Menyongsong Pergantian Peradaban

604

Sepanjang epos jaman, peradaban dan kekuasaan kerap dipergilirkan. Tapi basis peradaban tetap berada dalam dua golongan: berbasis Tuhan atau tanpa Tuhan. Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 140:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…”

Ibnu Khaldun, sang faqih mengatakan, peradaban itu kerap tumbuh bak organisme. Mulai dari lahir, tumbuh, dewasa, tua dan mati. Dan ini berlangsung di setiap jaman.

Epos kedigdayaan Romawi berjaya tatkala Julius Caesar membahana. Masa itulah Pompeii, Cicero menggurita. Seorang praetor, Cicero, mengingatkan jaman bahwa rakyat Romawi harus kembali pada kepercayaan Tauhid. Karena ketika itu dewa dewi membahana sebagai simbol kepercayaan Romawi. Tapi paganisme menjadi simbol keperkasaan Romawi. Bagi kaum Eropa, yang mentasbihkan namanya dari salah satu Dewa –Europa–, Romawi adalah lambang kejayaan. Disitulah kaum Eropa menemukan kedigdayaan, karena Romawi berhasil menguasai daratan hingga Asia dan Afrika Utara. Roma menjadi pusat kekuasaan. Colloseum menjadi simbol keperkasaan. Pergulatan Romawi dipenuhi kehidupan kapitalisme, bak era kini. Homo homi lupus telah terjelma sejak era itu. Ius Civil menjadi hukum kepercayaan. Senator adalah pusat kejayaan pendapat. Demos kratos, ide yang direnggut dari Yunani Kuno, ditasbihkan Romawi sebagai ‘agama’ resmi Romawi. Secara militer Romawi memang menaklukkan Romawi. Tapi secara ideologi, Romawi terjajah oleh Yunani. Sepanjang epos jaman, hanya ada dua kejadian seperti ini. Daerah taklukkan, menjajah sang penakluk. Kala Romawi menjajah Yunani, tapi ideologinya menguasai sang penakluk. Lalu di abad pertengahan, tatkala Mongol menguasai jazirah dan menaklukkan Daulah Utsmaniyah. Tapi kemudian ‘ideologinya’ menaklukkan Mongolia. Islam kemudian menjadi agama yang dianut kaum Mongol. Timur Lenk menjadi Amir dari Timur, memimpin terjaganya Deen Islam.

Abad berjalan, Isa Alaihi Salam lahir di Nazareth, Yerusalem. Membawa kitab Injil dan ajaran Nasrani. Abad 3 Masehi, Kaisar Romawi di Roma, Theodosius I memeluk agama Nasrani. Romawi pun berubah menjadi Nasrani. Sang Kaisar mentitahkan bahwa Nasrani menjadi agama resmi bagi Romawi. Era Romawi pagan pun berakhir, di abad 4. Romawi bubar. Tapi kisah Romawi diteruskan di Konstantinopel, kini Istanbul. Hanya peralihan Romawi pagan menjadi Romawi yang Nasrani, merubah tatanan dunia. Tak ada lagi kapitalisme, yang berangsur terbunuh oleh ajaran Nasrani. Gereja menjadi pendamping Raja. Romawi berganti. Tapi tanpa kudeta berdarah. Kekuasaan bertukar, dari Roma menuju Konstantinopel. Sistem hukum berganti, politik beralih. Tak ada lagi kisah senator, praetor, apalagi Ius Civil. Tapi kaum Europa merasa Konstantinopel bukan lambang kejayaan mereka.

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menyebarkan Islam di abad 7 Masehi. Islam menyebar lebar dari seantero jazirah, Andalusia, belantara Afrika, hingga semenanjung nusantara. Islam bertahta di sepertiga belahan dunia. Abad pertengahan adalah masa benderang bagi Islam. Sementara kegelapan bagi kaum Europa. Tak ada lagi Romawi. Tahun 1453, Romawi tak lagi berkisah, setelah Konstantinopel ditaklukkan dengan kekuatan pedang oleh Daulah Utsmaniyah di bawah komando Sultan Muhammad II. Tentu Islam membawa perubahan. Kedigdayaannya bersama dengan ajarannya. Deen Islam berjaya tatkala mengikuti ajaran yang mengikuti petunjuk Al Quran dan Sunnah.

Di belantara Europa, peradaban Nasrani mulai melemah. Karena telah menua. Gereja mulai diserang. Filosifi Yunani seolah hidup kembali. Tuhan dianggap telah mati, seperti didengungkan Nietsche. Voltaire, sosok yang begitu antusias menyerang Gereja, mengatakan Tuhan tak wajar menuntut ketundukan penuh pada umatnya. Karena jika Tuhan menuntut kepatuhan penuh, maka itu sebuah keditatoran. Segala yang berbentuk diktator tak layak dianuti. Demikian Voltaire mengumandangkan. Europa mendambakan persamaan. Menuntut hegemoni Gereja dan Monarkhi. Vox Rei Vox Dei (Suara Gereja Suara Tuhan) coba diganti. Vox populi Vox Dei (Suara Rakyat Suara Tuhan) menggema. Kitab suci tak layak lagi jadi panutan kehidupan. Tak layak menjadi ground norm dalam tatacara hidup bersama. Mereka menuntut hadirnya constitutio, yang berupa kesepakatan bersama. Itulah du contract sociale. Demos kratos kembali mengudara. Pola state/etaat/staat/ itulah yang dianggal ideal. Model imperium digantikan dengan nation state. Kehidupan bernegara harus berlandaskan pada semangat negara bangsa. Intinya, kaum Europa menuntut kebangkitan. Mereka menuju pada pola tatkala Europa berjaya: itulah Romawi yang era paganisme mengudara. Abad 18, Revolusi Perancis memulai kebangkitan itu. Rennaisance memulainya berabad-abad sebelumnya.  Romawi era Caesar menjadi modul kejayaan yang harus dikembalikan.

Gereja dikudeta. Egalite, fraternite, libeter dianggap slogan kemenangan. Menang dari hegemoni Gereja dan Monarkhi. Peradaban pun berganti. Hukum berganti. Sistem politik bertukar. Demos kratos hidup kembali. Colloseum berdiri dimana-mana. Romawi seolah kembali. Ius Civil dihidupkan lagi. Kapitalisme pun membahana. Homo homini lupus digunakan kembali. Tuhan telah mati, karena dibunuh umatnya sendiri.

Berdirinya “Colloseum” di belantara Europa, dianggap kemajuan. Gedung tinggi, senjata canggih, teknologi tinggi, dianggap lambang kesuksesan peradaban. Di belantara Islam, ternyata peradaban mulai menua, dan berangsur mati. Kedigdayaan Islam, yang dimulai dari masa Khulafaur, dilanjutkan era Umayyah, Andalusia, Abbasiyah, Daulah Utsmaniyah, Moghul, hingga ratusan deretan Kesultanan di nusantara, beranjak menghilang semenjak abad 18 ke atas. Kapitalisme merubuhkannya. Tak ada lagi Syariat, berganti rechtstaat. Dunia Islam seolah bak makanan yang direbutkan kaum kuffar. Dan itu telah terjadi. Umat Islam mengikuti kaum Yahudi dan Nasrani bahkan sampai ke lubang biawak, seperti Sabda Nabi, dan ini telah terjadi. Tiada lagi Khilafah, tak ada lagi Sultan. Kejayaan Sultan Al Fatih seolah menjadi dongeng masa lalu. Kedigdayaan Sultan Iskandar Muda seolah hanya sejarah, tanpa bisa umat sekarang mengulanginya.

Dunia Islam ditaklukkan bukan dengan pedang. Tak kalah dengan senjata. Tapi ditaklukkan tanpa kudeta berdarah, melalui riba yang disusupkan ke dalamnya. Riba yang bersarang pada sistem.

Melihat hegemoni kaum Europa, kapitalisme yang berkuasa, sekelompok kaum menganjurkan agar Islam harus mengikuti perkembangan jaman. Modernis mengajak umat harus meninggalkan kejumudan, dengan mengikuti jaman. Syariat seolah boleh berganti. Baiat disamakan dengan pemilu, walau umat non Muslim ikut di dalamnya. Padahal dalam Baiat khusus hanya muslim kepada pemimpinnya. Presiden disamakan dengan Sultan. Piagam Madinah disamakan dengan Constitutio, untuk menerima keberadaan constitutio yang mengatur nation state. Kertas yang jadi uang produksi bank, harus diterima umat karena dianggap sama  dengan Dinar emas dan Dirham perak, Sunnah Rasulullah. Qadi disamakan dengan judge (hakim). Zakat boleh dikutip oleh pemerintah berkuasa, wallaupun bukan berlandas hukum Islam. Syariat boleh digantikan rechtstaat. Negara disamakan dengan Daulah. Wazir diartikan sebagai Menteri. Dan seabrek bentuk Islamisasi lainnya.

Pemikiran itu tentu melabrak sunatullah peradaban. Melanggar rububiyah. Karena peradaban itu dipergilirkan, dan kekuasaan kerap berganti. Kini penguasa bukanlah ditangan Presiden. Kekuasaan tak berada di Istana Negara, atau suara parlementaria. Kekuasaan berada di segelintir bankir. Kaum yang sedikit. Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat Al Kahfi, bahwa kaum yang sedikit kerap menang. Inilah rahasia kemenangan Muslimin di Perang Badr. Dan kini kaum sedikit, Yahudi, berhasil memenangkan peradaban. Karena mereka memiliki sistem sendiri. Mereka mengendalikan dunia dengan modelnya. Tentu kebangkitan Islam bukan dengan mengikuti model mereka. Bukan dengan jalur Islamisasi. Bukan dengan cara bahwa Islam harus mengikuti perkembangan jaman.

Kebangkitan kaum Europa dimulai dengan menjadikan Romawi pagan sebagai modul. Islam juga memiliki modul, yang tak bisa diutak atik. Modul dalam kehidupan Islam sudah digariskan oleh Rasulullah Shallahuallaihi wassalam. Itulah terletak pada tiga generasi awal, sebagai generasi terbaik dalam Islam. Kehidupan itulah yang disebut Amal Madinah. Kehidupan yang merujuk pada umat di Madinah, abad 7 lalu, sepeninggal Rasulullah Shallalahuallaihi Wassalam.

Maka, kebangkitan Islam bukanllah mengimbangi gedung tinggi. Bukan pula bermimpi mampu menciptakan BMW Islami, atau bank Islam. Bukan pula menciptakan Konstitusi Islam, atau Negara Islam. Negeri-negeri arabia, Qatar, Saudi, UEA, berupaya membangun gedung tinggi dan sarana kapitalisme yang mengimbangi kaum Europa. Tapi mereka tak kunjung menjadi penguasa dunia. Ini bukti bahwa Islam harus mengikuti perkembangan jaman, adalah jalan yang gagal total untuk menbangkitkan Deen.

Tapi kembali ke Amal Madinah. Kembali pada model kehidupan di tiga generasi awal. Itulah era tatkala hakekat dan syariat bersatu. Masa ketika tareqah dan mahdhab menjadi jalan menuju kehidupan Islam.

Peradaban kapitalisme ini telah menua dan menuju mati dengan sendirinya. Imperium bankir menjadi penguasa tunggal dunia kini. Keadilan menjadi kata bualan dalam undang-undang. Hukum rechtstaat telah tak membawa pada keadilan. Demokrasi hanya slogan dalam pemilu, ajang para kaum kaya menunjukkan hartanya, tak lagi menjadi wadah kaderisasi pemimpin alami. Defenisi negara telah berubah. Tak ada lagi nation state. Karena state berubah menjadi anggota dari supra state, yakni imperium bankir. State berwujud menjadi debitor bagi bankir –bankir bukan bermakna orang yang bekerja di bank, tapi kaum empunya bank–. Karena state tak lagi berfungsi sebagai lembaga sosial yang “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Posisi rakyat hanya sebagai citizens pembayar pajak, yang menjadi agunan state dalam utang nasional kepada bankir. Tak ada lagi Trias Politica yang diagungkan. Karena selain legislatif, eksekutif, yudikatif, setiap state wajib memiliki Bank Sentral, sebagai penguasa tunggal moneter setiap State. Makanya apapun bentuk State hari ini, mulai dari Kerajaan Saudi, Kerajaan Malaysia, Republik Sudan, Republik Turki, sampai Republik Amerika, semuanya sama. Bank Central yang mengatur uang sebagai alat tukarnya. Legislatif tak mampu mengontrol bank sentral, apalagi eksekutif dan yudikatif. Makna check and balances sistem sebagai penyeimbang kekuasaan hanya bualan di abad pertengahan. Karena setiap bank sentral dalam state, berinduk pada bank sentral di atasnya, yang tak dikendalikan satu state manapun. Merekalah penguasa dunia. Dan itu adalah kebatilan, kemungkaran yang nyata.

Mereka-lah yang mensuplai para state berlomba membangun gedung tinggi, jembatan panjang, jalanan menjulang, dan atas nama pembangunan. Dana dan pembiayaan mereka gelontorkan. State menjadi debitor, yang saban tahun menjadi pembayar utang, atas nama pembangunan. Citizens tentu sebagai agunan, betapa utang itu bisa dibayarkan oleh State yang bersangkutan. Agar pola itu berjalan, tentu diperlukan sistem yang menopang. Disitulah demos kratos ditunggangi, constitutio disusupi, dan res publica menjadi simbol belaka. Kitab suci tentu tak jadi relevansi. Agama hanya tersisa di Masjid dan tempat ibadah belaka.

Inilah era penguasa yang memaksakan kehendak. Era kediktatoran. Voltaire tentu ada benarnya, bahwa kediktatoran harus dilawan. Tapi bukan kediktatoran Tuhan. Melainkan kediktatoran segelintir manusia kepada manusia lainnya. Karena inilah sistem yang menjebak manusia yang tak lagi bisa memaknai liberte, egalite, dan fraternite. Kebebasan masa Revolusi Perancis telah dikudeta kembali, secara tak berdarah. Para bankir-lah yang berjaya. Mereka menyusup, dengan model riba, sesuatu yang haram dalam Islam maupun Nasrani. Mereka memaksa agar State tetap digdaya, dengan kontrol moneter di tangan mereka. Bankir memaksa constitutio tetap langgeng dengan kepentingan mereka tertuliskan di dalamnya. Citizens, apapun agamanya, tak berhak menjalankan ibadah secara kaffah, karena akan mengganggu kepentingan mereka.

Jalan Kembalinya Islam

Itulah kemungkaran, kebathilan yang nyata. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam dalam sabdanya, setelah era penguasa yang diktator (jabariyan) maka akan kembali pada masa Minhaj an Nubuwah. Masa dimana umat kembali mengikuti era seperti Khulafaur Rasyidin. Inilah era awal Islam muncul, era generasi terbaik dalam Islam. Dan itu adalah Amal Madinah.

Senjata utama bankir adalah penguasaan pada produk mereka, penguasaan pada moneter. Mereka yang mengendalikan uang di setiap negara. Apapun namanya, rupiah, ringgit, Dollar, Poundsterling, Rund, hingga Riyal, mereka yang menentukan nilai dan kurs-nya. Bukan di tangan seorang Presiden, Gubernur, apalagi ketua Parlemen. Uang kertas menjadi produk bankir yang utama. Uang kertas adalah transformasi dari Dinar emas dan Dirham perak, yang sejak dunia ini ada, menjadi alat tukar resmi manusia. Itulah senjata utamanya. Maka, cara melawannya adalah menusuk langsung kelemahannya.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Surat Al Isra, “Ketika yang haq hadir, maka kebathilan pasti musnah.” Inilah rahasia muslimin untuk mencapai kemenangan. Islam tak harus mengikuti perkembangan jaman. Tak harus tergila-gila membangun gedung paling tinggi, BMW Islami, atau Boeing Islami, untuk dikatakan menang. Karena coorporation hanyalah menjadi alat bagi bankir untuk melanggengkan sistemnya. Metode untuk mencapai kemenangan adalah: mengembalikan yang haq. Modul Islam ada pada tiga generasi Awal, seperti digariskan Rasulullah. Itu dimulai ketika era Khulafaur menjelang. Masa ketika Islam telah tergariskan. Artinya, umat Islam harus kembali pada modelnya sendiri. Kembali pada Al Quran dan Sunnah.

Dinar Dirham adalah alat untuk menghamtam metode bankir sebagai diktatpr utama di dunia kini. Karena tatkala kertas tak lagi dipercaya sebagai uang, maka runtuhlah kekuatan bankir. Tatkala byte komputer tak sah lagi sebagai alat tukar, disitulah kekuasaan bankir berakhir. Karena dalam Islam, alat tukar yang sah adalah barang yang berbentuk nyata (ayn), bukan sesuatu yang tak jelas seperti kertas atau byte komputer. Itulah keadilan. Syariat harus kembali dikumandangkan. Islam harus kembali utuh antara Ibadah dan Muamalah. Umat harus kembali berjamaah di bawah seorang AMR (pemimpin), yang bukan mengikuti ‘pemimpin’ dalam model sekuler. Disitulah para Sultan, Khalifah atau Amir sebagai punggawa, tentu yang menjalankan Syariat, bukan sekedar nama.

Tapi syariat tak bisa berjalan sendiri. Mesti bergandengan dengan hakekat, sebagai bentuk memahami manusia sebagai ihsan. Disitulah makna “Lahawlawalakuwata Illahbillah” bisa terkatakan. Bahwa kehidupan didunia hanya persinggahan, bukan bermakna bahwa manusia hidup berlomba dengan azas homi homini lupus, bisa dipahami. Ulama dan umara kembali bersandingan. Islam tak harus mengikuti perkenbangan jaman. Tapi umat-lah yang harus mengikuti Islam kembali. Shaykh Abdalqadir as Sufi mengatakan, one world dying, another world being born. Satu peradaban mati, maka akan berganti peradaban lainnya. Ibnu Khaldun juga telah menjelaskan, peradaban yang tua pasti akan mati. Allah Subhanahuwataala telah memastikan bahwa kekuasaan pasti dipergilirkan. Inilah jalan kemenangan Islam. Insha Allah.

 

Irawan Santoso Shiddiq