Meriahnya Pasar Muamalah di Depok

493

Jakarta,- Mentari belum sepenggalah. Panasnya belum begitu terasa. Terlebih di wilayah jalan Tanah Baru, Depok, Jawa Barat. Suasana adem begitu terasa. Tak hanya rindangnya suasana mentari yang seolah bersahabat di pagi itu, Ahad, 16 April 2017. Tapi kerindangan begitu semerbak tatkala pasar muamalah tengah dilangsungkan. Ini bukan seperti pasar biasa. Tapi pasar yang berbasis Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Berkisar pukul sembilan lewat, beberapa pedagang mulai berdatangan. Mereka datang sambil menyiapkan barang-barang yang dijual. Mizar Neta misalnya, dia berdagang perabotan rumah tangga. Dia datang lebih awal kemudian bebas memilih tempat dimana dia menjajakan dagangannya. Itulah aturan mainnya. Siapa datang duluan dia berhak memilih tempat berdagangnya. Ayu, pedagang tas perempuan, datang agak mendekati kala pasar hendak dibuka. Dia menempati sisi luar kanan untuk berdagang. Karena meja untuk berjualan hanya tersisa dua. Meja yang yang tersedia berkisar 15 saja. Tapi hari itu lumayan penuh.

Sekitar pukul 10 lewat beberapa menit, pasar dibuka. Lantunan Surat Al Fatihah pun dibacakan. Amir Amirat Indonesia, Zaim Saidi, memimpin lantunan doa. Para pembeli yang sudah menjejal ikut mengiringi doa. Catur Sarjono, pedagang sembako telah siap-siap di mejanya. Ami, penjual telur juga telah sedia. Begitu pasar dibuka, pembeli yang mayoritas ibu-ibu, langsung menyerbu. Yang unik, di tangan para ibu-ibu itu adalah 1 Dirham perak. Itulah alat yang menjadi tempat tukar menukar barang dagangan. Sembako dijual satu paket seharga setengah Dirham. Ibu-ibu menyerbu. Sekitar lima belas menit, 40 paket sembako langsung ludes. Diikuti paket telur milik Bang Aming juga ikut ludes diserbu pedagang. Tempe yang dijual Pak Taufik, juga tak kalah. Para pembeli menyerbunya dan langsung habis.

Ibu-ibu yang kebanyakan pembeli itu mendapat Dirham dari hasil Zakat yang dibagikan, sehari sebelumnya. Zakat ini berasal dari Baitul Mal Nusantara, di bawah otoritas Amir Zaim Saidi. Karena Zakat ditunaikan oleh muslimin dengan ayn, bukan dayn, maka ditunaikan dengan Dinar dan Dirham. Bukan dengan kertas atau byte komputer, yang tak ada nilainya dalam Islam. Sunnahnya Zakat dibayar dengan Dinar emas dan Dirham perak. Itulah yang kembali dilakoni.

Makanya Zakat disebar di kepada para mustahik di sekitar pasar. Mereka pun datang memenuhi pasar di hari itu. Ibu Fe misalnya, siap berjualan Nasi Kebuli buatan sendiri. Ada juga yang berdagang sirup hasil olahan sendiri. Segala jenis barang dijual di pasar itu. Seorang anak perempuan masih belia, berkerudung indah, juga tampak sigap menjajakan dagangannya. Kebetulan dia berjualan makanan ‘tokayaki’ yang dijual 3 paket seharga setengah Dirham. Makanan itu pun ludes diserbu pembeli.

Sekitar dua jam kurang, hampir semua dagangan ludes tuntas. Pasar pun mulai sepi, seiring laku-nya barang dagangan milik pedagang. Menjelang adzan Dhuhur, pasar pun ditutup. Di hari itu, Zakat pun kembali berputar sesuai rukunnya, merujuk Sunnah. Zakat ditunaikan dengan ayn, lalu disebarkan pada mustahik dan para mustahik bisa membelanjakannya di pasar muamalah. Inilah rukun Zakat yang syar’i. Insha Allah pasar akan kembali sebulan ke depan.

Selepas Dhuhur, beberapa orang masih berdatangan. Mereka mengetahui adanya pasar itu. Tapi sayang pasar telah ditutup. “Waduh saya belum kebagian untuk bermuamalah hari ini,” ujar seorang pria paruh baya yang antusias datang dari Bogor, untuk melihat pasar itu. Memang di jaman era sekarang, pasar ini terkesang langka alias terasing. Tapi inilah pasar yang berbasis As Sunnah.