MELAWAN TIRANI JAMAN KINI

352

Tirani, ini sebuah kata yang menunjukkan era yang kejam. Diktator, menindas dan sejenisnya. Tirani dianggap musuh umat manusia. Tirani dari kata ‘tyranos’, bahasa Yunani. Dalam abad pertengahan, masa rennaisance, kata ini kembali populer. Diartikan sebagai penguasa absolut yang kejam, memerintah tanpa hukum yang pasti. Magna Charta, abad 13, sebuah bentuk perlawanan atas tirani Raja John, Inggris. Tatkala terjadi kesepakatan, bentuk tertulis hukum, tirani dianggap berhenti.

Tapi tirani untuk menggambarkan bagaimana manusia saling menindas. Ada superior dan imperior. Ada pihak yang menindas, dan ada golongan yang tertindas. Inilah gambaran tirani. Sebuah sistem yang dianggap tak fitrah. Dalam bahasa lain, fitrah ialah hukum alam (natural law). Karena parameter sebuah penindasan, tatkala melawan hukum alam.
Tirani hadir dalam setiap jaman. Muncul dalam setiap peradaban. Abad pertengahan, masa aufklarung, tatkala Eropa tengah euforia dengan ajaran baru dalam dunia kekristenan, disitulah kata ‘tiran’ muncul kembali. Ini dikumandangkan kaum Huguenots, pengikut Protestan di Kerajaan Perancis. Mereka menyeruakkan perlawanan pada tirani Raja Perancis, yang membasmi Huguenots. Ini semenjak terjadi konflik dalam tubuh kekristenan Eropa. Pasca Editc of Worm di Jerman, Gereja mengumumkan pengikut Protestan adalah bid’ah, dan layak dibunuh. Para pengikut Protestan dikejar kaum Gereja dan Raja Monarkhi di belantara Eropa. Kala itu mereka tergabung dalam Imperium Romanum Socrum (kekaisaran Romawi Suci). Mencuatnya ajaran Luther di Jerman, memberi perubahan besar pada masa kegelapan di Eropa.

Puncaknya terjadi perlawanan atas Editc of Worm itu. Pengikut Luther melawan. Tapi kekuasaan masih berada pada Gereja. Klimaksnya terjadi dalam tragedy peringatan Santo Bartolomeous di Paris, Perancis, sekitar 1000 lebih pengikut Huguenots diracun. Mati. Mereka mulanya diundang ke istana Kerajaan Perancis, oleh sang Raja Louis. Tapi di tengah pesta, para Huguenots diracun. Itulah pembunuhan yang dianggap terkejam. Pembantaian di depan istana Raja.

Itulah tragedi berdarah dalam abad pertengahan. Perlawanan makin menjadi. Gereja dianggap tirani. Muncul selebaran artikel “Vindiciae Contra Tyrannos”, yang terbit di Basel, 1579. Ini menyangkut kritik atas Raja dan Gereja kala itu. Perlawana pada ‘tyrannos’ menggema. Salah seorang selamat dari hari pembantaian itu ialah Duplessis Mornay. Dia seorang aristokrat. Mornay dianggap salah seorang penulis kitab “Vindiciae Contra Tyrannos” itu. Mornay menggambarkan bagaimana tirani pada masa ‘vox Rei vox Dei’ (Suara Gereja suara Tuhan) itu.

Tragedi Santo Bartolomeous melahirkan perlawanan tangguh kaum Huguenots. Puncaknya perang antar kaum Eropa tak terelak. Eropa spring berlangsung. Perjanjian Wesphalia menjadi titik awal kemenangan kaum Protestan. Sejak itulah ide tentang “state” muncul. Bentuk baru dari model kehidupan bersama. Karena sebelumnya “state” atau “negara” tak dikenal. Hanya ada kerajaan. Ide “state” awal dilontarkan Machiavelli. Dalam Il Principe dia mencuatkan “Lo Stato”. Inilah aliran politik yang mencuat di abad pertengahan. Sementara Mornay merupakan pengikut Monarchomache. Kedua aliran ini berbeda arah. Dari Mornay kemudian diikuti John Locke. Dalam kitabnya, dia masih berbicara tentang kekuasaan yang fitrah. Sementara aliran politik, pemikiran Machiavelli diteruskan Jean Bodin. Beliau mengeluarkan kitab, “Res Publica”. Republik. Bagaimana kekuasaan berlangsung sebagai urusan umum. Ini mengacu pada model Republik ala Romawi, yang berlangsung sesuai fitrah. Masa tatkala Romawi di era Brutus sampai menjelang Julius Caesar. Itulah masa republik yang merujuk hukum alam. Cicero membangkitkannya lagi, menjelang kejatuhan Republik Romawi, dalam “De Republika”. Ide inilah yang diteruskan Thomas Hobbes, dalam “leviathan” sebagai bentuk kedaulatan yang sesungguhnya. Dari Bodin kita mengenal bagaimana soverignity (kedaulatan) bisa berasal. Tirani jika kedaulatan itu dianggap semata-mata perwakilan Tuhan dibumi, lantas Raja bertindak sesukanya. Itulah tirani yang digambarkan Bodin. Karena masa itu Raja dianggap wakil Tuhan. Sementara dalam perlakuan, raja berlaku tak adil. “The king can do no wrong” menggema. Inilah tirani yang dilawan kaum Huguenot kala itu. Mereka menolak dominasi raja. Karena kaum bangsawan dan agamawan duduk di strata atas. Terjadi hierarki yang tirani.

Tapi setelah Jean Rosseou semuanya berubah. Rosseou mengambil cara berpikir Bodin dan Hobbes, tapi membalik soal kedaulatan. Dia menggunakan filsafat, meneruskan Rene Descartes sampai Immanuel Kant. Rosseou mengatakan kedaulatan berada di tangan rakyat. Bukan Tuhan. Makanya lahir “le contract sociale”. Kekuasaan utama berada pada manusia, bukan Tuhan. Manusia berhak mengatur sendiri kehidupannya. Itulah konsep konstitusi, sesuatu yang tak dikenal dalam Romawi, apalagi Islam. Hanya kaum jahal alias bodoh yang menganggap piagam Madinah era Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam sama dengan konsep konstitusi ala Rosseou. Jelas berbeda. Karena ‘le contract sociale berarti kontrak dan kedaulatan ada ditangan rakyat. Inilah dalih untuk membuat aturan sendiri, mengikuti Magna Charta.

Puncaknya terjadi pada Revolusi Perancis, 1789. Kudeta terjadi. Kaum Gereja disingkirkan. Raja Louis XVI digantung. Tak ada lagi kekuasaan tirani. Liberte, egalite, fraternite menggema. Liberter, berarti merdeka dari kaum tradisionalis. Egalite, persamaan dalam hukum yang berlandas kesepakatan bersama. Fraternite, ini persaudaraan sesama penganut Protestan. Artinya kudeta pada kedautalan sebelumnya. Dari sinilah memunculkan bentuk masyarakat baru. Inilah yang disebut era modern. Era masyarakat yang tak lagi mengenal agama sebagai bentuk rujukan kehidupan. Konstitusi menggantikan kitab suci. Tak ada lagi raja. Tapi pemerintahan dijalankan bersama, dengan konsep demokrasi. Siapa paling banyak dipilih, itu yang berhak. Muncullah bentuk baru itu, “negara” alias “state”. Konstitusi melahirkan hukum positif. Dari asal kata positivisme.

Masyarakat positivisme, yang digambarkan Auguste Comte, sebagai kaum yang percaya aturan dari “state” atau negara. Hukum positif melawan hukum fitrah atau hukum alam.
Tapi dibalik munculnya makhluk baru, “negara” tadi, diboncengi para bankir yang berada sebagai sponsor. Merekalah donatur Revolusi Inggris, 1680, yang mengangkat Raja William of Orange. Lalu mendanai revolusi Perancis, 1789, dan mengangkat Napoleon sebagai Kaisar Perancis. Keduanya dengan pola sama, dijadikan pemimpin lalu diberi modal dengan catatan harus dikembalikan dalam bentuk utang. Itulah yang disebut utang nasional. Inilah cikal bakal mengapa kini seluruh dunia, setiap negara, memiliki utang nasional. Utang pada satu pihak yang sama: para bankir. Mereka berada dibalik yang namanya: negara atau state. Metode inilah yang meruntuhkan Monarkhi dan Daulah Utsmaniyah di belantara Islam. Modernitas. Karena fiscal state terbentuk setelah adanya modernitas, yang dimulai perubahan cara berpikir. Mindset.

Modernitas inilah racun yang kemudian merusak umat manusia kini. Karena menjadi doktrin yang mematikan. Manusia dicekoki cara berpikir seragam, dan wajib mengunyahnya. Alhasil kebenaran sejati hilang. Fitrah hilang. Inilah bentuk tirani baru. Tirani jaman kini. Inilah yang dikumandangkan Harold Laski, aktivis Partai Buruh di Inggris, tentang re-evaluasi terhadap bentuk negara atau state. Laski menggunakan kosakata abad pertengahan itu: “Vindiciae Contra Tyrannos”. Perlawanan terhadap tirani. Kini tirani berada pada modernitas yang dijalankan oleh state alias negara.

Modernitas dibentuk dari cara berpikir, masa kegelapan, era rennaisance. Dimulai dari Thomas Aquinas yang menjiplak Ibnu Rusyd dalam menggambarkan Ketuhanan Kristen. Aquinas mengutip Rusyd yang menggambarkan filsafat bisa diterima dalam Islam. Teori aquinas dijalankan liar oleh Grotius. Lalu muncullah Francis Bacon, yang merubah total cara berpikir. Dia memunculkan teori induktif, “Saya berpikir maka saya ada”. Alhasil terbentuk “Tuhan hanya ada dalam pikiran manusia belaka”. Tuhan dianggap bukan penyebab utama, pengatur kehidupan. Akrobat berpikir dilanjutkan Rene Descartes. Dia melahirkan teori deduktif” “saya ada maka saya berpikir”. Manusia dianggap sentral kehidupan. Bukan kedaulatan Tuhan. Adanya manusia, itulah yang menyebabkan seluruh alam ini ada. Ditambah teori empirisme ala Immanuel Kant. Inilah pondasi modernitas dan hukum positif, yang melawan hukum alam atau fitrah.

Mindset inilah yang melahirkan dua anak kandung, dalam sains memunculkan saind modern. Dalam hukum, itulah hukum positif. Dalam politik, itulah kedaulatan pada manusia, ‘le contract sociale’. Ini semua melawan fitrah. Dan mereka menggunakan atribut ‘republik’, bahwa seolah-olah inilah bentuk pemerintahan ‘res publica’. Padahal bukan sama sekali. Karena tirani itu berada pada modernitas dan, seperti kata Laski, harus dibentuk reevaluasi pada ‘state’. Inilah perlawanan pada tirani kini.

Dalam sudut pandang finansial, inilah yang disebut fiscal state. Islam menyebutnya sebagai sistem yang berbasis ribawi. Sistem riba. Tentu hukumnya ialah haram. Tak bisa dihalalkan, walau dibalut dengan undang-undang atau fatwa seribu ulama. Riba tetaplah haram.

Modernitas itulah yang diikuti sebagian muslimin, melahirkan gerakan islam modernis dan para salafis. Yang berIslam berlandas logika alias mengikuti pola tekstualis semata. Kebenaran diukur pada tektualis. Para modernis, berambisi untuk mengikuti segala bentuk modernitas dan membungkusnya dalam Islam. Inilah yang melahirkan konstitusi Islam, negara Islam, bank islam, asuransi Islam, presiden Islam, sampai gubernur Islam. Seolah Islam berlaku rahmatan lil alamin, yang bisa dicangkokkan dengan model kuffar. Inilah kejumudan dalam Islam, yang membuat Islam tak maju. Karena sejatinya modernitas itulah tirani. Tiada mungkin sebuah tirani membuat Islam menang. Justru Islam itulah jalan kebebasan. Kunci kaum tiadanya tirani, DR. Ian Dallas menyebutnya, adanya kemerdekaan dan keamanan (fraternity dan security). Inilah yang dijamin dalam Islam. Modernitas tak memiliki itu. Kaum jamak diberi kebebasan, hanya seksualitas. Tapi dijerat dalam segala bentuk keamanan dan kebebasan lainnya direnggut. Termasuk jerat dalam kebebasan bertransaksi, yang wajib menggunakan uang kertas produk bankir. Inilah tirani.

Karenanya, pola kembali pada Islam, bukan sekedar kembali pada alat tukar. Tapi perlawanan pada tirani, yang dimulai pada monopoli alat tukar, yang membuat bankir mengontrol segala negara. Tirani tak bisa dilawan dengan tirani. Monopoli bankir tak bisa dilawan dengan monopoli atau sentralisasi dinar dirham. Bukan demikian. Tapi kebebasan memilih alat tukar dalam transaksi. Pasar yang bebas, dan kemerdekaan pada pemikiran. Merdeka berpikir hanya berlangsung tatkala manusia berorientasi kembali pada Allah Subhanahuwataala. Tatkala sadar kehidupan dunia hanya sementara, dan tunduk lagi pada syariat. Tiada lagi constitutio, apalagi republik palsu ala modernitas.

Kembali pada Islam, sebagai bentuk kemerdekaan, dimulai dari pembentukan mindset. Inilah wilayah ilmu. Asal kata ilmu ialah ‘a la ma’, artinya tanda. Jadi berilmu, yang bisa membaca tanda-tanda. Bukan yang mampu membebek pada doktrin modernitas. Mampu membaca tanda-tanda akan kebesaran Allah Subhanahuwataala. Inilah ajang ilmu, yang diikuti pada amal dan AMR (pemimpin). Modernitas mendominasi cara berpikir, yang membuat tirani berlangsung. Itulah jerat sistem ribawi, yang tak bisa sekedar diganti dengan menukar alat tukar. Apalagi dengan hanya menyodorkan muamalat. Tak cukup berhenti disitu. Melainkan dimulai dengan kebebasan berpikir, yang dibimbing dalam tassawuf, sebagai atribut pelaksanaan hakekat, separuh dari Islam. Inilah Vindiciae Contra Tyrannos era kini. Perlawanan para tirani.

Dengan futtuwa, semua akan mudah memulainya. Sebuah hal yang pernah ada dalam Romawi juga: virtue. Inilah The Entire City, sebuah kota yang sempurna.

SHARE
Previous articleFUTTUWA
Next articleJumud-nya Demokrasi Islam