Memoar Muqadim Ahmad Angkawijaya

1160

Jumat, 26 Mei 2017. Sebuah pesan singkat via whattshap masuk ke seluler. Asal pengirim dari Amir Rizal Moeis, seorang Amir yang menetap di Tanjung Pinang, Bintan. Beliau mengirim kabar: “innallillahi wa innaillaihi rajiun telah berpulang keramahtullah Muqadeem Ahmad Permadi Angka Wijaya. Saya baru mendapat telepon dari Dokter Augustine Purwanti. Semoga Allah Subhanahuwataala memberikan tempat yang terbaik kepada beliau. Amin Ya Rabbal Alamin.”

Sungguh agak mengaggetkan. Tapi semua sudah ketentuan dari Allah Subhanahuwataala. Sehari sebelumnya, saya masih berada di Bintan. Kebetulan sebelum menuju bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, kami mampir lebih dulu menjenguk Muqadim Ahmad. Beliau telah terserang strok semenjak hampir 3 tahun lalu. Sejak itu beliau terbaring terus di rumah. Beberapa pekan sebelumnya, beliau di rawat di rumah sakit karena kondisinya agak menurun. Sempat muntah tatkala diasupi makanan. Istrinya, Bu Agustin yang seorang dokter di Bintan, membawanya ke rumah sakit. Hampir dua pekan kemudian, kembali ke rumah. Kami pun, Kamis pagi menjenguknya.

Saya bersama Amir Zaim Saidi, Amir Rizal Moeis dan istrinya. Kondisi Muqadim Ahmad memang agak berbeda. Amir Rizal sempat menyapanya dengan gaya Medan. “Apa kabar ketua?” begitu sapaan mereka yang biasa. Tapi sang Muqadim tak merespon. Kondisinya terbaring lemah. Di hidungnya ada selang, tempat asupan makanan. Karena dia sudah tak bisa membuka mulut untuk makan. Agak berbeda dari kondisi terakhir menjenguk beliau.

Beberapa bulan sebelumnya, saya sempat menjenguknya juga. Tatkala berkunjung ke Kesultanan Bintan, tepat tatkala sidi Zulfiquar Awan datang ke Indonesia. Beliau sengaja datang untuk memberi pengajaran tentang buku “The Entire City” karya Ian Dallas. Ini buku terakhir yang ditulis Shaykh Abdalqadir as sufi. Buku itu banyak menggunakan gaya bahasa sastra yang syarat akan makna tentang fitrah. Sidi Zulfuquar sengaja meminta ijin pada Shaykh Abdalqadir untuk memberikan pengajaran tentang buku itu ke Indonesia. Semula dia ke Kuala Lumpur. Lalu menuju Ketapang, Kalimantan Barat. Dari Ketapang, kami bersama-sama menuju Bintan. Tapi sidi Zulfiquar memberi pesan, bahwa dia harus bertemu dengan “secret service man”. Itu perintah dari Shaykh Abdalqadir. Tentang yang dimaksud adalah Muqadim Ahmad itu. Sidi Zulfiquar tak paham siapa “secret service man” itu. Dia tak kenal sebelumnya. Kala telah berada di Bintan, kami pun mengunjungi Muqadim Ahmad di kediamannya. Begitu kami datang, dia duduk di kursi roda. Wajahnya penuh senyum sumringah. Dia tampak senang, walau telah berbulan-bulan lamanya terduduk di kursi dan hanya berbaring. Strok-nya tak kunjung pulih. Sidi Zulfiquar menyampaikan dalam bahasa Inggris bahwa dia diminta bertemu Muqadim Ahmad, oleh Shaykh Abdalqadir. Dalam pertemuan itu, agaknya wajah Muqadim Ahmad tampak berbeda. Dia cerah, lain seperti biasanya. Bahkan di akhir pertemuan, dia minta berfoto bersama sidi Zulfiquar. Dan kemudian dia berinisiatif berdiri. Dia bangun dari kursinya, dengan terbata-bata. Saya ikut membantu memegangi tangannya. Muqadim yang terbaring itu, mendadak memiliki kekuatan lebih. Dia pun berdiri. Badannya tegak. Maklum badannya agak gemuk besar. Saya menopang dia dari samping. Agak berat memang, maklum badan beliau tinggi besar, hampir mirip seperti orang bule. Tapi melihat semangatnya ingin berdiri, saya ikut semangat juga. Tanpa disangka, dia mampu berdiri tegak. Kami pun berfoto bersama. Itulah mungkin Muqadim mampu berdiri selama dia menderita sakit stroke.

Sejam kemudian setelah berbincang, kami pun pamit permisi. Karena hendak mengunjungi tanah wakaf Tembeling di Bintan. Kami memasuki mobil, Muqadim Ahmad mengantarkan sampai luar, sembari tetap di kursi roda. Dia tersenyum dan memberikan aba-aba selamat tinggal.

Di dalam mobil, sidi Zulfiquar bertanya, “Bagaimana sebelumnya orang ini? Apakah ini orang yang kuat?” Maklum karena dia belum mengenal sama sekali tentang Muqadim Ahmad. Kami menceritakan seadanya tentang sosok Muqadim Ahmad. Bahwa beliau-lah yang memulai kali pertama tentang Kesultanan Bintan. Amir Zaim menjelaskan, sosoknya yang berinisiatif bahwa Kesultanan Bintan ini tempat memulai kembalinya Deen. Setelah itu sidi Zulfiquar berkata lagi, “Sekarang saya mengerti mengapa Shaykh Abdalqadir meminta saya untuk bertemu beliau. Karena dia adalah seorang Wali (Aulia),” ujarnya. Saya bersama Amir Zaim dan Amir Rizal terdiam.

Tentang ini memang pemahaman saya masih kurang. Tapi pernah suatu kali Muqadim Syamsuddin memberi gambaran tentang Aulia. Dia menjabarkan ada empat kategori seorang Aulia. Pertama, dia tahu bahwa dia Aulia dan orang-orang mengetahui dirinya Aulia. Kedua, dirinya tahu dirinya Aulia tapi orang-orang tak tahu dirinya Aulia. Ketiga, dirinya tak tahu bahwa dia Aulia, tapi orang-orang mengetahui dirinya Aulia. Keempat,  dirinya tak tahu bahwa dia Aulia dan orang-orang tak tahu bahwa dirinya Aulia.

Nah, sepanjang saya mengenal Muqadim Ahmad, dirinya tak pernah berkisah tentang Aulia itu. Dia sama sekali tak pernah menyinggungnya, apalagi mengungkit-ungkitnya. Apalagi “mengaku” bahwa dirinya seorang Aulia. Beliau sosok yang bukan demikian.

Pertemuan saya pertama kali bertemu dengan Muqadim Ahmad kala di Bintan. Tepat saat saya pertama kali mengunjungi Bintan. Itu berlangsung medio Januari 2014. Saya baru kembali dari mengikuti Moussem di Cape Town, Oktober 2013 lalu. Itu Moussem saya yang pertama kali. Selepas dari Moussem, saya berniat mengunjungi Bintan bersama Kakanda Emil Aulia. Karena dia yang pernah ke Bintan sebelumnya. Di sana, sudah menetap Amir Rizal Moeis. Walau dia orang Medan, tapi saya belum kenal sebelumnya. Muqadim Ahmad juga berasal dari Medan. Maka, jadilah kami sesama anak Medan berkumpul di Bintan.

Pertemuan pertama itulah saya mengenal beliau di Bintan. Saya tahu dia bekerja di lembaga intelijen negara. Dia bertugas di wilayah Sumbagut. Cara kerjanya penuh rahasia. Tapi disitulah Muqadim Ahmad mengajarkan bagaimana agar kita bekerja untuk Allah Subhanahuwataala. Kala saban hari, sembari bekerja, dia kerap menenteng tas kerja. Di dalamnya tak ada laptop atau alat smartphone. Melainkan foto copy beberapa selebaran dan copy artikel-artikel penting. Yang paling banyak foto copy gambar Dinar emas dan Dirham perak. Sambil berjalan, dia kerap memberikan selembar copy itu ke orang, walau tak dikenalnya. Istrinya, Bu Agustine, kerap menyebut, “Itu tas doraemon, karena di dalamnya banyak berisi apa saja,” ujarnya.

Beliau pernah berkisah, awal mula mengetahui dengan muamalah dan sultaniyya. Tatkala kisaran tahun 1998-an, ketika Soeharto masih menjadi Presiden RI. Muqadim Ahmad sempat diminta menghadap Pak Harto. Mereka berbicara berdua saja. Soeharto memberi titah, “Bisa kau cari apa yang menyebabkan krismon (krisis moneter) ini, siapa yang bermain,” kata Pak Harto pada Muqadim Ahmad. Semenjak itu pun dia mencari-cari penyebab krismon. Karena sejak tahun 1997-an, Indonesia diterjang krismon dahsyat. Dollar mendadak naik tajam, rupiah turun drastis ke angka Rp 15 ribuan, dan tak pernah kembali menguat hingga kini. Sebelum krismon, Dollar hanya Rp 2000-an saja. Kini hal itu tinggal kenangan.

Muqadim Ahmad pun bekerja mencari tahu. Suatu ketika dia mendengar ceramah di Masjid Institute Teknologi Bandung (ITB). Beliau alumnus dari kampus itu. Di masjid itu ada ceramah dari beberapa alumni tentang Dinar Dirham. Beliau menyimak bahwa Dinar Dirham mata uang yang adil, sebagaimana sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Semenjak itu, dia pun mencari tahu lebih dalam. Muqadim Ahmad makin paham bahwa uang kertas itu permainan bank belaka. Ini yang membuat Soeharto jatuh sebagai Presiden. Walau dia telah bersama IMF, tapi dia tetap dijatuhkan. Tentu ini bagian dari permainan dunia.

“Tapi saya tak keburu memberikan jawaban pada Pak Harto, karena dia sudah jatuh duluan,” ceritanya. Soeharto pun tak sempat mendengar soal Dinar Dirham sebagai solusi negeri ini.

Tapi selepas itu Muqadim Ahmad tak berhenti. Dia terus bekerja. Dia makin memperkenalkan Dinar Dirham sebagai alat tukar yang adil. Yang juga merujuk as Sunnah. Dia makin mendalami, dari mana sumber ilmu tentang Dinar Dirham di abad ini. Ternyata dia ketemu dengan kata kunci: Shaykh Abdalqadir as sufi. Sebagai sosok pencari, dia pun berinisiatif menemui sang Shaykh, yang berasal dari Skotlandia itu.

Kisaran tahun 1999-an, Shaykh Abdalqadir as sufi datang ke Malaysia. Dia hendak mendapatkan pengukuhan Doktor dari sebuah Universitas di negeri jiran itu. Seorang muridnya, yang juga pengajar di sana, menginisiasi pemberian gelar Doktor itu. Shaykh Abdalqadir pun datang ke Kuala Lumpur. Ahmad mengetahui hal itu. Dia mencari informasi dimana Shaykh Abdalqadir menginap di Kuala Lumpur. Dia pun menyeberang ke sana, bersama istrinya. Ahmad mencari hotel tempat menginap yang sama dengan sang Shaykh.

Setelah mencari-cari, ternyata dia pun cek in di sebuah hotel di Kuala Lumpur. Ternyata Shaykh Abdalqadir tak menginap di sana. Melainkan di hotel yang lain. Tapi begitu dia berbalik badan, dilihatnya dari jauh sosok Shaykh Abdalqadir. Rupanya Shaykh Abdalqadir baru berpindah hotel. Dikira Ahmad dia salah memilih hotel, karena tak berbarengan. Namun ternyata Shaykh pindah dati hotel sebelumnya. Di lobby hotel itu, dia pun mendatangi Shaykh Abdalqadir. Begitu bertemu, tanpa kenal sebelumnya, dia langsung memeluk Shaykh Abdalqadir dan mencium kakinya. Rupanya Shaykh Abdalqadir juga menundukkan diri. Mereka sama-sama berbungkuk untuk saling cium kaki satu sama lain. Orang-orang agak kaget menyaksikan adegan itu. Disitulah Ahmad memperkenalkan dirinya. Dia dari Indonesia sengaja untuk berjumpa Shaykh Abdalqadir.

Kala bertemu dengan Muqadim Ahmad, saya sempat bertanya, “Mengapa sampai menunduk dan mencium kaki Shaykh?” Dia menjawab, jika kita ingin mendapat ilmu dari seorang yang tinggi pengetahuannya, tundukkan dirimu serendah mungkin. “Kalau perlu cium kakinya,” begitu pesannya. “Supaya engkau diterima sebagai muridnya,” katanya lagi. Resep itu yang dilakoninya. Disitulah Muqadim Ahmad kali pertama bertemu dengan Shaykh Abdalqadir. Dari kisahnya, Shaykh mengenal Muqadim Ahmad sebagai “Manusia dari Pulau.” Maksudnya karena Muqadim Ahmad dari Pulau Bintan.

Itulah pertemuan pertama Shaykh Abdalqadir dengan Muqadim Ahmad. Dari situ dia makin mendalami tentang Deen ini. Tentang Amal Madinah, sultaniyya, Dinar Dirham, tassawuf dan lainnya.

Dia pun bekerja untuk memperkenalkan dengan hal itu ke banyak orang. Di Medan, dia banyak mendekati para jurnalis, agar paham tentang hal itu. Tujuannya agar banyak yang menuliskan tentang Dinar Dirham dan lainnya. Hal itu dilakukannya sembari tetap bekerja sebagai abdi negara. Setiap bertemu siapa saja, baik politisi ternama ataupun tukang becak, beliau sering memberikan copy yang berisi gambar Dinar Dirham ataupun artikel tentang hal itu dan lainnya. Dia menjalankan tanpa pamrih. Tanpa harus diketahui banyak orang atau selebihnya. Itulah sosok Muqadim Ahmad.

Beliau juga yang merintis hadirnya Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Bisa dibilang dia sosok dibalik layar. Karena beliau yang memperkenalkan Huzrin Hood, sosok yang kemudian menjadi Sultan Bintan, dengan sejumlah murid Shaykh Abdalqadir yang lainnya.

Di Bintan pula diadakan seminar tentang pengenalan muamalah dan Dinar Dirham. Itu berlangsung kisaran tahun 2000-an. Saat itulah Umar Pasha Vadillo, yang kala itu belum menjadi Shaykh, berbicara di Bintan tentang hal itu. Muqadim Ahmad termasuk yang berada di belakang layar. Beliau pula yang banyak mendorong Huzrin Hood agar menjadi Sultan Bintan. Karena pada kala itu, Muqadim Ahmad telah berpandangan, “Ini ada sebuah tempat yang telah siap semuanya, ada Sultan dan lainnya, untuk memulai kembalinya Deen ini,” paparnya. Yang dimaksud tempat itu adalah Bintan. Itu kisaran tahun 2000-an. Saat itu belum ada pasar muamalah, Balai Singgasana Kesultanan Bintan dan lainnya.

Tatkala Sultan Huzrin masih berada di Bandung, di LP Sukamiskin, beliau menjembatani sejumlah fuqara dari luar negeri, Rais Abu Bakar Rieger, Umar Vadillo dan lainnya, datang ke sana dan membaiat Sultan Huzrin.

Waktu terus berjalan. Shaykh Abdalqadir ternyata ingin bertemu dengan Muqadim Ahmad. Suatu kali, seperti dikisahkan beliau, Muqadim Ahmad sempat ditelepon Shaykh Abdalqadir agar datang ke Cape Town. Bahkan sudah sempat dikirimi tiket untuk menuju Cape Town. Namun karena kesibukan beliau lainnya, hal itu masih terhalang. Baru di kisaran tahun 2011 atau 2010, beliau sempat hadir kali pertama ke Moussem Shaykh Abdalqadir di Cape Town. Itulah kali kedua beliau bertemu Muqadim Ahmad.

Di Cape Town itulah dalam pertemuan khusus dengan Shaykh Abdalqadir, dia diberikan dua buku. Salah satunya “The Book of Safar.” Muqadim Ahmad berkata, “Mungkin itulah makanya saya jadi sering berpergian,” ujarnya. Memang bagi anak dan istri Muqadim Ahmad, dia sosok yang kerap melanglangbuana. Rumahnya berada di Bintan. Tapi dia jarang kembali ke rumah. Pernah saking jarangnya bertemu istrinya, mereka berdua bertemu di bandara Jakarta saja. Anaknya pernah bilang, “Ini Bapak kita wakafkan saja untuk negara ini ya, Bu,” ujarnya. Karena menunjukkan bagaimana dedikasi Muqadim Ahmad dalam mengerjakan sesuatu. Dalam pekerjaan itulah beliau membagi tugasnya, satu untuk institusinya, satu lagi tetap bekerja kepada Allah Subhanahuwataala.

Selepas saya ke Bintan kali pertama, saya kemudian “melaporkan” hasil perjalanan itu kepada Amir Zaim. Ternyata Amir Zaim juga berkeinginan untuk mengunjungi Bintan, setelah terakhir tahun 2011. Alhasil sepekan kemudian saya ke Bintan lagi bersama Amir Zaim. Disitulah peta Kesultanan Bintan agak mulai berubah. Tapi kala itu, Muqadim Ahmad telah kembali ke Medan, menjalankan tugasnya. Jadi alhasil tak bertemu Amir Zaim di Bintan. Namun selepas itu Amir Zaim memutuskan bahwa Bintan adalah Darul Hijrah. Disitulah tempat dimulainya Sultaniyya. Karena ada seorang Sultan yang kuat, yang mendukung tegaknya syariat dan prasarana serta sarana yang ada sangat memadai. Mulailah Kesultanan Bintan agak tancap gas. Karena sebelumnya telah ada Amir Rizal yang telah hijrah dari Medan lebih dulu. Beliau titik tonggak Kesultanan Bintan bisa terus berjalan. Hingga kini telah memiliki pasar muamalah, lahan wakaf seluas 2 hektare di Tembeling, dan kini tengah mendirikan Masjid Sultan Huzrin di kawasan Toapaya.

Saya bertemu kedua kali dengan Muqadim Ahmad tatkala di Medan, tahun 2014. Selepas Moussem 2014 di Cape Town yang berlangsung Oktober. Kebetulan saya ada urusan di Medan, dan beliau tengah ada di Medan pula. Ada sekitar 2 hari penuh saya berjalan bersama dia. Disitulah banyak hikmah kala berjalan dengan sang Muqadim. Beliau yang mengajarkan bahwa segala peristiwa itu tak ada namanya “kebetulan”. Usia kami sejatinya berjarak agak jauh. Saya baru berkisar 35-an. Sementara dia sudah 50an. Tapi tatkala berjalan bersama, kami seperti sangat akrab, bak kawan sejati. Kami sama-sama berkisah tentang latar belakang sebelum menjadi “murabitun”, istilah untuk fuqara Shaykh Abdalqadir as sufi. Sudah diatur sebelumnya, saya kenal dekat dengan seorang Hakim Agung di Mahkamah Agung, yang juga teman Muqadim Ahmad. Hakim Agung itu bilang, “Angka itu anak ADM dari dulu hidupnya penuh madu,” ujarnya. Saya sampaikan hal itu, muqadim Ahmad hanya tertawa. ADM ini istilah di era perkebunan jaman Hindia Belanda dulu. Hakim Agung itu sekampung dengan Muqqadim Ahmad. Ayah Muqadim seorang pejabat di perkebunan itu. Posisinya ADM (bahasa Belanda). Tapi Muqadim Ahmad tertawa kecil, kita memang tetap ADM. “Agen Di Murabitun,” ujarnya.

Tapi dua hari bersama dengannya, seolah saya tak ingin berpisah. Kerap ingin selalu berdekatan dengan beliau. Kini saya baru tahu apa rahasianya mengapa kerap tak ingin lepas dari sang Muqadim. “Karena dia seorang Aulia,” ujar sidi Zulfiquar dari Cape Town.

Tadi pagi, Jumat sekitar pukul 11 WIB siang, beliau menghembuskan nafas terakhir. Pertanda kehidupannya di dunia telah berakhir. Muqadim Ahmad memasuki fase kehidupan selanjutnya. Tapi jasa dan amalnya di dunia tak bisa dilupa. “Dia seorang pejuang muamalah,” ujar Amir Zaim Saidi.

Kamis kamaren, tanggal 25 Mei 2017, kami berkesempatan menjenguknya, sebelum kembali ke Jakarta. Beliau berbaring di tempat tidur. Hidungnya menempel selang alat bantu makan. Dia hanya tertegun, walau kami datang. Matanya melek, tapi seolah tak lagi bisa melihat. Tatapannya kosong. Sapaan gaya Medan yang dilontarkan Amir Rizal juga tak berjawab. Kami kemudian membacakan wirid. Ala Ya Latifu Ya Latifu Lakal Luftu pun menggema. Muqadim saya perhatikan hanyaa diam. Tapi tatkala bacaan wirid sampai pada lafaz ‘Laillaha Illallah!!” dia mencoba mengikuti. Mulutnya membuka dan berusaha berucap juga “Laillaha Illalah”.

Selepas wirid dan doa, kami pun berpamitan. Beliau tetap tak bergeming. Sembari berpisah, saya sempat mengecup keningnya. Terasa agak dingin memang. Jumat esok harinya dia meninggal dunia. Semoga khusnul khotimah.

Innalillahi wainnaillaihi rajiun. Semoga kita kembali bersua di Jannah-Nya Allah Subhanahuwataala. Engkau telah meletakkan pondasi sultaniyya. Amin Ya Rabbal Alamin.