Menanti Ajal Hukum Positif

222

oleh: Irawan Santoso, SH (Murabitun Institute)

Hukum positif. Tak berarti konotasinya ada ‘hukum negatif’. Hukum positif asalnya dari positivisme. Positivisme era kala manusia menjejak pada modern. Babakan tentang modern dimulai kala “state” mulai mewabah. Dan ini dimulai dari pasca Revolusi Perancis, 1789. Masa itulah Perancis menggunakan kata ‘l’’etat. Belanda menyebutnya ‘staat’. Italia bilangnya ‘lo stato’. Asal katanya dari bahasa Latin, ‘statum’. Indonesia mengartikannya menjadi “negara”. Dalam khazanah bahasa, mulanya mengenal kata “nagara” dari Sansekerta. Atau “nagari” di Minangkabau. Tapi “negara” jauh berbeda maknanya dibanding “nagara” atau “nagari” itu. Apalagi jika disamakan dengan “Daulah”. Karena “state” kata untuk menggantikan sistematika kehidupan pra Revolusi Perancis. Machiavelli yang mengenalkannya dalam Il Principe, abad 15. Masa ketika aufklaerung (pencerahan) bergejolak. Itulah era ketika manusia Eropa bergejolak untuk meninggalkan Tuhan. Nasrani, agama yang hidup kala itu, jamak “ditinggalkan”. dari situlah hukum positif lahir.

Melongoklah pada revolusi Perancis. Raja Louis XVI digulingkan dalam peopple power. Kaum borjuis, sebelumnya warga kelas dua, berkoalisi dengan para Jacobin, melawan masyarakat agamawan dan bangsawan. Mereka di kelas atas. Perancis dalam kerajaan. Belum ‘l’etat’ (negara). Louis XVI terjebak utang kerajaan yang besar. Perang Tujuh Tahun dengan Inggris, membuat anggaran kerajaan defisit. Karena Perancis bernafsu mengalahkan Inggris, termasuk membantu kemerdekaan Amerika Serikat, berpisah dari Inggris. Disitulah republik dicetuskan.

Para borjuis, kaum kaya, menggalang kekuatan. Membentuk Majelis Nasional, tandingan dari Estate General buatan Kerajaan Perancis. Isinya mendesak reformasi di tubuh kerajaan. Raja dianggap tak lagi wakil Tuhan. Apalagi doktrin “suara Gereja Suara Tuhan” (Vox Rei Vox Dei) yang selama ini menggema, mulai disingkirkan. Jadinya Vox Populi vox Dei (suara rakyat suara Tuhan). Tentu rakyat yang dimobilisasi para borjuis dan Jacobin. Mereka membebaskan para budak, itulah dianggap liberte. Merdeka dari hukum Gereja. Karena ‘the living law’ kala itu adalah hukum Gereja. Indulgensia masih ada. Kaum bangsawan dan agamawan tak dikenakan pajak. Sementara borjuis dan proletar dipajaki. Disinilah dituntut kesetaraan. Makanya menggema “egalite” (keadilan). Gereja dan Bangsawan jadi musuh utama. Para borjuis, pemilik kebun dan pebisnis yang tak mau tunduk pada aturan Nasrani, mencoba bebas berbinis apa saja. Homo sapiens membahana. Homo homini lupus dikehendaki. Tanpa ada lagi aturan yang mengekang. Pinjaman uang boleh berbunga, tak ada lagi riba, seperti larangan Perjanjian Lama. Inilah desakan para borjuis, yang sebagian rentenir peminjaman uang. Mereka mendesak reformasi Gereja dan Nasrani. Ditambah sebelumnya Gereja telah menjadi “musuh” jamak kaum Eropa. Voltaire, sibuk mengkompori kaum Eropa untuk tak lagi percaya Gereja. Dia menganggap kaum Gereja bukan penjelmaan ajaran Kristen. “Jika Tuhan menuntut manusia untuk tunduk penuh, Tuhan adalah diktator. Segala kediktatoran harus ditolak,” kata Voltaire. Mengerikan. Para Volterian inilah yang berkumpul. Mereka bersatu menyerang otoritas Gereja dan Raja. Karena Raja adalah pelindung Gereja. Disitulah terbentuk ‘fraternite’ (persaudaraan). Tentu para sekuler yang bersaudara. Jadi, Egalite, liberte, fraternite bukan slogan kehebatan. Itu pertanda perlawanan pada hukum Tuhan. Bebas dari hukum Tuhan, keadilan yang disusun versi manusia dan bersaudara sama-sama menolak Tuhan.
Raja Louis XVI jadi sasaran. Dia digulingkan. Para Borjuis dan Jacobin mengambil alih. Chaos terjadi. Tentara kerajaan kalah. Pasukan Borjuis dan Jacobin mengambil alih. Disitulah teriakan “republik” membahana. Jacobin tak setuju monarkhi ditinggalkan. Para borjuis bernafsu mengambil alih dan merubahnya jadi “republik”, versi Rosseou. Makanya Trias Politica diramu. Louis XVI digantung didepan penjara Bastille. Monarkhi tamat. Di La Vendee, jauh dari Paris, para uskup dan biarawan dikejar dan dibunuh. Ribuan mati. Mereka dituntut bersumpah pada konstitusi dan republik. Human right yang didengungkan, hanya landasan untuk menolak Tuhan.

Claude Perier, bankir dari daerah kecil di Perancis, mengumpulkan para pengusaha bank dari Swiss dan Belanda. Dia melakukan fundrising. Robispierre, dari Jacobin yang sempat memimpin Perancis, digulingkan. Diangkatlah Napoleon Bonaperte, atas dukungan Claude dan bankir. Napoleon dijadikan Kaisar pertama Perancis. Kondisi dikendalikan. Aman. Tapi Napoleon memberi hak Claude membentuk Bank of France. Napoleon diberi pinjaman 12 ribu Franc sebagai modal. Disitulah Perancis memiliki utang awal pada bank. Itulah utang nasional. Perancis berdiri, dengan modal utang dari bank. Sama seperti Inggris, pasca Revolusi, 1688. William of Orange dijadikan Raja. Dia menikani Mary I, anak Charles V. Lalu King William dikucurkan dana oleh bankir. Konsekwensinya Bank of England berdiri. para bankir dibolehkan cetak uang kertas, yang beredar di seluruh Inggris. Bank of France serupa. Bankir itu yang untung. Hukum positif disusun untuk meligitimasi.

Karena Auguste Comte yang memberi pandangan. Pasca revolusi Perancis, dia membagi tiga kaum Perancis. Golongan teologis, kaum metafisik dan kaum positivisme. Para teologis tentu kaum agamawan. Metafisik yang percaya pada empirisme. Sementara masyarakat positivisme inilah yang tunduk patuh pada ‘L’etat’. Negara versi baru. Kaum positivisme ini yang bisa diajak maju. Mereka modern. Karena menerima teori state tanpa pamrih. Disitulah nasionalisme jadi benteng. Humanisme jadi doktrin. Tuhan ditinggalkan. Gereja hanya mengurusi ibadah belaka. Tak lagi boleh mencampuri urusan sosial, hukum apalagi ekonomi. Borjuis yang mengambil alih.

Napoleon tak punya hukum. Terjadi kevakuman. Mereka mencari-cari model hukum baru. Karena ‘the living law’ sebelumnya, hukum Nasrani dicampakkan. Ketemulah dengan kodifikasi “corpus ius civilis’ yang disusun Kaisar Romawi Justinian I, abad 5 Masehi. Dia mengkodisikasi aturan Romawi sebelum era Nasrani. Karena Nasrani menjadi agama resmi Romawi setelah kaisar Theodosius I menjadi Kaisar. Itu diabad 4 Masehi. Jadi corpus ius Civilis murni hukum yang tak merujuk kitab suci manapun.

Napoleon meng-copy paste. Dia jadikan kodifikasi baru. Muncullah “Code Napoleon”. Ini terdiri dari tiga buku, Code penal, Code Civil, dan Code de Commerce. Napoleon menganeksasi Belanda. Code Napoleon diadopsi. Masa itu, Hindia Belanda telah menjejak di nusantara. Mereka ikut mengcopy paste Code Napoleon. Code Penal menjadi Wetboek van Stracfrech. Code Civil jadi Burgelijk Wetboek (BW). Dan Code de Commerce dicopy jadi Wetboek van Koophandel (WvK). Ketiganya kini dipaksa berlaku republik Indonesia. Hanya namanya saja yang berubah. Isinya sama. Semangatnya sama. Wetboek van Scraftrecht itulah hukum Pidana (KUHP). Burgelijk Wetboek (BW) itulah KUH Perdata. Wetboek van Koophandel itu KUHDagang. Jadi, murni itu bukan berasal dari Islam. Tak sama dengan syariat Islam. Aneh bin ajaib jika masih ada yang bilang rechtstaat ini sama dengan syariat. ironis jika masih tak mampu membedakan mana syariat dan rechtstaat.
Code Napoleon itu memulai era rechtstaat (negara hukum). Sebagai antitesa dari maachstaat (negara kekuasaan). Masa Monarkhi dan Gereja sebagai punggawa itulah yang dianggap periode maachstaat.

Rechtstaat itulah yang melahirkan hukum positif. : John Austin, jurist asal Inggris melengkapi teori hukum positif. Dalam bukunya, The Province of Jurisprudence Determined, ada celetukan: law in a commad of the Lawgiver. Hukum adalah perintah dari mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau pemegang kedaulatan. Pemegang kekuasaan itulah staat (negara). Dari situlah lahir: tiada hukum selain dari negara. Dan hukum adalah undang-undang. Bukan yang sumbernya kitab suci. Tapi sebuah ‘le contract social’ sebagai dasar. Inilah aturan bersama yang mencetuskan ‘constitutio’. Dari situlah induk hukum positif.

Hans Kelsen makin melengkapi akrobatik. Kelsen menelorkan hukum murni (pure theory of law). Hukum dianggapnya harus bersih dari anasir-anasir sosial (fakta empiris), politik kekuasaan dan moral. Kelsen tergolong Neo-Kantian. Pengikut Immanuel Kant. Kelsen juga menelorkan tentang adanya hierarki dalam perundang-undangan.

Kelsen tidak memberi tempat pada teori hukum alam. Apalagi unsur teologis, keTuhanan. Ajaran hukum Kelsen hanya memandang hukum sebagai sollen juridis semata-mata. Terlepas dari das sein (realitas) sosialnya. Hukum, menurutnya, merupakan sollencategory dan bukan seinscategory. “Orang mentaati hukum karena ia merasa wajib mentaatinya sebagai suatu kehendak negara”. Dari situlah hukum harus bersifat memaksa. Makanya setiap undang-undang selalu ada unsur sanksi, bagi pelanggarnya. Inilah hukum yang wajib dan dipaksa supaya dipatuhi.

Tapi hukum positif tak langsung lahir. Positif law ialah metamorfosa dari hukum alam (natural law). Ini pandangan yang digodok kala rennaisance. Para jurist memulai periode hukum alam kala Thomas Aquinas mengenalkan filsafat pada dunia Nasrani. Dia mengikuti Ibnu Rusyd, yang termasyur di Cordoba. Aquinas berlajar di Paris, yang satu daratan dengan Cordoba. Abad 12 lalu, Andalusia adalah pusat peradaban di Eropa. Islam memberi cahaya benderang. Ibnu Rusyd mempertahankan filsafat agar tetap diterima muslimin. Karena muncul serangan dari Imam Ghazali, yang menyebut filsafat bisa membuat kekufuran. Tahafut al falsafahiah. Ghazali yang bertobat dari filsafat, akhirnya bertassawuf. Disitulah dia membantai filsafat, yang sempat merebak di belantara Islam. Ibnu Sina, Al Faraby, dan lainnya, sempat membuka kran filsafat dalam mendedah Deen Islam. Tapi kemudian cara berpikir itu tak diminati. Imam Ghazali menutupnya. Shaykh Abdalqadir Jaelani membuat tassawuf sebagai cara berpikir yang asyik untuk menjelajah Islam. Filsafat jadi tertinggal.

Tapi cuilan filsafat itulah yang dibawa Aquinas untuk mendedah Nasrani. Alhasil tentang logos, dan teori dari Plato, cara berpikir Socrates dan Aristoteles, mulai dikenali lagi di belantara Eropa, abad 12. Mulailah logos (rasio) menjadi rujukan.

Abad 15, Grotius mulai bereksprimen. Dia menggunakan logos dan teori untuk menjelaskan tentang hukum alam. Di kitabnya, De Jure Belli ac Pacis dan Mare Liberum, Grotius mengatakan hukum bukan-lah yang merujuk pada rasio Tuhan. Melainkan berlandas pada rasio manusia. Rasio manusia lebih afdol dalam menterjemahkan tentang kebenaran. Grotius mulai menyerang Gereja, yang dianggapnya tak mewakili interpretasi kebenaran rasio Tuhan. Dari situlah pusat kebenaran yang sumbernya kitab suci, mulai diutak atik.

Muncul-lah kemudian Francis Bacon, abad 16. Dia yang kali pertama merusak cara berpikir manusia tentang teori eksistensi. Tentu Bacon menggunakan logos seperti ajaran Plato. Bacon berhalusinasi bahwa manusia adalah objek yang diamati. Bukan subjek yang diamati. Tentu itu menentang teori kitab suci. Menurut Bacon, manusia itu yang mengendalikan benda-benda disekelilingnya. Manusia bukan subjek Tuhan. Alhasil kebenaran Wahyu menjadi makin tertolak. Bacon mengenalkan teori induktif: “saya ada (being) maka saya berpikir (think)”. Premisnya, Tuhan ada hanya karena dipikirkan semata. Maka aturan Tuhan tak layak dipatuhi, karena Tuhan hanya hadir kala dipikirkan semata. Manusia yang berhak membuat aturan sendiri. Begitu premisnya.

Dari Bacon nimbul-lah Rene Descartes. Dia mengenalkan metode deduktif. Descartes, yang dikenal Cartesius menambah halusinasi logos lagi. Dia bilang, “saya berpikir (think) maka saya ada (being).” Dari sinilah Descartes mengenalkan metode empiris, setelah rasio (logos). Jangan pernah menerima apapun sebelum diuji kebenarannya oleh rasio manusia. Alhasil kebenaran Tuhan makin tereliminasi. Anehnya, cara berpikir ini jamak yang mengikuti. Lalu mencuat pula Immanuel Kant, yang mengenalkan teori rasio-empiris-kritis. Setelah manusia mengujinya, harus mengkritisinya. Inilah yang dalam dunia hukum menjadi ‘ratio scripta’. Pijakan Kant ini yang diikuti Kelsen dalam melahirkan hukum positif.
Kini 4 abad menjelang hukum positif memonopoli peradaban. Dipaksa dan wajib ditaati, tanpa ada ruang untuk memahami. Karena paksaan itulah hukum positif jadi berlaku. Tekanan dan paksaan tak membuat manusia bisa teratur. Melainkan karena ketaatan dan keimanan. Itulah fitrah dalam keteraturan.

Kausalitas hukum positif lahir dengan kudeta. Di Eropa, dia muncul karena menggeser hukum Gereja. Di belantara Islam, diberlakukan dengan daya paksa menggantikan syariat. Sungguh jauh dari kebenaran jika muslimin sibuk menuntut agar dibuatkan undang-undang. Salah kaprah. Karena muslimin memiliki syariat. basisnya bukan rasio. Bukan pula hukum tertulis. Karena Al Quran diturunkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah Shallahuallaihi wassalam bukan dalam tertulis. Karena Al Quran adalah Kalamullah. Sementara rasio tak mampu mencerna hal-hal ghaib, yang tak tertulis. Disitulah kegagalan logos sebagai pondasi berpikir dan bahan membuat hukum.

Hukum positif terbukti empiris tak mampu menjadi supremasi. Kegagalannya nyata. Karena hukum yang bersumber dari negara, mudah disusupi. Kaum superior tercipta. Imperior menderita. Superior inilah yang memaksa “negara” membuatkan hukumnya. Persis tatkala Claude memaksa Napoleon memberi hak untuk mengatur finansial Perancis, dengan bank sentralnya. Dia menerbitkan kertas sebagai uang. Menggantikan emas dan perak sebagai alat tukar. Undang-undag dibuat, disusun, untuk melegitimasinya. Hukum positif tentu mensahkan, tanpa mampu membaca ada udang dibalik bakwan, sang superior. Itulah kelemahannya.

Karena hukum positif menjejak tak berlandaskan fitrah manusia. Karena memang dia lahir untuk melawan fitrah. Inilah unsur yang tak bisa dikendalikan siapa saja: fitrah. Hukum alam.

Rasio membuat manusia terkadang terlena. Metode rasionalitas empiris, tak selamanya jadi patokan kehidupan. Karena asal usul manusia dari surga, tak bisa dijelaskan secara inderawi. Tatkala iblis disuruh tunduk pada Adam Allaihi Salam, tapi membantah, itu tak bisa dijelaskan secara inderawi, rasinalitasnya. Disitulah ketaatan diuji. Karena manusia diturunkan di dunia untuk diuji. Bukan untuk mengendalikan dunia mengikuti nafsunya.

Allah Subhanahuwataala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Tidak Kuciptakan jin dan manusia selain untuk menyembahKu”
(Al Quran Surat Adz Zariyaat: 56)

Shaykh Abdalqadir as Sufi, ulama besar dari Skotlandia menjelaskan. Ayat itu tentang penghambaan. Itulah tujuan manusia diciptakan. Menghamba pada Allah Subhanahuwataala semata. Menghamba berarti beribadah, mengikuti aturan yang di Wahyu-kan. Itulah Al Quran. Bersifat mengikat bagi yang beriman. Itulah syariat dan hakekat. Ulama mendedah syariat itu dalam dua wilayah: ibadah dan mumalah. Ibadah itulah rukun Islam. muamalah terdiri dari jamak unsur: munakahat, mukasamat, jinayat, mahkamah, muamalah, sampai wirasah. Itulah kaffah. Penghambaan bukan bermakna sekedar sholat belaka. Melainkan berserah diri, dalam segala urusan. Supaya manusia bisa kembali ke surga, seperti awalnya.

Imam Ghazali pernah ditanya, “Mengapa tujuh kali tawaf?” Kenapa 49 batu untuk melempari setan?” Beliau menjawab, “Tidak ada tempat untuk ‘kenapa’. Itulah ubudiyyah, penghambaan. Anda sudah diperintahkan untuk melakukannya, maka lakukanlah.

Tentu di sana tak berlaku metode logos, empiris apalagi kritis. Karena kali pertama yang mengajarkan bersikap kritis itulah iblis. Kala Allah Subhanahuwataala memerintahkan untuk sujud kepada manusia, iblis bertanya. “Kenapa harus sujud? Bukankah saya lebih hebat karena terbuat dari api, sementara manusia dari tanah.” Itulah unsur “kenapa” yang diwariskan ke dunia, tempat manusia diuji. Kata ‘kenapa’ itulah mewakili kritis, empiris dan logos, yang melahirkan manusia meninggalkan hukum Tuhan. Karena dianggap mampu menciptakan hukum sendiri. “Kenapa menggunakan kitab suci karena kita bisa membuat undang-undang?”

Dalam Al Quran, Allah Subhanahuwataala telah mengingatkan:
خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (Al Quran Surat Al Baqarah 168).

Ayat ini berkali-kali ada dalam Al Quran. Menunjukkan bagaimana manusia untuk diingatkan menghindari setan dan selamat dari bujuk rayu setan. Karena tugas setan di dunia hanya satu: menjerat manusia agar kuffar dan mengikutinya. Kuffar berarti tertutup hatinya untuk mengikuti Allah Subhanahuwataala, berikut dengan aturannya.

Logos membatasi manusia untuk memikirkan yang ghaib. Karena dari metode induktif, deduktif, sampai empiris, hal yang ghaib dianggap tak masuk akal. Alhasil tak layak dicerna. Karena ghaib hilang, maka Tuhan hilang. Dan yang girang tentu iblis. Karena dia ghaib, dia pun menjadi hilang. Manusia pun tergoda untuk selalu memaksa supaya logos digunakan, agar iblis tak bisa dicerna.

Hukum produksi logos tak terbukti keadilannya. Karena makin merusak peradaban manusia. Disinilah para borjuis makin menang dan menindas yang lainnya. Tak ada lagi kontrol atas beleid yang dikeluarkan. Karena borjuis bisa mengendalikan. Merekalah kaum bankir, yang me-remote control- negara dari balik Istana.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 50:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”