Mengenal Sultaniyya, Sistem Pemerintahan Islam

585

Hampir 100 tahun terakhir umat Islam terjebak pada perdebatan wacana tentang tata pemerintahan Islam. Terlebih pasca runtuhnya Daulah Utsmaniyah, semenjak tanzimat tahun 1840, yang puncaknya dikudetanya kedudukan Sultan, tahun 1924.

Semenjak hilangnya Kesultanan Utsmaniyah di muka bumi ini, umat Islam terbelah menjadi dua bagian, pro Daulah atau pro demokrasi, tatanan pemerintahan yang hidup pasca rennaisance di Eropa. Sejumlah muslimin dan ulama tetap berpandangan bahwa kaum muslimin harus hidup dalam Daulah. Tak sedikit yang mengartikan sebagai kembali ke Khilafah. Kedudukan dan fungsi khilafah dan kehadiran Khalifah mesti kembali di upayakan. Tapi disisi lain ada kaum yang serta merta memilih untuk mendukung demokrasi sebagai sistem yang juga bisa diterima dalam Islam. Penopang wacana ini dipelopori para modernis Islam yang bermula dari Mesir dan Saudi. Gerakan-gerakan kembali ke Daulah kemudian bermunculan dari berbagai arah. Hanya saja, seperti diuraikan Shaykh Abdalhaq Bewley, banyak yang salah dalam melihat sosok yang menjadi musuh Islam sebenarnya. Kesalahan dalam melihat musuh itu berdampak pada kekeliruan dalam mengambil jalan. Tak heran arah menuju kembali pada Daulah tak menapaki kemajuan walau sesenti pun.

Sebaliknya wacana bahwa Islam harus menerima demokrasi kian gencar. Doktrin dan beragam “ijtihad” dari segala macam muslim, walaupun bukan ulama, dilancarkan, demi bisa mengislamisasi demokrasi dan segala macam keturunannya. Gerakan islamisasi ini kian hari makin diminati dan diterima begitu saja, tanpa adanya perlawanan terhadap sistem yang sejatinya tak merujuk pada Al Quran dan Sunnah. Doktrin Islamisasi ini yang kini memuncak bahwa Islam seolah harus mengikuti perkembangan jaman. Padahal yang semestinya adalah umat-lah yang harus kembali kepada Islam.

Sudah hampir 4 abad gerakan Islamisasi pada kapitalisme ini telah berlangsung. Hasilnya tak membawa umat pada kejayaan, seperti yang pernah tertoreh pada masa Daulah Utsmani, Kesultanan Aceh maupun kedigdayaan Kesultanan Moghul. Islamisasi kapitalisme malah berujung pada umat yang terus menerus diperebutkan bak makanan yang terhidang dalam sebuah piring. Islamisasi makin membawa kehancuran pada umat. Justru dalam menerapkan model Islamisasi kapitalisme (kekufuran), umat makin terperosok hingga tak mampu lagi menegakkan yang haq. Karena kebathilan yang coba di Islam-kan. Islamisasi inilah yang melahirkan produk-produk, yang seolah sesuai dengan Islam. Kehadiran Bank Islam, asuransi Islam, pasar modal Islam, dan segala macamnya, tak menghasilkan apapun demi kebangkitan Deen. Justru menambah kesengsaraan umat dan hanya menguntungkan sejumut umat belaka –bak kapitalisme itu sendiri–.

Disisi lain muncul pula gerakan yang seolah-olah mewujudkan negara Islam, tapi dengan jalur kekerasan atau militerisme. Kekuatan rezim kapitalisme yang dimotori bankir, tentu membutuhkan “musuh bersama” agar terus bisa merapatkan barisan dan publik terhenyak dari pola permainan yang mereka mainkan. Karena itu kebutuhan adanya gerakan hiburan semacam tontotan bak gladiator, menjadi sangat diperlukan. Radikalisme yang mengatasnamakan Islam, atau kemudian digiring bahwa teorisme itu merupakan anak dari Islam, sangat dibutuhkan para kapitalisme (para kufur) sebagai hiburan bak gladiator. Tentu agar publik terkesima dan terhenyak. Tentu perangkat yang mereka miliki: media, otoritas negara, dan lain sebagainya, diarahkan untuk menopang agar permainan itu bisa terus disaksikan khalayak.

Kondisi itulah jamak kaum muslimin menjadi terlena akan kehadiran musuh sebenarnya. Shaykh Abdalqadir as sufi, yang lahir dari jantung peradaban kapitalis, putera Barat asli, yang kemudian masuk Islam dan belajar Islam secara mendalam, membedah permainan kapitalis itu secara tuntas. Beliau membuka mata umat bagaimana sebenarnya para kapitalis itu bermain. Riba adalah musuh utama umat yang harus diperangi, dan yang menyebabkan kehancurannya Daulah Utsmani dan kesultanan di nusantara. Riba inilah yang menyebabkan lenyapnya Islam dari berbagai penjuru dunia. Beliau mendefenisikan bahwa Daulat Utsmani tak runtuh karena pedang. Islam tak kalah karena perang. Tapi runtuh karena riba masuk di dalam nya. Bak kesultanan di nusantara, dari Aceh, Pattani, Malaka hingga Tidore yang berjumlah 200 lebih kesultanan, kemudian lenyap ditelan riba, yang dijalankan para kapitalis (baca: kaum kufur). Pasca kesultanan lenyap, tentu tak layak muslimin kemudian mengislamkan sistem kapitalisme itu.

Namun di satu sisi, umat juga terbelenggu pada jebakan “negara Islam” yang seolah-olah menjadi jalan keluar. Padahal doktrin tentang “negara Islam” sama sekali tak membawa umat pada model yang dijalankan Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam, diteruskan Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin hingga muslimin abad 16. Kekeliruan dalam melihat bagaimana struktur kehidupan muslimin itulah yang menyebabkan kekeliruan dalam mengembalikan tegaknya Deen Islam. Doktrin “negara Khilafah” juga hampir serupa. Karena memandang bahwa “khilafah” sebatas pada sistem pemerintahan, yang terjebak pada dogma-dogma model tata pemerintahan yang lahir dari doktrin munculnya “negara”, pasca Revolusi Perancis. Inilah yang menyebabkan “khilafah” yang telah puluhan tahun didengungkan, tak kunjung berwujud. Karena terjebak pada urusan bak pengangkatan pemimpin. Padahal Daulah bukanlah sekedar pengangkatan pemimpin. Melainkan tegaknya syariat, tanpa menunggu hadirnya Imam Mahdi. Tata cara munculnya pemimpin (AMR) dalam Islam tentu bukan ribet seperti dalam teori kenegaraan yang dicetuskan oleh para rennaisance di Eropa. Inilah yang harus ditinggalkan.

Untuk melihat hal itu, perlu mendalami kajian yang dipaparkan Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia yang kini menetap di Basel, Perancis. Beliaulah yang mampu mendefenisikan secara apik bagaimana sejatinya Daulah itu, dan bagaimana jalan mewujudkannya. Karena beliau mendudukkan musuh Islam secara defenitif. Mengetahui siapa sebenarnya sang musuh, hingga bisa tahu sasaran yang harus “dibunuh”. Kesalahan dalam mendudukkan musuh, tentu kekeliruan dalam menjalankan amal.

Tulisan ini sepenggal bab dalam kitabnya, “Sultaniyya”. Terjemahan dalam bahasa Indonesia telah diterbitkan Pustaka Adina, 2014. Berikut pemaparannya tentang AMR (Sultan)

SULTAN

BOLEH DIKATAKAN, Islam tidak lagi ada di muka bumi ini sekarang. Tentu saja ada negara-negara dengan penduduk Muslim, barangkali sekitar dua milyar saat ini tetapi Daulah Islam tidak dapat hidup tanpa wewenang komando yang akan menegakkan hal-hal yang sangat mendasar dan penting. Apa itu hal-hal yang penting dan mendasar?

Al Qurthuby mendefinisikannya dalam tafsirnya sebagai:

  1. Penegakan kewenangan dalam shalat Ied dan Jumat. Penegasan kedua Ied ini menurut kondisi mereka.
  2. Jaminan akan ketepatan dalam kemurnian dan timbangan Dinar dan Dirham. Bahwa timbangan dan ukuran dalam kehidupan warga benar.
  3. Pengangkatan pengumpul zakat.
  4. Dan pengumpulan serta pendistribusian menurut keadaan setempat yang diketahui.
  5. Kesiapan untuk menyelenggarakan jihad dan keberhasilan guna mengumpulkan dan mendistribusikan ghanimah.
  6. Mungkin perlu ditambahkan perihal perlindungan terhadap golongan dhimmi dan pemberlakuan jizyah.

Untuk memahami cara kita bekerja menuju penuntasan pada momen ambang ini yang akan menjadi harapan pertama seluruh spesies manusia -sebuah harapan yang dimusnahkan seabad lalu dengan pengusiran dan pemenjaraan Sultan Abdulhamid II Khan, khalifah terakhir.

Berdasar titik pandang sejarah Islam –harus dipahami bahwa yang berbeda adalah aturan kafir dan aturan Islam. Isu ini belum pernah diungkap dan tentu saja tidak akan segera terlihat jelas bagi orang-orang modern dengan latar belakang pedagogi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam yang mematikan. Guna menggarisbawahi betapa jauh kesalahan ini dan titik pandang jungkir balik yang kita warisi ada satu contoh yang perlu dikaji.

Persoalan ini sangat penting karena berkaitan dengan wali Allah dan pemimpin Islam yang sangat agung, Sultan Abdulhamid H Khan, sebagaimana disebut di depan. Selama hidupnya, kekuatan Eropa menyerang setiap hari dengan menggambarkannya dalam tokoh fantasi yang mereka buat sendiri. Di satu sisi dia adalah Sultan Merah yang tangannya berlumur darah korban-korbannya. Di sisi lain dia digambarkan sebagai tokoh dengan kejiwaan tidak seimbang yang bersembunyi di koridor rahasia dan merasa sangat ketakutan akan dibunuh karena memerintah dengan tangan besi.

Ketika Kemal mendapat kekuasaan dengan dukungan gerakan masonik dan yahudi dia segera menyerang yang sebetulnya sudah lama berupaya mengulingkan tahta Sultan, dia segera menyerang seluruh khalifah Usmaniah, dengan menghukum dan memenjarakan siapa saja yang mencoba membela mereka.

Dia membentuk komisi untuk membuat biografi dirinya di Anatolia dan dia dipuji-puji oleh pemimpin Barat, sekalipun kajian oleh H.C Amstrong dalam karya “Grey Wolf’ menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang terbelah, pecandu alkohol sekaligus korban sodomi yang mengakhiri hari-hari terakhirnya dalam keadaan setengah sadar di istana Sultan Usmaniah yang direbutnya.

Guna sekedar memberikan gambaran petunjuk akan perbedaan antara sang Sultan dan sang diktator pemberontak –salah satu tindakan terakhir Sultan Abdulhamid ialah membentuk komisi kamus baru bahasa Usmaniah, yakni sejarah besar bahasa yang telah bertumbuh dan berkembang lebih dari enam ratus tahun dan hasilnya adalah Kamus Turki.

Sedangkan Kemal justru membentuk komisi pemusnahan bahasa, linguasida. Dia menamatkan riwayat bahasa Usmaniah, tata bahasa dan huruf-hurufnya. Salinan Kamus Turki milik penulis berisi seribu lima ratus tujuh puluh halaman.

Penulis Turki Orhan Okay menelaah terjemahan Turki dalam empat karya filsafat Perands: Pensees of Pascal, Meditation of Lamartine, Reflexion of La Rochefoucauld dan Idees of Alain. Dia mencatat bahwa kata thought meditation dan reflexion serta idees semuanya direduksi oleh bahasa Turki Kemal menjadi dusunceler, yakni thought Dalam bahasa Usmaniah masing-masing dapat dialihbahasakan secara berbeda menjadi dusunceler, murakabat, tefekurat dan fikirlet.  

Diktator Kemal secara lebih ganas mencoba melenyapkan Islam. Tapi dia tidak mampu membuat rakyatnya yang besar menjadi orang kafir. Memang dia berhasil menghapuskan daulah tetapi tidak iman dalam hati orang-orang Islam. Bahkan mereka bukanlah umatnya. Itulah sebabnya dalam gaya kafir sejati dia berbohong dan menamakan dirinya Ataturk.

Biografi terkenal Lord Kinross di antara kaum Kemalis pada kenyataannya diolok-olok oleh penulisnya sendiri pada suatu sore ketika dia mabuk di Traveler Club pada saat dia menyuguhkan cerita-cerita yang hanya mempertegas versi Amstrong tentang diktator yang mengalami keruntuhan.

Salah satu penulis besar Turki di abad lalu, yang akhimya sekarang dihargai dan dihormati ialah Necip Fazil. Bukunya “Ulu Hakan“, biografi karyanya tentang Sultan Abdulhamid membawanya ke penjara kaum Kemal untuk disiksa selama hampir satu dekade.

Hal penting dari buku tersebut ialah bukan sekadar rehabilitasi besar-besaran terhadap tokoh biografinya tetapi bahwa buku tersebut dari awal hingga akhir sarat dengan dokumen-dokumen resmi yang membuktikan tanpa bisa dibantah keagungan Sultan.

Dewasa ini serangan masih terus berlanjut sampai pada tingkat akademik. Upaya memprihatinkan dan buruk oleh Salim Deringil yang diterbitkan pada tahun 1998 masih mencemarkan Sultan Abdulhamid dan juga buku Necip Fazil.  Kalau kita lihat bibliografinya kita akan mengetahui bahwa dia mengambil informasi dari sebuah buku yang diterbitkan di New York pada tahun 1958 berjudul The Sultan oleh Joan Haslip. Dia mengutip buku bersebut dalam kajiannya sekalipun karya ini hanya dapat dikatakan sebagai sampah.

Buku ini ditulis sekadar untuk melariskan dalam bentuk naskah film. Buku ini berisi dialog imajiner pertemuan tanpa seorang pun ikut di dalamnya. Pengarang mengambarkan secara hidup keadaan psikologis Sultan, betapa sok tahu dia! Penyerangan melalui buku-buku Deringil dan sejenisnya bukanlah merupakan kelanjutan versi golongan Kemal mengenai masalah ini tetapi lebih merupakan ketidakmampuan kalangan akademi Turki untuk melancarkan bahkan secuil kritik terhadap sang pengkhianat Mustafa Kemal. Anak-anak yang diambil secara paksa untuk memberikan penghormatan di makam kacanya di Ankara telah melaporkan mendengar jeritan-jeritan kesakitan dari bawah batu nisan. Barangkali anak-anak inilah yang merupakan penulis biografinya yang sejati.

Perspektif yang kita perlukan harus memperhitungkan pandangan dunia yang jungkir balik bahwa pendidikan modern telah dipaksakan pada kita. Hal ini tidak saja mengenai kasus di atas yang mungkin dengan sendirinya dapat dimaafkan sebagai bagian yang memang diperlukan dalam perkembangan evolusi dari daulah Usmaniah yang besar menuju negara kebangsaan yang didera kemiskinan dan tinggal puing-puing. Isu yang sebenarnya terletak pada lapisan lebih dalam.

Lihat garis besar serangkaian peristiwa di bawah yang jika dikumpulkan akan memunculkan sebuah pola yang utuh dan gamblang;

  1. Sultan Mahmud II di bawah tekanan luar biasa elit baru finansial yang mengguyur uang ke Istambul memerintahkan pembagian pendidikan Usmaniah menjadi dua sistem yang terpisah: sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan sekuler dan ilmiah
  2. Selama masa pemerintahan dua sultan berikutnya, Sultan Abdulmajid I dan Abdulazis (1839-1876) serangkaian perubahan Daulah Usmaniah terus-menerus dilakukan. Gerakan ini disebut Tanzimati Hayraye atau Penataan Ulang Pembawa Berkah
  3. Melalui gerakan ini di sana muncul sebuah kelas penguasa baru para birokrat yang bemama Memurs. Ingat hingga masa Tanzimat Daulah Islam terdiri atas para Amir lokal, yang menyusun serangkaian autonomi yang berkait, sehingga tidak ada autoritas sentral, basis Khalifah di Topkapi diselenggarakan dengan tiga ribu orang. Pada akhir masa Tanzimat ada birokrasi dengan tiga puluh ribu orang.
  4. Februari 23, 1839. Semua pola penarikan pajak berdasar syariah Islam dihapus termasuk jizyah.
  5. Pada tahun 1840. Uang kertas pertama kali dikeluarkan di kalangan Muslimin, uang ini disebut Kaimei-mutabere
  6. Pada tahun 1856 Bank Usmani, bank-bank Usmaniah didirikan oleh gembong-gembong keuangan Yahudi
  7. Pada tahun 1867 sebuah undang-undang dikeluarkan yang memungkinkan para orang asing memiliki real estate di dalam daulah.
  8. Pada tahun 1869 sistem pengadilan Nizamiyah dibangun guna memperkenalkan apa yang disebut keadilan sekuler
  9. Pada bulan Juni tanggal 4, 1876 Sultan Abdulazis dibunuh, para pembunuhnya menjarah kamar pribadinya tempat dia dibunuh.

Dengan demikian jika kita, orang Muslim, mencermati urutan kejadian-kejadian di atas dengan mengambil garis-garis besar yang tercantum di situ, tidak bisa tidak kita akan mengenali bahwa kaum kafir menghancurkan musuh-musuhnya dengan bahasa-bahasa reformasi, modernisasi dan rasionalitas. Juga jelas bahwa apa saja yang mereka nyatakan tentang perbuatan mereka guna kemaslahatan umat manusia justru sebaliknya yang terjadi.

Sistem kafir ialah mesin negara. Identitas mesin tersebut adalah teror. Tidak ayal lagi dalam akhir permainan sistem kafir ini akan disebut-sebut kata-kata tersebut dan menyatakan semua musuh-musuhnya secara samar-samar. Bagaimana pun disamarkan yang jelas para teroris adalah perorangan yang berasal dari kaum nihilistik yang putus asa. Tragisnya, terorisme adalah doktrin dasar dunia negara hegemoni saat ini yang tidak disupervisi oleh politisi publik tetapi oleh elit terpencil dan menyendiri, yang sangat tidak peduli dengan tujuan genosida masa yang harus disingkirkan atau jika selamat karena beruntung, ditempatkan dalam kawasan penampungan.

Tokoh besar demokrasi dunia, Amerika Serikat, dibangun atas dasar genosida sebelumnya, yang memang diperlukan, terhadap penduduk asli Navaho, Sioux dan lain-lain. Mereka yang masih tersisa dan bertahan hidup digiring ke gurun-gurun kawasan penampungan. Apa yang disebut negara Turki juga sebetulnya kawasan penampungan. Apa yang dinamakan sebagai negara Mesir adalah kawasan penampungan.

Jika seseorang tersisa di Palestina, Khasmir dan Chechnya, mereka akan ditempatkan di kawasan penampungan. Kedua negara demokrasi dengan ideologi teror tersebut dan penentang-penentang pribadi yang tidak waras dan menyimpang, para teroris membentuk satu realitas atau bisa katakan sebuah dusta, Islam menyinarinya dengan sinarnya yang lembut di lembah sebelah. Mustafa Kemal, pada saat dia mengambil emas kaum Muslim India telah bekerja menuju pemulihan kekhalifahan dan memberikannya pada bankir Yahudi Galata yang memperlihatkan kebodohan Kemal, “Aku memberi mereka emas dan lihatlah! Mereka memberiku sebuah bank!”

Di sini kita bisa menamakan Mustafa Kemal seorang manusia modern purba. Kejiwaannya yang dipenuhi hasrat biadab membuatnya berpikir bahwa dia mendapat keuntungan dengan menukarkan emas dengan kertas. Mata uang Turki Kemal Lira terus-menerus merosot nilainya dan pada saat ini praktis tidak ada harganya.

Sekali lagi, sistem kafir merupakan mesin negara dan karena dia menaati logika mekaniknya sendiri, tidak ada yang dapat mencegahnya yang menjadikan objek eksekusinya adalah warganya sendiri. Napoleon berkata, “Satu-satunya lembaga yang pemah direncanakan oleh manusia untuk menguasai Kekuatan Uang di dalam Negara ialah Monarki.”

Sebagaimana telah dijelaskan dalam seluruh halaman karya ini, gagasan-gagasan yang diterima, semua produk pendidikan sistematik kafir hanya dapat menyesatkan kita pada posisi kita menyerah pada dialektika yang mereka tawarkan. Penolakan mereka tidak lagi dilihat dalam kerangka wacana yang bermakna meskipun mereka berpura-pura untuk itu tetapi penentangan terang-terangan terhadap hegemoni kafir dan penentangan semacam itu akan mendefinisikan kita sebagai penjahat dan dianggap teroris aktif.

Kedudukan sebagai raja memiliki dua matra. Kedudukan sebagai raja ialah kekuasan perorangan. Pemerintahan semacam ini menggunakan prinsip-prinsip herediter. Hendaknya diingat bahwa pewarisan menurut syariah bukan didasarkan pada hak anak sulung.  Praktik terakhir ini milik orang-orang Kristen dan secara genetik membahayakan.

Cara Islam berdasar ketentuan ilahi tentang kerabat terdekat yang memungkinkan mendapatkan varietas yang lebih unggul dengan seleksi genetik yang lebih luas dan tidak menurunkan sifat dan mendapat galur (strain) yang sernakin lemah dan lemah. Penting dilihat dalam penghapusan Majelis Tinggi (House of Lord) di Inggris argumennya berbunyi bahwa orang tidak boleh memerintah semata-mata “karena kebetulan dilahirkan sebagai ningrat”.

Ada dua aspek dalam pengelabuan ini. Kelahiran bukan perbuatan kebetulan, tetapi secara genetik ditentukan. Hereditas dikenal dalam sejarah dan merupakan metode teruji yang tercatat dalam sepanjang sejarah sejak Iliad di Barat hingga tarikh kuno di Timur.

Bernard Shaw menyatakan, “bahwa bangsa Inggris disiapkan menikmati keuntungan guna mendapat kuda pacu terbaik yang akan memenangi lomba tetapi rela membiarkan manusia bastar berkuasa di Parlemen.”

Aspek lain, yang dari satu sisi merupakan tema unik buku ini, ialah bahwa pemerintahan perorangan menghalangi jalan Kekuasaan-Uang. Atas alasan ini, jika dalam elit oligarki kita menjumpai dua aspek ini menyatu, kita harus mengetahui pengambilan kekuasaan tersebut.  Sebetulnya kelas politik itu tidak berdaya, paling banter dapat diberi sejenis penangguhan atau keadaan mendesak. Kebijakan tetap saja didikte oleh mereka yang mengendalikan kekayaan

Pemerintahan, sebagaimana digunakan sejarawan besar Mommsen sebagai prinsip dasar dalam menganalisis Republik Romawi adalah pemilikan dan kendali kekayaan. Dengan demikian, pada jaman kita, pembunuhan House of Lords Inggris tidak relevan dan semata-mata menandai keruntuhan elit kekuasaan lama tetapi pada saat yang sama memindahkan perhatian umum dari kekuasaan baru.

Griya-griya perbankan besar pada saat ini hampir selalu dimiliki oleh keluarga-keluarga Yahudi yang telah mewariskan sejak awal perbankan modern dua ratus tahun lalu, sekalipun kadang kala mereka mengklaim hereditas lanjutan dari Zaman Pertengahan. Bahkan ada yang mengatakan mereka secara genealogi merupakan keturunan Raja Daud! Hal ini berarti bahwa oligarki finansial secara sistematik mengakui prinsip hereditas dan pada saat yang sama mengaspirasi penguasaan yang terbuka dan bersifat publik, pada saat ini dengan kekayaan luar biasa tidak lagi puas berada di balik layar.

Dalam pengertian ini, Rothschild yang berpendapat: “Aku tidak peduli siapa yang memerintah, sepanjang akulah yang mengendalikan pasokan uang” sudah usang. Gagasan yang jelas-jelas membuat negara untuk Yahudi di luar Palestina, jauh dari proyek ideal guna mengumpulkan diaspora yang tersebar, terbukti hanya mimpi dan ambisi keluarga-keluarga besar perbankan Yahudi untuk menyaksikan kembalinya monarki Raja Daud!

Hal ini bukan fantasi fasis tetapi merupakan tesis para bankir karena bukan merupakan zionisme di tangan para rabi tetapi merupakan penyimpangan dari rabi sedangkan para rabi itu sendiri telah ditipu.

Apa yang diinginkan para bankir adalah kapital dunia, campuran halusinasi antara Las Vegas dan Berlin, atau barangkali pikiran kacau mereka tentang Babilonia purba untuk akhirnya mereka akan menjadi para tuan. Penting menyingkirkan gambaran ilusi Monarki Konstitusional dapat diterima sebagai model yang akan memadamkan aspirasi kedua kelompok dialektika yang masing-masing disebut sebagai modern dan reaksioner.

Hal ini dalam dialektika kafir dibilang revisionisme tetapi dengan penyingkapan kedok kemunafikan dan obyektivitas semu kaum kafir jelas bahwa versi kiwari sejarah politik itu sendiri merupakan revisi apa yang sebenarnya terjadi.

Pemerintahan Perorangan

Guna mengklarifikasi perkara ini penting melayangkan pandangan sekejap pada penghapusan pemerintahan oligarki oleh pemerintahan perorangan dan pengembalian pemerintahan oligarki dengan monarki boneka sebagaimana terjadi di Inggris. Makna transisi di Inggris ini penting untuk kita karena inilah negara kafir yang kemudian melakukan perang jangka panjang terhadap Islam.

Pada awal pemerintahan Raja Henry VI, gereja Kristen memiliki tiga puluh persen tanah di desa-desa dan mengambil sepuluh persen iuran yang dibayarkan oleh pemilik yang lebih kecil kepada pemilik yang lebih besar. Hingga tahun 1535 semua ini berada di tangan-tangan sistem politik Katolik, yakni para kardinal, pendeta, biarawan dan biarawati. Ketika Henry VII mengambil alih biara-biara, kekuatan finansial gereja Katolik dihancurleburkan.

Andaikata Henry VII menahan kekayaan pada tangan-tangan kerajaan dia akan menyelamatkan masa depan yang harmonis untuk negara dan raja. Tetapi dia tidak menahan tanah-tanah yang telah diambilnya. Malangnya, para pemilik besar tanah yang telah menguasainya hampir sepertiga nilai tanah pertanian Inggris terlampau kuat dan mereka bersikeras untuk diberi tanah baik secara gratis maupun jumlah yang sedikit sekali.

Parlemen pada saat itu mempertahankan mereka. Lembaga ini belum pernah menjadi parlemen rakyat. Sesudah itu para pemilik tanah mempunyai setengah negeri Inggris. Semua rumah-rumah besar di luar kota Inggris mulai dibangun sejak kurun ini atau sesudahnya. Inggris praktis berada di bawah kendali keluarga-keluarga besar Howard, Cavendish, Russel dan Cecil serta sekitar lima puluh keluarga baru yang muncul kemudian.

Demikian juga pada tahun 1625 ketika Steward Charles II menduduki tahta, sebuah realitas baru ekonomi telah mengambil alih tradisi lama Inggris. Sebuah oligarki kuat terdiri atas pemilik-pemilik besar dalam kata-kata sejarawan Belloc dinyatakan: “sebuah monarki yang melarat dan mengerut ukurannya”

Belloc menjelaskan: “Mahkota yang kehilangan kehormatan dan melarat tidak lagi dapat bertahan. Mereka bertempur dengan golongan kaya baru dalam perang sipil; jelas-jelas mereka kalah dan ketika sebuah penyelesaian ditetapkan pada tahun 1660 kita dapatkan semua realitas kekuasaan berada di tangan-tangan sekelompok kecil pria kaya yang kuat, raja masih dikelilingi bentuk-bentuk dan tradisi kekuasaan lama tetapi dalam praktik sekadar boneka bayaran. Dan dalam dunia sosial tempat kemunculan politik ada catatan penting bahwa sejumlah kecil keluarga berharta telah menguasai sejumlah besar alat-alat produksi di Inggris, sementara keluarga-keluarga tersebut sekaligus menyelenggarakan kekuasaan administrasi lokal dan para hakim, pendidikan tinggi, gereja-gereja dan jenderal-jenderal. Mereka mengalahkan tuntas apa yang tersisa dari kekuasaan sentral di negeri ini.”

Dalam perspektif ini, periode Carolin yakni Charles I dan Charles II dengan masa peralihan pemerintahan Cromwell diktator tuan tanah, merupakan upaya terakhir oleh monarki Steward untuk mempertahankan pemerintahan perorangan dan melawan Kekuasaan-Uang para pemilik tanah. Apa yang terjadi setelah kematian Charles H tahun 1685 dan ajakan Graha Oranye (House of Orange) untuk mengambil tahta Inggris, yang dijuluki Revolusi Besar sebenarnya bukan itu persoalannya.

Pemerintahan Hanover berikutnya merupakan penguasa boneka dengan mahkota di kepala mereka. Kekuasaan sekunder sesudah itu hingga sekarang telah disingkirkan dari mereka, dari autoritas penting untuk memberi gelar-gelar herediter menuju pemanggilan dan perintah kepada Parlemen untuk berkumpul. Kebangkitan aristokrasi Inggris ini sebetulnya memberi isyarat kelahiran dan evolusi kapitalisme ciri Inggirs sehingga masa rehat Cromwell mewakili hanya satu fase dalam evolusi kapitalisme ketika tentara secara temporer memegang kekuasaan guna menuntaskan transisi kekusaan dari monarki ke oligarki.

Setiap buku sekolah di Inggris, yang tidak mau mengajarkan sejarah sama sekali memproyeksikan sebuah versi sejarah yang menggambarkan Charles I sebagai seorang penguasa arogan yang hidup di bawah angan-angan kosong yang diterima dari ayahnya berupa sebuah doktrin yang disebut Hak Tuhan pada Raja. Boleh jadi penduduk bangkit melawan fantasi kristen usang ini, yang dipimpin tidak oleh satu di antara mereka sebagai sebuah mitos tetapi oleh satu dari para milyuner Oliver Cromwell.

Pembasmian keluarga ningrat (regisida) yang terjadi selanjutnya dianggap sebagai tanda akhir doktrin abad pertengahan tentang kerajaan dengan menggantinya dengan julukan terkenal Induk Parlemen (Mother of Parliament). Fakta bahwa bangsa Yunani dan Bask telah memiliki parlemen di jaman purba dalam dialektika ini sangat diabaikan.

Pada tahun 1992, telah diterbitkan buku oleh sejarawan Kevin Sharpe berjudul Pemerintahan Perorangan Charles I. Kajian mendalam sebanyak seribu halaman ini tidak diragukan merupakan karya besar dalam penulisan sejarah Inggris sejak karya Carlyle “Revolusi Perancis”.

Dengan jumlah besar dokumentasi, dengan penilaian yang jujur dan jeli, dengan pertimbangan jauh dari kekaguman terhadap karakter raja itu sendiri, Sharpe menghancurkan doktrin politik yang bersikukuh bahwa langkah dari pemerintahan raja menuju pemerintahan oleh Parlemen merupakan evolusi dan karena itu lebih baik. Untuk jangka waktu tujuh tahun Charles 1, dengan membubarkan Parlemen, memerintah Inggris dengan kekuasaan langsung.

Sesungguhnya, dari sudut pandang kita sebagai orang Islam, kekalahannya disebabkan oleh doktrin berbahaya reformasi terhadap kekuatan oligarki kapitalisme yang sedang bangkit. Kisah kurun tujuh tahun pemerintahan Charles merupakan rekaman seorang raja yang mengandung kebijakan-kebijakan yang oleh Sharpe didefinisikan sebagai “Aspek-aspek fiskal dan reformasi yang berhubungan, yang dimaksudkan untuk mengembalikan ritus-ritus dan jurisdiksi yang hilang kepada Mahkota juga keuntungan dan pendapatan yang telah hilang.”

Raja bergerak melawan perambahan hutan-hutan oleh para pemilik tanah. Ini merupakan skema ekologi baik untuk menjamin pasok kayu kepada angkatan laut kerajaan maupun menjamin penanaman ulang. Penghancuran hutan mengancam pasokan pewarna yang digunakan oleh industri pakaian. Sharpe menjelaskan “… hutan telah melindungi banyak orang yang hidup di jurang kemiskinan yang bergantung pada lingkungan mereka, limbah yang sah dan tanah milik bersama, untuk bertahan hidup. Penyingkapan keluarga baik-baik mengancam eksistensi itu demikian pula eksplorasi wirausaha atas tanah-tanah hutan untuk pabrik-pabrik.”

Dia menambahkan “Pemberontakan yang bangkit di hutan-hutan berasal dari penolakan penduduk terhadap cengkeraman aristokrasi yang telah diatur dalam hukum kehutanan yang lebih banvak melindungi daripada merusak. Dalam penegasan ulang hukum-hukum tersebut, dalam pengembalian ketertiban akibat kekacauan di hutan, dalam melestarikan kayu dan mengurangi limbah dan dalam melakukan sesuatu guna melindungi ritus-ritus yang lazim demikian pun untuk pihak Mahkota, habitat untuk penghuni, hutan terhitung dalam program reformasi yang menjadi ciri pemerintahan perorangan.”

Raja memerintah dengan sebuah lembaga konsultasi yang disebut Privy Council. Sharpe mencatat “Pada tahun 1636 duta besar Venesia menulis bahwa Raja tidak melakukan apa-apa dan menentukan apa-apa kecuali sesudah konsultasi yang matang dan a lot.”

Privy Council masih hidup dan menciut menjadi sebuah rumah cangkang rapuh dan dibuat tanpa arti. AJP Taylor mencatat yang berikut: Pada jam 10:30 pm pada bulan Agustus 1914 Raja George V mengadakan konsultasi pribadi di Istana Buckingham yang dihadiri hanya oleh satu menteri (Lord Beauchamps, komisaris pertama pekerja) dan dua pejabat pengadilan. Dengan ini menjatuhkan sanksi proklamasi perang negara dengan Jerman dari pukul 11:00 p.m. Itu saja”.

Privy Council sekarang diwajibkan berdiri sementara monarki menerima brifing Parlemen, partai pun tidak memiliki kewenangan campur tangan dalam proses pemerintahan.

Sharpe mengamati apa yang dia namakan mentalitas serikat pekerja dalam pemerintahan Caroline, dengan meregulasi standar-standar dalam proses manufaktur dan upaya menghindari penipuan dan ketepatan berat dan ukuran. Dia mendapatkan apa yang disebut “persepsi masih dalam keserasian dengan harga dan gaji yang jujur, yang jelas membedakan antara regulasi jalanan dan serikat pekerja, sebuah dunia ekonomi yang dijejali dengan keuntungan, bunga dan persaingan yang ditekan ke bawah demi kesejahteraan umum.”

Upaya pembelaan serikat kerja  oleh Caroline, yang merupakan praktik Islam, menghindarkan kekuatan kapitalisme yang mencengkeram. Akhirnya, serikat pekerja mendorong timbulnya apa yang kemudian dikenal sebagai kaum proletariat, maka yang menunjukkan para pekerja tidak semata-mata tidak memiliki alat produksi tetapi mereka sendiri merupakan budak-budak. Seorang pekerja penerima gaji telah kehilangan kemerdekaannya, demikian kejam kekuatan Kekuasaan-Uang yang sedang bertumbuh yang telah mencapai tingkat pembudakan orang-orang bergaji.

Pada  waktu peperangan Napoleon, mereka mampu memperkenalkan sebuah Pajak Pendapatan tanpa keluhan pun sama sekali dari rakyat, sebuah masyarakat yang telah memberontak terhadap pemerintahan monarki ketika harga satu pint bir naik setengah peni. Pada apa yang mungkin sebagai tindakan degradasi ke-dua dari yang paling belakang, Perang Dunia Dua berhasil memberlakukan pajak penjualan pada hampir semua barang, yang secara sinis disebut pajak pertambahan nilai.

Di bawah oligarki para bankir, penyingkiran kebebasan ekonomi bersifat mutlak. Tidak hanya akses terhadap kekayaan tetapi penggunaan dan gerakannya pun dipantau dengan cara-cara yang ekstrim berupa operasi polisi total global. Hal ini mustahil tercapai tanpa penggantian kebejatan moral tersebut dengan kebebasan baru yang maha-meninabobokan. Solusinya ialah pengenalan bertahap kebolehan yang sama mutlak dan tanpa batas untuk mengumbar kebebasan seksual.

Penulis terbesar Inggris pada tahun 1920-an dan 30-an, Wyndahm Lewis dengan tepat meramalkan apa yang terjadi dan mengingatkan orang akan lepasnya ikatan-ikatan perkawinan mula-mula. Disusul kemudian oleh berbagai hubungan, dari hubungan badan tanpa nikah, perzinahan hingga tindakan homoseksual, yang pada hakekatnya bukan lepasnya dari moral puritan dan sejenis modernisme evolusioner tetapi merupakan kekuatan ekonomi dan kebebasan dalam praktik perdagangan.

Semua ini memungkinkan kita sampai pada sebuah kesimpulan penting. Apa yang terjadi pada dunia ini pada seratus tahun terakhir yang disebut imperialisme sebetulnya merupakan serangkaian kejahatan yang seakan tak pernah merasa puas, yang tidak ada hubungannya dengan para kaisar dan raja-raja tetapi merupakan ranah unik bankisme. Para bankir, dengan menyingkirkan para raja, kemudian mendorong para penguasa boneka mereka ke depan, lalu mereka mulai menghancurkan dunia.

Edward VIII, pada waktu dalam pengasingan di Paris setelah dimakzulkan, ditanya pada suatu malam mengapa dia tidak tetap sebagai raja. Dia menjawab, “Untuk menjadi raja apa? Aku tidak dapat berbuat apa pun. Mereka akan membuat aku tidak berbuat apa-apa.”

Pewarisan Genetik

Kesultanan tertinggi di dalam Islam ialah Khalifah. Karena ini bukan autokrasi juga tidak serupa dengan negara sentralistik kaum kafir. Di samping khalifah, ada sejumlah penguasa pada tingkat lokal, yakni para amir dan gubernur.

Islam adalah agama fitrah, yakni sepenuhnya selaras dan merupakan bagian dari alam itu sendiri. Dengan alasan ini, sebelum ayat khusus yang menjelaskan kedudukan khalifah dari sudut pandang al Quran hendaknya juga dicatat ayat berikut, firman Allah SWT surat al Furqan;

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Di sini Allah menggunakan akar kata Arab kha-lam-fa untuk menunjukkan gerak alam yang paling alami yang kita hayati sebagai makhluk manusia. Gerakan siang menyusul malam merupakan suksesi yang menjelaskan ketentuan permanen dalam semua kehidupan manusia. Dalam kaitan dengan pemerintahan, Allah secara khusus berfirman dalam surat Shad :

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Khalifah dalam Islam menerima dimensi penegas dari Khalifah Abu Bakar as Sidik, ra.  Dalam pidato sebagai pengangkatan khalifah ada orang yang berbicara bahwa dia adalah khalifah Allah lalu dia mengoreksi orang yang berbicara itu dan mengatakan, “Aku adalah khalifah Rasulullah.”

Setelah khulafaurrasyidin, khalifah empat pertama, kekuasaan khalifah diberikan pada anak laki-laki Abu Sufyan dari Bani Umayah.

Dari sudut pandang Islam yang berasal dari kaum wahabi dan qutbi baik Umayah maupun Abbasiyah dikecam dengan cara nilai sosialistik. Realitasnya adalah bahwa Umayah memberikan kedudukan khalifah yang menjayakan Islam di Eropa dan Abasiyah memberikan kedudukan khalifah yang menjayakan Asia Tengah.

Kehadiran kekuatan Islam yang besar hingga saat ini tidak terbayangkan tanpa sumbangsih Bokhara dan Tirmidh di Timur dan Sevile serta Garanda di Barat. Dari kehadiran Umayah muncul kemenangan budaya dan sejarah pewarisan keturunan Sharifa di kerajaan Alawiyah Maroko. Karena latar belakang yang kuat inilah kerajaan mampu bertahan hingga saat ini dengan penguasa yang diturunkan dari keluarga.

Sekalipun sebagai negara Muslim besar, dan bukan negara Islam kecuali hingga sebelum invasi Perancis, Raja Hasan II setelah pertemuan dengan delegasi Murabitun dari Granada di depan publik mengumumkan selama bulan Ramadan terakhirnya bahwa dia akan melembagakan kembali kewajiban zakat.  Ini setelah disajikan Dinar dan Dirham emas Islam yang baru dicetak di Granada. Upaya penunaian sepenuhnya niat kuat ayahnya akan mengubah sejarah jaman kita.

Sekali lagi dalam pewarisan genetik kita lihat bagaimana hal ini dipahami oleh masyarakat Muslim pertama. Ketika Umar ibn Khattab diangkat orang di antara majelis pertamanya sebagai khalifah dia mengingatkan tindakan Rasulullah saw ketika beliau mengambil orang dan mengatakan, “Beliau mulai dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.”

Umar kemudian membuat daftar kabilah-kabilah Quraysh’, klan demi klan dan sesudahnya golongan Anshar dengan mengatakan: “Mulai dengan keluarga Said ibn Muadh dari Aus dan sesudah itu, mereka yang terdekat dengannya.” Ini diriwayatkan oleh Az-Zuhri. Semua ini karena kepemimpinan dan kemampuan untuk memimpin diwariskan secara genetik. Harta milik berupa barang, tanah dan rumah dan kerajaan dapat diwariskan atau secara hukum dapat dialihkan status kepemilikannya.

Ada dua matra untuk membuktikan kepemimpinan, satu genetik dan satu lagi pengujian.  Dalam seni purba pertarungan banteng, yang sebenarnya bukan olahraga tetapi merupakan upacara keagamaan dan militer untuk menjamin keberanian dalam menghadapi kematian para pejuang Murabitun Muslim di Spanyol untuk mendapatkan banteng-banteng berani yang akan menyerang, segera mengembangkan program penangkaran. Di samping program penangkaran yang menghasilkan bibit unggul sampai hari ini muncul praktik pengujian atau tinta. Jika seekor banteng berani, anaknya boleh dibesarkan sebagai Toro Bravo.

Juga tidak diketahui secara luas pada saat ini karena kejahilan bahwa pada Topkapi, selama beratus-ratus tahun, gadis-gadis yang dipilih untuk harem Sultan dan kemudian sultan memilih dari situ, tidak berasal dari elit sosial kaum bermodal. Kejadian penyakit hemofilia yang merundung anak cucu keluarga besar Ratu Victoria karena pernikahan antar saudara, merupakan lawan kejadian pada keluarga daulah Usmaniah.

Sultan-sultan kadang-kadang menikahi perempuan muda yang telah diambil sebagai tawanan dalam jihad. Hal ini bukan masalah primitif dan sederhana. Seleksi dan penapisan (skrining) perempuan-perempuan yang dianggap berkualitas untuk hidup di Topkapi amat sangat rumit. Bukan hanya para ibu sultan-sultan tetapi juga perempuan lain ikut mengawasi penapisan pada tingkat karakter, intelektual dan budaya, yang tidak sama dengan yang dewasa ini dipraktikkan oleh korporat-korporat besar kaum kafir.

Di satu sisi pencegahan perkawinan antar keluarga merupakan keseimbangan, di sisi lain dilakukan dengan seleksi seketat mungkin materi genetik baru. Hal ini boleh jadi akan menyinggung seorang kafir yang berpendidikan tetapi sikap negatif dalam hal ini malah absurd.  Mereka menolak perkawinan yang diatur oleh orang tua tetapi tidak berpikir apa-apa tentang kencan di komputer dan internet. Mereka menolak pengaturan njelimet genetik yang melanggengkan daulah Usmaniah selama beratus-ratus tahun sambil menyetujui bank sperma, rahim sewa dan pasangan orang tua sama-jenis.

Dalam daulah Islam yang berfungsi, seperangkat kebolehan dan tabu pola genetik telah ditetapkan. Ketika pola itu diterapkan pada manusia maka akan dihasilkan keturunan unggul.  Pada masyarakat kafir, dengan Amerika Serikat sebagai contoh terdepan, kita memiliki masyarakat bastar. Jika sebuah sandi genetik terlalu tertutup sebagai contoh di antara orang Indian Lacondonas, dengan rangkaian genetik yang terlalu mengerut, akan timbul degenerasi dan albinisme. Sementara di ekstrim yang lain dengan penghancuran unit keluarga dan nomadisme yang ditangguhkan karena mayoritas orang Amerika berpindah-pindah secara geografi lebih dari satu kali selama hidup mereka, terjadi pola penangkaran yang tidak teratur.

Di samping itu, dengan efek desktruktif riba terhadap masyarakat, pengasuhan dan pembesaran anak-anak hampa dari unsur-unsur moral dan kasih sayang. Mengetahui siapa nenek-kakek kita merupakan dimensi struktur diri kita dan hidup bersama mereka selama masa anak-anak bahkan merupakan kualitas yang lebih penting. Kapitalisme korporasi ekstrim yang saat ini berfungsi secara global bergantung pada penghapusan universal keluarga dan ini pada gilirannya menjamin pembudakan tanpa akhir makhluk manusia sebagai komoditas berupa robot-manusia. Jadi ideologi riba saat ini, demokrasi dan humanisme pada kenyataannya adalah pembudakan dan akhir tak terelakkan dari spesies manusia seutuhnya.