagai tempat penyimpanan dan penitipan. Kemudian Banco mengeluarkan secarik kertas bertuliskan tanda terima penitipan. Kertas itu sejenis kwitansi, bahwa seseorang telah menitipkan sejumlah Emas kepada Banco. Kertas itulah tanda terimanya. Janji bayar (promissory note). Banco itu memungut jasa penitipan emas.

Lambat laun, si penitip emas tadi kemudian bertransaksi dengan orang lain. Untuk mempermudah, dia hanya memberikan kwitansi itu sebagai alat bayar. Ternyata kwitansi tadi diterima oleh orang lain, karena mereka yakin emas itu ada di tangan si Banco. Alhasil kwitansi tadi pun beredar kemana-mana, diterima sebagai alat tukar.

Pihak Banco melihat hal itu. Karena mereka berpikiran bahwa kwintansi yang diterbitkannya, berlaku sebagai alat tukar di masyarakat. Karena dalam kwitansi itu tertuang sebagai janji bayar. Lambat laun, Banco pun menyediakan jasa baru. Mereka menerima peminjaman uang. Bukan sekedar penitipan emas semata. Tapi peminjaman uang yang dijanjikan Banco itu bukan berupa emas nyata. Banco hanya meminjamkan kwitansi (kertas) yang berupa janji bayar itu. Sejak itulah mulai dikenal uang kertas, yang mulanya merupakan janji bayar pihak Banco. Tapi peminjaman uang itu dilakukan dengan bunga. Mulailah dikenal dengan kisah tentang moneter.

Sejatinya, abad 9 lalu, peristiwa moneter kali pertama berlangsung di Kerajaan Inggris, ketika Charlemagne menjadi raja. Kala itu 1 Pound mata uang dibentuk dari 1 Pond perak (sekitar setengah kg). Pound inilah mata uang di Inggris di era itu, sekitar seribu tahun silam. Perak seberat setengah kilo itu dipecah menjadi 240 keping perak. Setiap keping perak itu disebut 1 (satu) penny. Jadi 240 keping penny beratnya setara dengan setengah kilogram.

Namun Charlemagne mengeluarkan titah. Ia memaksa rakyatnya menyerahkan penny yang mereka miliki kepada kerajaan. Lalu kerajaan melebur perak tersebut dalam tanur besar dicampur dengan logam murahan, seperti perunggu. Dari campuran itu, kerajaan kemudian mencetak keping baru yang menyerupai dengan keping penny yang asli. Lalu keping baru itu kembali di edarkan ke masyarakat, tapi nilai kemurniannya telah berkurang. Rasio edarnya ditetapkan 1 banding 1. Sekeping penny asli ditukar dengan 1 keping penny campuran.

Penny baru keluaran Charlemagne itu bergambar dirinya dan sebuah tulisan. Namun lama-kelamaan hal ini ketahuan. Rakyat menyadari penny baru itu kandungannya sudah tak murni lagi. Alhasil di pasar terjadi gejolak. Harga-harga barang dinaikkan, karena penny baru yang beredar berkurang kandungan peraknya. Harga-harga pun menjadi naik tinggi. Semisal pembelian satu ekor kuda mulanya dijual dengan 200 penny, naik menjadi 300 penny.

Itulah catatan pertama tentang penyakit moneter yang terdeteksi sejarah. Proses percampuran perak dengan perunggu itu berlangsung ratusan tahun. Inilah yang dikenal dengan istilah debasement. Bahkan di abad 17, perak seberat setengah kg tidak hanya dipecah menjadi 240 keping penny, tapi menjadi 700 keping penny lebih. Bisa dibayangkan bagaimana proses korupsinya.

Di sisi lain, munculnya bisnis Banco makin merebak. Di abad pertengahan itu, banyak orang yang ingin mendirikan Banco. Abad 17, bisnis Banco ini mulai menjamur di kawasan Eropa. Mulai era itulah Banco pun menjadi ajang bisnis yang bergandengan tangan dengan pihak penguasa. Para pebisnis Banco berusaha berdekatan dengan penguasa, untuk menerbitkan aturan yang menguntungkan mereka. Namun, di era itu perseteruan politik di Eropa sangat berhubungan dengan keagamaan. Kekuasaan Gereja Katolik masih mencakar kuat. Banyak raja-raja Monarkhi di Eropa yang menjadikan Katolik sebagai agama resmi kerajaan. Sementara di satu sisi terjadi peperangan dengan pihak pembaharu, kaum Protestan. Perseteruan inilah yang kemudian memuncak dahsyat, yang menjadikan perang panjang di belantara Eropa, di abad pertengahan lalu itu. Tahun 1555, terjadi sebuah perjanjian di sepakati. Perjanjian itu dikenal Eaus regio, Caius religio. Ini perjanjian kesepakatan damai antara kedua pihak. Belantara Eropa dibelah dua bagian, berlandaskan ideologi yang diikuti. Kaum pengikut Protestan dipersilahkan hijrah ke Eropa bagian Barat. Wilayah kerajaan Belanda, Inggris Raya, Perancis dan lainnya pun banyak menjadi wilayah baru bagi kaum pembaharu itu.

Tapi bagi pihak Gereja Katolik, cara kerja Banco dengan menerbitkan janji bayar itu masih dianggap sebagai kriminal. Karena hal itu merupakan usury (riba). Tak heran, praktek para Banco di abad itu, masih bersifat sembunyi-sembunyi.

Seiring dengan itu, bisnis Banco pun mulai menggeliat seantero Eropa. Banco pun mulai dikenal sebagai lembaga bisnis profesional. Sejak itulah dikenal sebagai bank. “Untuk menciptakan uang kertas, bank hanya perlu mencetak kertas bertuliskan suatu angka misalnya 10 $, lalu meminjamkan uang kertas tersebut dengan memungut bunga. Praktek ini menghasilkan untung yang sangat besar bagi bank sehingga seiapa saja ingin mendirikan bank,” papar Tarek El Diwany, mantan Direktur sebuah Bank di London, Inggris.

Bisnis perbankan makin menggeliat di era abad 20. Terlebih pasca merebaknya Revolusi Perancis di Paris, abad 18 lalu. Inilah peristiwa yang memulai babakan baru dalam sejarah keuangan dunia. Kala itu Raja Perancis, Louis XVI digantung di depan penjara Bastille, Paris. Penggantungan itu sebagai bentuk penghukuman massal yang dilakukan rakyat Perancis. Tapi proses huru-hara itu banyak dibekingi oleh kaum jacobin dan borjuis di Perancis. Kaum borjuis ini kebanyakan para pebisnis bank, yang sebelumnya masih dilarang oleh hukum Gereja Katolik. Pasca tumbangnya kekuasaan Gereja dan Monarkhi Perancis, kaum jacobin dan borjuis inilah yang memegang kendali. Mereka mengendalikan tampuk kekuasaan Perancis. Negeri itu pun berdiri menjadi republik, bukan lagi monarkhi. Para punggawa kerajaan dan bangsawan banyak yang melarikan diri. Hukum Gereja tak lagi diberlakukan. Sejak itulah dikenal dengan konstitusi. Hukum yang dibuat bersama oleh masyarakat.

Dalam konstitusi itu tak lagi disebutkan bahwa bisnis bank sebagai bentuk riba, yang dilarang dalam kitab suci. Sebelumnya, dasar yang menjadi pijakan kaum Kristen melarang usury adalah kitab Perjanjian Lama. Dalam bab Keluaran (22:25) disebutkan, “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatKu, orang yang miskin diantaramu, maka janganlah kamu engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.”

Dalam bab Ulangan (23:20) juga disebut larangan memungut bunga. “Dari orang asing engkau boleh memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga –supaya Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya.”

Hanya saja kemudian aturan pelarangan riba ini mengalami pergeseran. Raja Inggris, Henry VIII, di abad 15, mengeluarkan titah membolehkan pemungutan bunga. Ia mengatur bahwa pemberi pinjaman uang boleh memungut bunga hingga 10 persen dan boleh dihitung sejak awal masa pinjaman. Inilah perjanjian yang kali pertama dipakai sebagai landasan untuk mengatasi larangan riba yang dilarang oleh Gereja Katolik.

Nah, pasca revolusi Perancis, larangan soal bunga ini sudah tak lagi mengikat. Konstitusi, yang disusun oleh masyarakat walau dalam bentuk perwakilan, tak lagi memuat aturan haram itu. Para pebisnis banco pun bergandengan tangan dengan penguasa negara. Mereka menerbitkan janji bayar itu sebagai uang. Kemudian negara mewajibkan setiap warga untuk menggunakannya. Inilah yang disebut sebagai the law legal tender. Kekuatan undang-undang yang memaksa janji bayar itu digunakan sebagai uang. Sejak itulah riba dan bank mulai bergandengan tangan dengan mesra.

Mulai era abad 20, bank pun menjadi penopang utama perekonomian seantero dunia. Bank menjelma menjadi monopoli pengadaan alat tukar sedunia. Uang kertas pun menjadi alat bayar yang sah, tak lagi menjadi “janji bayar”. Emas dan perak tak lagi dianggap sebagai alat tukar.

Menariknya, metamorfosis yang uang kertas produksi bank ini juga penuh dinamika. Di tahun 1922, Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), menerbitkan uang kertas 10 Dollar. Dalam uang itu, di bagian bawah bergambar mantan Presiden AS, Abraham Lincoln. Di bagian atas sudut kiri uang itu, tertulis “gold” (emas). Sementara di bagian sudut kanan atasnya, tulisan “coin” dipampang. Tapi yang kontras justru di bagian bawahnya. Persis di bawah gambar. Yang tertulis lebar dan besar adalah “Ten Dollars In Gold Coin”. Inilah yang kertas Amerika kala dulu.

Nah, tahun 1934, The Fed kemudian mengeluarkan uang baru. Pecahan 20 Dollar. Tapi dalam uang kertas ini, tidak ada lagi tulisan “In Gold Coin” seperti sebelumnya. Cukup bertuliskan “Twenty Dollars” saja. Sejak itulah uang kertas, yang mulanya merupakan kwitansi janji bayar, tak lagi berbasis pada emas. Kwitansi para Banco pun telah berubah. Telah menjadi uang sah, tanpa ada lagi yang menitipkan emasnya. Janji bayar itulah yang kini menebar kemana-mana.

Lalu kemana larinya emas dan perak? Dulunya masyarakat yang memiliki emas dan perak mulai berlomba menukarkannya. Karena legal tender tak mensahkannya sebagai alat tukar. Emas dan perak pun ditukarkan menjadi kertas keluaran bank. Tapi, bank kini tak menjadi seperti banco. Tak lagi ada yang bisa menukarkan uang pecahan seratur ribu rupiah untuk dikembalikan dengan sebongkah emas. Karena bank telah menghapuskan jasa penitipan itu. Legal tender mensahkan mereka sebagai kaum satu-satunya yang boleh mencetak dan memproduksi uang. Nilai dari uang kertas itu pun diatur sedemikian rupa. Tak heran, rupiah pun keteteran masuk dalam 5 mata uang terburuk sedunia. Kertas rupiah jauh tak berharga dibanding Dollar Singapura, Ringgit Malaysia dan Dollar Amerika. Karena dengan 5000 Dollar Amerika, yang berupa kertas saja, seorang warga Amerika bisa membeli banyak barang di Indonesia. Tapi dengan 5000 rupiah, seorang Indonesia menjadi kelaparan kala berada di New York sana. Padahal antara 5000 Dollar AS dan 5000 rupiah, sama-sama terbuat dari kertas, tapi berbeda merek. Disinilah ketidakadilan itu bersuara.

Padahal, jikalau dengan emas dan perak sebagai alat tukar, perbedaan curency tak akan terjadi. Emas di Indonesia akan sama nilainya dengan harga emas di Washington sana.