Merasakan Sholat Jumat di Masjid Qarawiyyin, Fez, Maroko

509

Udara terasa cerah. Hari ini Jumat, 5 Mei 2017. Suasana hari Jumat memang agak berbeda di Maroko. Ini negeri maghribi. Negeri yang suasana keIslaman masih agak terjaga. Di negeri ini ucapan “Assalamuallaikum” masih jamak diucapkan, walau sesama orang Maroko. Terlebih di kota Fez. Ini kota legendaris di Maroko. Kota ini terkenal dengan wilayah Qarawiyyin. Disini ada banyak hal yang melegenda. Diantaranya Masjid Al Qarawiyyin dan Universitas Al Qarawiyyin. Kota Fez ini memang bisa dibilang menjadi sentral ilmu dalam dunia Islam. Sejumlah faqih pernah lahir dari sini. Ulama-ulama besar banyak besar dari wilayah ini. Di abad pertengahan, Fez menjadi sentral ilmu dalam dunia Islam.  Inilah wilayah transfer ilmu dari dunia Islam ke belantara Eropa. Para ilmuwan perintis termasuk Ibn Maymun (Maimonids, (1135-1204) yang diajar di Al-Qarawiyyin oleh Abdul Arab Ibn Muwashah. Al-Idrissi yang terkenal (d.1166 M) menetap di Fes. Ibn Al-‘Arabi (1165-1240 M), Ibn Khaldun (1332-1395 M), Ibn Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji , Ibnu Harazim, dan Ibnu Wazzan merupakan jebolan di Al-Qarawiyyin. Beberapa kisah sejarah juga berbicara tentang Ibn Zuhr (1131 M) menghabiskan banyak waktu untuk bepergian antara Andalusia, Fes, dan Marrakech.

Selain itu, ada juga catatan sejarah bahwa Gerbert dari Aurillac (930-1003), yang terkenal dengan nama Paus Sylvester II, dan yang memperkenalkan penggunaan angka nol dan Arab ke Eropa, juga tercatat belajar di Al-Qarawiyyin.  Baru-baru ini Nichola Louvain Belgia menetap di Fes pada tahun 1540 dan belajar bahasa Arab di Al-Qarawayyin, yang kemudian diikuti oleh Deutch Golius yang juga belajar bahasa Arab di sana.

Kini kota Fez memang agak berubah. Pasca kapitalisme merebak, kota ini terbagi dua bagian. Ada kota lama dan kota baru. Ini sudah jamak dalam setiap kota di Maroko. Kota lama ini biasanya yang masih asri sejak era abad pertengahan. Ini yang sering disebut Medina. Jadi di Marrakech, Casablanca, Meknes, sampai Fez, selalu ada wilayah yang disebut Medina. Ini berarti kota lama. Sementara kota baru, biasanya bangunan yang menyerupai bangunan-bangunan di Eropa. Dan itu baru terbangun sejak abad 18 ke atas.

Masjid Al Qarawiyyin berada di wilayah Medina kota Fez. Masjid itu sudah berdiri sejak abad 8 Masehi.  Bangunan masjid itu lumayan luas. Dan arsitekturnya memang indah. Ukiran-ukiran khas Maroko masih tersalin di dindingnya. Kala adzan dikumandangkan, ratusan muslimin Maroko memadati masjid itu. Entah berapa shaf jumlah jamaah yang tersusun. Karena luasnya tak kentara. Hampir seperti masjid Istiqlal di Jakarta. Tapi masjid ini dikelilingi perkampungan yang juga dihiasi pasar-pasar. Kumandang adzan Jumat dilakoni sebanyak tiga kali. Sekali adzan dilakukan di luar masjid, lalu yang terakhir berada di dalam masjid. Ini amal yang terus dipelihara.

Menara, dengan bentuk persegi, yang menjadi khas menara Afrika Utara (Maghribi), direlokasi ke dinding utara.  Mu’azzin Qarawiyyin dikenal sebagai yang pertama dalam sejarah Fes untuk mendaki ke puncak menara untuk meminta doa.  Ini menjadi tradisi bahwa masjid-masjid lain di kota akan membuat panggilan ini hanya setelah mereka mendengar Qarawiyyin, sebuah tradisi yang masih dipertahankan sampai sekarang.

Jumat ini Khubah dilakukan Imam Masjid, Idris. Beliau ulama terkenal di Maroko, juga shaykh besar di Universitas Al Qarawiyyin. Khubat Jumat dilakukan diatas tangga bertingkat. Itu yang disebut Mimbar. Itulah yang sunnah. Bukan podium. Di Indonesia, masjid-masjid banyak menggunakan podium untuk berkhutbah. Podium bukanlah Sunnah. Karena podium berasal dari tradisi Nasrani di Gereja. Sementara khutbah menggunakan Mimbar bertingkat.

Yang menarik, selepas Sholat Jumat, banyak pasar-pasar yang tutup di sekitar Fez. Ternyata ini tradisi yang sudah sejak dulu. Karena hari Jumat dianggap hari libur di Maroko. Tak ada aktivitas pekerjaan yang banyak. Kecuali yang terlibat dalam urusan kapitalisme. Pasar-pasar tutup termasuk restoran yang berjualan. Orang-orang Magribi banyak membuat Kus Kus, makanan khas Maroko di hari Jumat. Karena kus kus itu penganan yang biasa disajikan selepas sholat Jumat. Dan kerap dimakan beramai-ramai.

Kini Qarawiyyin terus melanjutkan tradisinya. Pusat ilmu masih tersebar di sini. Kisaran tahun 1970-an, seorang pemuda asal Skotlandia, berkulit putih dengan mata biru, bershahadat di masjid ini. Dialah Ian Dallas. Pemuda itu telah mempelajari Islam sebelumnya dan memutuskan untuk menggeluti Islam. Setelah bershahadat, dia kemudian memburu ulama besar di Meknes, Shaykh Muhammad Ibn Al Habib untuk belajar. Dari sentuhan Shaykh Muhammad Al Habib itulah Ian Dallas banyak mereguk ilmu tentang Dinul Islam. Beliau pun mendapat mursyid tariqah Qadiriyah Shdhiliyah Dharqawiyyah. Ian Dallas mendapat nama Islam menjadi Abdal Qadir as Sufi. Kini beliau menetap di Paris, Perancis sebagai ulama besar. Beliaulah penyambung Islam dan Barat. Dia orang Barat yang kini berusaha mengembalikan Islam. Jalurnya melalui amal Madinah yang harus dikembalikan. Tatkala banyak orang muslim yang terperangah dengan kebarat-baratan, Shaykh Abdalqadir banyak mengislamkan putera puteri Barat. Kini Islam pun banyak hinggap di Barat. Qarrawiyyin tetap menjadi penghubung antara Islam dan Barat.

Laporan dari Fez, Maroko (2017)