Masa Kritis Nation State

157

oleh: Ir. Zaim Saidi, MPA

Peradaban, sebagaimana ditunjukkan oleh Ibn Khaldun dalam Muqadimah, tak ubahnya seperti organisme yang memiliki masa hidup. Sebuah peradaban lahir, tumbuh dan berkembang, lantas menjadi dewasa, dan pada suatu titik, mengalamai kemunduran. Secara alamiah otoritas pemerintahan pun, dari generasi ke generasi, akan kehilangan keterikatan ashabiyah-nya serta akibat dari kehidupan bermewah-mewah mengalami kemunduran dan pembusukan. Dan, secara alamiah pula, ketika sebuah peradaban telah membusuk dan mati, peradaban yang lain akan lahir dan berangsur menggantikan peradaban lama tersebut.

Mengikuti pola siklus kehidupan peradaban sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Khaldun ini, dapat dijelaskan, saat ini kita hidup dalam masa akhir dari peradaban yang telah berlangsung selama sekitar dua abad, dan awal dari sebuah peradaban baru.
Era Republik memasuki masa akhirnya, Era Pangeran (kembali) memasuki masa awalnya.
Kita bisa mengenalinya dari berbagai peristiwa di depan mata kita, yang tak lain adalah runtuhnya dua fondasi sistem negara fiskal, yaitu sistem finansial (kapitalisme riba) dan sistem politik yang mendukungnya (demokrasi).

Asal-muasal sistem negara bangsa, yang dibangun atas dasar rasionalitas humanisme, dan perwujudan nyatanya sebagai sebuah sistem yang menindas. Konstitusi yang telah menggantikan Wahyu Ilahi sebagai sumber inspirasi kekuasaan hanyalah menghasilkan penghisapan manusia atas manusia yang lain. Selama dua abad sistem ini tumbuh dan berkembang hanyalah menghasilkan keburukan demi keburukan dalam kehidupan manusia.  (lihat analisis rincinya di buku Di Ambang Runtuhnya Demokrasi, Pustaka Adina).
Adab dan moralitas semakin menghilang. Standar baik dan buruk, benar dan salah, terjungkirbalikkan. Manusia-manusia dari lapis terbawah muncul sebagai para pemimpin. Penindasan menggantikan Keadilan. Keculasan menggantikan Kesatrian. Korupsi merebak. Perzinahan menjadi biasa. Riba merajalela.
Di sisi yang lain, juga telah diperlihatkan, bahwa sistem negara fiskal yang ditopang oleh sistem finansial berbasis riba, sangatlah rapuh. Keruntuhannya adalah sebuah keniscayaan, yang saat ini telah memperlihatkan tahap akhir pembusukannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Shaykh Abdalqadir di atas sistem ini tengah sampai pada “akhir sejarah”. Utang negara tak terbayarkan. Pajak menggila dan sangat zalim. Tapi dianggap biasa.
Pengkhianatan atas keadilan takaran dan timbangan, yang secara lebih mendasar dinyatakan dalam pengkhianatan atas nilai hakiki kekayaan dan sumber daya alam, lewat pengubahan alat tukar dari yang berbasis komoditas, menjadi uang fiat dan bit komputer, telah menjadi bumerang bagi keruntuhannya sendiri. Nothing will come to nothing.
Karena itu, umat Islam khususnya harus berisp diri. Mulai kembali berjamaah. Angkat para amir dan sultan untuk memimpin. Secara bertahap tegakkan syariat. Mulai dengan menerapkan muamalah yang telah lama mati.