Memahami Fitrah Dan Rububiyah Dalam Kehidupan

435

Fitrah, kata ini mendadak menjadi membahana. Inilah kata untuk melawan hal yang diluar kebiasaan. Karena isu LGBT tengah berebak. Laki-laki menyukai lelaki, wanita menyukai wanita. Ini penyimpangan massal. Satu-satunya alat ukur hanya satu, untuk menyatakan hal itu adalah kesalahan: itulah fitrah. Karena lelaki menyukai wanita, itu fitrah. Bukan lelaki bercinta dengan lelaki.

Fitrah adalah bahasa universal. Bahasa umat manusia, dari manapun dia berasal. Beragam ras manusia diciptakan, tapi fitrah menjadi bahasa yang sama. Karena fitrah adalah aturan yang datang dari langit. Ini ketentuan dari Tuhan. Bukan ketentuan dari undang-undang. Fitrah inilah tolok ukur kehidupan manusia, agar berjalan nyaman.

Fitrah inilah jalur kebenaran. Bagi yang melanggar, itu penyimpangan. Dan ini adalah kesepakatan seantero dunia, dimanapun manusia berada.

Air mengalir dari atas ke bawah, itu fitrah. Siang adalah terang, malam gelap gulita, itu juga fitrah. Emas dan perak sebagai alat tukar perdagangan manusia, itu jelas fitrah. Karena fitrah bukan sekedar lelaki menyukai wanita belaka.

Dari fitrah, kita mengenal rububiyah. Ini laiknya Sunatullah. Para jurist menyebutnya hukum alam. Aturan yang dari alam. Rububiyah, pola kehidupan yang saling kait mengkait dalam kehidupan. Biologi mengenal istilah ‘rantai makanan’, itulah rububiyah. Alam mengaturnya. Shaykh Abdalqadir as Sufi menggambarkan tentang rububiyah. Dalam alam yang asri, belum terjamah sifat serakah manusia, terdapat kerajaan makhluk hidup yang tinggal diatas tanah di bawah pohon rindang. Di sana ada kerajaan tingkat kedua yang tinggal di tataran kedua berupa batang-batang pohon dan cabangnya. Lalu, ada makhluk yang tinggal di puncak kerajaan pada musim semi, burung-burung pemangsa dan mamalia yang mampu memanjat hingga cabang yang paling tinggi. Sungguh, semua ranah berinteraksi dan saling bergantung, juga dedaunan itu sendiri. Itulah rububiyah.

Dalam Al Quran, Allah Subhanahuwataala menggambarkan tentang kejadian rububiyah. Surat An Nur ayat 26:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)……”

Inilah rububiyah. Ketentuan dari Allah Subhanahuwataala yang berlaku tetap. Tak bisa disanggah. Seorang lelaki ahli ibadah, tak akan pernah mendapat istri yang pezina. Lelaki alim akan mendapat perempuan alim. Tatkala lelaki yang semula tak alim, lalu berubah, tentu akan mendapat pasangan perempuan yang alim pula. Inilah rububiyah. Ironisnya, manusia modern, dengan termakan doktrin filsafat, jamak terbuai untuk tak lagi memahami mekanisme alam ini.

Itulah rububiyah. Hal yang lebih spesifik dibanding fitrah. Manusia modern jamak tak lagi mahfum soal fitrah. Jangankan memahami rububiyah atau Sunnatullah. Tapi hal yang jadi fitrah, terkadang terlena.

Karena fitrah tak hanya berlaku pada urusan perempuan menyukai wanita belaka. Fittrah juga berlaku dalam urusan segala hal kehidupan manusia. Dalam urusan hukum, sosial, politik sampai urusan perdagangan, fitrah juga berlaku. Hanya jamak yang tak tahu dimana fitrah itu berada. Tatkala fitrah dilanggar, maka kerusakan sosial melanda.

Dalam Al Quran Surat Adz Dzariyat ayat 56, Allah Subhanahuwataala berfirman:
“Tidak Kuciptakan jin dan manusia selain untuk menyembahKu”

Inilah rububiyah. Ini perintah yang berlaku mutlak. Voltaire, seorang filsuf anti Nasrani mengatakan: jika Tuhan menuntut ketundukan penuh, maka Tuhan adalah otoriter. Dalih inilah dia menolak tunduk pada aturan Gereja, yang kala abad pertengahan sebagai pengatur hukum. Gereja dan Raja menjadi penguasa di jaman pertengahan. Di sanalah muncul penolakan pada aqidah Nasrani, bahwa Tuhan tak hadir dalam kehidupan manusia. Tuhan diibaratkan bak pembuat jam. Tatkala jam selesai dibuat, maka kehidupan berjalan sendiri. Dalih inilah yang digunakan Rosseou untuk menelorkan “du contract social”, kontrak sosial dalam aturan bersama. Inilah dalih untuk melahirkan konstitusi, aturan bersama, yang menampik kitab suci. Dari situlah produk hukum lahir, hasil buatan manusia. Maka cara berpikir untuk tak lagi taqlid pada kitab suci, bermunculan. Manusia berhak mengatur hidupnya sendiri, menyusun sendiri aturan, tanpa lagi mengacu pada kitab suci. Hal inilah yang meluluhlantakkan Nasrani, diganti oleh demokrasi-republik dan metode konstitusi. Dalam belantara Islam, cara berpikir inilah yang merasuki kaum modernis, dengan mengislamisasi kapitalisme. Alhasil, tatkala manusia meninggalkan fitrah, dampak sosial yang muncul. Kerusakan, bukan dalam arti dzahir, melanda. Muncullah kaum oligarkhi penguasa, dan lainnya adalah kelas pekerja. Inilah dampak tatkala manusia menolak fitrah.

Ketika LGBT merebak, jamak yang jijik. Kala lelaki menyukai lelaki, wanita bercinta dengan wanita, disitulah regenerasi terhenti. Tak ada lagi proses keturunan. Tentu akan berdampak. Di negara-negara yang dibilang maju, melahirkan anak saja diberi kompensasi tinggi. Buah dari tak lagi berlangsung proses regenerasi pada warganya, yang jamak lebih menyukai seks bebas ketimbang menikah dan memiliki keturunan. Alhasil pada satu titik, warga didorong untuk memiliki anak, dengan diberi kompensasi. Itulah dampak dari anti fitrah. Membuat kesengsaraan di kemudian hari.

Tentu berada dalam metafora yang sama, tatkala manusia menolak untuk menyembah Allah Subhanahuwataala semata. Menyembah dalam makna tunduk patuh total, bukan setengah-setengah. Era kini, bentuk penyembahan itu dipersempit hanya sebatas sholat belaka. Takala berada di Masjid, sholat semalam suntuk, disitulah seolah makna “penyembahan” menjadi selesai dan terpenuhi. Padahal bukan sekedar disitu. Karena penyembahan itu bermakna menyeluruh. Tatkala dalam urusan dagang, sengketa, waris, sampai urusan politik, di wilayah itu juga menuntut penyembahan total pada Allah Subhanahuwataala. Dan itu berlaku mutlak, tanpa bisa di tawar. Dalam ayat lain, Allah Subhanahuwataala berfirman: “Masuklah Islam secara kaffah…” itulah rububiyah buat kaum beriman. Masuk Islam, tak bisa setengah-setengah. Ber-Islam, bukan sekedar sholat belaka. Melainkan tunduk patuh pada aturan segala hal, itulah syariat.

Kosakata kini, jamak yang melakukan sholat, tapi urusan hukum, untuk pada aturan bukan dari Allah Subhanahuwataala. Urusan dagang, jual beli, sampai masalah politik, lebih memilih patuh pada azas yang dibuat manusia lainnya. Bukan yang lahir atas perintah Allah Subhanahuwataala. Dampaknya, tentu akan merugikan umat manusia sendiri. Karena rububiyahnya, jika manusia ingkar pada Allah, maka manusia sendiri yang merugi. Bukan Allah yang rugi.

Dalam Al Quran Surat Al Ashr, Allah Subhanahuwataala berfirman:
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”.

Shaykh Abdalqadir as Sufi menjelaskan, apakah kerugian manusia itu? Ini seperti ketika anda mematikan listrik –manusia telah terputus dari arus makna kehidupan yang sesungguhnya, sehingga menjadi makhluk yang bingung akibat tidak melakukan apa yang sudah menjadi tujuan mereka. Gelap.

Dalam metafora lain, ulama asal Skotlandia itu menggambarkan, tatkala ada kuda pacu, tapi tak digunakan untuk berpacu dalam perlombaan, hanya diternak belaka, maka kuda itu lama-kelamaan akan sakit, berat dan menjadi binatang pesakitan. Tapi tatkala digunakan untuk dipacu, berlomba, kuda itu benar-benar menjadi kuda sejati. Begitu juga manusia, tatkala kehidupannya digunakan bukan untuk penyembahan –bukan bermakna sekedar ritual sholat belaka—maka manusia sendiri yang akan merugi.

Contoh paling gamblang bisa dilihat dari sisi qishash. Ini aturan dari Allah Subhanahuwataala. Nyawa dibalas nyawa, siapa membunuh dibalas bunuh. Pencuri dipotong tangannya. Pezina dirajam sampai mati. Manusia modern, dengan dalih humanisme, menolak aturan itu. Alhasil manusia merumuskan sendiri bentuk penghukuman. Pembunuh, pezina, pencuri, dan segala kriminal lainnya, dirasionkan bisa dibenahi dengan pembinaan. Tapi badannya dikurung, sembari dibina bertahun-tahun. Itulah penjara. Sejak abad pertengahan mekanisme hukuman ini dilahirkan, sampai kini urusan pemberantasan kejahatan ala manusia itu, tak pernah memberi jalan keluar. Justru menambah masalah. Penjara menjadi over kapasitas, pencuri dipenjara malah naik tingkat, pezina bertambah, pemerkosa merajalela, pembunuh jarang yang bertobat. Alhasil masalah manusia makin meningkat. Mekanisme penyelesaian ala manusia, bukanlah jalan keluar. Malah menambah masalah. Ini dampak tatkala manusia menolak aturan dari Tuhan. Dan itu melawan fitrah. Kualitasnya sama halnya tatkala lelaki menyukai lelaki. Tentu saja menjijikkan.

Yang parah dalam soal alat tukar. Tuhan memberi fitrah, manusia sampai kapanpun, dimanapun, menyukai emas dan perak. Ini fitrah. Emas dan perak jadi hakim yang universal. Berlaku bagi siapa saja. Itu Sunatullah yang tak terbantah. Tapi, sekelompok manusia pembangkang, melawan fitrah itu. Memulai dengan bisnis penitipan emas perak, banco, memberikan kwitansi. Lama kelamaan kwitansi titipan Dinarius itu diterima sebagai alat tukar, dari situlah ide membuat kertas jadi uang terealisasi. Alhasil lama kelamaan mereka memaksa agar kertas-kertas jadi uang. Pemaksaan itu tentu dengan bentuk aturan hukum, yang sudah melawan fitrah tadi. Jadi uang kertas melawan fitrah, manusia dipaksa mematuhinya dari hukum yang lahir bukan dari fitrah. Inilah anti fitrah berjamaah. Ironisnya, ada ulama yang malah mengatakan kertas sebagai uang itu halal alias Islam dianggap bisa menerimanya. Naudzubillah.

Karena sudah jelas itu riba, haram. Dosanya lebih besar ketimbang menzinahi ibu kandung sendiri. Lebih sadis ketimbang lelaki kawin dengan lelaki.