MEMAHAMI BID’AH DENGAN BENAR

59

Ini dialektika penting bagi muslimin hari ini. Bid’ah jadi dalih. Bid’ah dianggap tanpa dalil. Sementara dalil itu bukan sekedar Hadist. Dalil yang dimaksud adalah sumber hukum, asal hukum. Sementara sumber hukum dalam Islam, berlaku hierarki. Mulai dari Al Quran, As Sunnah, Ijma’, Ijtihad, qiyas, marshalih al murshalah sampai urf. Inilah dalil. Sementara Hadist itu hanya salah satu metode untuk memahami Sunnah. Karena Hadist berbeda dengan Sunnah. Hadist ialah yang tektualis. Sementara penyampaian Sunnah tak melulu dengan Hadist. Ada Sunnah yang disampaikan dengan amal, atau perbuatan penduduk Madinah. Ini yang disebut tiga generasi awal. Mereka para salafush salih. Mereka tiga generasi terbaik dalam Islam. Itulah yang disebut salafi. Jadi yang disebut Salafi, bukan kelompok atau sebuah aliran tertentu. Melainkan sebutan untuk tiga generasi awal masa Islam. Itulah generasi Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Merekalah modul dalam penerapan Deen Islam. Karena Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menggaransi generasi tiga itu sebagai generasi terbaik dalam Islam. Maka, untuk menemukan bagaimana wujud Islam yang sahih, mestilah merujuk ke sana. Bukan dengan sebutan Islam tradisionalis, Islam liberal, Islam modernis, atau Islam ini dan Islam itu. Apalagi Islam konstitusional. Terlebih lagi Islam nusantara, itu jelas tiada.

Karena dalam Islam, ada panduan. Al Quran dan Sunnah, ini dalil paling pokok. Untuk mengakses Sunnah, tentu dengan mahdhab. Mahdhab itu metode dalam penerapan hukum. Ada melalui Hadist, untuk menggapai Sunnah. Metode Syafii, Hambali dan Hanafi, serta Maliki. Imam Malik menekankan bahwa Hadist harus bersesuaian dengan amal penduduk Madinah. Jika tak sesuai, Hadist bisa ditolak atau tak digunakan. Karena amal itu menunjukkan cerminan bagaimana Sunnah dilaksanakan. Sementara Imam Syafiin menekankan akses Sunnah melalui Hadist yang sahih. Jika ada hadist yang sahih, itulah yang layak diikuti. Sementara model Hanafi mengenakan model ra’yi dalam memberlakukan Hadist. Jadi tak semua Hadist dianggap wajib diikuti. Sementara model Hambali cenderung tektualis dan mengkodifikasi semua Hadist. Tapi sekali lagi, Hadist berbeda dengan Sunnah. Hadist hanya metode untuk mengakses Sunnah.

Tapi yang disebut dalil itulah sumber hukum. Dalil bukan sekedar Hadist yang tektualis. Karena cara berpikir itu mengikuti metode hukum positif alias rechtstaat alias negara hukum. Islam bukan semata-mata bersifat tektualis, bak hukum positif. Karena Al Quran, pada dasarnya bersifat tak tertulis alias ghaib. Yang tertulis itu disebut Mushaf. Al Quran ialah kalam. Jadi dasarnya tak tertulis. Berbeda dengan konstitusi yang serba harus tertulis.

Kaum kuffar menjadikan constitutio sebagai pondasi hukum, dasar hukum, atau dalil, secara tertulis, karena terjebak oleh cara berpikir yang wajib bisa diserap inderawi. Itulah yang dipengaruhi oleh filsafat atau logika. Ini model cara berpikir Platonis atau Socrates. Logika jadi sandaran utama untuk mencari yang disebut ‘kebenaran’. Logika alias rasio dianggap mutlak sebagai sarana kebenaran. Pada jamannya, Socrates menggunakan logika alias rasio untuk melemahkan kepercayaan kaum Yunani yang menyembah fantasi dewa dewi. Hal itulah yang membuat dirinya diadili dan berakhir dalam tenggakan racun mematikan.

Plato dan Aristoteles, para muridnya melanjutkan. Lalu rasio atau cara berpikir itu diambil para kaum eropa abad pertengahan. mereka mengembangkan filsafat menjadi liar dan kembali mendefenisikan tentang kebenaran Tuhan. Aquinas yang memulai. Dia menjiplak cara berfilsafat Ibnu Rusyd dari Cordoba dan dibawanya ke Italia. Aquinas mulai mendefenisikan perbedaan antara ratio Tuhan dan ratio manusia dalam dunia Nasrani. Masa itu filsafat merebak dalam dunia Islam, yang dikembangkan Al Farabi, Ibnu Sina sampai Ibnu Rusyd. Tapi filsafat yang digunakan tak sampai dalam mendefenisikan ulang tentang Tuhan. Filosof muslim tak keluar dari syariat. Karena syariat membentengi. Sementara sebaliknya dalam dunia eropa. Mereka menggunakan logika hingga keluar dari Nasrani. Mereka mendefenisikan ulang tentang Tuhan, manusia, asal usul bumi sampai tentang setan yang dianggap tak rasional. Alhasil cara berpikir itu yang menghasilan essensialisme. Meninggalkan eksistensialisme. Cara berpikir itu yang dimulai dikembalikan Francis Bacon, dengan metode induktif. “Saya berpikir maka saya ada”. Alhasil teori tentang Tuhan, berubah menjadi “Saya berpikir maka Tuhan ada.” Mereka menganggap Tuhan hanya ada dipikiran manusia belaka. Kehadiran Tuhan mulai di eliminasi. Oleh karenanya, segala perintah dari kitab suci, mulai di eliminasi. Manusia mulai berhak menyusun sendiri aturan tentang kehidupan. Termasuk tentang undang-undang.

Lalu cara berpikir itu dikembangkan lagi Rene Descartes, dengan teori induktif. “Saya ada maka saya berpikir”. Manusia dianggap sebagai sentral kehidupan. Tuhan ada setelah manusia ada. Inilah yang mendudukkan kebenaran dari Wahyu makin dieliminasi. Alhasil melahirkan defenisi tersendiri tentang segala kehidupan, dimana manusia berhak mengatur sendiri segala sesuatunya. Makin diperparah dengan cara berpikir Immanuel Kant yang meletakkan metode empirisme. Teori kausalitas, menggantikan teori tentang sebab akibat tentang takdir. Manusia bisa mendefenisikan ulang segala sesuatu tentang yang dianggap Kebenaran Wahyu. Cara berpikir inilah yang kemudian memporak-porandakan dunia Nasrani. Puncaknya kekuasaan Gereja terambil alih. Suara Gereja Suara Tuhan (Vox Rei Vox Dei) dikudeta menjadi Suara Rakyat suara Tuhan (Vox populi vox Dei) yang dianggap lebih adil. Konstitusi menggantikan kitab suci. Segala aturan manusia kemudian dibuat, atas nama undang-undang, itulah yang dianggap ukuran kebenaran.

Puncaknya Revolusi Perancis, 1780, dimana kekuasaan Raja dan Gereja resmi di singkirkan. Resmilah rezim filsafat atau logika berkembang dan menjadi sistem. Disitulah para bankir berkuasa mengambil alih. Uang kertas jadi rezim awal bagaimana menaklukkan Raja dan Kaisar Perancis, dalam kendali bankir. Itulah alat bagi bankir untuk mengontrol demokrasi, republik sampai konstitusi. Mereka berada di balik layar, semua sistem yang berbasis esensialis. Alhasil hingga kini sistem itu merenggut kaum muslimin juga, yang terperangah pada modernisme. Pondasi segala pemikiran dan dasar hukum berlandaskan tertulis, atau yang bisa diserap inderawi.

Hal inilah yang mempengaruhi umat beragama di era modernisme. Semuanya serba tektualis, yang dianggap sebagai pondasi kebenaran. Termasuk sekelompok kaum dalam memahami Islam. Itulah yang mendorong bahwa segala sesuatunya harus ada dalil –yang hanya berlandas pada Hadist semata–. Alhasil Islam dianggap sebagai agama dalil. Sementara pengertian dalil dipersempit semata pada Hadist. Padahal Islam bak filter. Sesuatu yang baik, tetap boleh dalam Islam. Itu bisa dikategorikan sebagai urf alias adat istiadat. Sama halnya tatkala kaum di nusantara makan nasi. Sementara Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam tak makan nasi sebagai makanan pokok. Nasi tentu tak ada Hadist-nya. Tapi tetap sahih. Karena makan nasi dalilnya adalah urf. Jadi yang dimaksud Dalil bukan semata Hadist yang tektualis.

Makanya dalam memahami Deen Islam tak bisa pula mengikuti pola modernis. Karena para modernis, ialah kaum yang sepenuhnya menggunakan logika alias rasio dalam melihat segala sesuatunya. Rasio dianggap satu-satunya pondasi kebenaran. Dan hal itulah Bid’ah yang nyata. Karena jelas sekali khurafat-nya. Tentu rasio berbeda dengan akal.
Jadi makna Bid’ah bukan semata-mata yang tiada Hadistnya. Bukan terpatok pada tak ada hadist tertulis-nya. Tapi merupakan sumber hukum yang berasal dari banyak segi.
Sementara banyak hal yang tiada Hadistnya, sudah jelas bukan Islam sumbernya, justru jamak diyakini sebagai bagian dari cara Islam. Demokrasi, konstitusi, sampai uang kertas, jamak di islamisasi. Padahal itulah yang jelas tiada dalilnya. Itulah yang bisa senyata-nyata disebut bid’ah. Karena bid’ah bukan sekedar urusan musik, jenggot, celana cingkrang apalagi nyanyian. Melainkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Uang kertas ialah bid’ah terbesar untuk memulai sistem kini. Dan cara berpikir ala filsafat alias rasio, itulah yang jelas bid’ah dholala.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.”