Mengkaji Peradaban Lewat The Entire City

176

“Banyak universitas kini dalam kondisi di bawah imperatif finansial, tidak lagi memproduksi karya-karya teoritis yang melancarkan kritik cemerlang pada sistem kekuasaan yang sekarang”
(DR. Ian Dallas, The Entire City, Cape Town, 2015)

Tentang kekuasaan. Ini kerap ada dalam setiap jaman. Kekuasaan membentuk peradaban. Kekuasaan ada yang cenderung korup. Lord Acton (1834-1902), kaum modernis, berkata: “power tends to corrupt and absolut power absolutely”. Ini teori tak absolut. Karena jika kekuasaan tak dijalankan sesuai fitrah. Disitulah kekuasaan akan cenderung corrupt.
Tapi Acton mesti paham. Ada masa kekuasaan berlangsung indah, tatkala mengikuti Sunnatullah. Dua mahdhab kekuasaan ini yang tak dipahami jamak manusia sekarang. Karena pola kekuasaan, tak semuanya seragam. Kekuasaan berada pada dua garis berlawanan, golongan kiri atau golongan kanan.

Jaman modern, ditandai dengan kekuasaan dalam antitesa pada fitrah. Kekuasaan dari golongan kiri. Dalam terminologi Al Quran Surat Al Waki’ah. Dari situlah kekuasaan berbelah. Dan sejarah juga demikian berkata. Kekuasaan kerap berganti. Antara kaum kuffar dan beriman. Ini tak bisa dihilangkan dari catatan sejarah. Kaum yang berpikir yang akan paham.

Mulailah melongok masa Romawi. Kala masa Republik dimulai. Era Brutus I merebut kekuasaan dari dinasti Romulus dan keturunannya. Disitulah Romawi kembali pada ‘de natura’. Itu tentang fitrah. Fitrah ialah yang datang dari Allah Subhanahuwataala. Masa itu Romawi menerapkan hukum Tuhan. Cicero menyebutnya: Divine Law. Hukum dari Langit. Jaman itulah republik menjelma pada wujud aslinya. Res publica: urusan umum. Benar-benar model kekuasaan yang di urus berlandaskan suatu aturan umum. Dan aturan itu adalah yang fitrah. Datang dari Tuhan. Romawi menyebutnya sebagai ‘Godz’. Cicero menukiskannya pada ‘De Natura Deorum’. Tentang Tuhan yang Ahad. Cicero melancarkan perlawanan pada kaum rasionalis, pengikut Plato dan Aristoteles, yang menteorikan Tuhan dalam wujud lainnya.

Hingga tibalah akhir dari kekuasan ‘nature’ era Romawi itu. Kala ‘Natura’ ditandai hidupnya ‘virtue’ ditubuh Romawi. Ini kebajikan. Islam menyebutnya dengan ‘futtuwa’. Inilah simbol fitrah yang bersemayam dalam kehidupan pemerintahan. Kaum yang memiliki ‘virtue’. Romawi pernah menerapkannya. Hingga akhir menjelang kejatuhan Julius Caesar. Disitulah ‘virtue’ menjadi terampas. Beralih pada kekuasaan yang absolutely tadi. Brutus, cucu dari Brutus I, menikam sang Kaisar di depan Senator. Triumvirat terjadi. Romawi terbelah. Kekuasaan mulai tak fitrah. Cicero menyerang Mark Antony. “Dialah musuh mendalam dari Republik,” katanya (Ian Dallas, The Entire City, 2015).

Perang Triumvirat Romawi segera berakhir. Kala Augustus menjadi Kaisar. Dia cucu Julius Caesar. Augustus (Octavianus) memegang kendali Romawi. Tapi sebenarnya tak kendali penuh. Fase itulah dimulainya masa kekaisaran Romawi. Masa imperium tiada akhir. ‘Imperium sine fine’.

Disinilah drama tirani sejatinya bermula. Karena kekuasaan berlangsung corrupt. Augustus tak punya power penuh. Dia di bawah kontrol Legiun Romawi. Ini sekelompok militer yang membantu Augustus dan mengontrol sang Kaisar. Disinilah Romawi berada pada masa suram. Karena kekuasaan berlangsung korup, dan kaum tribunal (rakyat) terdiam. Tak ada perlawanan. Kaisar tumpul. Senator lumpuh. Republik hanya nama. Dari Cicero kita bisa tahu apa makna sesungguhnya republik itu.

Sekuel imperium Romawi tamat di Roma abad 4 Masehi. Disitulah fitrah kembali. Tatkala kekuasaan kembali pada kedaulatan Tuhan. Tak lagi beranjak pada nafsu. Melainkan pada qalbu. Disitulah ajaran Nasrani menggema pada Monarkhi-monarkhi Eropa awal.
Inilah sekuel yang ditunjukkan Ian Dallas, dalam The Entire City. Dallas pemikir besar dari Eropa. Dia ulama termahsyur jaman ini. Lahir di belantara Eropa, dan memeluk Islam di Magribia. Kitabnya, The Entire City, menuntun kita untuk mendiagnosa jaman kini. Agar tak terjebak pada analisis tanpa studi. Dallas membawa kita pada rentetan siklus sejarah, tentang apa yang kerap berlangsung selama periode peradaban.

Dallas kemudian menuntut kita pada Polybios. Sejarawan Romawi yang memiliki teori tentang siklus peradaban. Sistem pemerintahan dimulai dari Monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi dan kembali ke Monarkhi. Dallas membantu kita untuk mendedah bagaimana watak sejati antara model pemerintahan itu. Tak sekedar susunannya belaka. Tapi watak yang mendasari modelnya: natura atau rasionalitas. Futtuwa atau serakah. Inilah watak jaman, yang diajarkan universitas –yang telah berubah di bawah imperatif finansial itu–. Futtuwa itu landasannya qalbu. Sementara serakah, berpondasi pada nafsu.

Dari sana, melongoklah pada abad pertengahan. kala kekuasaan kembali jadi perdebatan. Perang antara dua pengikut kembali berlangsung: natura dan sekarah. Rennasance sebagai titik kebangkitan kaum nafsu. Mereka mendefenisikan ulang tentang kekuasaan. Tak lagi mau percaya pada adagium ‘Vox Rei Vox Dei” (Suara Raja Suara Tuhan). Karena kekuasaan dilabelkan pada ‘umara dan ulama’ Nasrani, Raja dan Gereja sebagai warga kelas utama.

Tapi kekuasaan telah bergeser. Tak lagi beranjak pada monarkhi. Melainkan cenderung pada tirani dan oligarkhi. Disinilah Raja-raja Eropa terjebak tak lagi menjalankan ‘virtue’. Melainkan mengarah pada kekuasaan yang berlangsung absolutely tadi. Robert Deveroux, Earl of Essex II dari Kerajaan Inggris, bisa menjadi catatan. Dallas memberi kita tuntunan, ‘when nobility is suppressed, all gouverment is subverted’, kata Robert Deveroux (The Interim is Mine, Ian Dallas).

Dallas menunjukkan epos Deveroux yang mempertahankan nobility (futtuwa) di Inggris Raya. Dia memerangi sepupunya sang Ratu, Elisabeth. Deveroux tak setuju wanita menduduki tahta. Karena itu melawan fitrah. Deveroux itulah generasi keempat dari produk ekspor futtuwa dari Salahuddin al ayyubi, pasca Perang Salib. Kala itulah muslimin mengajarkan futtuwa pada kaum Eropa dan menumbuhkannya di Eropa. Disitulah Eropa masih tumbuh dengan fitrah. Di tengah Islam sebagai sentral penguasa dunia, masa abad pertengahan.

Hilangnya Deveroux, hilangnya futtuwa di Eropa. Tiada lagi virtue sebagai basis pemerintahan. Perang kaum skolastik (rasionalis) dan ‘nature’ pun membahana. Termasuk menteorikan tentang kekuasaan. Francis Bacon memulai akrobatik. Dia mendefenisikan ulang tentang peranan Tuhan di dunia. Dengan filsafat salah arah khas Socrates. Disambut Grotius sampai Descartes. Mereka sepakat bahwa Tuhan tak hadir dalam kehidupan dunia. Tuhan hanya bak pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam akan berjalan sendirinya. Tuhan tak lagi ikut campur. Manusia berhak menentukan sendiri kehidupan dunia. Termasuk membuat hukum sendiri. Inilah perang di abad pertengahan. perubahan mindset dan perang pemikiran.

Machiavelli, pengaggum Khaldun, merasionalisasi tentang model bentuk kehidupan bersama. Dia mulai memperkenalkan istilah ‘lo stato’. Inilah yang diserap menjadi ‘state’, staat, l’etat, yang dalam bahasa diterjemahkan menjadi ‘negara’.

Montesquei melengkapi dengan teori trias politica. Kekuasaan akan adil jika ada saling kontrol antar sesama manusia. Bukan lagi bertanggungjawab pada Tuhan.

Di satu sisi memang kekuasaan masa itu telah berubah menjadi tiran. Nafsu melatarbelakangi. Ini ditandai dengan kejadian pembantaian massal abad 17. Kala sekuel perang aqidah di Eropa mewabah panjang. Protestan dianggap bid’ah. Dan pelaku bid’ah layak dibunuh. Jadilah suatu malam, dirayakan hari pembantaian Santo Bartolomeous, sahabat Isa Allaihisalam, yang dibunuh penguasa Romawi. Kaum Protestan diundang di istana Raja Louis. Chaterine de Medici, ibu Raja Louis, pegang kendali. Inilah bahayanya perempuan memerintah. Raja dibawah kendali ibunya. Tak fitrah. Ribuan orang datang ke istana. Malam itu, di tengah buta, mereka semua diracun. Mati. Ribuan orang meregang nyawa paginya.

Dupllesis Mornay, sosok yang lolos dari pembantaian itu, menulis artikel panjang: vinidiciae contra tyranoss. Perlawanan pada tirani kekuasaan. Mornay salah satu yang berambisi mengembalikan nature. Karena kekuasaan tak lagi berlangsung fitrah. Pembantaian tragedy Santo Bertolomeous, indikasi Raja-raja Eropa telah berlaku korup. Mornay mengajak kaum Eropa kembali menjalankan kekuasaan model fitrah. Tapi dia ditentang kaum skolastik. Yang lebih tertarik untuk mendefenisikan ulang tentang kekuasaan. Tak lagi perlu atribut agama. Manusia harus merumuskan lagi tentang kekuasaan, menurut versi manusia sendiri. Rasio manusia sendiri.

Jean Jacques Bodin mendukung Mornay. Mereka berdua berupaya melawan kaum skolastik. Bak Cicero di masa Romawi. Bodin menelorkan lagi kisah tentang Republik. Dia menuliskan ulang Republik, model pemerintahan yang beranjak pada fitrah.

Berabad kemudian, kaum skolastik menang perang. Mereka makin digdaya. Teori futtuwa ditinggalkan. Kekuasaan dirumuskan berlandas kehendak manusia. Rosseou yang memulainya. Sejak dia, semuanya berubah, kata Dallas. Rosseou merumuskan ‘le contract sociale’. Teori kesepakatan bersama. Hukum, aturan, harusnya dirumuskan manusia dulu. Tanpa disepakati manusia, hukum itu tak berlaku. Maka wujudnya ialah konstitusi. Konsep Rosseou dieksekusu Robbispierre dalam Revolusi Perancis. Disitulah entitas baru, khayalan Machiavelli mewujud: ‘lo stato’ atau ‘negara’. Padahal Raja Louis XVI sempat menentang. Di tengah perdebatan tentang konsep ‘l’etat’, dia mengucap: ‘l’etat cest moi’. Sayalah negara. Louis XVI ingin menegaskan, tak perlu para skolastik merumuskan tentang ‘state’ tadi. Karena raja itulah negara. Tapi Louis hilang arah. Karena utang di kerajaannya membumbung. Revolusi di Paris, 1780, bentuk kalahnya tirani kekuasaan raja.

Berwujudlah satu entitas baru bernama: lo stato. Berabad kemudian berjalan, ternyata lahirnya ‘lo stato atau negara, persis tatkala Augustus memenangkan pertarungan dari Triumvirat di Romawi. Augustus di dukung Legiun. “Negara” lahir karena didukung bankir. Inilah perulangan masa Neo Agustan, tulis Ian Dallas. Sekuel ini kembali berulang.
Dari sinilah, Harold Laski, politisi Inggris abad 20 kembali menuliskan ulang: vindiciae contra tyranoss. Tirani kekuasaan. Laski menyebut: tirani kekuasan itu kini berada pada: negara (lo stato). Karena negara merenggut kekuasaan model fitrah. Tak ada lagi futtuwa. Karena negara berperan bak Kaisar Augustus, di bawah kendali Bankir. Negara tak berdaulat penuh. Melainkan dibawah kontrol bankir, dan menjadi boneka bankir. Inilah pola kekuasaan kini, dengan imperium bankir sebagai pemegang kendali.

Membaca pola ini tak bisa merujuk pada universitas. Karena universitas telah berubah menjadi industri imperatif bankir. Hanya berwujud menjadi doktrinal bagi bankir. Di sana tak ada lagi perlawanan.

Tapi lihatlat realitas. Tatkala seluruh negara-negara berutang. Utang pada satu institusi yang sama: bankir. Inilah wujud tirani jaman kini. Lumpuhnya republik, yang tak sesuai fitrahnya.

New Nomos
Inilah diagnosa lengkap jaman kini. Dallas membimbing kita, dari imperium menjadi dominium. Dari situ wujud model sekarang tak lagi demokrasi. Melainkan okhlokrasi. Maka akan kembali ke monarkhi –yang merujuk fitrah–.

Jalan keluarnya telah menganga. Karena sejarah telah membuktikannya. Hadist-Hadist Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam juga banyak menjabarkannya. Inilah masa Islam menjadi terasing, dan berbahagia kaum yang terasing. Ini masa kembalinya khilafah minhaj an nubuwah.

Masa itulah terbentuknya kembali new nomos. Tatanan masyarakat baru dengan hukum fitrah. Hukum yang merujuk lagi pada basis futtuwa. Kehidupan berbasis Golongan Kanan. Meninggalkan pola kehidupan skolastik, produk rennaisance, hasil pembungkusan rasio atau logos. Inilah futtuwa yang diperlukan membentuk asyabiyya.

Dallas mengarah pada kisah pemuda Al Kahfi. Dari goa yang tersembunyi, terbangun di jaman yang penuh gelap. Karena tak merujuk pada Tuhan. Para pemuda memegang koin Dirham perak, sebagai indikasi berubahnya jaman. Koin perak sebagai parameter bagaimana jaman telah tak fitrah. Tapi koin Dirham itu bukan yang harus didistribusikan banyak-banyak. Karena new nomos itu bukan berwujud dari sana. Bukan berpondasikan kaum yang pengguna koin emas dan perak. Melainkan yang berbasis futtuwa.

Kisah pemuda Al Kahfi, sebagai indikasi kaum yang sedikit kerap menang melawan kaum yang banyak. Pemuda Al Kahfi memegang teguh pada fitrah. Aturan dari Allah Subahanhuwataala. Antitesanya ialah Syirik.

Dari kisah Al Kahfi, Dallas mengajak kita untuk keluar ke perkotaan, dengan semangat futtuwa. Dengan semangat mengembalikan fitrah, segala yang fitrah. Bukan sekedar mengembalikan koin semata. Tapi kembalinya kekuasaan yang beranjak pada fitrah. Dan Islam telah memiliki rumusannya. Itu kembali pada Sunnah, bukan Sunnah yang telah dibengkokkan kaum sebelumnya. Dan itu parameternya Amal Ahlul Madinah. Era dimulainya masa Khulafaur. Masa itulah khilafah minhaj an Nubuwah. Masa itulah sekuel Khalifah Abu Bakar as Shiddiq dimulai. Proyek pertama Khalifah Abu Bakar, mengembalikan dan menegakkan lagi rukun Zakat.

Zakat itulah pondasi untuk memulai lagi kekuasaan. Dari Zakat dibutuhkan AMR (pemimpin) yang memimpin muslimin. Dari Zakat akan lahir Dinar emas dan Dinar perak. Dari Zakat akan muncul muamalat (perdagangan). Inilah jalur terbentuknya new nomos. Karena futtuwa menjadi kata kunci. “Futtuwa is tassawuf, ma’rifatullah is secret. Qurtuby is final word” tegas Shaykh Abdalqadir as sufi, nama lain Ian Dallas.

Inilah jalur ‘Al Kahfi’ jaman kini. Di tengah tirani ‘state’ seperti kata Laski. Disinilah Dallas menunjukkan kisah Oedipus yang mampu melawan Dynosius, sosok yang mendominasi. Bak imperium bankir. Oedipus mampu merubah takdir dengan melakukan perlawanan. Dan itu dimulai dengan perubahan mindset, tak terjebak pada permainan pola pikir skolastik berbasi filsafat. Cicero berkata, “kebodohanlah yang menjadi penyebab, atau asal mula dari filsafat.” Descartes berkata, filsafat ialah segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan rasio manusia. Martin Heideger, filosof Jerman abad 20 berkata, “Filsafat terbukti tak mampu membawa pada kebenaran”. Rasionalitas jelas harus tamat. Ini antitesa dari futtuwa.

Karena filsuf, kata Cicero, memahami bahwa Tuhan tidak bertanggungjawab atas urusan manusia di dunia. “Dan itu adalah kebodohan,” tukas Cicero.

Allah Subhanahuwataala berfirman: “Allah menciptakan dirimu dan semua perbuatanmu” (Al Quran Surat As Shaffat ayat 96). Inilah basis kehidupan. Dari situ, beranjak pada segala aturan Allah kembali. Bukan hasil rumusan rasio manusia. Bukan hasil kreasi cara berpikir manusia. Dan itu kembali pada fitrah. Dan itu haruslah yang utuh. The Entire City. Bukan sepenggal semata. Dan jalur itu dimulai dengan meng-create kekuasaan fitrah. Zakat.

Irawan Santoso Shiddiq

 

 

 

SHARE
Previous articleTirani Bankir Menguasai Dunia