Menjejaki Keagungan The Entire City (1)

416

Jamahlah Cicero. Dia praetor era Romawi Kuno, era 106-43 SM. Sebelum Isa Allaihisalam turun di Nazareth, Romawi. Cicero seorang prator, cikal bakal advokat kini. Cicero orator ulung. Dia menyusun dua kitab kesohor, “De Legibus dan De Republika”. Ini dua kitabnya yang berisi panduan tentang kebebasan manusia. Cicero menceritakan lagi tentang De Republika yang merujuk kepada natural law (hukum alam). Hukum yang merujuk pada aturan dari langit. Karena Cicero seorang scholatism. Mirip dengan sufisme. Dia mengajak Romawi untuk kembali patuh pada ‘godz’, ini sebutan untuk Tuhan di masa Romawi. Cicero mengajak Romawi kepada Divine Law. Hukum Wahyu. Bukan percaya pada dewa dewi kahyangan yang khayalan. Divine Law itu bahasa lainnya ialah fitrah. Hukum fitrah. Hukum alam. Bagaimana agar kehidupan merujuk pada fitrah. De Republica mengajak Romawi untuk kembali pada fitrah. Kembali pada divine law. De Republica, kitab yang disusun berlandas tiga komentar.

Kini seolah kitab itu mereinkarnasi. Muncul dalam bahasa lain tapi tak kalah kesohornya. Itulah The Entire City. Buku ini diterbitkan tahun 2015 lalu. Jauh melanglang dari masa Cicero. Tapi berkisah hampir serupa, tentang makna hakekat kebebasan manusia. Freedom jadi bahasan utama. Karena freedom bukan sekedar slogan untuk demonstrasi. Tapi bagaimana berjalannya kehidupan berlandas fitrah. The Entire City membawa kita ke sana. Memahami dengan asli bagaimana wujud fitrah kehidupan manusia. Inilah tentang hakekat.

Sang penulis, Ian Dallas, ialah Mursyid tariqah besar Qadiriyah Shadziliyah Dharqawiyah. Beliau berguru pada Shaykh Muhammad Ibn Al Habib. Kemursyidannya mendapat dobel ijin dari Shaykh Muhammad Al Habib dari Maroko dan Shaykh Al Fayturi Hamuda dari Libya.

Tapi The Entire City kitab yang berbeda. Walau berkisah tentang hakekat, tapi berisi bahasa-bahasa politik dan mengutip sumber-sumber popoler yang kini jadi idola akademisi. Hanya Dallas membawa pada fragmen agar memahami bagaimana sejatinya memahami sejarah dengan benar.

Dalam awal The Entire City, Dallas memulai dengan kisahnya bertemu Harold Laski, ketua Partai Buruh di Inggris yang sejaman dengan Winston Churrchill, Perdana Inggris. Laski menceritakan tentang kebebasan dan dominasi negara (state) yang telah menjadi tirani. Laski menterjemahkan tentang Vindiciae Contra Tyranos, sebuah saluran perlawanan yang dilakukan kaum Huguenot di Basel, tahun 1579 lalu. Ini tatkala kaum Protestan melakukan perlawanan pada Gereja Katolik yang dominan. Masa abad pertengahan, kegelapan di Eropa, Gereja dan Raja menjadi dominan. Seluruh saluran yang menentang, diberangus. Tirani terjadi. Kebebasan dan keamanan menjadi kabur. Karena sebuah fitrah, mengambil kata kunci dua hal: adanya jaminan kebebasan dan keamanan. Kebebasan bagi manusia dan keamanan bagi manusia. Inilah kode untuk menterjemahkan sebuah sistem sesuai dengan fitrah.

Sistem yang era kini, tentu jauh dari itu. Sama sekali menindas. Tak ada keamanan apalagi kebebasan. Dalam kitab lain, Ian Dallas atau Shaykh Abdalqadir as sufi, menceritakan, pasca revolusi Perancis, negara modern hanya memberi satu hal kebebasan: yakni kebebasan seksual tapi merenggut seluruh hak-hak manusia. Itulah demokrasi. Karena banking sistem sebagai pondasi sistem kini, telah merenggut kebebasan manusia. Tak ada keamanan apalagi kemerdekaan. Ini tak ada kosakata freedom.

Dallas sengaja menggunakan Laski. Karena Laski telah membongkar bagaima kedok makhluk bernama “state” atau negara (terjemahan dalam bahasa). Laski menuliskan tiga essay yang terkenal, Studies of Sovereignity (1917), Autrority in the Modern State (1919), and The Foundations of Sovereignity (1921). Dari sinilah Laski membedah tatanan makhluk bernama “state” yang telah menjelma menjadi tirani. Bak Gereja dan Raja di era abad pertengahan, yang diterjemahkan dalam Vindiciae Contra Tyranos. Dallas membawa kita, dalam kitabnya itu, untuk memahami bagai perspektif Laski dalam melihat “state” sama seperti perspektif kaum Huguenot, di abad pertengahan, dalam menjalankan Vindiciae melawan Tirani itu. Karena negara telah menjadi tirani.

Dalam bahasa, “negara” terjemahan dari “state” (english), “staat” (belanda), “le’etat” (Perancis), “Lo stato” (Italia). Asal katanya dari bahasa Latin: “statum”. Sejatinya lebih cocok diterjemahkan dengan kata “stabil” bukan kata “negara”. Karena konsep nusantara, mengenal “negara” dari kata “nagari” di Minangkabau dan “nagara” dalam masa Majapahit. Karena kata “statum” digunakan Machiavelli, “lo stato” untuk menterjemahkan kali pertama tentang “negara”. Tentu di abad pertengahan, tidak dikenal istilah “negara”. Karena hanya ada bentuk kerajaan dan Gereja sebagai duet dari Raja dalam memanggul kekuasaan. Itulah bentuk sistematika kekuasaan abad pertengahan. Makhluk “negara” baru dikenal pasca revolusi Perancis, 1789. Dari situlah muncul modern state.

Dallas menggunakan Laski untuk melihat bagaimana tirani yang kini berlangsung. Sama halnya tatkala tirani tatkala gerakan Vindiciae dilancarkan para Huguenots di abas pertengahan melawan dominasi Gereja dan Raja Perancis. Laski menceritakan secara gamblang tentang tirani “negara” dalam masa modern state. Era modern state itulah era hukum positif, yang menjadi antitesa pada hukum alam.

Dari The Entire City, kita dibawa terbang untuk memahami bagaimana fitrah, hukum alam. Itu yang pernah berlangsung juga di kaum Eropa, kaum kulit putih. Tatkala masa Romawi, kala Brutus sampai menjelang terjungkalnya Julis Caesar. Disitulah masa “res publica” (urusan umum) berlangsung. Era itulah ‘republik’ yang dijalankan dengan benar. Republik yang sesuai fitrah.

Dallas telah menunjukkan bagaimana republik yang sesuai fitrah. Tak seperti sistem republik yang kini berlangsung. Dallas mengutip Oliver Wendell Holmen, juri Mahkamah Agung Inggris,

Kehidupan hukum tidak berlogika, telah berpengalaman. Kebutuhan yang dirasa pada masanya, moral yang lazim dan teori-teori politik, institusi kebijakan public, diakui atau secara tidak sadar, bahkan pransangka-prasangka yang menghakimi berbagi dengan sesama manusia, telah memiliki sebuah urusan yang baik lebih untuk melakukan daripada sillogisme dalam mendeterminasi aturan-aturan oleh yang mana manusia seharusnya diperintah.
(Hukum Umum/Common Law: Holmes 1881)

Dari sini Dallas menggiring untuk memahami bagaimana hukum yang tak berlogika itu. Hukum yang lahir berlandas Divine Law. Karena “hukum tak berlogika” ialah hukum fitrah. Hukum yang bukan berdasar filsafat atau rasio manusia. Itulah hukum alam. Sementara hukum positif, yang lahir bersamaan dengan modern state, ialah hukum atas dasar logika belaka. Ini hukum yang tak menjamah eksistensialisme. Alias hanya mampu membaca esensialisme. Karena tak mampu menyatakan kebenaran secara mutlak, melainkan bukan kebenaran yang sesungguhnya. Karena dari kemunculan modern state itulah, Dallas sempat mencakapkan cengkeramanya dengan sejumlah intelektual Inggris, tentang keadaan Inggris yang telah menjadi pelayan ibukota Republik Amerika Serikat. Tentu ini sesuatu tak berlandas fitrah.

Tentu buku ini bukan bacaan kaum biasa. Karena tentu harus memahami sekuel abad pertengahan, masa aufklarung, sampai terciptanya modern state. Jika tanpa bekal itu, dijamin akan runyam dalam mengunyah karya agung Dallas ini.

Karena sistematikan buku ini, dimulai dari Laski, yang memperkenalkan tentang Vindiciae Contra Tyranos. Lalu komentar atas Christopher Marlow tentang pembantaian Santo Bartolomeous di Paris, yang menewaskan sekitar 1000 orang Huguenots. Kemudian tentang drama Oedipus dan Dionysus karya Dallas. Jadi, walau ini bukan buku fiksi (apalagi fiktif), tapi terkesan bak membaca buku drama. Karena Dallas terkenal sebagai penulis drama termashyur sebelumnya. Membaca buku ini bak menyusuni kisah novel sejarah abad pertengahan, walau tak ditulis dengan gaya novel. Tapi jangan bayangkan bahwa yang ditulis ialah kisah fiksi. Melainkan realitas yang memberi jalan keluar peradaban. Kitab ini disajikan dengan gaya seni tingkat tinggi. Dan gaya penulisan tingkat mahir dari penulisnya. Bak sebuah adagium, content is king, language is quenn. Dallas telah menunjukkan kesempurnaan itu dalam kitab ini. Gaya bahasa yang tinggi, menunjukkan intelektual yang tinggi. Karena Dallas tak menuliskannya bak gaya bahasa proposal yang baku apalagi buku text book yang kaku. Ini bukan karya sekelas itu. Karena ini karya sang Sufi yang telah menapaki mahqom yang tinggi. Tentu gaya bahasanya menunjukkan dengan sendirinya strata sang penulisnya. Bak dalam bahasa sufi, makin tinggi berbahasa, disitulah makin tinggi mahqom-nya. Tak heran buku ini sungguh renyah dilahap siapa saja.

The Entire City memberikan sebuah sekuel tentang futtuwa, dalam bahasa lainnya. Karena futtuwa, sesuatu yang telah lama tertanam, sejak hadirnya manusia. Tak hanya dikenal dalam Islam, tapi telah ada masa pra Islam. Dallas menggiring kita mengenali futtuwa di masa Romawi. Dia mampu mendeteksi itu. Itulah bukti betapa tingginya mahqom dan ilmu yang dimilikinya. Sebagai sang Mursyid, Dallas menunjukkannya dalam kitab ini. Dallas menunjukkan futtuwa pernah hadir dalam masa Romawi. Itulah yang disebut ‘virtue’. Dalam bahasa Latin. Jika diterjemahkan berarti ‘kebajikan’. Inilah yang coba digambarkannya dalam The Entire City. Sebuah peradaban yang penuh kebajikan. Dallas menggunakan kosakata Romawi untuk menceritakan futtuwa. Tentu dengan ‘virtue’. Dia memberi pesan, kaum kulit putih juga pernah memiliki futtuwa. Itu di era Romawi kuno. Tatkala republik dijalankan dengan benar. Tatkala keamanan dan kemerdekaan berada dalam Romawi. Sementara republik era kini, itu hanya klaim. Karena kaum Protestan mengambilnya dari Cicero, tapi mengubah maknanya. Hingga kehilangan natural law-nya.
The Entire City telah menunjukkan bagaimana ‘kelas’nya Ian Dallas. Sebagai Mursyid, beliau tak sekedar membongkar bagaimana hakekat dalam belantara Islam. Tapi juga mampu membeberkan hakekat dalam peradaban sebelum Islam. Sampai jauh ke Romawi sana. Tentu itulah jalan untuk menuju perlawanan pada tirani era kini.

Dari The Entire City inilah guidance bagi murid-murid-nya dalam dunia tariqah. Karena sang Mursyid telah memberi warisan pada muridnya, untuk menggunakan frame politik dalam membaca jaman ini. Shaykh Abdalqadir, dalam The Entira City, The Entirem is Mine, Engine of the Broken World, dan Time of Beduin, telah menunjukkan cara pandangnya. Karena para fuqara tak harus terpaku dengan mindset ekonomi belaka. Apalagi berhalusinasi untuk menciptakan lembaga curency dunia yang menghadirkan dinar dirham seantero dunia. Tentu itu jauh dari sebuah fitrah. Karena peradaban ini harus dilihat dari sisi yang sebenarnya. Hakekatnya. Tak bisa hanya dilihat dari sisi finansial belaka. Inilah mindset yang diajak Shaykh Abdalqadir as sufi untuk menunjukkan perubahan. Dengan gaya bahasa The Entire City, beliau menggiring muridnya untuk menggunakan bahasa sejarah dan politik. Terlebih lagi futtuwa. Karena ini bahasa tentang kemerdekaan dan kebebasan. Bukan bahasa tentang wajib menggunakan Dinar Dirham belaka. Apalagi sampai membuat perundang-undangan Dinar Dirham untuk sebuah provinsi atau pemerintahan daerah. Tentu itu bukan sebuah perlawanan dari tirani. Karena Vindiciae Contra Tyranos kini harus dilancarkan kembali. Melawan tirani makhluk yang menjelma menjadi ‘statum’ dan res publica palsu, yang menjadi alat bankir untuk imperiumnya.

Inilah mindset yang direkomendasi Dallas bagi murid-muridnya. Karena empat buku politik itu, membawa kita pada jantung futtuwa seantero dunia. Memahami bagaimana Tauhid juga hadir dalam belantara sebelum Islam. Tentu kini harus dibawa kembali dalam Islam.
Karena Abu Bakar Rieger berkata, kita tak bisa terlalu dekat dengan Shaykh Abdalqadir as sufi, karena pengetahuannya begitu tinggi. Tapi juga jangan terlalu jauh. Tentu jika terlalu jauh, akan membuat tertinggal. “Not fair. Why you leave me,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi, beberapa bulan lalu. Itulah pesan untuk melakukan perubahan. Perubahan pada mindset dan tindakan. Doa para sufi ialah terpelihara dalam perubahan. Insha Allah.

Irawan Santoso