Mengapa Dulu Misionaris Kerap Gagal Memurtadkan Muslimin?

183

Sejak masa Perang Salib, misionaris gencar mempengaruhi umat Islam agar pindah agama. Tapi upaya itu gagal. Misionaris penyebar agama malah diberikan hadiah dan diperlakukan baik oleh kaum muslim. Tak sedikit malah yang masuk Islam.

Musim panas di tahun 1977. Ahmad Thomson duduk tenang di dalam masjid Al Azhar, Kairo, Mesir. Di masjid itu, dengan pakaian burka seadanya, pria Inggris itu bertafakur sembari mengucap syukur.

Hari itu, Jumat. Tepat tatkala umat Islam melaksanakan ibadah Sholat Jumat. Thomson telah duduk tenang sembari berdzikir, menantikan panggilan azan. Dia terkesima dengan ribuan orang sholat di masjid itu. “Banyak diantara mereka seperti orang yang seolah menghabiskan hidupnya hanya untuk menyembah Allah SWT semata,” tutur Thomson dalam bukunya The Difficult Journey, kisah tentang perjalanan naik haji selama 8 bulan Thomson.

Pria itu berangkat haji dari Inggris dengan berjalan kaki dan naik bus seadanya. Tak naik pesawat dari London ke Mekkah secara langsung. Dengan uang seadanya, dia naik haji dengan jalan berpetualang. Hingga di pekan kedua, dia bersama seorang temannya, Abdul Jalal, tiba di Mesir. Kala di masjid Al Azhar itulah Thomson merasakan kenikmatan menjadi seorang muslim sejati. “Betapa beda antara berada di dalam masjid dengan berada di sebuah gereja atau katedral,” tulis Thomson lagi. Pria ini adalah muallaf. Sebelumnya dia memeluk agama Kristen Protestan.

Saat tawadhu itulah Thomson teringat kisah gurunya, Shaykh Abdulqadir as-Sufi, yang mengIslamkannya, tentang kisah perang Salib. Gurunya itu bertutur, “Orang-orang Kristen biasa mengirim mata-mata untuk hidup diantara kaum Muslimin. Agar tidak tertangkap, mereka kemudian hidup seperti umat Islam. Sebagai akibatnya kualitas hidup mereka meningkat dengan pesat. Orang-orang Kristen di Eropa tidak pernah mengerti mengapa mata-mata mereka tidak mau pulang!” demikian tulis Thomson. Jawaban itu kemudian bisa ditemui Thomson setelah dirinya memeluk Islam.

Memang kisah yang dilontarkan Thomson tentang mata-mata Eropa itu bukan bualan. Godfrey Jansen (GH Jansen), seorang staf diplomatik Inggris urusan Timur Tengah, wartawan The Economist dalam bukunya “Islam Militant”, melukiskan kisah serupa. Dia menuliskan:

Pengalaman Santo Fransiskus adalah contoh tipikal misi-misi berikutnya. Setelah dua kali gagal memasuki wilayah kaum muslimin, pada akhirnya ia mencapai Mesir bersama dengan prajurit-prajurit perang Salib pada tahun 1219. Dia berkothbah di depan kaum muslimin, yang mendengarkannya dengan sopan, tetapi menolak untuk berdebad dalam hal agama. Kaum muslimin melindungi sang Santo dan melimpahinya dengan hadiah-hadiah. Kawan-kawannya gagal menjadi martir di Mesir negeri kaum muslimin yang sopan-sopan, mencoba berbuat kasar di Spanyol kemudian di Maroko dimana akhirnya mereka berhasil menjadi martir.

Kisah kegagalan kaum misionaris dalam mengKristenkan umat Islam juga dilontarkan oleh Ali Muhammad Ash Shalabi. Dalam bukunya “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah”, dia menceritakan beberapa pastor dan pendeta justru pindah agama memeluk Islam tatkala berada di Mesir, abad ke 15 lalu. Awalnya para pendeta itu menjalankan misi untuk menyebarkan agama Kristen di Mesir. Yang terjadi justru sebaliknya.

Hal ini pulalah yang membuat Snouck Hurgroje, sosiolog melegenda asal Belanda, memiliki jurus berbeda tatkala dia diperintahkan meneliti cara agar bisa mengKristenkan penduduk nusantara yang sudah memeluk Islam. Snouck berkesimpulan upaya Kristenisasi tak usah berfokus pada rakyat yang sudah memeluk Islam. Tapi disasarkan pada penduduk nusantara yang belum memeluk Islam.